Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Hanna yang unik


Hari hampir tengah malam ketika Hanna selesai menyelesaikan semua kegiatannya malam ini, untung saja besok tidak ada kuliah pagi. Setidaknya dia bisa sedikit bersantai, tidak tergesa-gesa berangkat pagi ke kampus. Hanna masuk ke dalam kamar, menutup pintu kamarnya dan menguncinya, Hanna merentangkan kedua tangannya agar lebih rileks sebelum dia menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang dan menikmati tidur malamnya, meskipun ini sudah mendekati dini hari.


***


Meskipun tidur hampir tengah malam, nyatanya Hanna sudah terbiasa bangun pagi. Dia sudah sibuk di dapur, memasak untuk sarapan. Aneka sayuran berada di dalam lemari es, entah itu sebenarnya yang belanja Rayyan sendiri atau menyuruh orang lain. Bahkan ada sayuran yang asing bagi Hanna, belum sekalipun dia pernah memasaknya.


Tapi Hanna tidak peduli, dia memasak masakan yang biasa dia masak, bodo amat Rayyan nanti bakalan doyan atau tidak.


Dengan cekatan Hanna menata masakannya di atas meja makan, bau harum menyeruak hingga lantai atas. Rayyan mengucek matanya, dilihatnya sinar matahari sudah menembus goreden jendela kamarnya. Nampaknya dia agak kesiangan bangun, untung saja jadwal hari ini tidak sepadat kemarin. Tapi besok dia harus keluar kota untuk beberapa hari. Rayyan beranjak dari ranjangnya, menuju kamar mandi untuk menggosok gigi dan mencuci mukanya.


Hanna meninggalkan masakan yang sudah matang di atas meja, dia tidak segera sarapan. Dia memilih untuk mandi terlebih dahulu, badannya terasa lengket setelah memasak.


Rayyan turun dari lantai dua, segera menuju dapur dan dilihatnya beberapa masakan tersaji di atas meja makan, Rayyan sumringah, nampaknya ada kemajuan. Hanna memasak daging hari ini selain sayur-sayuran. Dan ingatannya kembali ke masa kecilnya, saat melihat masakan Hanna, dia seolah melihat masakan Ibunya. Senyum yang mengembang kembali pudar, ada rasa pedih, ada rasa sedih, rindu akan ibunya kembali hadir.


Rayyan duduk termenung di kursi makan, sambil memandang masakan yang menggoda itu, masa kecilnya yang menyenangkan. Tak pernah sekalipun dia harus makan di luar, karena Ibunya selalu masak masakan yang enak untuknya. Hingga suatu hari dia harus merelakan Ibunya tak lagi memasak untuknya. Rayyan tersenyum hambar, matanya agak sedikit berkaca-kaca.


"Aku merindukanmu Ma" ujarnya pelan. Sesaat dia terdiam, menopang dagunya dengan kedua tangannya. Pandangannya melihat ke arah jendela dapur yang langsung bisa melihat keluar, matahari belum tinggi. Terdengar langkah kaki mendekat, terdengar suara kursi yang ditarik mundur. Hanna duduk di depannya, Hanna mengambil piring dan bersiap sarapan. Hanna melihat Rayyan yang melamun.


"Mau aku ambilkan nasi dan lauknya?" Hanna berniat baik, nampaknya Rayyan sedang tidak dalam setelan aslinya. Rayyan hanya terdiam, tak menunggu jawaban dari Rayyan, Hanna mengambilkan nasi dan juga sayur untuk Rayyan, lalu menggeser piring yang sudah terisi sarapan ke hadapan Rayyan. Tak ada ucapan, Rayyan memegang sendok.


"Terima kasih" ujar Rayyan akhirnya.


"Humm...sama-sama...semoga suka" balas Hanna.


Rayyan mulai menikmati sarapannya, terasa enak di mulutnya, masakan rumahan yang selama ini dia rindukan, akhirnya hadir di rumahnya. Tak menunggu waktu lama, nasi dan sayur yang ada di piring Hanna maupun Rayyan sudah habis.


"Mau nambah?" Hanna menawarkan, Rayyan menolak dengan menggeleng meskipun sebanrnya dia ingin nambah. Berhubung perutnya sudah tidak muat, lantas dia menolak.


"Kenapa kamu memblokir nomerku?" Rayyan meletakkan gelas minumannya yang sudah tandas. Hanna mendongak, tangannya baru saja mengambil piring kosong milik Rayyan dan menumpuknya dengan piring kosong miliknya.


"Hah nomer?" Hanna menegaskan, sambil mencoba mengingat. Seingatnya tidak ada nomer yang masuk mengatasnamakan Rayyan.


"Iya...bukan dibalas malah diblokir" Rayyan sebal, dia melipat kedua tangannya di dada sambil melihat Hanna. Hanna yang ditatap Rayyan dengan tatapan itu menciut, seolah Rayyan ingin menerkamnya. Hanna tersenyum aneh dan menggaruk kepalanya. Tiba-tiba dia ingat sudah memblokir sebuah nomer, dan Hanna meyakini jika itu adalah nomer Rayyan, karena memang hanya satu nomer yang terblokir di ponselnya.


"Kenapa? senyum-senyum nggak jelas. Kamu tahu nggak, di luaran sana para cewek-cewek...para fans-fans pada nyari tahu akses untuk bisa berbicara langsung denganku, ini kamu malah memblokir nomerku yang aku kasih cuma-cuma" cerocos Rayyan. Hanna lega, ini Rayyan yang sesungguhnya, Rayyan yang sudah kembali ke setelan awalnya, Rayyan yang menyebalkan itu.


"Iya kah?" Hanna pura-pura masa bodoh. Meskipun yang diucapkan Rayyan benar adanya, dia adalah salah satu fansnya yang menginginkan memiliki nomer Rayyan, kalaupun tidak bisa dia ingin di follow back akun instagramnya.


"Pura-pura beg* lagi, udah balikin nomerku, besok aku mau keluar kota beberapa hari, jadi aku harus bisa memantaumu" Rayyan mengultimatum. Hanna terkesiap, piring yang sudah tertumpuk tadi belum juga di bawa ke tempat cuci piring, dia khidmad mendengar Rayyan ceramah, seperti ayah yang sedang ceramah pada anaknya.


"Memangnya perlu memantau aku?" Hanna bertanya pada dirinya sendiri dengan lirih.


"Apa kamu bilang?"


"Hah?" Hanna salah, ternyata Rayyan mendengar gumamannya, padahal dia sedang menggerutu sendiri sebenernya.


"Iya perlu lah, kamu ada aku aja berani-beraninya berduaan sama cowok, apalagi kalau aku ke luar kota"


"Maksudnya?" Hanna semakin penasaran. "Jangan-jangan kamu sendiri yang membuntuti aku kemarin ya? benar-benar nggak ada kerjaan!" Hanna bangkit dari kursinya dan membawa piringnya menuju tempat cuci piring.


"Pergilah keluar kota dengan tenang, aku tidak seperti apa yang kamu pikirkan, aku juga memikirkan


masa depan adikku, jika terjadi hal-hal yang bisa membatalkan perjanjian itu, maka aku juga akan dirugikan, paham?" Hanna malah berbalik seperti memojokkan Rayyan.


"Dasar gadis ini! mengapa dia yang berkuasa?" Rayyan tersenyum hambar, lalu tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya.


"Aku akan memantaumu, ingat itu!" Rayyan tak mau kalah.


"Iya...." Hanna selesai mencuci piring kotornya, meletakkannya di atasrak basah tak jauh darinya. "Sudah? atau ada lagi yang akan disampaikan?" Hanna berdiri di dekat Rayyan.


"Kenapa?"


"Aku mau ke tempat Ayah, sudah beberapa hari aku tidak mengunjunginya"


"Hah...pergilah" Rayyan memberikan izin, tangan kanannya mengibas, mengkode Hanna agar segera pergi.


        Rayyan masih duduk di kursi makannya, sedangkan Hanna sudah keluar kembali dari kamarnya. Bersiap dengan tas ranselnya. Dia heran saat melihat Rayyan masih duduk di kursi makan.


"Katanya selebriti, tapi seperti nggak ada kerjaan" gumam Hanna lagi sambil berlalu.


"Heh...ngomong apa kamu?" teriak Rayyan.


"Ah...! Hanna menghentikan langkahnya, matanya memejam. Kenapa Rayyan telinganya tajam sekali, seolah bisa mendengar semua apa yang dia ucapkan meskipun sangat lirih. Hanna menggeleng dan tersenyum  datar sambil melihat Rayyan.


"Aku itu pilih-pilih kerjaan, endorse jalan, iklan jalan, jangan kamu pikir aneh-aneh" Rayyan memberikan klarifikasi.


"Iya..iya" Hanna mengangguk.


"Sudah...pergi sana"


Tak ada lagi ucapan, Hanna kembali melangkah hendak keluar.


"Eh bentar!" Rayyan berteriak lagi. Hanna kembali menghentikan langkahnya dengan tergesa.


"Apa lagi?" Hanna mengerem kalimatnya agar tidak terdengar seperti orang yang sedang marah.


"Sini ponselmu" Rayyan mengulurkan tangan kanannya, meminta Hanna memberikan ponselnya. Hanna menghembuskan nafas, melepas tas ranselnya yang sudah menempel manis di punggungnya, dia mengambil ponselnya dan menyerahkan pada Rayyan.


Rayyan mengotak atik ponsel Hanna dan memastikan nomernya tidak terblokir.


"Nah kan gini kan aku tahu kalau nomerku sudah kamu simpan, kalau nggak gini nomerku pasti tetap terblokir" Rayyan puas, dan benar saja nomernya masih terblokir oleh Hanna. Rayyan mengembalikan ponsel Hanna, Hanna kembali menyimpannya ke dalam ransel.


"Sudah aku mau berangkat" Hanna cemberut.


Rayyan tertawa melihat Hanna keluar dari rumahnya, mainan yang sungguh tidak dia sangka.


Tembus 5 like, nanti malam bisa lah author up lagi.