Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
7. Rahasia


"Aaaaaaaaaaaa!!" terdengar suara berteriak dari dalam kamar mandi.


"Aaaaaaaaaaaa!!" begitu juga terdengar teriakan dari mulut Hanna, kedua tangan Hanna refleks menutupi wajahnya. Seketika hening beberapa detik, nafas Hanna terpacu karena terkejut. Kemudia dia mencoba tenang dan perlahan merenggangkan kedua tangan yang menutup mukanya. Kini dia melihat Rayyan sudah mengaitkan handuk berwarna putih di pinggangnya. Hanna bernafas lega.


"Oh maaf" ucap Hanna sambil berbalik arah, ingin segera dia kabur dari tempat ini sekarang juga.


"Hei!!" sergah Rayyan, belum juga Hanna berlari. Hanna kembali menghentikan langkahnya, tapi dia tidak


berbalik. Matanya terpejam, seolah takut akan diberi hukuman.


"Ya?" jawab Hanna tetap membelakangi Rayyan. Terdengar langkah kaki mendekat ke arahnya.


"Apa ini apa ini?" Hanna mendengus dalam hati. "Apakah dia melakukan hal-hal tidak senonoh?" bisiknya lagi. "Aku harus lari atau memukul dia kalau dia macam-macam"


"Apa? jangan mendekat!!" teriak Hanna ketakutan.


"Kenapa? kenapa kamu yang galak? kamu yang salah kenapa kamu yang galak?" Rayyan tak kalah berteriak. Rayyan menyampirkan baju kotornya ke pundak Hanna. "Nih!" ujar Rayyan.


"Oh" hampir saja Hanna berpikiran yang tidak-tidak.


"Kamu senang ya melihat kejadian tadi? hah?" Rayyan mendekatkan diri dan berbicara di telinga Hanna sebelah kiri, membuat Hanna bergidik.


"Eng...enggak....enggak sengaja, maaf" jawab Hanna gugup, dia memang tidak sengaja masuk ke dalam kamar mandi, dia benar-benar mengira kamar mandi itu kosong, di dalam pun tidak terdengar suara orang mandi. "Aku nggak dengar ada suara air atau apa, aku kira nggak ada orang" Hanna membela diri.


Rayyan mengusap wajahnya dengan sapuan tangan kanannya, tak dapat dipungkiri, pesona Rayyan menghipnotis,


wajahnya yang masih basah dengan percikan air bekas mandi, rambutnya juga masih basah, bahkan di ujung rambutnya masih ada titik air yang menetes. Dan apalagi, weeeh....terlihat badan atletis Rayyan yang begitu memabukkan.


"Apa lihat-lihat?" tanya Rayyan sambil berkacak pinggang. "Tuh kan, kamu memang menikmati situasi ini"


"Ti..tidak.....!" Hanna tidak mau kalah. "Ini sebagai hari tersial dari hidupku, mengapa harus melihat benda keramat itu" gumamnya.


"Apa? keramat? kamu pikir....." Rayyan menahan rasa gemasnya, bisa-bisanya ada gadis yang menjengkelkan, mengatakan barang keramat padanya.


"Kamu pikir aku tidak ternoda dengan kejadian tadi?" Hanna masih saja tidak mau mengalah.


"Aku yang seharusnya merasa ternodai"


"Oke, kita sama-sama ternodai, aku akan melupakan dan merahasiakan, jadi jangan marah-marah lagi" Hanna


berlari meninggalkan Rayyan. Kakinya dengan sigap menapaki titian anak tangga, hingga dia tiba di tempat cucian untuk melakukan tugasnya.


        Sambil mencuci, Hanna masih memikirkan kejadian tadi. Sesekali dia menarik nafasnya perlahan, mengapa dia bisa masuk kamar mandi Rayyan.


"Dasar bodoh" Hanna menepuk dahinya. Bayangan Rayyan yang berada di kamar mandi dengan tanpa busana


membuatnya kembali bergidik. "Sangat menyeramkan" Hanna menggeleng-gelengkan kepalanya.


Aktivitas mencuci sudah selesai, satu jam lagi dia sudah harus berada di kampus, karena ada perkuliahan. Setelah


"Ok, sudah...sudah cantik" ucapnya sambil tersenyum. Tangan kanannya bersiap membuka pintu kamarnya untuk


keluar. Sebuah tangan kekar berada di depan pintu merentang.


Hanna terkesiap kaget.


"Kenapa? ada apa?" tanya Hanna sesaat setelah membuka pintu kamarnya, kakinya berjalan mundur beberapa


langkah. Terlihat Rayyan telah berdiri di depan pintu kamarnya, Rayyan menyilangkan kedua tangannya di dada sambil menatap tajam Hanna seakan ingin menerkam.


 "Kamu mau kemana?" Rayyan melihat Hanna sudah bersiap untuk pergi.


"Kuliah" jawab Hanna singkat.


"Jangan-jangan kamu akan menceritakan kejadian tadi pada teman-teman kamu di kampus" Rayyan masih berada di tengah pintu.


Hanna mendengus, yang benar saja, itu adalah mustahil. Tidak mungkin dia akan bercerita pengalaman horor yang barusan dia alami. "Enggak" Hanna menjawab singkat, itu benar-benar mustahil.


Hanna beringsut dan berjalan di celah pintu yang muat untuknya lolos dari Rayyan yang sedang berdiri di sana. Hanna meninggalkan Rayyan. Dengan motor bututnya dia pergi ke kampus, melupakan kejadian tadi.


Sementara Rayyan melihat gadis itu pergi meninggalkan rumahnya, dia melihat di balik jendela hingga Hanna benar-benar tidak terlihat. Dia menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Rayyan kembali pergi ke dapur, perutnya berontak minta untuk diisi. Dia lupa jika tidak ada asisten rumah tangga, dan dia sedang malas untuk mengambil ponselnya di kamar atas untuk memesan makanan online. Rayyan mendengus.


Rayyan mendekat ke arah meja makan, makanan yang disebut sop dan perkedel oleh Hanna masih ada di meja makan, ada secarik kertas berada di sana.


Makanlah jika kau mau, gratis....sebagai ucapan maafku.


Hanna menuliskan pesan sebelum dia bersiap pergi ke kampus tadi. Rayyan tersenyum kecil, gadis aneh itu, gadis yang sama sekali tidak terlihat mendewakan dia yang merupakan artis papan atas di negeri ini.


"Dasar aneh" ucapnya, Rayyan menyeret kursi dan duduk di sana, tangannya meletakkan tulisan tersebut di atas meja, lalu dia melihat menu makanan yang sederhana itu. Tangan kanannya dengan ragu memungut satu perkedel, lalu dengan ragu pula dia mencicipi makanan itu. Sekali gigitan, dua gigitan, hingga dia sudah menghabiskan 3 buah perkedel.


Seolah dia khilaf sudah makan makanan itu yang ternyata terasa lezat, tapi dia gengsi untuk menghabiskannya. Hingga akhirnya egonya kalah dengan rasa laparnya, dia mengambil piring dan menyendokkan nasi ke atasnya, tak lupa dia siram dengan kuah sop dan kembali mengambil perkedel.


Dengan lahap Rayyan menghabiskan porsinya, dan terakhir dia mengambil minuman dari dalam lemari es. Perutnya kini sudah tidak lagi protes, makanan yang nampak sederhana itu sudah berhasil membuat perutnya tenang.


"Tidak terlalu buruk" senyumnya mengembang, "Selain bisa mencuci pakaian dia juga bisa memasak." kedua alis Rayyan naik ke atas.


Tiga hari yang diberikan oleh Kamila untuk rehat sejenak membuatnya tidak tahu harus melakukan apapun, Rayyan berada di ruang televisi, jarang-jarang dia bisa menonton televisi dengan waktu longgar. Dan benar saja, saat baru menjajaki sebuah channel, wajahnya muncul di sana, nampaknya gosip tentang dia masih saja belum surut. Berita tentang dia sebagai perebut istri dari Brian, tentang pernikahan yang gagal dan lain sebagainya. Rayyan mematikan televisi dan membanting remot di atas sofa. Kepalanya terasa berdenyut, kedua tangannya mengurut kedua pelipisnya. Kini dia sedang berbaring di atas sofa.


"Bisa-bisanya berita itu masih saja santer"


Tapi di balik berita itu, Kamila meminta dia tetap tenang dan tidak melakukan klarifikasi apapun, karena berita itu akan hilang dengan sendirinya. Kamila juga memastikan bahwa kontraknya dengan pekerjaan Rayyan masih aman, tidak ada putus kontrak. Semua masih aman.


Terdengar derap kaki mendekat saat Rayyan sayup-sayup menutup matanya, hampir saja dia terlelap.


Sebuah tangan yang lembut menyentuh pipi Rayyan, "Aku kangen" ujar suara perempuan itu tepat di telinga Rayyan.