Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Bad Party


Jika biasanya dia malas untuk dandan, malam ini dia sengaja dandan demi mendatangi ulang tahun Bian, kekasihnya. Meskipun dalam hati ada perasaan bersalah yang menggelayut, seolah dia sudah menghianati cinta mereka. Hanna tiba di lokasi sesuai dengan arahan Bian. Bertempat di rumahnya sendiri yang nampak megah itu, baru kali ini Hanna datang ke rumah Bian.


Hanna memasuki gerbang rumah Bian, dari gerbang sudah dihias lampu dan juga bunga, nampaknya ulang tahun Bian melebihi acara perkawinan baginya. Benar-benar semarak, Hanna melangkah lagi dan dia takjub dengan bunga-bunga yang menghiasi sepanjang kanan kiri dia berjalan. Suasana nampak semarak terlihat dari kejauhan. Ini adalah kali pertama dia akan bertemu dengan Bian setelah sekian lama tidak bertemu karena kesibukan masing-masing.


Hanna berjalan sendiri, mencoba mencari tahu teman yang sekiranya dia kenal. Hanya beberapa wajah yang dia tahu, yaitu teman satu kampus yang berbeda jurusan. Kebanyakan adalah para teman Bian yang kebanyakan dia tak tahu. Hanna seperti berada di lingkungan asing, hingga akhirnya dia berada di sebuah kursi yang agak jauh dari Bian yang sedang berbincang. Mendadak dia ciut untuk menyapa Bian yang terlihat sebagai bintangnya malam ini.


Ponsel Hanna bergetar, menyadari ada panggilan masuk. Hanna bergegas membuka tas selempangnya dan melihat ke layar ponsel, nama Bian tertera di sana. Sebelum menggeser tombol hijau, Hanna melihat ke arah Bian yang sedang menempelkan benda pipih itu di telinganya, menunggu jawaban Hanna.


Belum sempat Hanna menggeser tombol hijau, seseorang menepuk bahu Hanna. Sontak Hanna memutar tubuhnya menghadap ke belakang.


"Hey" sapa Talitha.


"Hey" balas Hanna menatap Talitha lekat.


"Apa kabar Han? nggak nyangka ketemu di sini" Talitha tersenyum, wanita itu nampak cantik dan kelihatan sudah sehat kembali pasca insiden kecelakaan tempo hari. Dengan gaun terbuka warna hitam yang menawan, tangan kanan wanita itu memegang segelas minuman berwarna orange.


"Boleh duduk di sini?" tanya Talitha.


Hanna bergeser dan mempersilahkan duduk di samping Hanna. "Silahkan, senang bertemu denganmu di sini, kenal Bian?"


Mendengar pertanyaan itu, Talitha menyesap minumannya lalu dia tersenyum manis dan menatap Hanna, tanpa menjawabnya.


"Aku senang, akhirnya aku ada teman, sejak aku datang aku melirik ke kanan dan ke kiri, tak ada yang aku kenal" Hanna tersenyum lega.


"Btw, bagaimana kabar kalian?" Thalita memainkan gelasnya dengan cara mengelus bibir gelas dengan telunjuk tangan kanannya.


Hanna mengangkat kedua alisnya.


"Uhm...maksudku kamu dan Rayyan" Talitha mempertegas. Hanna hampir saja terbatuk saat mendengar nama itu. "Atau kamu sedang bersama yang lain?" kalimat demi kalimat yang terlontar dari bibir Talitha seolah terencana. Kembali Talitha mengulum senyum seolah sedang menyembunyikan sesuatu.


Seolah kembali diingatkan dengan peristiwa dini hari tempo hari, Hanna kembali merasakan resah. Di satu sisi dia ingin bersama Bian, di satu sisi dia masih menjadi isri Rayyan, bahkan peristiwa itu sudah terlanjur terjadi.


"Aku sudah tak bisa berada di jalurku, jalurmu sudah benar, maka tetaplah berada di sana, karena jalan yang kamu inginkan belum tentu sesuai dengan tujuan kamu" kalimat demi kalimat kembali meluncur, membuat Hanna tak bisa berfikir jernih. "Aku kesana dulu ya, sepertinya acara inti segera dimulai" Talitha bangkit dari kursi taman dan meninggalkan Hanna dengan perasaan yang tak menentu.


"Oh iya" Hanna menjawab pendek, dia melihat Talitha segera bergabung dengan beberapa orang yang sudah berdiri mengelilingi kue besar yang ada di tepi kolam renang.


Kembali Hanna tersentak dengan ponselnya yang bergetar.


"Hallo" suara Hanna agak keras, karena suara musik juga sedang mengalun, jika dia menjawab dengan suara lirih, maka suaranya tak akan terdengar oleh Bian.


"Kamu di mana?" tanya Bian.


Dari tempatnya duduk, Hanna bisa melihat Bian sedang celingukan mencarinya, akhirnya Hanna melambaikan tangan agar Bian melihatnya.


"Kemarilah, acara akan segera dimulai" ucap Bian. Hanna menutup panggilan dan segera melangkah di kerumunan pesta.


Bian nampak di depan didampingi kedua orang tuanya, Hanna berada di barisan seperti undangan yang lain, dia tak mau terlihat mencolok meskipun dia sudah pernah bertemu dengan kedua orang tua Bian.


"Terima kasih teman-teman atas kehadirannya, aku sangat senang sekali, dan pada ulang tahun kali ini, aku akan memperkenalkan seseorang pada kalian semua" sambutan Bian diiringi tepuk tangan dari para undangan, begitu juga Hanna. "Pa....Ma...izinkan putramu ini memperkenalkan orang yang spesial" Bian melihat ke kedua orang tuanya yang nampak tak sabar untuk melihatnya.


Seseorang maju mendekat ke arah Bian dan kedua orang tua Bian. Nampak Mama Bian tersenyum, menganggap jika perempuan tersebut adalah perempuan yang akan diperkenalkan oleh putranya. Mimik wajah Bian yang semula bahagia kini berubah.


"Selamat ulang tahun" Talitha menyerahkan sebuah kado kecil warna biru navy pada Bian. Bian menatap Talitha dengan tajam, ekspresinya tak bisa diterjemahkan.


Hanna nampak melihat dari deretan para undangan lainnya, tangannya masih memegang kado yang akan dia berikan pada Bian. Dia melihat Talitha berada di sana. Ada apakah? apakah mereka memang kenal? batinnya berkecamuk.


Talitha mengulurkan tangannya pada Bian, menyalami, namun Bian bergeming. Talitha kembali menarik tangannya kembali, sementara kado itu sudah berada di tangan Bian.


"Buka...buka...buka..." seru hampir semua tamu undangan, sepertinya mereka semua menganggap jika perempuan spesial yang akan dikenalkan itu adalah Talitha.


"Bukalah nak" seru Mamanya. Bian nampak ragu.


"Buka...buka...buka" suara dari tamu undangan kembali bergema.


Tangan Bian nampak ragu, senyum Talitha mengembang, dia melihat ke arah Bian dengan manis, kemudian melihat ke arah tamu undangan. Dan akhirnya mata Talitha beradu pandan dengan Hanna. Hanna menatap tegas Talitha dengan penuh tanda tanya.


Bian membuka kotak kado tersebut, dan berlembar-lembar foto dengan nuansa hitam putih terjatuh ke lantai. Mamanya memungut sebuah foto, bibirnya nampak bergetar saat melihat foto tersebut.


"Ini adalah anak kamu, yang kamu bunuh" ungkap Talitha dengan wajah sendu. Mendengar kalimat tersebut, Mama Bian menjadi shock dan tidak percaya.


Hanna tak bisa mencerna, bahkan dia belum sempat menjabat tangan Bian dan mengucapkan selamat ulang tahun. Hanna melihat dengan tatapan nanar pada Bian yang berada di depan sana.


"Jangan fikir aku nggak bisa melakukan hal ini? kepalang basah, aku tak takut apapun" Talitha menatap Bian dengan tatapan tajam. "Kamu bisa menghancurkan aku, dan aku bisa lebih dari itu". Talitha berlalu tanpa peduli dengan apa yang terjadi.


Kasak-kusuk dari para tamu undangan pun mulai terdengar. Saat melihat hal tersebut, hati Hanna terasa pedih, dia maju ke depan menghampiri Bian dan kedua orang tuanya.


"Tante...Om..." Hanna menyapa, wajah kedua orang tua itu sudah tak sebahagia tadi. Kini Hanna melihat Bian dan mengulurkan tangannya.


"Selamat ulang tahun" Hanna mencoba tersenyum, tak lupa dia memberikan kado yang dia bawa. Hatinya terasa kelu, kemudian dia berlalu dengan menahan air matanya.