Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Asing Di Keramaian


Tiiin Tiiin.....


Suara klakson mobil membuyarkan lamunan Hanna, meskipun dia berada di dalam rumah. Suara itu cukup keras dan terdengar jelas di pendengarannya.


Hanna bergegas melongok keluar, memastikan jika itu adalah suara mobil Rayyan yang menjemputnya. Ternyata Rayyan sudah turun dari mobilnya dan sudah berdiri di depan pagar rumahnya. Hanna mengambil tas yang ada di meja dekatnya, lalu keluar.


"Sorry telat, macet," Rayyan menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


"Ngapain minta maaf segala, telat juga nggak bakalan kena hukuman kan sama temanmu," Hanna menyeringai.


"Iya benar, yok berangkat,"


Hanna mengangguk dan hendak membuka pintu mobil.


"Eh bentar," suara Rayyan menghentikan Hanna untuk masuk ke mobil. Hanna menoleh ke arah Rayyan.


"Kenapa,?"


Rayyan menatap Hanna dengan lekat, jarak mereka yang tidak terlalu jauh tapi juga tidak terlalu dekat itu tetap memancarkan cinta.


"Kamu cantik banget," puji Rayyan. Hanna menghela nafas, merasa besar kepala dengan pujian itu. Jelas itu bukanlah pujian yang diinginkan, karena dia tahu standar dirinya, dirinya hanyalah cewek yang nggak cuantik sekali. Bahkan bisa dikatakan kurang serasi jika bersama Rayyan yang terlihat paripurna di mata para penggemarnya, terlebih kaum hawa.


"Hush, jangan halu," Hanna mengibaskan tangannya, sok pura-pura cuek. Padahal hatinya sedang tak karuan, jantungnya meloncat-loncat girang. Rayyan tertawa kecil, tangannya dengan sigap membukakan pintu mobil untuk Hanna.


"Silahkan masuk my princess," gumamnya berlebihan, Hanna menggelengkan kepalanya, sungguh Rayyan benar-benar lebay sekali.


Mobil melaju, dan memang jalanan lumayan rame malam ini, maklum malam minggu. Banyak orang yang ingin melepaskan penat setelah lelah seharian berkutat dengan pekerjaan masing-masing.


"Oh ya, yang ulang tahun itu teman nongkrong, tapi dia model juga,"


"Cewek,?" tanya Hanna.


"Cowok, katanya sih acara tunangan juga," Rayyan sepertinya nggak yakin dengan rundown acara temannya itu, apalagi Hanna. "Yah pokoknya datang gitu dah,"


"Kok bisa nggak tahu, aneh sekali," Hanna bergumam lirih, merasa heran dengan pertemanan laki-laki, temannya ada acara tapi nggak tahu jelas acara apaan. Beda dengan cewek kebanyakan yang segala hal tahu, bahkan segala printilannya pun hafal.


"Kenapa? aneh ya,?" Rayyan mengulum senyum. "Aku memang secuek itu, yang penting datang," bisiknya.


Hampir setengah jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di sebuah tempat yang sudah disewa oleh temannya itu. Sebuah mansion mewah, dan lagi-lagi Hanna yang merasa katrok pun baru kali ini masuk ke dalam tempat seperti ini.


Suara musik terdengar membahana, para undangan begitu bahagia. Di sana sudah sangat ramai, Rayyan berjalan di samping Hanna. Hanna yang merasa asing pun hanya bisa diam.


"Tenang, ada aku," bisik Rayyan, tangan Rayyan dengan sigap tanpa disuruh langsung menggenggam tangan Hanna.


"Apa ini tidak berlebihan,?" bisik Hanna menatap Rayyan.


"Gimana? apa sekalian aku gendong,?" Rayyan menaik turunkan alisnya. Hanna menepuk lengan Rayyan gemas.


"Mana bisa seperti itu,?" Hanna melirik manja.


Hampir semua mata tertuju pada kedatangan Rayyan, entah kedatangannya Rayyan atau gegara ada makhluk abstrak di samping Rayyan. Tangan Rayyan erat menggenggam tangan Hanna, sementara Hanna ingin kabur saja. Takut jika keberadaannya akan mengotori pandangan.


"Tetap seperti ini," ungkap Rayyan. Kalimat sederhana, kalimat pendek itu terasa menyejukkan Hanna, membawa Hanna terbang ke langit. Seorang Rayyan dengan kalimat itu, seperti melindungi Hanna. Dan Hanna sungguh merasa tenang.


"Hai....selamat datang bro," ucap seseorang sambil melambaikan tangan, lalu terlihat Rayyan dan orang itu berjabat tangan. Tangan kiri Rayyan masih menggenggam erat jemari Hanna.


"Selamat Bram," ucap Rayyan.


"Thanks ya...di sela kesibukan, kamu menyempatkan datang ke acaraku, kenalin nih calonku," ucap laki-laki yang disapa Bram itu sambil menujuk cewek berparas cantik yang ada di sebelahnya.


"Rayyan," balas Rayyan.


"Diiih...cewek baru, kenalin donk," Bram mengedipkan mata.


Rayyan melihat ke samping, memberikan senyuman pada Hanna. Hanna menarik tangannya dari genggaman Rayyan dan menyalami Bram dan Mellisa.


"Hanna," ucap Hanna tenang, lebih tepatnya ditenang-tenangkan.


Terlihat Bram membisikkan sesuatu di telinga Rayyan, mereka layaknya teman yang sudah akrab. Terlihat Rayyan tersenyum dan menjawab sesuatu, tapi Hanna tak bisa mendengar.


"Ya sudah, enjoy ya bro, aku kesana dulu," Bram terlihat menunjuk arah tamu lain. Rayyan mengangkat jempolnya, kemudian Bram menggandeng Mellisa ke arah tamu yang lain.


"Siap," balas Rayyan.


"Yuk Han kesana," ajak Rayyan menunjuk sebuah meja. Hanna menurut, karena dia merasa asing di pesta seperti ini. Ini kelewat mewah baginya, karena yang pernah Hanna lakukan saat undangan pesta ulang tahun adalah makan sederhana.


Rayyan mengambilkan minum yang disodorkan oleh pelayan laki-laki.


"Minum Han," Rayyan menyodorkan gelas berisi sebuah minuman berwarna orange.


"Terima kasih," Hanna mengambil gelas tersebut dan meneguknya.


"Kalau kamu bosan, kita bisa pulang," Rayyan meletakkan gelasnya. Hanna mendongak.


"Hah,?" Hanna heran, beginikah adabnya? baru datang dan pulang.


"Kalau kamu merasa nggak nyaman kita pulang," tegasnya. Hanna buru-buru menggeleng dan mengibaskan kedua tangannya. Bagi Hanna, mendatangi undangan adalah menghormati yang mengundang.


"Enggak, aku baik-baik saja,"


"Pokoknya nanti kalau nggak nyaman, ngomong aja, dan santai saja ya,"


"Aku mau ke toilet dulu,"


"Aku antar,?" tawar Rayyan.


Hanna menggeleng, please lah...Hanna merasa nggak begini juga. Dia bukanlah anak kecil yang selalu dibuntuti.


"Bisa...aku bisa,bye...," Hanna tersenyum kikuk lalu berlalu meninggalkan Rayyan. Meskipun dia harus celingukak mencari di mana letak toilet. Setelah bertanya pada seorang pelayan, Hanna sampai di toilet, dan dia hanya mencuci tangan di wastafel sambil bercermin.


Hanna merutuki penampilannya yang kalah jauh, yang jomplang banget dengan para tamu cewek yang lain. Mereka kelihatan glamour dan mewah.


"Apalah aku ini," gerutunya.


"Kamu pacarnya Rayyan,?" tunjuk seorang cewek pada Hanna. Hanna mengalihkan pandangannya dari cermin ke cewek itu.


"Ah?"


"Kenalin, aku Megan, teman Rayyan dari SMP," cewek seksi nan cantik itu mengulurkan tangannya, dan Hanna pun menyambutnya. Kepercayaan diri Hanna berasa rontok melihat teman yang Rayyan yang begitu cetar itu. "Senang bisa bertemu dengan ceweknya Rayyan," senyumnya.


Hanna tak bisa mengartikan apa maksud dari kalimat cewek itu, dia berharap itu bukan merupakan sindirian untuknya. Karena otak Hanna merasa dia bukanlah orang yang tepat untuk Rayyan.


"Aku keluar dulu ya," pamitnya. Hanna mengangguk. Hanna menghela nafas, kedua tangannya memegang pinggir wastafel, lalu dia menghembuskan nafas panjang. Meskipun terkenal cuek, Hanna tetaplah merasa rendah diri. Terlebih di situasi seperti ini.


Setelah merasa tenang, Hanna keluar dari toilet dan segera menuju meja yang dia tempati tadi, hanya saja dari kejauhan Hanna tak melihat keberadaan Rayyan. Hanna tetap menuju kesana dan menunggu Rayyan di sana. Suara musik semakin keras berdentum, Hanna merasa sendirian, dan benar kata Rayyan, dia merassa tak nyaman berada di sini. Mending dia nongrong di cafe minum kopi bersama Kia dan Panji.