
"Dengan kak Hanna,?" tanya salah satu perempuan itu pada Hanna dengan nada yang ramah.
Hah? bahkan mereka tahu namaku? apa mereka sudah mengincarku sudah lama?
Hanna semakin menghalu kemana-mana, mana mungkin makhluk sepertinya akan diculik.
"I-iya," jawab Hanna singkat, dia masih mematung di ambang pintu.
"Perkenalkan, kami dari Beauty MUA, dan kami mendapatkan nota pesanan dari alamat ini atas nama kak Hanna," jelasnya ramah. Hanna mengerjab beberapa kali, dia merasa tidak pernah memesan MUA.
"Maaf, saya nggak pernah mesen MUA kak," Hanna merasa apa yang ada di depannya sedang salah alamat.
"Kami utusan dari Rayyan Sebastian," ungkapnya akhirnya.
"Ow," Hanna membulatkan bibirnya. Apalagi ini? pikirnya.
"Jadi bisakah kita mulai make up sekarang kak,?" tanya salah satu pegawai itu lagi.
Hanna menggaruk tengkuknya, mau tidak mau dia harus menjawab iya.
"Silahkan masuk kakak-kakak...maaf rumahnya begini," Hanna merasa tak enak hati. Dia sangat paham MUA yang dipilih oleh Rayyan pasti MUA yang benar-benar profesional, mereka terbiasa dengan para artis atau pejabat. Lah apalah dia yang hanya insan biasa, Rayyan terlalu berlebihan mendatangkan MUA ke rumahnya. Padahal dia sudah berniat hanya akan merias wajahnya seadanya saja, rasanya akan menjadi pemborosan jika dia pergi ke salon.
Para pegawai tengah bersiap untuk merias Hanna, mereka menata alat make up nya yang tentunya up to date, lampu rias pun mulai menyala.
Hanna mulai duduk di kursi dan menghadap cermin, mereka tengah menata Hanna dengan cermat dan teliti. Hanna hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan oleh para perias handal itu.
"Kak, jangan menor ya...," pinta Hanna.
"Siap kak, ini acara wisuda dan percayakanlah pada kami," jawab salah satu MUA yang sedang memberikan perona pipi pada Hanna.
Hanna tidak ingin tampilannya terlalu medok dan terlihat seperti pengantin, tidak mau terlihat mencolok. Dan benar saja, riasan yang ada di wajah Hanna sungguh cantik sekali. Flawless, tidak medok dan sangat cantik sekali. Hanna merasa senang, ini tentu jauh sekali dari bayangannya. Andai dia merias wajahnya sendiri tentu tak semewah ini.
Salah satu MUA mundur dan berganti dengan menata rambut Hanna. Mereka tidak menyanggul rambut Hanna. Mereka hanya membuat kepang modern di rambut Hanna, jika biasanya Hanna selalu identik dengan poni tengah. Untuk hari ini, para MUA tersebut menghilangkan poni itu dan menariknya ke belakang. Hanna sungguh takjub dengan apa yang dilakukan oleh MUA itu.
"Hampir selesai kak," ujar sang perias itu dengan senyum sumringah, merasa senang dengan apa yang timnya lakukan untuk Hanna. Sungguh memberikan kepuasan kepada mereka.
"Bajunya sudah siap kak,?" tanya MUA yang tengah selesai menata Hanna. Hanna mengangguk dan ingat jika dia menggantung kebaya warna ungu muda itu di kamar, Hanna bergegas mengambilnya dan memakainya di kamar. Beberapa kali Hanna mematut dirinya di depan cermin, sungguh dia pangling dengan dirinya sendiri. Hanna memegang kedua pipinya dengan kedua tangannya, lalu tersenyum.
Hanna keluar dari kamarnya, terlihat para MUA tersebut tengah merapikan box make up nya, mereka bersiap meninggalkan rumah Hanna. Tugas mereka telah usai.
"Kak, bolehkah minta fotonya bersama kak Hanna,?"
"Hum,?" Hanna menoleh.
"Iya kak, untuk laporan," senyumnya sambil mengangkat ponselnya.
"Iya," jawab Hanna malu-malu. Seseorang dari mereka mendekati Hanna dan merapikan kebaya serta kain batik sebagai bawahannya. Tak lupa mereka membantu Hanna memakai sepatu yang telah disiapkan Hanna. Sempurna.
"Terima kasih kak," ucap mereka, "Senang sekali bisa bekerjasama dengan kak Hanna,"
"Saya yang terima kasih,"
"Selamat wisuda kak, kami pamit dulu," ucap mereka sebelum meninggalkan rumah Hanna.
Jam sudah menununjukkan pukul setengah tujuh pagi, Hanna memegang perutnya. Dia lupa jika tadi dia tidak jadi membuat sarapan.
"Dengan kak Hanna? ada paket," teriak seorang kurir yang membuat Hanna kembali kaget.
"Apa lagi,?" gumam Hanna sambil melongok keluar pintu, dia melihat kurir yang ada di depan pagar rumahnya. Hanna berjalan mendekat ke arah pagar.
"Iya," jawab Hanna sambil membuka pintu pagar.
"Ada kiriman paket untuk kak Hanna, silahkan tanda tangan di sini," seorang kurir menyerahkan paket itu pada Hanna. Bukan sebuah kotak, melainkan sebuah rantang dengan gaya etnik yang terbuat dari bambu.
"Dari siapa,?" tanya Hanna penasaran.
"Tidak tahu kak, saya hanya bertugas mengantarkan dari catering. Hanna membaca tempelan yang ada di wadah tersebut, dan itu adalah sebuah logo catering yang terkenal di kota ini. Masa iya dia mau diracun, kembali Hanna overthinking.
"Terima kasih," ucap Hanna sambil membawa wadah tersebut dalam dekapannya.
"Sama-sama kak," jawab kuris tersebut sambil berlalu.
Hanna menutup pintu pagarnya dan membawa wadah yang dia yakini adalah makanan itu masuk ke dalam rumah. Dan dia meletakkannya di meja makan. Hanna membuka perlahan wadah tersebut, dan menemukan sebuah pesan.
Makanlah, biar tidak pingsan.
RYN
Hah lagi-lagi. Hanna tersenyum kecil, seperti cenayang saja si Rayyan yang tahu jika Hanna tak sempat warapan. Hanna mengambil piring dan menyendokkan nasi serta lauknya. Dia bergegas sarapan karena dia tidak mau terlambat. Karena jam setengah 8, calon wisudawan sudah harus segera memasuki gedung.
Selesai sarapan, Hanna masuk ke dalam kamar untuk mengambil tas selempangnya. Tak lupa, sebelum dia keluar dari kamar, dia mematut dirinya di depan cermin. Hari ini dia menjadi super narsis di depan cerminnya.
Hanna keluar rumah, baru saja mengunci pintunya. Dia berniat naik taksi online saja, karena jika naik motor pun akan terasa lucu, bisa-bisa rambutnya menjadi berantakan saat tiba di lokasi nanti.
Baru saja Hanna mengeluarkan ponselnya, sebuah mobil parkir di depan rumahnya.
"Apa lagi ini,?" Hanna bergumam sambil melihat mobil tersebut, seseorang turun dari mobil itu dan berdiri di depan pintu pagar rumah Hanna. Hanna segera mendekat.
"Iya pak,?" Hanna membuka pintu pagar.
"Dengan mbak Hanna,?" ini sudah ketiga kalinya yang mencarinya pagi ini.
"Silahkan masuk mbak," laki-laki yang sekitar berumur 50 tahunan itu membukakan pintu mobil. "Aman mbak, saya bukan penculik," ujarnya, Hanna pun tersenyun absurd.
Sebuah pesan masuk sebelum Hanna masuk ke dalam mobil.
Berangkatlah, maaf tidak bisa menjemputmu.
Hanna semakin yakin jika itu adalah utusan Rayyan, karena pesan yang masuk juga dari Rayyan. Hanna akhirnya masuk ke dalam mobil.
"Jadi ini pacarnya mas Rayyan sekarang,?" sopir itu melihat Hanna dari rear vission mirror. Hanna pun langsung melihat sopir tersebut.
"Hah?"
"Sepertinya sangat istimewa, bapak sudah lama bekerja di kantornya mas Rayyan, dan baru kali ini menjemput seorang perempuan, berarti mbak Hanna istimewa,"
Hanna tersenyum kecil.
"Oh ya pak, Rayyan kemana,?" tanya Hanna penasaran.
"Dia sedang ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan mbak,"
"Oh..," ada rasa kecewa saat sopir itu mengatakan Rayyan sedang ada pekerjaan, itu artinya Rayyan tak akan ada di tengah wisudanya. Ah, Hanna memukul dahinya, tidak boleh mengharapkan kedatangan Rayyan. Siapalah dia. Buru-buru Hanna mengingatkan pada dirinya sendiri.
Dan mobil yang ditumpangi Hanna masuk ke area parkir dekat gedung wisuda, Hanna turun dari mobil tersebut lengkap dengan jas wisuda dan juga toga. Hanna terlihat sangat senang sekali, akhirnya hari yang ditunggu pun tiba.
"Terima kasih pak," tak lupa Hanna menyunggingkan senyumnya sebagai tanda terima kasih kepada sopir itu. Dan Hanna berjalan perlahan memasuki gedung, mencari deretan kursi yang akan dia tempati.