Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Benteng Di Antara Kita


Hanna benar-benar terlelap tidur dengan posisi duduk, Rayyan yang terbangun melihat Hanna tidur dengan posisi tersebut pun tak tega. Dia tidak percaya jika Hanna akan menunggunya dan tidak pulang ke rumahnya. Rayyan yang sudah merasa agak baikan segera menyingkap selimut yang membungkus tubuhnya, dia pun yakin jika Hanna yang menyelimutinya.


Rayyan berdiri dan mendekat ke arah Hanna, memperhatikan Hanna yang sedang nyenyak tidur. Bahkan dia bisa mendengar deru nafas Hanna. Rayyan mengangkat Hanna dan memindahkan ke tempat tidur, tak lupa Rayyan mengambil selimut dan menyelimuti Hanna agar tidak kedinginan. Sementara dia terbangun dan membuka komputer yang ada di meja tak jauh dari sofa yang tadi.


Rayyan mengecek email masuk, dikarenakan untuk sementara Kamila tidak masuk kerja, maka dia yang mengecek semua kerjaan yang masuk. Rayyan memilah pekerjaan yang sedianya akan dia ambil atau tidak.


Ada beberapa pekerjaan yang masuk, dan Rayyan memilih tak mengambil semuanya. Dia sedang ingin mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.


Hanna mengucek matanya, melihat langit-langit kamar. Seingatnya dia tadi tidur di sofa, kini sudah berpindah saja di atas ranjang. Hanna menoleh ke arah Rayyan, dan dilihatnya laki-laki itu sedang duduk di depan komputer. Hanna memerikasa tubuhnya, masih melekat utuh semua pakaiannya. Hanna bernafas lega.


Rayyan nampak tersenyum-senyum sendiri di depan layar komputer, dia melihat sebuah akun yang memfollow dirinya dengan nama HannaRo. Setelah melihat foto profilnya, dia lantas merasa jika itu adalah Hanna. Lalu tanpa pikir panjang Rayyan mem-follow back akun Hanna.


Dan Rayyan dibuat tertawa saat membaca pesan dari Hanna lewat direct message di akunnya, di mana Hanna mengatakan jika dia mengagumi Rayyan dan ingin bertemu Rayyan. Bahkan ada tulisan Rayyan I Love You. Betapa noraknya Hanna kala itu.


Rayyan tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, tak menyadari jika Hanna sudah berdiri di belakangnya sambil bersedekap.


"Hoaaaah!" Rayyan berjingkat saat melihat Hanna sudah berdiri di dekatnya, jantungnya hampir copot. "Sejak kapan kamu di sini?" teriaknya.


"Kamu sudah sehat?" tanya Hanna sambil melihat Rayyan dengan tatapan melotot, seperti emak-emak yang sedang memarahi anaknya yang sedang kabur saat disuruh tidur. Waktu masih menunjukkan dinihari.


"Lagi ngecek kerjaan"


"Sakit, bukannya tidur malah ngeluyur aja" ketus Hanna.


"Iya, lagi baca pesan lucu" Rayyan kembali tertawa saat mengingatnya. Hanna yang menyadari jika dialah objek itu, maka pura-pura saja tak tertarik mendengar ceritanya. "Mau tahu?" Rayyan menawarkan.


"Enggak...aku mau pulang" seru Hanna. Sukses membuat Rayyan mendelik.


"No Han, tetap di sini, ini masih gelap, nanti kalau kamu diculik bagaimana? banyak garangan di luaran sana" cegahnya, garangan adalah sebutan laki-laki hidung belang bagi Rayyan.


"Bodo amat, lagian kamu sudah sehat, ngapain aku di sini" Hanna tak mau kalah, Rayyan pun bergegas meninggalkan kursinya dan berdiri di depan Hanna.


"Ini lihatlah aku masih sakit" Rayyan memasang wajah lemas, tapi Hanna tak percaya. Rayyan menarik salah satu tangan Hanna dan menempelkannya di dahinya. Terasa masih hangat memang.


"Tidurlah" Hanna menunjuk ranjang, meminta Rayyan kesana dan tidur. "Karena besok aku juga harus ke kantor, aku nggak mau terlambat"


"Nggak usah masuk"


"Enak saja" Hanna menolak. "Bukan kantor moyangku"


"Tapi itu kan kantor suamimu Han"


Hanna melihat Rayyan dengan kesal, memang tidak salah juga.


"Tidur bareng yok" Rayyan melihat ke arah Hanna.


"Rayyaaaaan!" Hanna berteriak, Rayyan terkekeh. "Kamu jangan cari mati ya..." Hanna semakin menajamkan pandangannya pada Rayyan.


"Han...." panggilan itu nampak serius, Hanna yang baru saja mengeluarkan jurus teriakan pun terdiam. "Kita menjadi pasangan suami istri beneran saja yuk" pinta Rayyan dengan mimik serius. Seakan waktu berhenti, apa yang didengar Hanna serasa seperti mimpi. Tapi Hanna tak mau gegabah mengambil keputusan, dia baru saja patah hati dan belum siap patah hati kembali nantinya.


"Aku suka sama kamu" kalimat itu benar-benar memabukkan. Tapi dia membentengi dirinya, meyakinkan dirinya jika Rayyan sedang sakit sehingga omongannya melantur kemana-mana. Dia tahu, benteng dirinya dengan Rayyan begitu tinggi. Siapalah dirinya? dia hanya orang biasa, sedangkan Rayyan. Siapa yang tidak tahu dia?.


Membayangkan menjadi pacar Rayyan akan membuatnya banyak dibenci kaum hawa yang mengidolakan Rayyan, apalagi jika menjadi istrinya. Dia pasti akan mendapatkan caci maki, terlebih jika dianggap tidak memiliki visual yang seimbang dengan Rayyan.


Benteng kita terlalu tinggi.


"Permisi ya mbak Hanna, maaf baru sempat membersihkan ruangannya" ujar sang OB pada Hanna.


"Eh mas Karyo, iya nggak apa-apa"


"Mbak Hanna sih kepagian datangnya" ujar sang OB yang dipanggil Mas Karyo itu. "Rajin sekali" pujinya.


"Ah biasa saja" Hanna berdiri dan menyilahkan OB menyapu di tempatnya. "Maaf ya mas merepotkan mas Karyo, harus menyapu di sini" Hanna tak enak.


"Lah kan emang tugas saya mbak, nggak usah merasa nggak enak. Nah sudah mbak, silahkan duduk kembali" Mas Karyo telah selesai menyapu tempat Hanna.


"Terima kasih"


"Sama-sama mbak e" Mas Karyo melanjutkan pekerjaannya. Hanna menatap layar komputer, sebelum membuka pekerjaannya, karena masih terlalu pagi, Hanna membuka media sosialnya, dan di sana dia melihat jika akun media sosialnya sudah di follow back oleh Rayyan. Hanna mengernyit, jika sampai teman-temannya tahu, maka jagat perkampusan akan ramai dengan berita ini.


Hanna segera menutup layar media sosialnya, dan membuka pekerjaan yang harus dia kerjakan.


"Permisi mbak Hanna..." sapa Mas Karyo lagi, Hanna masih berkutat di depan komputernya. "Ini mbak" Mas Karyo meletakkan buket bunga mawar merah dan juga sekotak makanan dan juga air dengan warna yang berbeda dari hari kemarin. Kini warnanya merah muda. Hanna mengernyitkan dahinya.


"Buat saya mas?" Hanna nampak tak percaya.


"Iya mbak, ini ada tulisannya" mas Karyo menunjuk sebuah kertas yang menempel di kotak makan. Tertera dengan jelas namanya, HannaRo.


"Dari siapa?" tanya Hanna.


"Kurang tahu mbak, saya tinggal dulu ya mbak, mau melanjutkan pekerjaan yang belum selesai" pamit mas Karyo sebelum Hanna bertanya lebih lanjut lagi.


"Iya, makasih mas"


"Sama-sama" jawaban mas Karyo sudah menjauh darinya.


"Cieeee dapat lagi ini" Meta yang baru datang pun langsung tertarik dengan barang yang ada di atas meja Hanna. "Mau donk...jadi kamu, selalu dapat kiriman begini, dari siapa sih?" Meta masih saja kepo.


Hanna mengedikkan bahu, Meta pun memegang kiriman tersebut. Dan membaca pesannya.


"Terima kasih sotonya tadi malam" gumam Meta. "Nah...ini Han ada pesannya, hayooo tadi malam kirim soto sama siapa? cie....Bian ya?" Meta menebak.


"Bukan" Hanna buru-buru menjawab.


"Ups...gebetan baru nih ye"


"Ih kepo kamu"


"Pake bunga segala, manis banget sih" Meta mupeng dengan apa yang diterima Hanna.


Dengan ada tulisan tersebut, Hanna kembali yakin jika itu adalah kiriman dari Rayyan. Jika Hanna mengatakan pada Meta, maka akan gempar beritanya.


"Haaaaaan....mupeng banget tahu nggak sih?" teriak Meta.


"Apa?" lagi-lagi Hanna dikagetkan dengan suara Meta.


"Kamu di folback sama babang Rayyan?" Meta begitu histeris. Hanna mengerjabkan matanya, dasar temannya yang satu ini memang suka heboh sendiri.