
"Apa maksudmu??" Kamila berteriak sambil mencak-mencak, Hanna yang dari ruang sebelah saja sampai kaget
mendengar suara Kamila yang keras itu. Hanna mencoba melihat ke ruang sebelah, di mana Kamila dan Rayyan sedang berbincang. Hanna hanya mendapati visual Kamila sedang berdiri sambil berjalan mondar-mandir, kedua tangannya melipat di depan. Sesekali dia menggaruk kepalanya. Hanna hanya mengamati saja.
"Aku ingin rehat sejenak Mil" Rayyan duduk di sofa, Kamila mendelik mendengar Rayyan.
"Dengar ya...aku bukan apa-apa, kamu boleh rehat tapi jangan mendadak seperti ini, kamu sudah tanda tangan
kontrak, nanti kita kena penalti" ujar Kamila.
"Biar saja, bayar aja gih, masa uang segitu banyaknya sampai nggak mampu bayar" jawab Rayyan enteng. Kamila menggeram, menahan amarahnya. Kamila menghembuskan nafas panjang, daripada akan menimbulkan perang, maka Kamila mengalah dan segera ke ruang sebelah, dia tahu Hanna ada di sana.
"Sebel aku" Kamila membanting dirinya di sofa. Hanna mengambilkan air untuk Kamila, agar perempuan yang ada di sebelahnya itu merasa tenang.
"Minum dulu Mil" Hanna menyodorkan segelas air. Kamila menerimanya dan meminumnya.
"Terima kasih" Kamila meletakkan gelas ke atas meja, tangannya langsung mengambil tisu dan mengelap bibirnya.
"Iya, sama-sama Mil"
"Kamu tinggal sama dia apa nggak gedek?" Mila menatap Hanna. Hanna menahan tawanya.
"Malah ketawa" ujar Kamila saat melihat Hanna menahan tawa.
"Kan memang dia begitu Mil"
"Ada apa dia tiba-tiba ingin cancel semua jadwal?" Kamila merasa aneh saja jika Rayyan tiba-tiba seperti itu.
"Kamu nggak tahu?"
"Tahu apa?" Mila membelalakkan matanya. Hanna mengerutkan keningnya, urusan ini Kamila tak tahu. Hanna menghela nafas panjang. Melongok ke ruang samping, dilihatnya Rayyan sedang berbaring di atas sofa, menutup wajahnya dengan bantal kecil di sana. Hanna kembali duduk di samping Kamila.
"Kemarin Brian kesini, entah ada cerita apa di baliknya, hanya saja sepertinya dia ada masalah dengan Talitha, dan kemungkinan dia putus"
"Serius?" tanya Kamila dengan wajah yang berbeda, dia nampak sumringah.
"Sebahagia itu Mil?" Hanna menahan tawa.
"Bodo amat lah, dan aku bahagia kalau memang dia putus dengan Talitha" Kamila benar-benar sumringah.
"Mil..." Hanna menahan kalimat lanjutannya.
"Ada info apa lagi?" Kamila penasaran.
"Talitha hamil" bisik Hanna, dia memang harus menceritakan masalah ini pada Kamila.
"Hahhh!!!" teriak Kamila.
"Sssssstttt" Hanna meletakkan telunjuk di depan bibirnya, agar Kamila tak terlalu heboh dengan informasi yang di berikan.
"Gilak sih, bisa begitu. Jangan bilang kalau Talitha itu hamil sama Rayyan" Kamila mulai menerka, soalnya beberapa minggu yang lalu Rayyan minta liburan.
"Entahlah Mil" Hanna menggeleng.
"Tuhaaan...tolong jangan sampai Rayyan melakukannya"
"Tapi Mil...kalaupun Rayyan yang melakukannya, nggak mungkin mereka putus loh, hanya saja kok kemarin Brian
marahnya ke Rayyan"
"Kemarin?"
"Iya" jawab Hanna. "Rame banget sih kemarin"
***
"Cemen banget" suara itu tiba-tiba terdengar jelas, Rayyan menoleh. Hanna sedang berdiri di dekatnya, Rayyan melihat Hanna sekilas.
"Hanya karena seperti itu, kamu mempertaruhkan hidupmu" Hanna sedang menceramahi Rayyan tak peduli siapa
Rayyan.
"Ganti baju dan mari kita pergi" Hanna meminta.
"Maksudmu apa??" Rayyan menatap Hanna.
"Sudahlah, sekali-kali kamu harus keluar dan melihat luar dengan meninggalkan statusmu sebagai seleb negeri
ini" Hanna tersenyum. Rayyan menghela nafas panjang, tapi dia ikut saja apa yang diucapkan oleh Hanna. Dia segera bergegas ke atas dan mandi, tak menunggu lama dia sudah turun lagi. Dilihatnya Hanna sudah menunggunya, dengan membawa tas ransel duduk manis di atas sofa.
Hanna mendingak dan menyimpan ponselnya ke dalam ranselnya saat melihat Rayyan sudah berdiri di depannya.
"Ok kita berangkat" Hanna menarik pergelangan tangan Rayyan dan mengajaknya keluar, seperti sebuah boneka yang tak melakukan perlawanan apapun, Rayyan ikut saja.
Hanna mengambil helm dari tempatnya dan memakainya, pun demikian dengan Rayyan. Meskipun tanpa komando yang jelas dari Hanna, dia ikut memakai helm. Terserah mau kemana gadis aneh itu membawanya.
"Aku nggak yakin kalau kamu yang nyetir motor ini, jadi duduklah dengan santai, aku yang akan jadi ojeknya" Hanna tersenyum menyeringai. Bagai manusia yang sedang error otaknya, Rayyan ikut saja.
Hanna sudah duduk dan siap menggeber motornya, Rayyan agak sedikit ragu untuk duduk di belakang Hanna.
"Ayo..nggak usah ragu, kamu akan aman bersamaku" Hanna berbicara dengan sangat percaya diri. Akhirnya Rayyan nurut dan duduk di belakang Hanna.
"Pegangan" Hanna kembali memberikan perintah. Rayyan tak menurutinya kali ini, membiarkan tangannya bergelantung di udara.
Hanna menyalakan mesin motornya dan keluar dari halaman rumah Rayyan. Hanna menjalankan motornya dengan perlahan. Menyusuri jalan-jalan kecil.
"Heh kamu tahu jalan nggak sih? mau kemana?" Rayyan akhirnya bicara.
"Hah? apa?" Hanna agak memiringkan kepalanya agar bisa mendengar suara Rayyan.
"Mau kemana? kamu jangan aneh-aneh ya, nyasar nih" Rayyan sedikit berteriak pad Hanna.
"Ow...tenang saja, nggak...nggak kalau kesasar, aman" Hanna kembali fokus ke jalan. "Sekali-kali lah jalan begini, nikmati udara yang segar, hempaskan apa yang memenuhi pikiranmu" Hanna memarkir motornya di pinggir jalan. Tepat di samping pedagang es degan.
"Ngapain?" teriak Rayyan seolah enggan turun dari motor.
"Haus" Hanna mengelus lehernya menandakan dia halus.
"Dua mbak" Hanna mengangkat 2 jarinya seperti huruf V.
"Siap mbak" jawab si penjual. Rayyan yang dari tadi masih ogah-ogahan untuk turun pun segera berjalan mendekat ke arah Hanna yang tengah duduk di lesehan tak jauh dari penjualnya.
"Haaaah, Rayyan bukan?" teriak penjual sesaat setelah melihat Rayyan berjalan di depannya. Rayyan hanya melirik sekelebat lalu acuh tak acuh, Dia duduk di dekat Hanna sambil menyelonjorkan kakinya.
"Heh...jangan sombong" Hanna menegur.
"Bodoh amat, aku lagi pusing"
"Ini mbak..." mbak-mbak penjual es tersebut sambil menyerahkan 2 buah gelas yang berisi kelapa muda.
"Mbak maaf ya, si dia lagi dapet, makanya sensi" ujar Hanna sambil melirik ke arah Rayyan. Rayyan tak peduli.
"Oh iya mbak" jawab penjual es sambil menahan senyum.
"Ngapain di sini?" Rayyan masih jengkel.
"NIkmatilah hidupmu, jangan terlalu serius, patah hati nggak selamanya kan?" dengan entengnya Hanna berkata. Rayyan melirik dengan tatapan mata tajam ke arahnya, tapi Hanna tak peduli. Dia hanya ingin meringankan apa yang dirasakan oleh Rayyan. "Anggaplah dia sebagai pembelajaran yang datang, lalu pergi membawa sesuatu yang bisa kamu pelajari" Hanna mengaduk isi gelasnya dengan sendok kecil. "Aku nggak bisa merasakan pedihnya hatimu, tapi aku ingin kamu berbagi, setidaknya bisa meringankan apa yang kamu rasakan"
"Nggak perlu dijelaskan" ucap Rayyan dingin. Memang tak ada yang bisa dia ceritakan karena yang dia rasakan kini adalah hatinya terluka, patah hati, kecewa, dan entahlah.