
Aroma wangi bunga melati khas pengantin memenuhi indra penciuman bagi mereka yang sedang dekat dengan sang pengantin. Tiba waktunya untuk Hanna keluar dari kamarnya dan menuju tempat ikrar pernikahan akan dihelat. Kia menggandeng Hanna menuju tempat tersebut. Mereka berdua berjalan pelan.
"Semua akan berjalan baik-baik saja," bisik Kia sambil menuntun Hanna, raut wajah Hanna yang tegang terlihat. Namun dia mencoba tersenyum, tak hentinya dia berdoa agar dilancarkan. Dan selanjutnya hari ini, hari yang sangat penting ini akan membawa bahagia selamanya untuknya dan Rayyan.
Rayyan sudah menunggu di kursinya, tak hanya Hanna. Dia juga merasakan apa yang dirasakan Hanna, ada rasa tegang. Rayyan menghela nafas panjang lalu dihembuskan untuk mengurangi rasa tegangnya. Akad nikah kali ini berbeda dengan yang sebelumnya, karena saat dulu dia hanya menjalankan "tugas", kali ini adalah pernikahan yang sebenarnya meskipun dengan orang yang sama.
Rayyan melihat dari jauh, di mana Hanna sedang berjalan anggun dituntun oleh Kia sahabatnya. Benar saja, paras Hanna sungguh berbeda dari biasanya, benar-benar manglingi. Hanna sangat cantik di matanya, sejenak dia terpana dan tidak berkedip melihat Hanna yang semakin mendekat. Rayyan berdiri menyambut sang calon istrinya. Dari panitia sendiri sudah menarik kursi yang akan ditempati Hanna, Hanna semakin dekat. Rayyan semakin deg-degan dan terpana dengan kedatangan Hanna. Hanna yang benar-benar tegang pun sengaja tidak melihat wajah Rayyan agar dia tidak semakin tegang.
"Semua akan baik-baik saja, Bismillah ya Han...," bisik Kia pada Hanna. Hanna mengangguk pelan. Perlahan Kia meninggalkan Hanna.
Cuaca sangat mendukung, tidak panas dan juga tidak hujan. Seolah alam pun ikut memberikan rasa nyaman pada acara kali ini.
Dan detik yang dinantikan pun akhirnya tiba, dengan satu kali tarikan nafas janji suci itu diikrarkan dengan kyusyu dan sah. Akhirnya mereka resmi menikah.
Kia mengusap air matanya, tak terasa air matanya menetes, akhirnya Hanna menemukan tambatan hatinya setelah perjuangannya yang berliku. Kia mengusap air matanya menggunakan tisu, dari jaraknya duduk dia bisa melihat Hanna nampak menitikkan air mata bahagia, dengan sigap Rayyan mengambil tisu dan mengusapnya. Kia senang, akan ada orang yang melindungi Hanna, menyayangi dan mencintai Hanna dengan tulus.
Kamila tersenyum lega, seseorang yang dia jaga seperti adiknya sendiri itu sudah menemukan kepingan hatinya, kini sudah utuh. Tugasnya usai menjaga Rayyan, Rayyan dan Hanna akan saling menjaga, saling menguatkan, menyayangi dan mencintai. Kamila mengusap air matanya yang ada di sudut matanya, air mata bahagia.
Di depan, Hanna dan Rayyan berfoto dengan membawa buku nikahnya, senyum terus mengembang di wajah mereka. Mereka terlihat sangat lega dan bahagia.
Nayo berdiri mendekat ke arah Hanna dan memeluknya erat.
"Selamat kak, kini kakak nggak mimpi memiliki Rayyan," ucapnya pelan sambil tersenyum. Hanna ikut tertawa kecil, lalu menepuk punggung adiknya gemas. Nayo adalah salah satu saksi di mana Hanna sering mengajak berbicara poster Rayyan di kamar.
"Terima kasih sudah menjadi pendukung kakak di garis depan," Hanna mengucapkan terima kasih pada Nayo, dia menatap adiknya itu. Nayo mengangguk kecil.
"Terima kasih," ujar Rayyan pada adik iparnya itu.
"Titip kakak bang, tolong jaga dia dengan baik," sahut Nayo berpesan dengan serius pada Rayyan, praktis setelah ayahnya meninggal, Hanna lah yang menjadi orang tua baginya, dia tahu bagaimana perasaan kakaknya. Sebenarnya dia tahu sebegaimana lelahnya Hanna, kini Hanna sudah ada pundak yang akan menopang kekutannya. Hanna tak sendiri lagi, dan harapannya Hanna akan bahagia selamanya bersama Rayyan.
Setelah puas berfoto dengan para sahabat, kolega, dan semuanya. Rayyan naik ke atas panggung dan bersiap untuk mengalunkan sebuah lagu yang dia persembahkan untuk Hanna istrinya.
Rayyan menggandeng Hanna dengan sabar, karena Hanna agak kesulitan berjalan dengan sandal yang menggunakan hak tinggi.
Mungkin sudah saatnya
'Kan kuakhiri masa kesendirian
Mempersiapkan hati 'tuk melamarmu
Terimalah diriku
Rayyan terlihat bersujud dan memegang jemari Hanna, kemudian mencium tangan Hanna dengan mesra. Para sahabat nampak berteriak histeris melihat keromantisan mereka.
Mungkin saat ini ku akan melepas masa lajangku
'Kan kupersunting dirimu
Jadilah pasanganku dan hidup menua bersamaku
Terimalah cintaku
(Arvian Dwi, Melepas Masa Lajang)
Hanna melihat Rayyan dengan tatapan bahagia, dia sangat bahagia dan merasa ini adalah mimpi. Tapi berkali-kali dia juga meyakinkan bahwa ini adalah nyata, Rayyan menggenggam jemari Hanna dengan erat sambil melantunkan syair lagu dengan merdunya.
"Waoooo waooooo luar biasa sekali pasangan pengantin kita kali ini, suara yang merdu menambah suasana kita semakin luar biasa, semoga yang jomblo segera menemukan tulang rusuknya," ujar sang MC dengan semangat membara.
"Daaaan......tenang untuk para jomblo, semoga segera ketularan ya...duh aku juga jomblo nih," curcolnya. "Setelah ini adalah acara lempar bunga oleh pengantin baru kita, mari kita berlomba mendapatkannya, silahkan kalian semua berkumpul di depan sini," teriaknya. MC tersebut menunjuk area yang dimaksud. Semua yang merasa jomblo pun ikut maju dan berada di area tersebut, Ratna dan Kia semangat maju dan berharap mendapatkan bunga dari pengantin. Dengan harapan segera ketularan untuk menikah.
"Satu...dua....tiga....," MC memberi aba-aba, dan Hanna dan Rayyan yang menghadap belakang pun melempar bunga tersebut bersamaan.
Sebuah tangan menangkap bunga tersebut dengan sempurna. Hanna dan Rayyan perlahan melihat ke arah depan, mencari siapa yang mendapatkan lemparan mereka.
"Yaaaakkkk....mas mas tampan yang mendapatkannya, sini...sini," ujar sang MC mendekat ke arah yang dimaksud.
Hanna nampak berbinar saat melihat siapa yang dimaksud. Sosok itu tak lain adalah Panji, tidak ingin Hanna terlalu ribet dengan harus turun panggung, dia maju ke atas sambil tersenyum dari jaraknya. Hanna bahagia melihat Panji kesini, dan seorang gadis yang mengekor di belakang Panji.
"Selamat Han...ini mimpi kamu yang menjadi nyata, selamat," Panji bersalaman dan merangkul Hanna memberikan selamat.
"Terima kasih Nji, terima kasih sudah melakukan banyak hal buat aku," Hanna merasa sangat terharu, selama ini Panji banyak membantunya.
"Semoga bahagia sampai surga,"
"Amin," balas Hanna.
"Selamat Rayyan, jaga Hanna," ujarnya merangkul Rayyan. Rayyan mengangguk dan mengiyakan apa yang diucapkan Panji padanya, ini adalah sebuah amanat. Rayyan menyadari banyak orang yang menyayangi Hanna, orang yang begitu baik pada Hanna. Dia sadar itu.
Hanna memeluk gadis yang mengekor Panji, dan memang dia adalah pacar Panji. Seorang gadis cantik yang snagat serasi buat Panji.
Menurut Kia, Panji tidak bisa datang. Tapu nyatanya Panji benar-benar menyempatkan datang ke acara sakral ini, dan Hanna sangat bahagia.
Kebahagian terpancar tidak hanya pada pengantin baru ini. Para undangan pun begitu bahagia dengan suasanya ini. Selepas acara selesai, mereka pun masih berada di resort ini. Karena memang masih disewa oleh Rayyan.
***
Malam pun tiba, Rayyan dan Hanna yang memesan kamar khusus yang benar-benar dekat dengan laut, sebuah kamar eksklusif yang hanya ada satu kamar itu tidak akan terganggu dengan yang lain.
Mereka berada di balkon kamar yang langsung menghada ke laut.
"Aku mencintaimu," ujar Rayyan sambil menggenggam tangan Hanna erat, dia melihat mata Hanna dengan lembut dan penuh cinta. Hanna yang masih salah tingkah pun senyum-senyum nggak jelas.
"Akhirnya kamu ada di sini, menjadi bagian hidupku, ini bukan mimpi kan,?" Rayyan memastikan. Hanna menggeleng, tangannya mengusap pipi Rayyan dengan lembut. Lalu dengan berjinjit dia mengecup pipi Rayyan.
"Aku juga mencintaimu, dulu, kini, hingga nanti, semoga sampai surga bersama,"
Rayyan tersenyum, ingin rasanya dia menangis. Lantas dia memeluk erat Hanna, mengusap punggungnya. Tak hentinya dia bersyukur pada Tuhan karena sudah mengirimkan Hanna pada hidupnya.
"Amiiiiin....," ucap Rayyan
Rayyan memegang dagu Hanna, mendekatkan bibirnya ke bibir Hanna. Disaksikan jutaan bintang di langit yang tanpa mendung, suara deburan ombak dan juga desau angin ikut mengiringi kebahagiaan mereka.
Kisah cinta yang nyatanya tak hanya ada di angan-angan, bahwa cinta ini nyata adanya.
"5 anak," ujar Rayyan sambil mengacungkan tangan kanannya.
"Banyak banget," protes Hanna yang masih bergelendot manja di tubuh Rayyan.
"Iya, biar rame...kan kita kesepian, terutama aku, kalau anak kita banyak nanti rame..." Rayyan tergelak dengan candaannya, tentunya dia hanya menggoda Hanna. Terserah Hanna dan terserah Tuhan mengaturnya bagaimana.
Kembali mereka berpelukan dengan mesra.
Haaaah....akhirnya usai sudah novel ini, terima kasih kepada kalian para readers yang sudah membaca dari awal hingga akhir. Tanpa kalian apalah artinya author. Terima kasih yang sudah memberikan banyak dukungan buat author, yang selalu membaca, memberikan sukungan dan semangat. Sehat-sehat para readers agar suatu saat nanti tetap bisa membaca karya author yang lain. Terima kasih...terima kasih...dan terima kasih...Author sayang kalian......🌹🌹