Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Akhirnya Dunia "Menyempit"


Matanya masih normal, penglihatannya sungguh masih bisa dia pastikan dengan benar. Bahwa yang dilihatnya benar-benar nyata. Perempuan berambut pendek dengan blazer warna gelap itu adalah yang selama ini dia cari layaknya mencari jarum dalam tumpukan jerami. Beberapa bulan yang sulit, yang membuatnya frustasi itu kini ada di depan matanya. Setelah sekian lama. Benar-benar dia ingin menjitak kepala perempuan itu. Eits tapi tunggu


Siapa laki-laki yang mendekatinya itu? tapi otaknya yang cerdas segera mengingatnya, wajah itu tidak asing. Benar, wajah itu tidak asing baginya, dia pernah melihat laki-laki itu.


Kini mereka nampak berbicara intim, meskipun ada seorang teman perempuan di samping perempuannya, ah dia masih menyebut perempuan itu perempuannya.


Rayyan mengusap wajahnya dengan kasar, dia masih berada di dalam mobilnya. Sedangkan Annet masih menunggu bosnya untuk turun, tidak biasanya bosnya itu melamun di balik kemudi. Dia memilih untuk diam saja tanpa bertanya.


Lagi, Rayyan memperhatikan laki-laki yang sedang berbicara itu, tak lama kemudian dia meninggalkan 2 perempuan itu. Dan mereka pun ikut menghilang, masuk ke dalam kantor.


Rayyan bergegas membuka pintu mobilnya, melihat bosnya keluar mobil, Annet ikut turun dan sedikit berjalan cepat untuk mengimbangi langkah Rayyan. Rayyan menggunakan lift VIP untuk sampai di ruangannya, lantai 10. Dan akhirnya dia sampai, karena masih penasaran dengan apa yang dilihatnya.


"Apakah mereka berpacaran? apa gara-gara ini dia meninggalkanku? atau jangan-jangan mereka sudah menikah,?" Rayyan mondar-mandir di ruangannya sebelum dia memutuskan untuk keluar dan menuju aula yang akan digunakan untuk acara.


Rayyan diam-diam memperhatikan seisi ruangan.


"Bapak lagi apa,?" sapa seorang OB yang melihat Rayyan nampak mengendap. Suara itu membuat Rayyan kaget dan gelagapan.


"Oh tidak, sttt...sudah sana,"


"Oh baik pak," jawab OB itu sambil berlalu. Rayyan yang sudah kepalang kaget pun segera berdiri tegak dan kembali mengedarkan pandangannya, mencari sosok yang dia incar. Dan akhirnya dia melihat sosok berambut pendek itu sedang duduk di bangku agak belakang bersama dengan teman perempuannya. Rayyan merasa lega karena ternyata tidak sedang dengan laki-laki yang tadi.


Sosok yang dia lihat pun bangkit dari kursinya dan rupanya hendak keluar, takut ketahuan Rayyan pun berlari menghindar dan bergegas masuk ke dalam ruangannya.


"Kenapa pak? ada apa,?" tanya Annet melihat Rayyan yang nampak berbeda, Annet melihat ke balik jendela, dan dilihatnya tidak ada apa-apa.


"Ah nggak apa-apa," Rayyan mencoba terlihat biasa, tangannya membenahi dasinya, terasa sesak mencekik lehernya. Sial, kenapa dia merasa deg-degan setengah mampus melihat Hanna. Harusnya tidak begini.


Rayyan melihat Hanna melewati ruangannya dari balik tirai yang dia buka sedikit, mungkin Hanna akan menuju ujung lorong, yaitu toilet. Rayyan mengerucutkan bibirnya dan menghembuskan nafasnya, kenapa dia menjadi edan seperti ini.


Buru-buru Rayyan membuka pintu ruangannya, tidak terbuka sepenuhnya. Hanya setengah, cukup untuk orang melihat keberadaannya saat melewatinya. Rayyan bergegas ke mejanya. Annet yang merasa aneh dengan tingkah laku Rayyan hanya bisa bengong, untung saja dia sudah selesai menyiapkan berkas yang dibutuhkan oleh Rayyan.


"Sini kamu, tolong ambil tisu, bersihkan wajahku," Rayyan segera duduk di kursinya dan berlagak sibuk di depan laptop yang sebenarnya layarnya tidak menyala itu.


"Apa pak,?" Annet memicingkan matanya, semakin heran dengan tingkah Rayyan.


"Sudah lakukan saja,"


Annet tak membantah lagi, dia segera mengambil selembar tisu dan mengusapkan di wajah Rayyan, antara heran dengan keanehan ini, tapi hati Annet berdebar. Merasa senang. Ah sudahlah.


Annet segera menjauh dari Rayyan dan agak salah tingkah, namun dia bergegas keluar ruangan.


"Saya keluar dulu pak," pamitnya.


"Hem...yah..yah...," Rayyan mempersilahkan, dia masih duduk di kursinya sambil memegang keningnya. Pintu pun kembali tertutup setelah Annet keluar.


"Haaahhhh.....jadi kamu di sini, lihat saja nanti," gumamnya. Rayyan mengusap wajahnya, mengambil nafas dalam dan menghembuskannya. Setelah merasa tenang, Rayyan segera keluar meninggalkan ruangannya dan bergabung di aula, karena acara sudah mulai.


Rayyan ditunggu oleh Annet di dekat pintu masuk. Dan mereka melangkah bersama duduk di kursi depan di deretan orang-orang penting di sana. Rayyan duduk dengan tenang, sebenarnya ditenang-tenangkan, dan matanya benar-benar beradu pandang dengan sosok yang dia cari sejak tadi. Dan dia sedang duduk di dekat laki-laki itu.


Mata mereka saling beradu, rasanya dia ingin menatap mata itu dalam dan lama. Namun nyatanya dia memilih untuk membuang pandangannya, dan mencoba tidak peduli dengan apa yang ada di depannya. Dia bernegosiasi dengan hatinya agar dia terlihat tidak mengenalnya, tidak peduli dengan sosok itu. Dia ingin terlihat diam dan dingin.


Hingga acara usai, sudah berapa kali dia mencuri pandang dengan Hanna, hanya saja setiap Hanna hendak melihatnya balik, dia segera membuang kembali pandangannya. Apakah tidak terasa panas hatinya? tentu saja. Karena pemandangan di depannya sungguh membuatnya mendidih, Farel sedang berbincang akrab dan sesekali mereka tersenyum, mereka tertawa bahagia.


30 menit berada di depan dengan sesekali menebar senyum tanda bahagia cukup membuatnya tersiksa, dan akhrinya berakhir sudah.


"Selamat menikmati jamuan dari perusahaan kami, saya pamit undur diri dulu," pamitnya sambil membungkukkan badannya.


Semua peserta berdiri dan memberikan tepuk tangan meriah kepada Rayyan selaku CEO dari perusahaan yang sedang mereka hadiri itu. Rayyan memperbaiki dasinya dan bergegas keluar, lagi-lagi dia merasa tak sanggup melihat Hanna dan melewatinya begitu saja dengan dingin. Annet mengekor di belakangnya.


Rayyan melepaskan jasnya dan mengendorkan dasinya saat dia tiba di ruangannya.


"Ini minumnya pak," Annet mengambilkan sebotol minuman dingin dari lemari pendingin. Untuk membasahi tenggorokannya yang terasa tercekat sejak tadi, Rayyan membuka seal botol itu dan meneguknya. Terasa sejuk, tapi tidak berhasil menyejukkan hatinya.


Haruskah dia kembali ke sana dan memanggil Hanna secara khusus? dan menanyakan apakah hubungan Hanna dengan Farel?


Rayyan kembali menutup botol minuman itu dan meletakkan di atas meja, titik-titik air yang ada di luar botol itu terlihat jelas sedang meleleh di atas meja.


"Apa yang bisa saya lakukan lagi pak,?" tanya Annet, karena Rayyan terlihat masih saja resah.


"Kamu bisa membantu yang ada di aula, saya ingin sendiri dulu," ujar Rayyan.


"Ba...baik pak," Annet menurut dan meninggalkan Rayyan sendirian di ruangannya. Rayyan berdiri di dekat jendela, melihat luar sana.


Bagaimana bisa takdir ini terjadi dengan mudahnya? setelah usahanya mencari Hanna kemana-mana tak membuahkan hasil, kini sosok itu muncul di depannya dengan mudahnya. Tuhan memang baik. Ah sebentar, Hanna muncul hanya untuk mengabarkan dia sudah punya suami kah? Rayyan menggaruk rambutnya dengan tangan kanannya.


Dunia sedang berbaik hati padanya karena dia bisa melihat Hanna dalam keadaan baik-baik saja, meskipun terlihat agak kurusan. Setidaknya itu yang dia syukuri saat ini.