Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Siapalah Diriku, Hanya Insan Biasa....


"Kamu sehat kan Han?" tanya Kia sembari memasukkan memasukkan kunci mobilnya ke dalam tas selempangnya.


"Memangnya aku sakit apa?" Hanna balik bertanya, mereka baru saja sampai di parkiran sebuah mall. Kia sengaja mengajak Hanna jalan-jalan sambil merayakan ulang tahun Hanna.


Kia melihat Hanna dengan mata membulat, mereka berjalan sejajar. "Han, serius" Kia melihat ke arah Hanna dengan posisi masih berjalan.


"Aku dua rius Kia, aku baik-baik saja, nggak sakit"


"Dasar oon" dengus Kia, Hanna tertawa. "Kamu sadar nggak sih kalau kamu itu merugiii"


"Merugi kenapa?"


"Melepas Rayyan"


"Kamu tahu sendiri kan, aku sama dia itu bagai bumi dan langit, nggak bisa nyatu, lagian mungkin nggak sih dia suka sama aku? enggak kan?" Hanna menjawab dengan serius.


"Tapi kan nyatanya dia suka sama kamu Han" Kia masih ngotot.


"Kia...bayangin deh...kamu lihat aku coba" Hanna berdiri dengan pose yang dimiripkan model yang siap berjalan, agar Kia melihatnya. "Noh...aku yang begini  doang, nggak mungkin Rayyan suka sama aku, dia mungkin hanya kesepian, kalau nggak gitu dia hanya merasa tak enak hati karena aku sudah membantunya, itu saja" jawabnya panjang lebar.


Tibalah mereka di gedung bioskop yang memang salah satu tujuan mereka, nonton.


"Idih...ada filmnya ayang nih" Kia nampak sumringah saat melihat poster besar, di mana wajah Rayyan terpampang di sana. "Film barunya dia kan?" Kia menunjuk wajah Rayyan di poster tersebut. Hanna menggaruk kepalanya.


"Nonton yang lain yuk?" pinta Hanna. Tapi Kia sudah terlanjur membeli tiket film yang dibintangi oleh Rayyan, dan akhirnya mereka masuk ke gedung bioskop dan menontonnya.


Hampir 2 jam mereka berada di dalam, suasana kursi penuh terisi, memang Rayyan sungguh menghipnotis para pecinta film.


"Nggak rugi deh ah, puas banget nonton filmnya" puji Kia saat keluar dari gedung bisokop. "Tuh...cewek-cewek pada kebaperan sama Rayyan"


"Makan yuk" ajak Hanna.


"Iyaaa" jawab Kia. Mereka segera menuju food court untuk mengisi perut mereka.


"Han...jawab jujur ya?" pinta Kia.


"Hum..apaan?"


"Kamu suka kan sama Rayyan?" tembak Kia, Hanna yang sedari tadi sibuk melihat daftar menu kaget dengan pertanyaan Kia.


"Apaan sih?"


"Han...lihat mataku sini" Kia memerintah. "Tuh kan nggak berani"


Hanna membulatkan matanya dan melihat ke arah Kia, membuat Kia malah tertawa melihat tampang Hanna yang menjadi lucu.


"Kamu suka sama Rayyan, tapi kamu nggak mau mengakuinya"


"Sok tau" Hanna memiringkan bibirnya.


"Berani taruhan deh" Kia bersedekap.


"Ngapain taruhan segala? dosa tau!"


"Han...kita temenan sudah lama"


"Aku cuma takut Kia...kamu tahu sendiri kan fans Rayyan ada di mana-mana, jika mereka pada tahu Rayyan punya pacar macam aku, habislah dia"


"Dia nggak peduli, tapi aku peduli dengan karirnya. Andai saja aku tak peduli, maka aku tak akan mau menjadi istri kontraknya, jika aku nggak peduli mana mungkin aku tutup mulut hingga sekarang, justru karena aku peduli" Hanna berbicara dengan wajah serius. "Justru ini yang bisa aku lakukan untuknya Kia...karena aku sadar siapalah aku"


Kia kicep mendengar penuturan Hanna, lalu dia tersenyum kagum pada Hanna.


"Apa aku salah?" tanya Hanna.


Kia menggeleng, "kamu keren" pujinya.


"Ish gombal" Hanna tersenyum sinis.


"Serius" Kia mengangguk. "Eh udah lihat IGnya Rayyan belum?"


"Kenapa?" Hanna memang jarang sekali membuka media sosialnya.


"Itu feed-nya Rayyan, buket bunga mawar merah super gede"


Hanna teringat akan ulang tahunnya kemarin. "Kenapa?"


"Itu buat kamu?" tanya Kia, Hanna seolah tak peduli. "Iya kan Han? itu buat kamu?" Kia kembali mengulang pertanyaannya.


"Gila sih Han, dia sampai bela-belain gitu"


"Nggak heboh kan di IG?"


"Heboh lah, dikiranya itu buat pacarnya, pada main tebak-tebakan noh warganet"


Hanna tertawa, masa bodoh dengan apa yang terjadi. Akhir-akhir ini dia merasa sedang bermimpi dengan apa yang dialaminya. Menjadi istri seorang selebritas hits negeri ini membuatnya banyak berfikir, tak bisa menikmati kebebasannya.


"Nggak ada yang bisa nebak kan?" Hanna terkekeh.


"Sialan memang kamu, ah Tuhaaaan....kenapa nggak aku saja sih yang ada di posisi kamu, pasti aku langsung bilang iyaaaa....kita nikah beneran" Kia berandai-andai.


"Ah ngayal mulu, tukeran jiwa mau?" Hanna menawarkan.


"Yok....sepertinya seru" Kia menimpali.


        ***


Rayyan memainkan gitarnya dan sesekali mencatat kata demi kata dan menggubahnya menjadi sebuah lagu. Hal ini yang sering dia lakukan untuk berkarya, pengalaman pribadinya yang akan menjadikan lagu ini menjadi lebih hidup.


Rayyan masih belum bisa memejamkan mata di waktu orang-orang sudah terlelap tidur. Rayyan berada di balkon apartemennya. Melihat langit yang tak nampak bintangnya karena pantulan lampu yang mengalahkannya.


Rayyan meletakkan alat tulisnya dan menutup bukunya, dia masih memeluk gitarnya. Rayyan memejamkan matanya, masih membayangkan bagaimana Hanna bisa masuk ke dalam hidupnya.


Harusnya sangat mudah baginya melupakan Hanna, Hanna bukanlah siapa-siapa? ataukah dia merasa bersalah karena sudah merenggut kegadisan Hanna. Atau dia merasa nyaman karena seolah merasakan mendapat keluarga yang utuh?


Rayyan membuka matanya, bersamaan dengan bel apartemennya berbunyi. Siapakah malam-malam yang berkunjung?


Rayyan dengan langkah ogah-ogahan berjalan ke arah pintu dengan terlebih dahulu meletakkan gitarnya di dekat pintu kamarnya. Lalu dia melihat ke pintu, di mana dia bisa melihat siapa yang datang. Dadanya bergetar melihat siapa yang ada di depan pintu.


Bayangan-bayangan masa lalu membuat ingatannya kembali menyakiti batinnya. Rahang Rayyan mengeras, serta kedua tangannya mengepal melihat siapa yang ada di balik pintu. Rayyan masih membiarkan orang tersebut berdiri di depan pintu.


Ada perang batin yang membuatnya masih berdiri di sana tidak mempedulikannya. Untuk apa dia hadir kembali? Rayyan masih terpaku.


Ingatan Raytan masih tajam meskipun wajah itu telah lama tak pernah dia lihat, masih sangat membekas di ingatannya.