Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Rayyan Milik Semua


Hanna memperhatikan sekitar di tengah kebisingan acara yang belum mulai, para tamu semakin banyak yang hadir. Hanna mencari sosok Rayyan yang belum kelihatan juga. Tak apa, setidaknya Hanna tidak menjadi pusat perhatian.


"Rayyan makin kesini makin tampan aja ya..." suara itu terdengar tak jauh dari tempat Hanna duduk.


"Iya, jaman SMP dulu mah biasa aja menurutku, sekarang tambah keren aja, andaikan aku belum punya gandengan, udah PDKT dah aku sama dia," timpal suara satunya.


"Denger-denger tadi dia udah sama pawangnya," sahut suara satunya lagi. Hanna membulatkan matanya, pawang? oh itu pasti dirinya. Ok, akan dia simpan kata itu. Pawang.


"Mana,?"


Hanna memberanikan diri untuk melirik sedikit ke sumber suara, dan sebelum ketahuan dia sedang mendengarkan acara ghibah manja tersebut Hanna kembali melihat meja yang ada di depannya.


"Nggak tahu kemana, tadi Megan yang lihat, pas di toilet tadi,"


Oh, Hanna tahu jika kawanan kaum hawa yang ada di belakangnya ini adalah teman Megan, dan Hanna menebak jika mereka juga teman satu sekolahan Rayyan dulu.


"Rayyaaaan," teriak salah satu di antara mereka, suara keras musik pun bisa kalah dengan teriakan itu. Seorang cewek melambaikan tangan ke arah Rayyan yang mulai terlihat. Rayyan melambaikan tangan ke mereka. Dan mendekat ke meja Hanna.


"Sini donk," teriak salah satu kepada Rayyan. Hanna menganggukkan kepalanya agar Rayyan menyanggupinya. Rayyan pun akhirnya mendekat.


"Katanya sudah punya pawang? mana? kenalin ke kita donk,"


"Iya nih, kan penasaran,"


"Yang sekarang tambah sukses, makin glowing aja nih,"


Mendengar kalimat demi kalimat itu Hanna ingin bersembunyi di bawah tanah ssaja rasanya, mereka terlihat paripurna. Sedangkan dia apa?


Hanna memainkan jemari tangannya.


"Bisa aja kalian," Rayyan memutar badannya dan memegang kedua pundak Hanna, meminta Hanna berdiri.


"Nih kenalin," Rayyan merangkul pinggul Hanna dengan santainya, sementara Hanna merasa tak nyaman.


"Owh," kata itu yang keluar dari bibir mereka, hampir serempak. Membuat Hanna semakin kikuk.


"Ini,?" ketawa mereka terdengar kaku, jadi yang dari tadi mereka bahas ternyata tak jauh dari mereka.


"Halo...Hanna," Hanna menyalami mereka satu per satu dengan ramah.


"Kapan nyusul,?" tanya salah satu dari mereka.


"Doakan secepatnya," Rayyan menjawab, Hanna melihat ke arah Rayyan lalu kembali tersenyum kaku. "Kita kesana dulu ya...acaranya hampir mulai," Rayyan berpamitan.


"Oh Tuhan...itu pawangnya Rayyan? kok bisa? siapa dia? artis kah? selebgram kah? model kah,?" gumam mereka.


"Entah,"


"Jauh sih,"


Komentar mereka tanpa menjelaskan maksudnya.


Terdengar MC sedang bersemangat cuap-cuap memandu jalannya acara yang dimulai dari tiup lilin, kemudian setelahnya mereka mengumumkan pertunangan mereka. Rayyan dan Hanna yang berada di barisan depan pun dibuat baper dengan acara Bram dan Mellisa.


Tepuk tangan bergemuruh saat Bram dan Mellisa bertukar cincin, meski Hanna yang baru pertama kali melihat pasangan tersebut ikut merasakan bahagianya mereka.


"Rayyan...tolong sumbangkan sebuah lagu romantis untuk kita berdua," ucap Bram yang meminjam micropon dari MC,"


Rayyan tersenyum, Hanna mendorong Rayyan pelan untuk memenuhi permintaan yang punya gawe.


"Bentar ya...," pamit Rayyan, seolah tak tega meninggalkan Hanna.


Rayyan naik ke atas panggung.


"Boleh minta nyalakan flash kalian,?" pinta Rayyan, dia sudah berada di balik piano. Serentak para undangan bersiap mengeluarkan ponsel mereka dan menyalakan lampu flash. Operator pun dengan sigap mematikan lampu agar terlihat semakin syahdu.


Rayyan bersiap.


Dengarkanlah, wanita pujaanku


Malam ini akan kusampaikan


Dengarkanlah kesungguhan ini


Suara lembut Rayyan benar-benar menghipnotis para tamu undangan. Hanna yang berdiri di barisan depan hanya memandang Rayyan dalam kegelapan.


Aku ingin mempersuntingmu


'Tuk yang pertama dan terakhir


Apakah aku bermimpi lagi? batin Hanna.


Jangan kau tolak dan buatku hancur


Ku tak akan mengulang 'tuk meminta


Satu keyakinan hatiku ini


Akulah yang terbaik untukmu


"Aku mau donk dinyanyiin gitu nanti sama calon suami aku," teriak salah satu kaum hawa.


Dengarkanlah, wanita impianku


Malam ini akan kusampaikan


Janji suci, satu untuk selamanya


Dengarkanlah kesungguhan ini


Hanna dibuat terpana dengan penampilan Rayyan hingga lagu usai. Tepuk tangan bergemuruh, suara Rayyan yang merdu ditambah dentingan piano sukses menghibur di acara ini.


Rayyan menundukkan kepalanya sebagai tanda terima kasihnya kepada para tamu undangan.


"Thanks bro," Bram mengacungkan kedua jempol tangannya.


"Semoga lancar sampai hari H ya," Rayyan mendoakan.


"Siap..siap, nanti kamu yang ngisi acara ya,"


"Gampang, tinggal kontraknya aja nanti," Rayyan terkekeh.


Rayyan mencari Hanna yang tak lagi ada di barisan depan, Rayyan mengedarkan pandangan, namun terhalang dengan beberapa temannya yang meminta foto bersama Rayyan. Setelah beberapa saat melayani foto, Rayyan kembali mencari Hanna.


Hanna menunggu Rayyan di depan sambil menikmati minumannya. Rayyan yang sudah sampai di depan bernafas lega melihat Hanna.


"Kita pulang,?" tanya Rayyan.


"Kalau belum selesai, nggak apa-apa aku tunggu di sini," jawab Hanna.


Rayyan bergegas menarik pergelangan tangan Hanna, dan mengajaknya melangkah keluar mansion. Tanpa protes Hanna berjalan mengikuti Rayyan. Inilah pesta besar pertama yang pernah dia datangi, dan cukup membuatnya sakit kepala.


Melihat situasi tadi, bisakah Hanna akan bertahan? karena Rayyan adalah idola, dan tentu banyak yang membayangkan bisa dekat dengan Rayyan.


Akankah Hanna kuat untuk tidak cemburu nantinya?


Hanna terdiam di dalam mobil.


"Kamu baik-baik saja Han,?" Rayyan khawatir karena Hanna hanya diam saja.


"Oh nggak apa-apa,"


"Bahkan kita belum makan," Rayyan merasa bersalah membiarkan Hanna pulang tanpa mengisi perut terlebih dahulu.


"Aku kenyang kok," potong Hanna.


Kruuuk....


Terdengar nyaring, Hanna merutuki perutnya, kenapa bunyi di saat yang tidak tepat. Mungkin dia demo pada Hanna, Hanna bekerja seharian, lalu berdandan hingga lupa makan. Dan hasilnya kini perutnya mempermalukannya di depan Rayyan. Mulutnya bilang kenyang, tetapi perutnya tidak demikian. Ya Tuhan...


Rayyan tersenyum, mobil pun berbelok ke sebuha restoran cepat saji. Mengajak Hanna makan di sana, karena malam sudah larut.