
"Ayaaaah" Hanna berteriak dari luar pintu depan saat melihat Ayahnya sedang menyetrika baju pelanggan. "Maafkan anakmu yang tidak membantu" Hanna meringis. Pak Handi pun tertawa melihat Hanna yang ceria saat tiba di rumah.
"Tidak apa-apa, anak ayah punya dunia sendiri, dan nikmatilah itu" gumamnya sambil terus menyetrika.
"Yah"
"Hehm?" Pak Handi masih sibuk dengan setrikaannya.
"Yuk ah jalan-jalan, jangan kerja melulu" Hanna duduk di kursi yang tak jauh dari ayahnya yang sedang menyetrika.
"Kerjaan ayah belum selesai"
"Nanti aku bantu, yang penting sekarang ayah siap-siap, kita keluar jalan-jalan"
"Kemana?" tanya Pak Handi.
"Kemana saja....ngemall atau kemana terserah ayah"
"Ada-ada saja"
"Ayo yah" pinta Hanna.
Akhirnya pak Handi menyerah dan mengiyakan keinginan Hanna. Sudah lama sekali mereka tidak jalan-jalan untuk sekedar mencari hiburan, mereka terlalu sibuk bekerja. Hanna merasa sedih, dia belum bisa membuat ayahnya bahagia. Dia tak mau melihat ayahnya seperti Pak Andre yang kesepian di massa tuanya. Dan perasaan inilah yang membuatnya merindukan jalan-jalan dengan ayahnya.
"Ayah siap" gumam Pak Handi yang sudah berganti baju, dengan kaos lengan pendek berkera dan juga celana kain, tak lupa dia memakai topi warna hitam. "Apakah ayah sudah tampan?" tanya Pak Handi sambil merentangkan tangan. Hanna tersenyum sambil mengangguk.
"Ayah adalah ayah paling tampan seduniaaaa" Hanna berteriak senang. "Mari kita jalan-jalan" Hanna menarik lengan Pak Handi dan menggamitnya.
Mobil taksi online yang dia pesan telah sampai, Hanna dan ayahnya menuju mall. Menurut Hanna, mall adalah tempat jalan-jalan terbaik saat ini, karena di musim hujan kurang memungkinkan jika harus mengajak ayahnya keluar di ruang terbuka, takut tiba-tiba hujan.
"Bagaimana kabar Pak Andre?" tanya Pak Handi yang tiba-tiba menanyakan kabar ayah Rayyan. Hanna melihat ke arah ayahnya.
"Ya...begitu yah, masih sama" Hanna menarik nafas berat.
"Jadilah anak berbakti, ayah tak akan memberatkanmu kelak, hanya saja ayah juga tidak mau kesepian di masa tua" Pak Handi tersenyum getir, membayangkan bagaimana perasaan ayah Rayyan, terlepas dari apa yang dilakukan di masa mudanya.
"Ayaaah....andalkan aku sebagai putrimu yang berbakti" Hanna nyengir ke arah pak Handi, kalimat ayahnya cukup membuatnya melankolis, hanya saja dia tidak mau menampakkannya. Dia amat menyayangi laki-laki yang ada di sampingnya itu, dia berjanji pada dirinya jika dia akan membahagiakan ayahnya.
Mobil telah berhenti di tepi jalan, Hanna memilih menepi saja tidak masuk. Karena mobil harus membayar parkir nantinya. Hanna menggandeng tangan ayahnya untuk masuk.
"Mau apa kita kesini?" tanya ayahnya sambil tersenyum.
"Makan es krim, nonton, makan" jawab Hanna enteng. Mereka sudah mulai masuk ke mall. Di sana lumayan ramai. Hanna tak peduli dia bergelayut manja di lengan ayahnya.
"Kita kemana dulu yah? makan?"
"Nanti lah belakang saja makannya" usul Pak Handi.
"Ok, kita nonton dulu" Hanna mengajak ayahnya untuk membeli tiket bioskop. "Nonton apa yah? komedi mau?" tanya Hanna.
"Oke" Pak Handi mengacungkan jempolnya ke arah Hanna yang sedang mengantri di mbak kasir, mbak kasir yang melihat Hanna pun tertawa melihat interaksi ayah dan anak itu.
"Dua ya mbak, baris yang tengah biar nyaman nontonnya" pinta Hanna.
"Siap kak, ini tiketnya" mbak kasir memberikan 2 buah tiket kepada Hanna. Hanna memberikan uangnya, dan setelahnya dia menggandeng ayahnya untuk masuk ke gedung bioskop.
Ayahnya memperhatikan poster-poster film yang sedang tayang.
"Ini Rayyan?" tanya Pak Handi. Hanna melihat poster yang ditunjuk ayahnya. Hanna mengangguk.
"Nggak mau nonton ini?" ayahnya menggoda.
"Baik" jawab pak Handi sambil tersenyum penuh arti. "Apakah anak ayah benar-benar sudah melupakan Rayyan?"
"Harus" jawab Hanna.
"Kenapa?"
"Ayah kepo?" Hanna balik bertanya.
"Iya" jawab ayahnya lalu tergelak. Mereka tiba di gedung bioskop, tidak terlalu ramai. Mungkin karena ada film lain yang lebih menarik, bisa jadi film yang dibintangi oleh Rayyan.
Lebih dari satu jam Hanna dan ayahnya berada di gedung bioskop, Hanna memukul pipinya yang terasa sakit karena banyak tertawa. Pak Handi nampak sangat bahagia.
"Kita beli es krim" Hanna menarik lengan ayahnya ke konter es krim.
"Dua ya kak, ayah mau yang apa?"
"Coklat" jawabnya.
"Ok, coklat dua kak"
"Siap kak" jawab penjualnya.
Hanna mengajak ayahnya jalan muter-muter melihat-lihat sambil makan es krim.
"Enak ya...sudah berapa lama ayah nggak makan es krim" gumam pak Handi. Dia nampak sangat menikmati es krimnya.
"Besok kita makan lagi, atau ayah mau aku belikan 2 lagi? atau 10?" Hanna menyeringai.
"Kamu pikir ayah anak kecil?" Pak Handi tertawa. Dan akhirnya es krim di tangan sudah sama-sama habis.
"Ayah pengen beli apa?"
"Nggak pengen beli apa-apa, ayah sudah cukup" jawabnya.
"Hanna pengen membelikan ayah sesuatu"
"Nggak usah, ayah sudah cukup. Lagian kamu punya uang dari mana?" Pak Handi mencibir.
"Kan aku magang yah, dapat uang" Hanna merasa bangga, meskipun hanya berstatus anak magang.
Akhirnya merasa sudah sama-sama lelah, dan pada akhirnya juga mereka tidak membeli apa-apa. Mereka asyik bercanda hingga menutupnya dengan makan malam di mall tersebut. Dan mereka pulang kembali ke rumah.
Hanna merasa senang bisa menghabiskan waktu bersama ayahnya tercinta, setidaknya membunuh rasa penat ayahnya dan juga dirinya yang sibuk dengan aktivitas sehari-hari yang melelahkan. Waktu yang sangat berharga, bisa menghabiskan waktu bersama dengan orang yang dia sayangi walau singkat.
Hanna menyenderkan kepalanya di bahu ayahnya, merasa sangat bersyukur memiliki ayah yang baik dan menyayanginya.
"Tetap seperti ini yah" gumamnya lirih. Pak Handi hanya tersenyum tanpa menimpali. Hanna dan Nayo adalah harta berharganya saat ini. Tidak bisa tergantikan dengan apapun.
Mereka tiba di rumah, Hanna mengucek matanya. Kantuk menyerangnya, tapi dia sudah berjanji akan membantu ayahnya untuk menyelesaikan pekerjaannya.
"Hanna mandi dulu, setelah ini Hanna kerjakan semua, Ayah tidurlah dengan nyenyak"
"Ayah bantu"
"Nggak usah" jawab Hanna. "Tolong ayah istirahat saja" pintanya. Pak Handi kembali mengangguk.
Hanna bergegas mandi dan berganti baju, jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, air yang mengguyur tubuhnya membuyarkan rasa kantuknya. Dia bersiap untuk kembali menyetrika dan mengepack baju para pelanggan. Dengan cekatan dia menyelesaikan semuanya. Dan siap diambil pelanggan esok hari.
"Huh senangnya pekerjaan sudah selesai" Hanna merentangkan tangannya. Merasa sangat lega karena sudah menyelesaikan pekerjaannya. Kini waktunya dia tidur mengistirahatkan diri, Hanna masuk ke kamar dengan perasaan bahagia. Hal yang patut dia syukuri, masih bisa membuat ayahnya tersenyum.