Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Cercaan


Jika biasanya yang akan menjadi pemadam perasaan galaunya adalah Panji, kini tak lagi. Hanna merasa tak enak hati jika harus bercerita kepada Panji. Apalagi dia tahu, hari ini Panji akan terbang ke luar kota untuk memulai hidup baru dengan pekerjaan baru.


Dengan mata sembab yang masih menahan kantuknya karena Hanna hanya bisa tidur sekitar 2 jam saja. Hanna bergegas mandi dan berganti baju, karena hari ini dia harus tetap bekerja. Hanna memoleskan make up tipis di wajahnya, dan tidak berhasil menyembunyikan wajah lelahnya.


"Ah bodo amat," Hanna segera meninggalkan cermin di kamarnya dan segera keluar, karena dia harus berangkat kerja sekarang.


Sebuah mobil yang mengantarkannya pagi tadi sudah berada di depan rumahnya.


"Selamat pagi mbak, saya diutus pak Salman untuk mengantarkan mbak berangkat kerja,"


"Pak Salman,?" Hanna menaikkan alisnya. "Oh iya," Hanna baru ingat jika nama pengacara kondang itu adalah Salman. "Harusnya nggak usah, aku bisa naik ojol,"


"Pesannya pak Salman karena untuk mempermudah Mbak Hanna karena motor mbak Hanna masih di kepolisian," ucapnya. Praktis jika komunikasi hanya bisa dilakukan oleh pengacara, karena ponsel Rayyan menjadi barang yang disita oleh polisi untuk sementara waktu.


Hanna akhirnya mengangguk dan naik ke mobil dengan pasrah.


        Sesampainya di kantor, Hanna yang baru menginjakkan kakinya di lobby menjadi pusat perhatian banyak orang yang ditemuinya.


"Ternyata narkoboy," gumam suara yang tak jauh dari Hanna. Dan benar saja, berita itu patas menjadi konsumsi para warganet.


"Jangan-jangan dia juga makek, lihat aja tuk kepedean. Udah buat karir Rayyan hancur, duh sekarang narkoboy," imbuh suara yang lain. Hanna mempercepat langkahnya, segera masuk ke dalam lift. Dan ternyata ada Farel juga.


"Pagi Han," sapa Farel, Hanna melihat sejenak ke arah Farel lalu kembali melihat ke depan, tepat di dinding lift.


"Pagi pak," balas Hanna singkat. Farel masih trelihat ramah, apa dia sedang tidak berita yang beredar itu.


Tiing


Suara pintu lift terbuka, Hanna keluar dari lift, begitu juga dengan Farel. Dan mereka berjalan bersama menuju ruangan mereka.


"Kelihatannya butek banget," seru Farel sambil meletakkan tasnya di atas meja. Hanna tersenyum malas, tangannya menyalakan tombol power pada komputernya. Bersiap bekerja, entah dia bisa maksimal atau tidak hari ini. Berhubung belum jamnya ngantor, Hanna mencoba mengintip sekejap media sosialnya. Dengan perasaan yang was-was, mempersiapkan batinnya dengan segala hinaan dan cacian yang ada. Hanna memejamkan matanya sebelum membaca satu demi satu pesan yang masuk.


Dan benar saja, hampir semua cercaan berada di sana, semua kata-kata buruk tak surut memenuhi media sosialnya.


Mulai dari perempuan pembawa sial, perempuan buruk rupa, gembong narkoba, sarang narkoba, enyah saja dari Rayyan, enyah saja dari dunia.


Benar-benar kalimat buruk itu mengusik batinnya. Sekejam itu mereka menuduhkan untuknya.


"Bahkan mereka tak tahu apa-apa," gumam Hanna menenangkan hatinya, kepalanya menyender di meja, terasa tak sanggup lagi menghadapi mereka.


"Kamu kuat," kalimat itu terngiang, suara Panji masih terngiang di telinganya. Di mana Panji yang baru tadi malam berpesan padanya.


Hanna kembali mengangkat kepalanya, tangannya segera mentup media sosial dari laman selancarnya. Dan kini bersiap fokus pada pekerjaan.


"Jika kamu butuh istrirahat, harusnya kamu ijin saja," ungkap suara Farel yang ternyata sudah berada di depan meja Hanna, pandangan Hanna terlahang dengan layar komputernya itu. Hanna memiringkan kepalanya agar dapat melihat Farel dengan sempurnya.


"Ah...tidak pak, saya baik-baik saja," Hanna tersenyum, agar semua terlihat baik-baik saja.


"Apa dengan semua cercaan yang kamu dapatkan kamu masih baik-baik saja,?" tanya Farel, kedua tangannaya trelipat di dada. Darimana Farel tahu jika Hanna mendapatkan itu semua?


"Iya, saya baik-baik saja pak." jawabnya singkat, tangannya menyambar map biru yang berisi berkas yang harus dia kerjakan hari ini.


"Ok, jika kamu merasa tidak baik-baik saja, aku mengizinkanmu untuk pulang," ujarnya sembari melangkah kembali ke meja kerjanya.


Kepalanya terasa sangat pusing, sambil memikirkan bagaimana nasib Rayyan hari ini? hingga detik ini dia belum mendapatkan kabar apapun dari Pak Salman.


"Pak..." ujar Hanna.


"Iya Han,?" jawab Farel masih menghadap layar komputer.


"Istirahat nanti saya ijin keluar sebentar, mungkin saya telat kembali ke kantor," pintanya.


"Iya nggak masalah, apa perlu saya temani,?" tawarnya.


"Oh...tidak pak, terima kasih," jawabnya kikuk, akan menjadi runyam jika Farel mengantarnya nanti. Cercaan tak akan berhenti, malah akan semakin menjadi.


"Ok, pergilah,"


"Terima kasih pak,"


Detik ini terasa sangat lambat, jam istirahat kurang dari 30 menit. Hanna yang sudah selesai mengerjakan semua pekerjaannya menunggu di kursiinya saja, meskipun matanya mengantuk berat dia mencoba menahannya. biasanya dia akan membuat kopi, kini dia benar-benar akan menahannya, menghindari suara-suara jahat yang jelas akan memenuhi seisi ruangan pantry.


Dan akhirnya jam istirahat pun tiba, Hanna mengambil tasnya dan segera meninggalkan ruangannya. Hampir sama seperti tadi pagi, semua mata tertuju padanya, tapi dia tak peduli dan cuek saja. Hanna sudah memesan ojek online sejak berada di dalam lift, tepat dia keluar ojek sudah menunggunya. Pas.


        Hanna membayar ongkos yang tertera di aplikasi, "Terima kasih bang." ucapnya sambil menyerahkan helm yang baru saja dia lepas dari kepalanya.


"Sama-sama kak, jangan lupa dikasih bintang 5 ya kak," pinya abangnya.


"Iya bang,"


"Terima kasih kak,"


Hanna mengangkat jempolnya sambil berlalu menuju ruangan yang ditunjukkan oleh Pak Salman, nampaknya Pak Salman sudah berada di sana.


Hanna yang dijemput oleh salah satu tim dari pengacara Rayyan pun dengan mudah masuk ke dalam. Ternyata di luar sana masih ada beberapa wartawan yang berada di sana untuk mendapatkan berita.


"Bagaimana keadaan Rayyan Pak,?" tanya Hanna setelah bertemu dengan Pak Salman.


"Dia baik-baik saja, dan baru saja melakukan cek rambut,"


"Oh iya, lalu kapan hasilnya pak,?"


"Belum...nanti pasti dikabari kalau sudah keluar, berdoa saja akan baik-baik saja,"


"Iya," Hanna yang masih belum mendapatkan penjelasan lengkap hanya bisa berdoa semoga Rayyan bisa bebas, dan ini hanya sebuah salah paham saja.


"Bolehkah bertemu dengan Rayyan,?" tanya Hanna.


"Nanti, sekitar satu jam lagi ya,"


"Oh iya pak," Hanna duduk di salah satu kursi. Terlihat Pak Salman berbincang dengan timnya, guna menyusun strategi untuk melakukan pembelaan.


"Kalaupun dia salah, semoga dia mendapatkan pembelajaran dari semua ini," gumam Hanna.


Hanna masih saja menyesal dengan dirinya yang terlalu cuek dan tidak peduli pada Rayyan, betapa bodohnya dia.