Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Fans Berat


Rayyan sesekali tertawa mendengar cerita yang mengalir dari Pak Handi, sosok ayah dari Hanna itu memang sangat hangat dan menyenangkan. Yah, meskipun ini adalah pertemuan hangat pertama bagi keduanya. Jika sebelumnya mereka bertemu hanya saat pernikahan beberapa bulan lalu, kini mereka bertemu kembali dan bercengkrama. Tak terasa, teh yang disuguhkan sudah tidak ada di gelasnya, percakapan mereka terlalu menyenangkan hingga mereka larut.


Malam semakin merangkak, dan mereka enggan menyudahi.


"Hanna itu kesayangan ayah, di mana dia pekerja keras dan nggak mau mengalah, terlebih jika itu menyangkut keluarganya" Pak Handi menerawang, senyum masih menghiasi bibirnya, Rayyan melirik ke arah Pak Handi dan mencoba kembali mendengarkan cerita. "Dan saat terapuh pun datang, di mana saat Ibunya yang sangat dicintainya meninggal"


Rayyan semakin khusyu mendengar kalimat demi kalimat Pak Handi. "Tapi dengan keadaan ini, dia semakin tumbuh menjadi gadis ayah yang kuat dan tangguh" urainya sambil terkekeh kecil. Rayyan ikut menyunggingkan senyumnya.


"Aku harap dia tak merepotkanmu di sana hingga waktunya tiba" tiba-tiba senyum Pak Handi memudar, dia menyadari jika Hanna putrinya memang tak selamanya menjadi istri dari Rayyan.


"Oh...iya ayah, sama sekali tidak menyusahkan" Rayyan menjawab secepat kilat, tanpa dia sadari. Berarti dari dalam hati kecilnya, Hanna memang tak pernah menyusahkannya.


"Ayah selalu berharap dia bisa hidup dengan baik dan bahagia, hanya saja aku sebagai ayahnya belum mampu membuatnya bahagia" Pak Handi melihat ke arah Rayyan, melihat wajah laki-laki tampan itu, yang sekarang masih berstatus sebagai menantunya.


Harusnya Rayyan bahagia karena pernikahannya dengan Hanna akan segera berakhir, tapi mengapa ada yang aneh di hatinya. Harusnya hari ini dia berniat untuk pergi ke club untuk sekedar party, tapi kenapa dia malah nyasar ke rumahnya Hanna. Rayyan mengusap wajahnya dengan kasar.


"Ah aku malah curhat kan jadinya, oh ya bagaimana dengan pekerjaanmu nak Rayyan?" Pak Handi mengalihkan topik, agar dia tidak sedih.


"Oh...baik, dan memang agak sibuk" jawab Rayyan sambil mengulas senyum.


"Bukan lagi agak sibuk, tapi sangat sibuk" timpal Pak Handi. "Tapi aku sangat senang sesibuknya kamu, kamu masih menyempatkan diri bertandang kesini, suatu kehormatan didatangi sama artis beken kesini, andai para tetangga tahu, maka rumah ini akan penuh dengan penggemarmu, nak" Pak Handi tertawa, laki-laki itu memang murah senyum, dan selalu menghiasi wajahnya dengan senyum.


"Ah saya yang merasa senang bisa ngobrol dengan ayah" ucap Rayyan balik memberikan pujian. Dia yang selama bertahun-tahun tak pernah ngobrol dengan sosok ayah, seolah pikirannya terbuka kini. Bahwa tidak selamanya ayah di dunia itu jahat, tidak semua ayah di dunia itu tidak menyenangkan. Pak Handi adalah salah satu bukti.


"Kapan-kapan kemarilah lagi, ayah senang jika kalian main kesini"


"Iya...yah" jawabnya.


"Sudah malam, bermalamlah di sini" saran Pak Handi, sedikit membuat Rayyan tersentak.


Hanna sudah berada di kasurnya, meringkuk memejamkan mata dan bermimpi entah sudah sampai negara mana. Rayyan dengan terpaksa masuk ke dalam kamar Hanna, setelah dia mencoba mengetuk tak ada jawaban. Akhirnya dia membuka pintu yang tidak terkunci itu. Ada rasa kurang nyaman, karena merasa berada di kamar orang asing. Dilihatnya Hanna tengah tertidur pulas.


Dan yang membuat Rayyan lebih terkejut lagi adalah berbagai poster yang memperlihatkan wajahnya, mulai dari jaman dahulu sampai jaman penampilan terbarunya ada di sana, benar-benar lengkap. Rasa kantuk yang menderanya mendadak hilang, Rayyan memelankan langkahnya agar Hanna tak terusik dari lelapnya tidur. Rayyan mendekat ke arah tembok yang ditempel poster dirinya dengan berbagai macam tulisan. Dari I LOVE YOU, I MISS YOU, dan kalimat norak lainnya. Rayyan menggelengkan kepalanya, sesekali dia melihat wajah Hanna yang tidur pulas itu. Dia menahan tawanya, sungguh gadis itu sangat aneh. Sebegitu ngefansnya Hanna padanya, tapi Hanna mampu menyembunyikannya dan sungguh jaim sebagai manusia pengagumnya.


Rayyan mendekat ke arah Hanna, dia memperhatikan sekitar, ayahnya menyuruhnya untuk tidur di kamar ini, akan tetapi tak ada tempat lagi untuknya. Ranjang sempit itu sudah sangat terbatas untuk Hanna, apalagi jika harus tidur di sana.


Hanna membuka matanya san refleks berteriak.


"Aaaaaaaaaaaa...........kenapa kamu di sini?" kedua tangan Hanna memegang selimut dan menyelimuti dirinya, hanya kepalanya yang terlihat.


Rayyan menggelengkan kepalanya, heran melihat tingkah Hanna. Yang menganggapnya seolah akan berbuat c*bul padanya.


"Kenapa kamu masuk kesini? keluar nggak?" teriaknya.


Rayyan segera membekap mulut Hanna dengan tangan kanannya, karena ini sudah lewat tengah malam, jika suara keras itu terus saja bergema, maka tidak hanya Pak Handi dan Nayo yang bangun dan terganggu, akan tetapi tetangganya juga akan terganggu.


"Hepaaas" teriak Hanna yang kini tak lagi nyaring, bahkan kata lepas pun menjadi tak jelas pelafalannya.


"Sudah malam"


"Lalu?" Hanna masih antisipasi.


"Aku ngantuk, aku mau tidur"


"Tidur di luar sana" Hanna masih saja kesal.


"Lah...ini yang nyuruh ayah kamu, sebenarnya aku ingin pulang, tapi bagaimana lagi" Rayyan berkacak pinggang. Hanna tak lagi membantah.


"Ya udah, kamu tidur sini, aku yang tidur di luar" Hanna melepaskan selimutnya dan bergegas akan pergi. Tapi Rayyan menahannya, Rayyan menarik pergelangan tangan Hanna.


"Apa kata ayah dan adikmu kalau tahu, sudah kita tidur saja di sini" ajak Rayyan. Hanna melepaskan pegangan Rayyan dan kembali melotot.


"Jangan ambil kesempatan kamu ya!" Hanna mengancam. Rayyan tertawa melihat gadis itu nampak marah, dan masih menganggapnya c*abul"


"Tenang saja, aku nggak nafsu lihat kamu" Rayyan terguncang bahunya karena tertawa. Hanna menghela nafas panjang, semakin kesal dibuatnya. Hanna mengepalkan kedua tangannya lalu menghembuskan nafas kasar. Tak ada yang bisa dia lakukan untuk melawan.


"Dan lagi, koleksi postermu sungguh bagus" Rayyan kembali tertawa. Kali ini benar-benar mmebuat pipi Hanna panas menahan malu, mengapa Rayyan harus masuk ke kamarnya dan mengolok dirinya? ingin rasanya Hanna menghilang dari bumi saat ini juga. Harga dirinya terasa hilang, dan kini Rayyan tahu jika dia adalah pengagumnya. Hanna mencebik. Rayyan sudah merebahkan diri di atas ranjang sempit itu, masih ada tempat untuknya di samping Rayyan. Mau tidak mau Hanna harus tidur di sana.


Meskipun sudah masuk tengah malam, pagi ini akan terasa sangat lama. Bagaimana bisa Hanna harus tidur satu ranjang dengan Rayyan. Bagaimana jika degup jantungnya akan membangunkan Rayyan, bagaimana dia bisa bernafas dengan baik jika Rayyan berada di dekatnya, bahkan sangat dekat. Hanna memejamkan mata, berharap segera tidur nyenyak dan berharap pagi segera datang.