Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Menikmati Gosip


Rayyan tersenyum-senyum sendiri saat melihat layar televisi ukiran besar yang terpampang di dinding kamar hotel mewah. Beberapa stasiun televisi benar-benar heboh memberitakan hubungannya dengan seseorang yang belum teridentifikasi. Hal itu karena media kesulitan melacak siapa Hanna. Rayyan menyelonjorkan kakinya di kasur ukuran besar itu, tangan kanannya memegang remot televisi, dan bibirnya tak henti senyum. Sesekali punggungnya terguncang karena tertawa. Entahlah, dia merasa senang dengan gosip yang muncul.


Sementara itu Hanna yang tengah sibuk di kampus untuk persiapan acara besar, dies natalis nampak sangat sibuk. Bahkan rambutnya terlihat berantakan, dia sudah kehabisan auranya hari ini. Dia tak mau acara hari ini berjalan tidak mulus.


"Gosip apaan ini?" Kia melihat ke layar ponsel, dia membaca berita online. Hanna yang tidak tahu maksud Kia hanya menggeleng, di saat seperti ini masih sempat-sempatnya Kia membaca gosip.


"Han...Han..." Kia sedikit berteriak. Sementara Hanna masih sibuk menata panggung yang belum sempurna di matanya.


"Apanya?" Hanna masih sibuk, dan masih belum melihat ke arah Kia.


"Ini bintang tamu kita hari ini" Kia masih heboh.


"Kenapa?" Hanna menjawab dengan santai.


"iniiii" Kia menunjukkan layar ponselnya, di mana foto Ryyan terpampang di sana dengan seorang gadis berambut panjang. Hanna terkesiap, dan dia menahan ingin batuk karena terkejut.


"Kamu nggak apa-apa?" Kia melihat Hanna yang terlihat aneh.


"Nggak...."


"Kok kamu pucat sih? kamu sakit?" Kia khawatir melihat Hanna yang mengalami perubahan mimik wajah.


"Enggak....nggak apa-apa. Ok ini sudah beres, setelah ini kita jemput sang bintang tamu" ujar Hanna sambil menekankan di kata "bintang tamu".


Kia melihat ke arah Hanna dengan mata memicing, merasa aneh dengan kelakuan Hanna.


"Han...kamu cemburu ya dengan berita ini? ya elah Han...kita mah apa? reremahan debu, ngapain juga cemburu sama dia sang mega bintang. Lagian dia cantik juga kan ya?" Kia masih melihat arah layar ponselnya.


"Oh ya?" tanya  Hanna sambil mengulum senyum.


"Iyes, cantik nih" ucap Kia.


Hanna kembali ke kehidupan nyata, bahwa apa yang terjadi kemarin hanya keusilan Rayyan. Tiba-tiba ingatannya kembali pada peristiwa tadi malam, di mana hampir saja dia berciuman dengan Rayyan. Hanna memejamkan matanya dan menggeleng, membuang ingatan tersebut jauh-jauh.


"Lupakan masalah ini, fokus ke acara kita hari ini. Semoga lancar" Hanna mengibaskan tangannya.


"Ok, kita berangkat" ajak Hanna.


"Han...Han....!" teriak Bian dari kejauhan, dia melihat Hanna hendak pergi dengan Kia. Hanna menoleh, begitu juga dengan Kia.


"Iya?" jawab Hanna, dia melihat wajah Bian yang juga terlihat capek.


"Kalian mau kemana?" tanya Bian, dia melihat wajah Hanna yang nampak lelah, dan beralih ke wajah Kia yang masih terlihat ceria dan bugar.


"Mau menjemput Rayyan mas" jawab Kia dengan senyum lebar.


"Oh oke, kalian bisa kan? soalnya aku nggak bisa meninggalkan tempat ini, takut terjadi apa-apa" Bian memang sangat sibuk, jika Bian meninggalkan tempat ini takutnya ada banyak yang nyari dia.


"Ok mas, siap" Hanna mengacungkan kedua jempol tangannya sebagai pertanda dia siap mengemban tanggung jawab ini. Meskipun sebenarnya dia ogah bertemu Rayyan. Tapi ini adalah perhelatan besar dan sekaligus perpisahannya dengan Rayyan.


Hanna dan Kia berangkat ke hotel di mana Rayyan menginap, tak lupa mereka mengenakan kartu khusus agar bisa masuk dan menemui Rayyan dengan lancar, karena jelas kali ini Rayyan menggunakan pengamanan.


Hanya 15 menit mereka tiba di lokasi, Kia segera turun dari mobil, begitu juga Hanna. Hanna mengikuti Kia, karena Kia sudah terlebih dulu masuk ke dalam hotel.


Tidak perlu tenaga ekstra menuju lantai di mana Rayyan berada, ternyata laki-laki itu sudah berada di lobby. Dia duduk di sofa warna putih dengan kaki terangkat satu menopang di kakinya, dengan kacamata hitamnya. Nampak dia melirik ke arah Hanna dan Kia. Tapi jelas mata itu tertuju pada Hanna, Hanna merasa kikuk. Kia yang menyadari Rayyan sedang memperhatikan Hanna, dia melihat ke arah Hanna.


"Han...jantungmu aman?" bisik Kia pada Hanna.


Hanna masih terdiam saja, dia membuang pandangan ke arah sekitaran Rayyan. Dia memperhatikan para pengawal Rayyan yang memakai baju serba hitam, ada sekitar 4 orang.


"Han..." Kia kembali menowel Hanna.


"Oh...maaf kita terlambat" Hanna memutuskan mengatakan itu, sementara Kia melihat jam tangannya. Padahal secara jadwal, mereka tiba setengah jam lebih awal.


"Iya" dan Kia pun akhirnya mengikuti Hanna.


Rayyan masih terdiam dan kini melihat ke arah ponselnya sembari membaca berita online, dan senyumnya kembali mengembang. Hanna yang tahu sifat Rayyan merasa geram.


Rayyan menahan tawanya dan kembali melihat ke arah Hanna. Kia semakin merasa aneh dengan tingkah Rayyan tersebut, selain jantungnya tidak aman karena melihat ketampanan Rayyan dari jarak sangat dekat, dan ini baru pertama kalinya.