
Pikirannya kacau, Hanna mengeringkan rambutnya dengan handuk dengan kasar. Meskipun belum makan, Hanna tak merasakan jika perutnya lapar. Hanna segera keluar kamarnya dan menuju meja makan, di sana Kia sudah menunggu sambil menopang bahu.
Kia menaikkan kedua alisnya saat melihat Hanna baru saja keluar dari kamar.
"Sini," Kia menepuk dudukan kursi yang ada di sampingnya. Hanna mengangguk kecil lalu duduk di dekat Kia. Kia menyodorkan piring yang sudah berisi nasi bungkus. Aromanya nikmat dan lezat walau hanya lewat indera penciumannya. Jika biasanya perutnya akan menyambut dengan bahagia, kali ini berbeda. Perutnya seolah tidak tertarik dengan nasi padang nikmat itu.
"Makanlah," Kia menyorongkan makanan itu lebih dekat ke arah Hanna. Hanna melihat piring tersebut, lalu melihat ke arah Kia.
"Ayo, makan...aku suapin,?" Kia tersenyum. Hanna menggeleng. Meskipun ogah, Hanna mengambil sendok yang tak jauh dari piringnya. Lalu menarik piring itu agar lebih dekat dengannya. Menyendokkan nasi dan melahapnya.
Kia tersenyum melihat Hanna makan. "Nah gitu donk," Kia tersenyum sambil bertepuk tangan riang, seperti melihat anak TK yang dibujuk untuk makan.
"Hish," Hanna tersenyum. "Makasih ya, kamu memang emak-emak sejati," Hanna terkekeh. Kia memang baik banget bagi Hanna, karena dia sangat perhatian banget sama dia. Sering Kia datang dengan membawa makanan untuk Hanna. Bukan karena makanannya, bagi Hanna perhatian Kia lah yang membuatnya sangat beruntung memiliki sahabat seperti Kia.
"Ki...," Hanna meletakkan sendok di piringnya, makanannya masih tersisa banyak.
"Habisin dulu makanannya, nanti baru kita ngobrol," Kia memotong. Hanna sudah tidak sabar untuk berbagi resah di hatinya. Pun akhirnya dia menurut dan menghabiskan makanannya. Kia setia menunggu Hanna menyelesaikan makannya.
"Nah gitu donk," Kia nampak bahagia. Hanna menuangkan air ke dalam gelasnya dan meneguknya, perutnya terasa penuh hingga terasa ingin muntah, tidak biasanya dia seperti ini.
"Sudah...aku siap mendengarkanmu," Kia memasang wajah serius.
"Ki...haruskah aku mundur,?" suara Hanna terdengar ragu dengan apa yang terdengar dari mulutnya. Kia menatap Hanna, lalu mengerjab. Tidak menyangka jika kalimat ini yang akan dia dengarkan.
"Han....," Kia belum bisa memberikan tanggapannya, bukan ini yang dia dengar.
"Ki...mungkin aku terdengar jahat, mungkin juga akan menjadi bahasan baru bagi mereka yang tidak menyukai hubunganku dengan Rayyan, tapi mungkin ini waktu yang tepat," Hanna menelan ludahnya. Dia tahu resikonya jika hal ini terjadi, akan banyak cibiran dari banyak orang. "Aku tahu jika mereka akan mengataiku," Hanna tersenyum getir.
"Han, kamu kuat, kalian bisa. Bahkan aku sama sekali tidak percaya kalau Rayyan itu pemakai lho,"
Hanna menggeleng.
"Bukan...bukan karena itu, hanya saja aku yang tidak bisa berada di sisi Rayyan, aku tidak pantas berada di sampingnya, menjadi seseorang baginya," Hanna memandang Kia tegas.
"Han...,"
"Kia....," Hanna tergugu. Kia bangkit dari duduknya dan memeluk Hanna, mengelus punggung Hanna lembut.
"Aku tidak mau dia hancur gara-gara aku,"
"Bukankah dia menjadi lebih baik karena kamu Han,?"
Hanna menggeleng, "Enggak...dia mendapat banyak tekanan, dia mendapatkan banyak cibiran karena bersamaku," Hanna seolah menyalahkan dirinya sendiri.
Kia tidak berani mengintervensi apa yang dirasakan oleh Hanna, Kia hanya berharap keputusan yang diambil oleh Hanna adalah keputusan yang terbaik nantinya. Jika boleh jujur, dia merasa sayang dengan hubungan Rayyan dan Hanna jika benar akan berakhir. Tapi tetap yang menjalankan adalah Hanna.
Seperti biasa, Hanna menatap langit-langit kamarnya sambil memikirkan hal apa yang akan dia lakukan. Apakah dia akan bertahan atau akan mundur.
Rayyan terlalu baik, dan dia merasa benar-benar tidak sepadan jika harus bersanding dengannya. Hanna menutup matanya. Kilasan cerita dari awal bertemu dengan Rayyan berkelebat. Sangat indah baginya, tanpa Hanna sadari senyumnya mengembang.
"Terima kasih, tapi mungkin ini akan jadi keputusan terbaik," gumam Hanna.
Meskipun malam terasa lama, akhirnya pagi datang juga. Masih terlalu pagi saat pintu kamarnya diketuk. Hanna mengucek matanya dan melihat ke jam yang ada di layar ponselnya.
"Kak...," panggil Nayo sambil kembali mengetuk pintu. Hanna membuka selimutnya, mengikat rambutnya. Dan berjalan ke arah pintu.
"Kakak sholat dulu gih," ujar Nayo, tidak biasanya Nayo membangunkannya sepagi ini. Hanna mengangguk dan bergegas ke kamar mandi.
Seusai menjalankan kewajiban, Hanna kembali keluar kamar dan mendapati Nayo sedang duduk di kursi makan sambil menikmati teh hangat.
"Minum kak," ternyata Nayo sudah membuatkan teh hangat untu Hanna. Hanna duduk di kursi yang berseberangan dengan Nayo.
"Tumben," Hanna menyeruput tehnya, entah yang dimaksud tumben itu tehnya atau perbicangan paginya ini.
"Maaf ya kak, selama ini tidak sempat untuk ngobrol," suara Nayo terdengar serius.
"Serius amat sih dek," Hanna tergelak melihat adiknya begitu.
"Serius emang kak, kakak baik-baik saja,?" Nayo menatap Hanna, dia cemas dengan keadaan kakaknya. Hanna mengangguk.
"Kak...aku merasa menjadi adik yang gagal jika sampai aku nggak bisa menghibur kakak yang sedang sedih,"
"Ih sok banget ih adik kakak," Hanna terkekeh.
"Iya kak, dan tolong berceritalah jika kakak memang sedang sedih, maaf...aku banyak menghabiskan waktu dengan kuliahku," Nayo menghela nafas panjang, dia melihat kakaknya.
"Sudahlah lah...ini masalah kakak, dan kakak baik-baik saja,"
"Suara di luaran sana...aku yakin kakak terusik olehnya," Nayo menebak, dan memang benar, tebakan itu benar.
"Iya,"
"Nah kan,"
"Tapi bukan karena itu kakak mundur," ceplos Hanna. Nayo mendongak, kata mundur membuatnya menebak.
"Mundur? kakak memilih mundur,?" Nayo menegaskan.
"Oh...itu...aku rasa akan menjadi keputusan terbaik, kakak sudah memikirkannya baik-baik,"
"Kakak yakin,?"
Hanna diam, sebenarnya ada kebimbangan di dalam hatinya.
"Kak, Rayyan sedang membutuhkan kakak, tapi kakak memilih akan meninggalkannya,?" Nayo mengangkat kedua tangannya.
"Bukan...bukan saat yang tepat sekarang, kakak akan atur sebaik mungkin, ya...kamu tahu sendiri sejak awal dunia kita berbeda kan, dia begitu glamor dengan sejuta pesonanya....dan....ya kamu tahu sendiri lah,"
"Kak....kakak nyaman nggak sih berhubungan dengan dia? kakak seneng nggak sih? kakak bahagia?" Nayo mencecar. Hanna terdiam.
Hanna membuang pandangan, mengedarkan pandangannya ke sekitar dia duduk. Dalam hatinya dia bahagia bersama dengan Rayyan, dia senang, dan dia menikmati meskipun berbeda.
"Kak, aku tidak tahu apa yang kakak pikirkan, tapi sebagai adik aku siap mendengarkan apa yang kakak keluhkan, dan aku harap kakak mendapatkan keputusan terbaik nantinya," Nayo memungkasi pembicaraannya.
Hanna mengangguk sambil tersenyum.
"Maaf jika aku terlalu cuek dengan masalah kakak, tapi mulai sekarang aku akan selalu ada untuk kakak," Nayo tersenyum manis, tangannya menyambar cangkir teh yang sudah kosong dan membawanya ke dapur. Hanna tersenyum melihat adiknya yang semakin dewasa itu.