
Malam semakin larut, namun hiruk pikuk semakin terdengar. Suara musik, orang tertawa di belahan villa yang lain. Terlihat juga beberapa gerombolan anak muda yang melakukan BBQ di alam terbuka tersebut.
Hanna dan Rayyan masih duduk dengan anteng di bangku balkon, menghadap ke hamparan luas taman yang penuh dengan lampu yang terang nan indah itu. Deru angin yang berhembus pun terdengar.
"Sebahagia ini, sesimple ini," ujar Rayyan sambil melihat wajah Hanna. Hanna tersenyum tipis. "Bahkan aku tidak takut akan kehilangan semua yang kumiliki, asal bukan kamu,"
"Ah gombal," Hanna mencibir. Begitulah yang sering dilakukan Rayyan, namun begitu juga reaksi Hanna yang selalu menganggap itu hanya guyonan belaka.
"Bodoh amat," Rayyan merangkul bahu Hanna dan menempelkan badan Hanna ke tubuhnya, sambil mengusap punggung Hanna dengan lembut. Dan sejurus kemudian dia mengecup kepala Hanna. Membuat Hanna terasa tersengat listrik.
Terdengar bunyi nyaring ponselnya dari ruangan.
"Tuh ada panggilan," Hanna mengedikkan dagunya.
"Biarin," Rayyan tak peduli. "Mengganggu aja," Rayyan mengibaskan tangannya.
"Jangan gitu ah, kali aja ada penting, makanya dari tadi bunyi. Karene ponsel itu sudah berdering beberapa kali sejak tadi. Rayyan menurunkan tangannya dari punggung Hanna dan segera menuruti apa kata Hanna. Dia bergegas masuk ke dalam dan mencari sumber dering ponselnya yang dia letakkan entah di mana.
Sejurus sebelum panggilan itu berhenti, Rayyan berhasil menemukan ponselnya di sofa. Terlihat nama salah satu pegawai di R_Pro.
"Malam-malam begini ada apa,?" gumamya sembari menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
"Ya hallo...," Rayyan nampak berkali-kali menggaruk dahunya, berjalan mondar mandir sambil sesekali melihat ke arah Hanna yang nampak tenang di balkon.
"Kok bisa membatalkan semua? kan beritanya juga sudah bagus kan? aku nggak terlibat skandal ini. Kenapa semua bisa mundur,?" Rayyan terlihat kesal dengan apa yang disampaikan salah satu pegawainya itu. "Sial,!" umpatnya. Sekali lagi dia melihat ke arah Hanna, memastikan Hanna tidak mendengarnya.
"Ya sudah, senin kita bahas, aku sedang sibuk dengan pikiranku," tutupnya dengan kesal, lalu dia menghempaskan benda kecil itu kembali ke sofa. Rayyan menarik nafas panjang dan kembali menunjukkan wajah cerianya sebelum kembali duduk bersama Hanna.
"Siapa,?" tanya Hanna, pertanyaan yang sudah dia duga.
"Biasa orang kantor,"
"Oh," Hanna hanya menyahut sekilas, karena dia merasa bahwa Rayyan sedang tidak baik-baik saja.
Tiba-tiba Hanna memeluk Rayyan dengan erat.
Maaf...sudah membuat hidupmu menjadi susah, hidupmu yang dulu bahagia kini seolah harus rusak karena kehadiranku. Pekik Hanna dalam hati, tangannya semakin erat memeluk Rayyan. Rayyan yang mendapati sikap Hanna yang tidak seperti biasanya itu menangkupkan tangannya dan membalas pelukan Hanna.
"Selama kamu ada di sini, semua akan baik-baik saja Han, jadi tolong jangan kemana-mana, tetaplah di sini," pintanya dengan nada serius.
Hanna semakin tercekat, perasaannya dilanda dilema yang luar biasa. Malam mendekati pagi, udara semakin dingin dan menusuk tulang. Tetangga villa sebelah juga sudah mulai sepi, akhirnya Hanna dan Rayyan memutuskan untuk rehat di kamar masing-masing.
***
"Maaf Mil mengajakmu ketemu," Hanna meletakkan tasnya, merasa tak enak karena membuat Kamila menunggunya di cafe ini.
"Macet,?" tanya Mila sambil menyeruput minumannya. Hanna mengangguk.
"Nggak minum soda,?" Hanna tersenyum kecil, dia ingat jika Kamila adalah salah satu penggemar minuman bersoda.
"Jangan ngeledek kamu ya Han," Kamila pura-pura marah, semenjak sakitnya tempo hari, dia harus meninggalkan minuman bersoda itu untuk jangka waktu yang tidak bisa ditentukan. Hanna tertawa kecil.
"Ih kamu kaya' sama siapa aja sih Han, selama aku bisa kenapa enggak, lagian aku juga ada hal yang ingin aku bicarakan sama kamu,"
"Kamu duluan deh Mil," Hanna mempersilahkan.
"Silahkan kak minumnya," seorang pelayan perempuan dengan memakai celemek warna hitam merah itu menginterupsi percakapan Hanna dan Kamila yang baru akan dimulai.
"Oh terima kasih," Hanna menggeser minuman bersoda itu lebih dekat dengannya.
"Sama-sama kak," jawab pelayan itu lantas berlalu meninggalkan mereka.
"Kamu dulu deh, kan kamu yang kaya'nya lebih butuh nih," Kamila mengaduk minumannya.
"Mil....semenjak kasus kemarin, aku mikir jika Rayyan sedang mengalami kesulitan hidupnya,"
"Menurutmu seperti itu,?" Kamila melihat Hanna dengan tatapan tegas, berdiam sejenak mencerna pertanyaan Hanna yang sejurus dengan pikirannya akhir-akhir ini. Hanna mengangguk mantap.
"Han...jujur ya...perusahaan Rayyan sedang colaps, mayoritas investor mengundurkan diri, saham mulai oleng," Kamila nampak cemas meskipun bibirnya tersenyum. Mendengar kalimat yang tak panjang itu membuat Hanna semakin merasa bersalah.
"Tapi ini bukan salahmu Han,"
"Mil...tak perlu ada yang kamu tutupi dari aku," Hanna mencoba menegarkan hatinya. Dia sangat yakin jika keberadaannya di samping Rayyan sangat mempengaruhi kehidupan laki-laki tampan itu.
"Han...so sorry," Kamila belum melanjutkan kalimatnya.
"Nggak apa-apa Mil, aku tahu kok...memang aku yang banyak membawa pengaruh, tidak seharusnya aku ada di samping Rayyan,"
Hanna menelan ludahnya, terasa kelu. Media yang begitu gencar memberitakan hubungannya dengan Rayyan membuat berbagai spekulasi dan puncaknya ketika Rayyan dituduh terlibat dalam penyalah gunaan narkoba. Semua menuduhnya menjadi penyebab itu semua. Hanna memejamkan mata.
"Aku harus bagaimana Mil,?" Hanna masih tersenyum. Kamila menggelengkan kepalanya. "Semua orang membenci Rayyan karena dia bersamaku,"
Kamila mengulurkan tangannya dan menggenggam kepalan tangan Hanna di atas meja, menguatkan Hanna sebisa dia.
"Aku akan mundur Mil, setidaknya Rayyan tidak akan hancur saat ini, banyak yang harus dia selamatkan daripada seorang Hanna,"
"Han...bukan...bukan begini harusnya, jangan mundur....kita bisa cari cara lain,"
Hanna menggeleng, sepertinya keputusannya sudah bulat.
"Mundurlah untuk sementara hingga semua kembali ke keadaan semula,"
Hanna kembali menggeleng, Hanna meyakini jika impian seorang biasa untuk bisa berdampingan dengan idola itu hanya omong kosong.
"Mil...tolong jangan katakan apapun pada Rayyan ya...tentang pertemuan ini, aku janji aku akan mengembalikan hidup dia seperti semula, jangan sampai karirnya hancur hanya karena aku," pinta Hanna. Kamila benar-benar tidak bisa berkata apa-apa dengan keputusan Hanna.
Perusahaan Rayyan sedang bermasalah, banyak pegawai yang mencari makan di sana, itu artinya jika perusahaan Rayyan colaps, berapa kepala yang kehilangan mata pencaharian. Belum lagi Rayyan nampak sudah tak bergairah untuk berkarir di dunia entertainer baik akting maupun bernyanyi, banyak penggemar yang kehilangan Rayyan. Hingga Hanna yang menjadi sasaran para penggemar Rayyan.
Selain untu Rayyan, setidaknya Hanna juga ingin memulihkan mentalnya dari cercaan para warganet terhadapnya. Dan dia meyakini inilah keputusan terbaik.