Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Acara Pertama


Seperti biasa, selepas menyiapkan sarapan pagi untuknya dan adiknya, Hanna bergegas mengerjakan cucian dan setrikaan yang sudah menggunung. Tak sekalipun dia mengeluh. Nayo adiknya kasihan dengan apa yang dilakukan kakaknya itu, hanya saja Hanna meminta adiknya tetap fokus pada kuliahnya saja. Bagaimanapun juga tanggung jawab kini beralih di tangannya, dia akan berusaha sebisa mungkin memberikan uang dan membantu pendidikan adiknya.


Ponsel Hanna berdering saat Hanna akan menyetrika. Hanna melihat ke arah ponselnya yang dia letakkan tak jauh dari meja setrika, nama Rayyan tertera di layar ponselnya. Hanna bergegas menggeser tanda hijau dan menempelkan benda pipih itu di telinganya.


"Iya,?" Hanna tersenyum simpul sambil meninggalkan setrikanya yang belum tercolok ke aliran listrik.


Ngapain?


"Biasa, kerja laundry," jawab Hanna sambil berdiri dan menyandarkan di tembok dekat meja setrika.


Oh ya, setelah ini aku kirim baju ya...


"Buat apa,?" Hanna menggaruk dahinya, lagi-lagi Rayyan akan melakukan hal yang dia tak paham.


Aku lupa ngasih tahu kalau malam ini ada undangan ulang tahun temanku


"Emangnya aku nggak punya baju apa,?" Hanna mencoba protes, masa setiap kali ada acara, Rayyan selalu mempersembahkan baju baru. Hanna juga punya baju. "Kamu malu kalau aku pakai baju yang biasa saja nggak mewah,?" Hanna mendebat. Sebenarnya dia tak enak jika tiap kali Rayyan mengirimkan baju untuknya, dan bajuĀ  yang dikirmkan Rayyan bukanlah baju kaleng-kaleng, itu pasti baju branded semua. Hanna merasa tak enak.


Bukan...bukan gitu sayang


Ah panggilan sayang itu membuat bulu kuduk Hanna merinding, ditambah senyum-senyum sendiri. Ini adalah panggilan sayang pertama kali untuknya. Dan Hanna sama sekali belum memutuskan untuk memanggil Rayyan dengan sebutan sayang.


Kan biar couple gitu. Jawab Rayyan dari balik panggilan.


Idih, sekelas Rayyan pun memikirkan baju couple, ih dasar mirip anak ABG. gerutu Hanna dalam hati, tapi bibirnya tersenyum.


"Memangnya harus ya pakai couple gitu,?" Hanna masih mencoba menawar.


Ya biar nggak kelihatan kalau aku jomblo aja


Terdengar gelak tawa Hanna yang renyah. "Ah dasar kamu, ya sudah terserah deh," Hanna menyerah.


Mau nggak? jangan-jangan nggak ikhlas, kan nggak enak


"Iyaaa," balas Hanna. Senyum Rayyan merekah di sana. "Eh sudah dulu ya, ada yang datang nih," ujar Hanna.


Siapa?


"Ada teman,"


Ya sudah, bye....


Hanna melambaikan tangannya pada Panji yang terlebih dahulu melambaikan tangan, mesin motornya masih menyala, helm pun masih menempel di kepalanya. Hanna segera berlari keluar rumah. Panji sudah melepaskan helmnya dan segera mendekati Hanna.


"Tumben bapak Panji," sapa Hanna.


"Nggak boleh,?" Panji pura-pura marah.


"Idih jangan sensi gitu donk panji manusia heroku," Hanna tertawa kecil. "Duduk, mau minum apa,?" Panji pun menurut, dia duduk di kursi teras saja sambil menikmati angin sepoi-sepoi.


"Kamu nggak kerja,?" tanya Panji.


"Iya tuh," Hanna mengedikkan dagunya, Panji langsung melihat tumpukan baju yang siap disetrika.


"Ya udah, kamu lanjut aja,"


"Nanti aja," Hanna melemparkan dirinya di kursi yang ada di samping Panji.


"Kamu seriusan mau melanjutkan ini Han? katanya mau ngelamar kerja,?" Panji melihat Hanna.


"Iya sementara itu yang bisa aku lakukan,"


"Ya semoga nanti ada jalan yang lebih enak lah buat kamu, oh ya katanya Nayo pulang? mana dia,?" Panji melihat ke dalam, tapi terlihat sepi.


"Iya pulang dia, tadi pagi berangkat kuliah, biasa lah dia sibuk banget,"


"Dia mah sibuk, kalau pengen ketemu dia, janjian aja sama dia," Hanna menyarankan.


"Oh ya Han, nanti malam sibuk,?" Panji melihat ke arah Hanna.


Hanna memutar bola matanya, lalu dia menepuk dahinya. Jika nanti malam dia sudah ada janji. Hanna mencebikkan bibirnya.


"Kenapa? sudah ada janji,?" tanya Panji. Hanna mengangguk dengan wajah menyesal, sudah lama sekali Hanna tidak jalan-jalan dengan Panji untuk sekedar nongkrong di cafe dan minum kopi sambil bercerita ngalor ngidul.


"Mau kemana,?"


"Ada temen Rayyan ulang tahun," jawba Hanna. Panji mengangguk dengan senyum datar.


"Deket banget ya sama Rayyan sekarang,?" Panji masih mencoba tersenyum.


"Ya begitulah Nji, biasa aja sih,"


"Udah jadian,?" Panji ingin memastikan. Hanna meneguk ludahnya, tidak ada kata itu kemarin, hanya saja bisa diartikan iya.


"Entahlah," jawab Hanna.


"Han..."


"Hum,?" Hanna menatap Panji.


"Serius sama dia,?"


Hanna memainkan jemarinya, "Aku lupa, bentar ya..." Hanna lari masuk ke dalam rumah, masuk ke dapur dan membuka lemari es. Mengambil minuman dingin untuk Panji.


"Minum dulu gih, lupa," Hanna menyodorkan minuman kaleng. Panji menerimanya.


"Terima kasih Han,"


Hanna mengangguk, tangannya membuka tutup kaleng dan meneguk minumannya.


"Sampai mana kita tadi,?" tanya Hanna. Namun Panji menggeleng. Sudah berapa kali dia merasa jauh dari Hanna, yang pertama saat Hanna tengah bersama Bian, dan sekarang saat Hanna kini dekat dengan Rayyan. Panji menghela nafas panjang.


"Aku balik dulu ya...," Panji beranjak dari kursi.


"Loh kok cepet banget,?" Hanna mengerutkan keningnya, tidak biasanya Panji datang hanya sekedar basa-basi.


"Iya, aku mau ketemu Nayo, eh nggak ada, dan lagi aku mau ada perlu juga, ketemu sama teman," Panji menyampirkan tas ransel di bahunya.


"Cie...mau ketemu cewek nih, kenali," Hanna menyeringai.


"Hiiih," Panji mengacak rambut Hanna hingga Hanna nyengir.


"Dah aku balik dulu, selamat menikmati janjiannya," Panji melambaikan tangannya, Hanna membalas lambaian tangan tersebut.


Tak berapa lama, ada kurir yang mengantarkan totebag berisi baju, tas, dan juga sepatu. Selepas menyimpan barang-barang tersebut di kamarnya, Hanna kembali mengerjakan pekerjaannya.


"Suka banget kirim barang," Hanna bergumam sendiri. Tak terasa sore pun mulai berganti senja, dan baru saja adzan maghrib berkumandang. Rayyan sudah mengirimkan pesan tadi jika dia akan menjemput sekitar jam 7 malam nanti. Hanna harus bersiap-siap.


Hanna tak sempat menyiapkan makan malam, jika dia massak, maka bisa dipastikan dia akan terlambat. Rayyan juga menanyakan apakah dia mau ke salon dulu atau tidak, dan kali ini Hanna nggak mau pakai jasa salon, dia akan merias dirinya sendiri.


"Kenapa suka banget kirim salon," Hanna mematut dirinya di depan cermin. Entah bagaimana pesta yang akan dia datangi, mau atau tidak Rayyan harus menerima hasil riasannya. Ini adalah pertama kalinya dia akan datang ke pestanya teman Rayyan, tentu mungkin sesama pesohor juga.


Hanna memakai gaun berwarna hitam dengan panjang di bawah lutut, dan lagi, sebuah sepatu berwarna senada yang indah.


"Sejak kapan aku menjadi penikmat barang mahal seperti ini? ini bukan aku," Hanna berdecak di depan cerminnya.


Hanna sudah siap dan menunggu di dalam, sementara Rayyan sejak tadi belum mengabarkan kedatangannya.