
Hanna heran saat melihat mobil Rayyan yang tak ada orang satupun.
"Nyari siapa?" Rayyan memasang sabuk pengamannya, kali ini Hanna pun melakukan hal yang sama dengan Rayyan, tak menunggu Rayyan memasang sabuk pengamannya.
"Katanya keluar kota? kok asisten lainnya nggak ada?" Hanna melihat ke kursi belakang, dan memang kosong. Karena tempo hari Rayyan mengatakan jika selain dirinya, akan ada asisten lain yang membantunya.
"Nggak ada, kamu saja cukup" mobil mulai melaju. Hanna mendengus sebal, merasa dijebak.
Ponsel Hanna bergetar, Hanna membuka tasnya dan memeriksa pesan tersebut. Tanpa dia sadari, pesan tersebut membuatnya tersenyum-senyum sendiri.
Pagi Sweety....semangat buat magangnya ya...
Iya, sama-sama mas, kamu juga ya....
Nanti sore aku jemput lagi....
Membaca pesan tersebut membuat senyum Hanna memudar, alasan apa yang akan dia sampaikan pada Bian. Rayyan yang melihat Hanna nampak sibuk dengan ponselnya hanya meliriknya.
"Kenapa?" tanya Rayyan.
"Um...enggak" Hanna menggeleng.
"Dari pacarmu?" Rayyan menebak, dan tebakan itu tidaklah salah.
Aku lagi ada kerja sampai malam mas, dan setelah itu ada urusan...nggak usah jemput dulu ya...
Akhirnya jawaban itulah yang dia ketik dan dikirimkan ke Bian.
***
Rayyan dan Hanna tiba di bandara kota tujuan, mereka sudah selesai mengambil barang dan bersiap menuju tempat tujuan selanjutnya. Sebuah mobil mewah sudah menjemput mereka, Rayyan menarik kopernya sebelum diambil alih oleh sopir mobil tersebut. Bukan terlihat sedang mau kerja, tapi terlihat mereka sedang akan melakukan liburan.
"Ini bener mau kerja kan?" Hanna melirik ke arah Rayyan sebelum mereka naik ke mobil.
'"Iya lah, kerja...kamu harus kerja keras" jawab Rayyan sambil membukakan pintu untuk Hanna, tak lupa dia memasang tangannya di atas kepala Hanna agar kepala Hanna tak terantuk.
Hanna masih memasang wajah curiga, karena yang dia rasakan bukan nuansa kerja.
"Jalan pak" perintah Rayyan.
"Siap mas"
"Oh ya, nanti kalau ada mall atau butik, kita berhenti dulu" Rayyan teringat jika Hanna tak membawa satu pun baju dari rumah, maka dia harus belanja terlebih dahulu. Hanna yang merasa menjadi biang keladi pun hanya diam saja.
Hanna merasa menjadi serba canggung berada di dekat Rayyan. Dia ingin mengakhiri pernikahan itu agar dia bisa bebas dan tidak terbebani.
Mobil memasuki area parkir yang nampaknya itu adalah sebuah butik, Rayyan segera membuka pintu mobil dan bergegas keluar, tanpa menunggu Rayyan kembali membuka pintu mobilnya, Hanna pun ikut turun dari mobil tersebut.
Rayyan berjalan terlebih dahulu ke dalam, Hanna mengikutinya.
"Selamat datang" sapa seorang pekerja butik tersebut dengan ramah, tampilannya yang modis dengan senyum ramah itu menambah kecantikan pekerja perempuan itu. Hanna mengangguk.
"Pilihlah yang kamu suka, sebanyak-banyaknya, jangan sampai kamu kehabisan baju nanti di sana" Rayyan memberikan perintah. Terdapat berjejer pakaian yang serba bagus di sana. Hanna yang tidak terbiasa, bahkan tak pernah berbelanja di butik mahal pun hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Berapa uang yang dikeluarkan hanya untuk baju?.
"Hei...malah bengong" Rayyan melihat Hanna yang tak bergerak memilih baju, membuatnya kembali berdiri setelah tadi berniat duduk sambil menunggu Hanna di sana.
"Mari saya antarkan" ucap salah satu pegawai butik tersebut. Hanna masih ragu untuk berbelanja, mengingat isi dompetnya tak seberapa. Bahkan untuk membeli sebuah baju pun tak mampu.
"Mari..." pegawai tersebut mengajak Hanna memilih. Karena pegawai tersebut sudah terbiasa memilihkan baju untuk pelanggan, maka dia pun dengan sigap memilihkan baju untuk Hanna.
Hanna ingin menjerit saat melihat label harga, dia melongo beberapa saat. Bahkan uang jajannya sebulan tak cukup mampu membeli baju atasan dan bawahan. Pegawai itu nampak sesekali memperhatikan tubuh Hanna, memperkirakan ukuran yang pas dan juga model tersebut cocok apa tidak untuk dikenakan olehnya.
Baju dalam tak luput dari belanjaan yang sudah terkumpul di keranjang belanja, tak hanya satu keranjang, sudah ada 4 keranjang penuh pakaian. Hanna tak sanggup membayangkan berapa puluh juta yang akan keluar untuk membayar belanjaan itu.
"Ini sudah terlalu banyak mbak, sudah" pinta Hanna.
"Kenapa? sudah cukup kah untuk satu minggu ke depan?" sahut suara dari belakang, Hanna menoleh ke arah suara yang ternyata Rayyan itu.
"Apa? seminggu?" Hanna terkejut karena kemarin Rayyan mengatakan jika hanya tiga hari saja.
"Kenapa? kalau kamu mau nyuci ya nggak apa-apa"
Hanna yang mendengar hal itu pun mengiyakan, karena jika dia banyak berbelanja, maka semakin tidak enaklah dia pada Rayyan. Karena harga baju di sini luar biasa mahal baginya.
"Cukup"
"Baik kak..."
Rayyan menuju kasir untuk membayar semua barang belanjaan, Hanna nggak sampai hati untuk ikut kesana. Jika dia tahu total belanjaan tersebut, bisa-bisa dia akan pingsan di tempat. Tak berapa lama, Rayyan kembali ke Hanna. Di belakangnya nampak seorang pegawai yang membawa barang tersebut sudah berada di dalam koper berwarna hitam itu. Gilak, Rayyan sampai membelikan itu semua. Hanna berdiri dan berjalan keluar.
"Harusnya nggak perlu repot-repot, kita bisa belanja di pasar yang lebih murah" Hanna menutup pintu mobilnya.
"Kamu kira aku ini suami apa? masa iya harus beliin di pasar? sedangkan aku mampu membelikan kamu di butik"
"Jangan begitu, barang di pasar bagus-bagus, dan harganya murah" Hanna tak mau kalah.
"Ya...ya...lain kali kita kesana, sekarang pakai yang ada dulu ini, daripada nanti kamu pakai bajuku"
Hanna tersenyum mendengar Rayyan ngomel.
"Kenapa senyum-senyum?"
Hanna menggeleng. Dia heran, mengapa Rayyan memperlakukannya seperti dia adalah istrinya.
"Kamu jangan mikir yang aneh-aneh" sahut Rayyan seolah bisa membaca pikiran Hanna.
Perjalanan dimulai kembali, kini mobil memasuki jalanan yang di kanan kirinya terlihat pepohonan yang rindang dan menyenangkan.
Dan sebuah lagu pun terdengar mengiringi perjalanan mereka.
Perjalanan membawamu
Bertemu denganku
'Ku bertemu kamu
Sepertimu yang kucari
Konon aku juga
Seperti yang kau cari
( Tulus, Hati-Hati di Jalan)