
Hanna masih saja menatap paket yang baru saja dia terima. Berkedip beberapa kali, dan akhirnya dengan perlahan dia memegang paket tersebut.
"Ah mana mungkin ada orang yang kirim granat kesini, nggak mungkin juga," Hanna memantapkan dirinya untuk membuka paket tersebut. Kalaupun nanti ada yang mencurigakan, dia akan mengembalikan ke pihak jasa kurir yang tadi mengirimnya kesini. Perlahan dia membuka bungkusan tersebut. Terlihat sebuah box dengan merk ternama. Hanna membuka tutup box tersebut. Tak lupa Hanna mengabadikannya lewat video, sebagai jaga-jaga jika isinya berisi hal-hal yang aneh.
Ternyata berisi sebuah kebaya dengan bawahan batik yang nampak sangat indah, tak lupa juga sepatu dengan hak tinggi yang berwarna senada. Ungu muda. Hanna memegang sepatu tersebut, dan memang dari merk ternama. Bahkan kalaupun dia punya uang, terasa sayang jika membeli sepatu tersebut, karena baginya itu sangat mahal. Kebaya berhias permata yang juga berwarna ungu muda itu terlihat sangat mewah. Lagi-lagi menggelengkan kepalanya, berapa uang yang dikeluarkan si pengirim untuk ini.
"Hah...berlebihan sekali, tapi.....," Hanna menatap kebaya yang sudah dia buka itu lalu mengelusnya lembut. "Tapi benar-benar cantik sekali,"
Hanna bergegas mencari catatan di dalam box, mungkin saja ada petunjuk siapakah yang mengirimkannya? apakah Nayo yang akan memberikan kejutan padanya?
Dan akhirnya Hanna berhasil menemukan secarik kertas berwarna ungu muda juga.
Selamat atas kelulusannya,
Hanya bisa memberikan ini
Semoga terpakai dan bermanfaat.
Ryn
"Ish..." Hanna menepuk dahinya, Hanna sangat yakin jika inisial itu adalah Rayyan. "Kenapa dia mesti repot-repot ngirim ini ke aku? ini kan mahal tentunya, sayang uangnya hanya untuk beli kebaya. Hanna menyayangkan.
Hanna menyimpan kebaya pemberian Rayyan ke dalam lemari yang ada di kamarnya. Hanna mengambil ponselnya, mencari nomor Rayyan. Hendak mengetik ucapan terima kasih, tapi ragu.
"Hish....kenapa juga harus tegang begini," Hanna masih mondar-mandir sambil membawa ponselnya, sambil memikirkan hal apa yang akan dia ucapkan.
Terima kasih, harusnya nggak usah repot-repot....
Hanna kembali menghapus pesannya."Ih kok norak banget kayak orang naif begitu,"
Terima kasih...cantik sekali, aku akan memakainya nanti.
Hanna semakin gusar dan kembali menghapus pesannya tersebut. "Nanti dikiranya aku mengharapkan hadiah darinya, dan kenapa sok imut begini," Hanna memukul kepalanya.
Terima kasih, nanti aku pakai. Dan emoticon senyum terselip di sana.
Pesan dikirim.
Hanna meninggalkan kebaya dan juga sepatu serta ponselnya di kamar, dan dia kembali sibuk dengan pekerjaannya.
"Hah...stress berat, emak bapakku nggak mau ngerti kalau anaknya molor wisuda," Kia memasukkan Tteokbokki super pedas ke mulutnya. "Mana jomblo lagi," gerutunya.
"Apa hubungannya,?" Hanna juga sedang makan makanan yang sama dengan Kia, mereka berdua sengaja janjian berdua untuk malam mingguan. Tidak ada hubungannya antara jomblo dan molor wisuda.
"Iya ada donk Han, secara kalau nggak jomblo kan aku bisa berkeluh kesah sama ayang," Kia kembali mengunyah makanannya. Dia merasa sedih juga sebenarnya tertinggal wisuda.
"Hihs....ada-ada saja, lah sama aku kan sama aja,"
"Bedaa, kan kalau ada ayang bisa bermanjaaa," Kia merajuk. Membuat Hanna muak tapi muak gemes melihat Kia seperti itu.
"Ya udah aku balik deh," Hanna pura-pura ngambek. "Kan penting ayang daripada aku,"
Kia mendelik, lalu tertawa.
"Oh ya kamu tahu Mona kan,?"
"Kenal?" Hanna mengulang.
"Kenal sih enggak, cuma pernah berpapasan beberapa kali, tapi sekedar tahu aja. Kenapa,?"
"Nggak apa-apa," jawab Hanna yang tiba-tiba nggak ingin bercerita tentang Mona.
"Kamu jangan gitu deh Han, mau main rahasia-rahasiaan lagi,?" Kia merengut.
"Kemarin habis dari rumah,"
"Serius,? ngapain? mau laundry? nggak mungkin lah, secara ART nya udah selusin di rumahnya,"
Hanna mengeryit, sepertinya meskipun Kia tak kenal pada Mona, tapi sepertinya kok sudah khatam mengenal Mona, bahkan jumlah ART nya juga.
"Ah..."
"Ya Ampun..."
"Astaga"
"Oh Tuhan"
Itulah kata-kata yang keluar dari bibir Kia saat mendengar cerita dari Hanna, betapa geramnya dia pada Mona yang memperlakukan Hanna seperti itu. Berkali-kali Kia mengepalkan tangannya.
"Duh andai aku jadi kamu, udah aku tabok tuh muka biar nggak glowing lagi, bisa-bisanya nuduh kamu seperti itu, kejam banget,"
"Dah lah biasa aja, makanya aku males cerita sebenernya," Hanna memegang kepalanya dengan kedua tangannya.
"Jangan gitu, udah nggak beres dia ngomongnya," Kia masih mencak-mencak.
"Udah biarin aja,"
"Hiiiihhhh....sebel banget aku Han..."
"Nih," Hanna menunjukkan galeri foto yang ada di ponselnya. Mata Kia membelalak sempurna melihat foto yang disodorkan Hanna.
"Hah...bagus banget, melting aku," mimik muka Kia berubah menjadi ceria. "Hih..kamu diam-diam ya, beli di mana bagus banget, nanti aku wisuda mau yang kayak gini,"
Hanna tak menjawab, karena dia juga nggak tahu. Hanna senyum-senyum penuh arti pada Kia.
"Jangan bilang kalau.....," Kia mengacungkan tangannya.
Hanna berhasil mengalihkan amarah Kia.
"Rayyan....," pekiknya. Hanna buru-buru menutup mulut Kia karena suaranya keras sekali hingga beberapa orang menolah ke arah mereka berdua. "Udah deh....ampun deh kita kalau sudah sama couple ini," Kia pura-pura iri.
"Huuuusss....jangan mengada-ada,"
Bagai buah simalakama, cerita tentang Mona, Kia mencak-mencak. Cerita tentang Rayyan juga membuat histeris.
Kia adalah salah satu sahabatnya, tempat berbagi cerita. Apalagi kini Hanna tak punya teman bercerita di rumah, Kia lah yang akan jadi teman curhatnya, selain Panji. Bahkan dengan Panji pun dia jarang bisa terbuka.