
Talitha mencak-mencak mendapat perlakuan dari Kamila yang dinilainya berlebihan, Rayyan yang menjadi sasarannya kini. Usaha dia mengikutinya hingga luar kota benar-benar ditentang oleh Kamila meskipun dia sudah melakukan penyamaran.
Berkali-kali Rayyan menenangkan Talitha dari balik ponselnya, berderet pesan dan juga telepon.
"Sudah, abaikan, nanti kita atur waktu untuk bertemu tanpa sepengetahuan siapapun, ok?" Rayyan mengakhiri pesannya pada Talitha, agar perempuannya itu tak lagi marah dan gundah.
Rayyan masuk ke dalam kamar, malam sudah larut setelah dia makan malam sekalian tadi bersama Kamila. Tak ada lagi ceramah dari Kamila, mungkin wanita itu sudah jengah dengan apa yang dilakukan oleh Rayyan. Tapi bagi Rayyan, yang dilakukan sah-sah saja karena dia juga merindukan kehadiran Talitha.
Kamila membanting tubuhnya di atas ranjang kamar hotelnya yang berbeda lantai dari Rayyan, dia sungguh lelah. Apa yang dia perjuangkan untuk Rayyan bukanlah sekedar relasi saja. Dia merasa berhutang budi pada kedua orang tua Rayyan sebelum keduanya meninggal. Sejak kecil, Kamila banyak dibantu oleh Ibu dan Ayah Rayyan. Setidaknya, kini dia harus bisa menjadi kakak yang melindungi Rayyan.
"Kamu tidak tahu bagaimana orang tua kamu berjuang untukmu, dan juga banyak membantuku" gumam Kamila, matanya melihat langit-langit kamar, lampu masih terang, dan rasa kantuk pun hilang. Kepalanya sedikit pusing. Kamila mengurit dahinya, mencoba mengusir rasa pusing yang mendera. Talitha, si perempuan itu, perempuan yang sejak awal tidak disukainya, dan ternyata feelingnya benar.
"Semoga kamu mengerti" gumamnya lagi.
***
"Ini bagaimana sih?" teriak Kia, Hanna menoleh ke arah Kia yang sedang sibuk menatap layar ponselnya. Mereka sedang duduk di teras perpustakaan kampus.
"Apaan?" tanya Hanna.
Kia menunjukkan layar ponselnya pada Hanna, sekilah mata Hanna menangkap sebuah gambar, di mana wajah yang dia kenal.
"Ini Rayyan idola kamu kan? yang mau kita undang beberapa bulan lagi kan?" Kia kembali menatap ponselnya. Hanna mengangguk.
"Kalau dia buat skandal terus, nanti bisa-bisa kampus nggak ngizinin kita undang dia" Kia mendengus. "Please...jangan sampai Bian benar-benar ngebatalin".
"Ngapain lagi sih dia?" gerutu Hanna.
"Kan kamu tahu, nih lihat nih" Kia kembali mendekatkan layar ponselnya pada Hanna. "Rayyan kepergok dugem bareng perempuan, entah siapa itu"
Fotonya memang tidak terpampang secara jelas, tapi wajah Rayyan jelas meskipun mengenakan masker. Hanna sudah hafal betul.
"Itu si Talitha bukan sih?" Kia memastikan. Hanna mengangkat kedua tangannya, pertanda dia tidak tahu. Sebenarnya dia meyakini jika itu adalah Talitha.
"Tumben sih nggak bereaksi? eh tapi akhir-akhir ini kamu aneh deh" Kia melihat kawannya itu, Hanna pun menoleh.
"Aneh?" Hanna balik bertanya. Kia mengangguk, tangannya menutup layar ponselnya dan memasukkannya ke dalam tasnya.
"Iya aneh, kamu mendadak seperti nggak selera sama Rayyan, padahal dulu kalau bahasan tentang Rayyan pasti hueboh setengah mati"
"Oh itu...ehm...lagi pusing aja, nggak terlalu mengidolakan dia, soalnya lagi sibuk mikir biaya kuliah" Hanna tersenyum kecil. Kia nampak tak percaya.
"Posternya masih ada di kamar?" Kia penasaran.
"Idih ...malah ketawa-ketawa nggak jelas" Kia menyenggol bahu Hanna.
"Ah udah ah, mau pulang aku, sudah sore" Hanna bangkit dari duduknya.
"Eh tungguin...."Kia berteriak, tangannya menyambar tasnya lalu mengikuti Hanna. "Nggak pengen ketemu Bian?" tanya Kia seketika saat dia sudah menyamai langkah Hanna.
"Nggak...aku mau pulang, nih badanku pegel-pegel, pengen tidur" Hanna memijat pundaknya yang sebenarnya sama sekali tidak pegal. Hanya saja otaknya sedang ingin marah. Apakah karena Rayyan? entahlah. Hanna mempercepat langkahnya menuju parkiran. Setibanya di sana dia lantas menuju motornya dan segera keluar dari kampus menuju rumah Rayyan.
Hanna masuk ke dalam rumah Rayyan dengan langkah gontai, ponselnya berdering beberapa kali. Hanna mengecek siapa yang menelponnya, nama adiknya tertera di sana.
Hanna sengaja tidak menelpon balik, dia sudah tahu apa yang akan ditanyakan Nayo, Nayo pasti akan menanyakan apakah dia baik-baik saja? benarkah berita yang beredar itu?.
Hanna ingin segera masuk ke dalam kamarnya dan mandi sore. Rumah masih sepi, itu tandanya bahwa Rayyan belum pulang dari luar kota, serasa sangat merdeka. Hanna sengaja membeli makanan dari luar karena rasanya dia malas sekali untuk masak malam ini. Dia ingin menikmati rebahannya malam ini.
Hanna keluar kamar dan makan di dapur, tanpa disangka, terdengar langkah kaki dari depan, Rayyan muncul dengan raut wajah nampak lelah. Hanna hanya melirik sejenak, lalu membiarkan Rayyan naik ke atas tanpa menyapanya.
Setelah menghabiskan makan malamnya, Hanna tak langsung masuk ke kamar, dia duduk sejenak di tempat yang sama. Menikmati camilan yang dibelikan oleh Rayyan tempo hari.
Hanna nampak santai, manik matanya melirik ke arah tangga, tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Kemungkinan Rayyan sudah tidur. Hanna mengelus perutnya yang dirasa sudah sangat kenyang, kemudian dia minum air hangat dan kembali menyimpan camilannya. Dia bergegas untuk kembali ke kamar untuk tidur.
Hanna berbalik, dan Rayyan muncul seperti hantu, tidak terdengar langkah kakinya, lampu temaram membuat Hanna berjingkat kaget.
"Kamu!" Hanna geram.
Rayyan tepat berada di depan Hanna saat Hanna membalikkan badan, Hanna bergeser ke kanan, Rayyan mengikutinya, Hanna bergeser ke kiri Hanna juga mengikutinya.
"Permisi, aku mau tidur" Hanna nampak sebal, entahlah apakah yang membuatnya tak ingin melihat Rayyan.
"Sudah aku bilang, jangan berduaan sama cowok" Rayyan berbicara hanya berjarak beberapa jengkal dari Hanna. Hanna menghela nafas panjang, tak ingin dia berdebat dengan Rayyan. Dia ingin tidur sekarang, sekarang juga!
"Kenapa diam? jadi benar dia pacar kamu? kalau sampai Brian tahu..." Rayyan tidak melanjutkan kalimatnya.
"Kalau dia pacar aku kenapa?" jawab Hanna ketus, dia lelah, dia ingin istirahat sekarang juga. "Aku sedang tidak ingin membahasnya sekarang, aku lelah, aku ingin tidur" ujar Hanna lalu bergeser, kali ini Rayyan tidak mengikutinya, dia membiarkan Hanna berlalu dan meninggalkannya.
"Tumben dia bersikap seperti itu" Rayyan melihat punggung Hanna menghilang dari balik pintu kamar.
Rayyan duduk di salah satu kursi makan, dia sedang tidak melakukan apa-apa, karena dia tadi sudah makan malam dengan Kamila saat perjalanan menuju rumah. Sebenarnya dia ingin menasehati agar Hanna tak lagi ceroboh sembarangan berduaan dengan cowok, tapi nampaknya gadis itu sedang tidak ingin berbicara padanya. Rayyan melihat pintu kamar Hanna yang sudah tertutup.
Sementara Hanna sudah membaringkan tubuhnya di atas ranjang, namun matanya masih terjaga. "Dasar...dia sukanya nuntut doang tapi nggak mau koreksi diri? tuh siapa cewek yang dugem? jangan-jangan Talitha" gerutunya sebal, bukan karena dia sedang cemburu pada Rayyan, hanya saja dia tidak mau disalahkan jika kesalahan itu dilakukan oleh Rayyan.