
Hanna bergegas masuk ke dalam rumah, rumah masih sepi karena Rayyan masih berada di luar kota. Entah kapan dia akan pulang, tak ada komunikasi di antara keduanya. Hanna sebenarnya ingin mengucapkan terima kasih, tapi enggan. Jari jemarinya enggan mengetik, hatinya juga terasa angkuh.
Hanna sudah mengirim pesan pada Bian, untuk bertemu di pertigaan yang agak jauh dari rumah Rayyan. Hanna masih penasaran, apa yang sebenarnya akan dilakukan Bian malam ini.
Hanna selesai mandi, dia segera berganti baju, seperti biasa tak ada pakaian istimewa yang dia siapkan, hanya celana jeans dan kaos pendek, serta jaket denim. Karena Bian mengatakan sudah mau berangkat menjemputnya. Tak ada bedak tebal, liptik dan lain sebagainya, hanya parum saja. Hanna bergegas keluar rumah dengan motornya, dan segera menuju tempat mereka janjian.
Sesampainya di sana, terlihat Bian sudah menunggunya.
"Maaf telat, sudah lama ya?" tanya Hanna sambil melepas helmnya. Bian berada di samping mobil warna merah, tampilannya sungguh menggoda, kemeja warna maroon dan jelana jeans. Perpaduan yang sangat pas, menambah ketampanan naik berlipat-lipat.
"Nggak apa-apa, aku juga baru sampai kok" Bian tersenyum, membuat hati Hanna semakin meleleh. "Sini biar aku parkirin motormu" ujar Bian sambil menuntun motor Hanna menuju sebuah tempat, sebuah warung. Hanna hanya melihat dari jarak yang agak jauh, terlihat Bian sedang berbincang kepada pemilik warung, dan menyerahkan uang, sebagai tanda dia titip motor Hanna. Sungguh laki-laki yang sopan, batin Hanna. Tak butuh waktu lama, Bian sudah kembali di dekat mobilnya.
"Yuk" ajak Bian, dia membukakan pintu samping kiri mobilnya untuk Hanna. Hanna masuk ke dalam mobil tersebut.
"Terima kasih" Hanna tersenyum, Bian menutup pintu mobil, kemudian dia membuka pintu untuknya untuk mengemudi.
"Kita mau kemana?" tanya Hanna yang masih belum tahu mau diajak kemana.
"Ikut aja, bantu aku" ujar Bian masih merahasiakan. Detak jantung Hanna menjadi tak karuan, sudah beberapa hari Bian tak membicarakan event kampus, tapi seperti sedang sibuk dengan urusan pribadinya.
"Jangan aneh-aneh ya mas" Hanna melirik. Bian tertawa mendengar ungkapan Hanna.
"Enggak....ngapain kok aneh"
"Eh kalau dilihat dari kostummu, mas Bian mau keluar di acara resmi ya? aku salah kostum nih" ungkap Hanna, jika benar, maka dia salah total dengan bajunya.
"Enggak...nggak apa-apa, nanti bisa ganti.
"Hah?" Hanna melebarkan matanya.
Bian membelokkan mobilnya ke sebuah tempat, Hanna melirik dari dalam mobil, Nampak sebuah salon kecantikan.
"Ngapain?" Hanna mengerutkan dahinya.
"Turun yuk" ajak Bian, laki-laki itu melepaskan seat belt nya dari tubuh dan membuka pintu mobilnya, lalu mendekati pintu Hanna. Belum sempat dia membukakan pintu tersebut, Hanna sudah turun. Bian sudah berjalan terlebih dahulu di depan, Hanna membuntuti Bian dan ikut masuk.
"Duduklah, dan ikuti saja" perintah Bian. Hanna semakin kebingungan.
"Ada apa ini? nggak mau ah" Hanna menolak.
"Silahkan kak" sambut seorang pegawai salon yang nampak cantik dan ramah itu. Hanna menggeleng, dia lebih suka tampilannya sekarang.
"Kan sudah janji mau bantu aku" sahut Bian, yuk please....
"Kamu mau apa sih?" Hanna bertanya serius.
"Serius Han, nggak aneh-aneh, beneran, janji" ujar Bian sambil mengangkat kedua jarinya sebagai tanda janji. Hingga akhirnya Hanna luluh dan duduk di kursi.
"Mbak....sesuai pesanan ya..." ujar Bian.
"Siap mas" balas pegawai tersebut.
Pegawai tersebut sedang me make up wajah Hanna, Hanna yang tidak terbiasa memakai make up, merasa aneh. Dalam hatinya apa yang sebenarnya direncanakan oleh Bian hingga dia harus di make over begini. Make up tiba-tiba seperti ini membuatnya ingat pada kejadian menikah dadakan dengan Rayyan beberapa waktu yang lalu. Hanna mendengus.
"Sudah kak, silahkan masuk ke dalam untuk berganti baju"
"Hah? ganti baju?"
"Iya kak, silahkan" ujar pegawai tersebut sambil membungkukkan badan. Hanna ikut saja, sudah kepalang tanggung.
Hanna masuk ke dalam ruangan, di mana sudah disiapkan sebuah baju berwarna maroon, senada dengan kemeja yang dipakai Bian.
"Ini aku pakai?" tanya Hanna pada pegawai tersebut, lalu mengalihkan pandangannya pada sebuah gaun yang ada di gantungan.
"Iya kak, silahkan" jawabnya.
Hanna masih dengan celana dan kaosnya yang tadi. Pegawai itu masih tersenyum dan mengarahkan agar Hanna segera memakainya. Hanna yang sudah kepalang, akhirnya memakai juga di kamar ganti. Butuh usaha yang agak keras agar bisa memakai gaun tersebut dengan benar.
"Mari saya bantu kak" ujar pegawai tersebut, dia merapikan gaun Hanna agar lebih rapi lagi. "Sebentar kak, kita tata rambutnya sebentar biar lebih cantik lagi" urai pegawai salon itu. Hanna masih menenteng kaos dan celana jeans yang tadi.
"Sini kak" pinta seorang pegawai satunya, mengambil kaos dan celana Hanna, lalu menyimpannya dalam sebuah paper bag.
Hanna kembali duduk di sebuah kursi, dan dengan cekatan pegawai tersebut membantu merapikan rambut Hanna, dengan membuat gelung kecil.
"Sudah kak"
"Oh sudah ya?" Hanna mematut dirinya di depan cermin, nampak seperti bukan dirinya. Memang dia bukan seorang cewek yang suka berdandan. Hanna segera bangkit dari kursinya dan keluar, tak lupa mengucapkan terima kasih kepada para pegawai salon yang sudah mendandaninya.
"Aku tak kuat membayarnya" bisik Hanna pada Bian, Bian hanya diam saat melihat Hanna keluar. Gadis di depannya nampak sungguh jelita, anggun, berbeda dari tampilan Hanna sebelumnya.
"Kamu ini, masih juga memikirkan hal itu" gumam Bian akhirnya. "Yuk ke acara yang sesungguhnya" ajak Bian. Hanna kembali mengekor menuju mobil Bian.
"Kamu masih nggak mau bilang kita mau kemana?" Hanna menutup pintu mobil.
"Kenapa? kan aku sudah janji nggak akan macam-macam, nggak akan berbuat yang aneh-aneh sama kamu" Bian menyalakan mesin mobilnya, kini mobilnya sudah melaju di jalan raya.
Hanna terdiam, sebenarnya apa yang sedang direncanakan oleh Bian. Tapi dia juga percaya bahwa Bian tak akan macam-macam sama dia. Timbul rasa bersalah dalam hatinya, dia keluar berduaan dengan Bian. Bagaimana jika Rayyan tahu akan hal ini? marahkah dia. Hanna menggelengkan kepalanya.
"Ah bodo amat" gumamnya sangat lirih, terlihat seperti hanya komat kamit.
"Maaf jika harus merepotkan kamu" ucap Bian.
"Selama aku nggak tahu apa yang akan kamu lakukan, aku nggak mau memaafkan" Hanna melihat ke wajah Bian yang sibuk menyetir, tapi senyumnya mengembang.
Mobil perlahan masuk ke area parkir, sebuah cafe mewah. Pertanyaan kembali muncul dalam benak Hanna. Mau apa dia diajak kesana.
Bian turun dari mobil, dan segera membukakan pintunya Hanna.
"Yuk" tangan Bian di udara, siap menyambut tangan Hanna. Hanna yang semakin bingung tidak tahu harus bagaimana, apakah dia menyambut tangan Bian atau membiarkan saja.
"Apa yang dia lakukan? apa dia akan menyatakan perasaannya padaku?" ucap Hanna dalam hati. "Ah nggak mungkin" ujarnya kembali, kali ini mematahkan anggapannya sendiri.
Lampu yang didominasi warna terang itu memenuhi taman bunga, sungguh indah menyambut para tamu, Hanna berjalan di samping Bian. Bagi siapa saja yang melihat, pasti akan bilang jika mereka berdua sangat serasi. Hanna semakin sibuk dengan pikirannya, antara deg-degan dan penasaran. Apa gerangan yang direncanakan oleh Bian.