
"Dari ceritamu, apa kamu merasa nggak siap pacaran sama Rayyan,?" Kia sengaja mendatangi Hanna ke rumahnya, karena dia bosan berada di kampus yang tak berujung saat ingin konsultasi dengan dosen pembimbing. Kia memutuskan untuk ke rumah Hanna dan nanti kembali ke kampus setelah ini.
Hanna menghela nafasnya, baru saja dia menceritakan apa yang terjadi semalam. Ada rasa ingin bertahan, tapi dia juga meragukan, apakah dia mampu dengan dunia yang benar-benar baru baginya.
"Apa semua orang itu harus cantik menurut standar mereka, hah,?" Hanna mendengus sebal, tangannya bersedekap. "Belum lagi ini." Hanna menyodorkan ponselnya pada Kia. Kia meraih ponsel Hanna dan melihat media sosialnya. Banyak yang memberikan komentar yang tak tepat tempatnya.
Kia mengernyit, heran dengan para warganet yang menyematkan komentar di postingan Hanna yang tak ada hubungannya dengan Rayyan sama sekali. Dan komentarnya banyak yang menulis kalimat jahat.
"Dasar edan," Kia uring-uringan, jelas saja dia akan membela Hanna.
"Makanya itu," Hanna mengucek rambutnya. Karena dasarnya juga bukan seorang artis, jadi mendapat cacian begini membuatnya berfikir. Dan jangan sampai dia stress dibuatnya.
"Rayyan tahu nggak,?"
"Entahlah,"
"Apa perlu aku oplas,?" gumam Hanna, wajahnya menahan tawa. Kia langsung tertawa terbahak-bahak.
"Kamu jangan ikutan gila, kamu sudah cantik. Udah deh nggak usah diladenin, kalau perlu nggak usah main medsos,"
Hanna berdecak.
"Jangan hanya gara-gara ini kamu mundur dari Rayyan, karena aku tahu, kamu bucin banget sama dia,"
"Ih sok tahu," Hanna melirik.
Ponsel Hanna berdering.
"Ih ini Han, ada panggilan," Kia menyerahkan ponselnya pada Hanna. Hanna melihat sebuah nomor yang tertera di layar, nomer asing. Belum tersimpan di kontaknya.
"Siapa ya,?" gumamnya.
"Angkat Han, penting kali ah," Kia mengingatkan.
"Ya Hallo..." Hanna agak menjauh dari Kia. Terlihat Hanna mengangguk-angguk sambil memassang wajah bahagia. Kia memperhatikan dari tempatnya.
Hanna menetup sambungan teleponnya, dan berjingkrak-jingkrak sambil menggepalkan tangannya di udara.
"Yeeees," ucapnya sambil mendekat ke Kia.
"Baru dapat lotre kamu,?" Kia menebak sembarangan, Hanna masih tertawa senang.
"Aku dapat gawe Ki,"
"Oh yang kamu lamar kapan hari? yang kamu dapat interview,?" Kia memperjelas. Hanna mengangguk. Kia berdiri dan memeluk Hanna, dia ikut senang dengan apa yang didapatkan oleh temannya itu.
"Selamat Han, semoga kamu kerasan kerja di sana,"
"Terima kasih Kia...nanti kalau aku gajian aku traktir deh." janji Hanna.
"Siap,"
"Oh ya ngomong-ngomong soal traktir, gimana noh kamu jadi dibayarin liburan sama temannya Mona,?" Hanna mendadak ingat akan janji taruhannya teman Mona dan Kia.
"Nampak batang hidungnya saja enggak, omong doang dia mah, kalaupun iya dia mau berangkatin liburan, aku ogah. Gengsi lah, nggak dibayarin sama dia pun aku bisa liburan sebulan full," Kia mengibaskan tangannya. Dia memang anak orang kaya, hanya saja tidak memperlihatkan.
"Takut bangkrut dia sama kamu,"
"Nah itu dia, padahal pas koar-koar kenceng banget tuh nyalinya, begitu tahu kamu serius sama Rayyan ilang kayak ditelan bumi. Eh tapi aku seneng akhirnya kamu sama Rayyan, serius,"
Hanna tahu, Kia adalah salah satu sahabat yang tulus padanya.
"Iya mak Kia, iya...,"
"Serius Han,"
"Loh iya, sampai kamu mirip sama salesnya Rayyan,"
Kia tergelak mendengar jawaban Hanna yang tak terduga.
Hanna membuka lemari bajunya, memilih baju yang akan dia gunakan untuk masuk kerja besok. Besok adalah masuk kerja pertamanya, ada rassa cemas dalam batinnya. Sangat antusias tetapi juga merasa deg-degan.
"Semoga semua berjalan dengan baik," harapnya. Hanna mengeluarkan kemeja putih dan juga blazer warna hitam, serta celana hitam sebagai baju yang akan dia kenakan besok. Semua sudah siap, dan besok dia tak akan terlambat hanya untuk mencari baju yang pas.
***
"Siaaaaal," Hanna kesal pada dirinya sendiri, dan bodohnya lagi dia tidak berpesan pada Nayo untuk membangunkannya jika dia belum terlihat.
"Gara-gara Rayyan," gumamnya sambil memakai helm, dia akan ke kantor dengan naik motor saja. Dan dia sudah buru-buru banget. Karena jamnya sudah mepet. Hampir jam 8, dan jam masuk kantor jam 8.
"Harap datang sebelum jam kantor ya mbak," pesan dari Farel kemarin. Dan kenyataannya Hanna kesiangan.
Hanna sudah bersiap tidur semalam, ternyata Rayyan menelponnya hingga dini hari dan membuatnya terlambat bangun, bahkan alarm dari ponselnya pun tak mampu membangunkannya.
Hanna menarik gas motornya sekencang mungkin agar dia sampai, namun apalah daya, jalan yang macet membuat kecepatan motornya tak sesuai keinginan. Hanna benar-benar kesal pada dirinya sendiri.
Hari pertama kerja yang seharusnya bisa menjadi citra yang baik baginya hancur sudah. Hanna tiba di parkiran khusus motor tepat jam setengah sembilan. Ingin rasanya Hanna marah, tapi sama siapa. Ponselnya yang berdering dari tadi tak dia hiraukan.
Hanna melangkah masuk ke kantor dan menuju ruangan Farel untuk menghadap.
"Ini pegawai yang baru ya,?" tanya seorang perempuan pada Hanna.
"Eh iya mbak...eh Bu...,"
"Panggil saja aku Nita, udah ditungguin tuh dari tadi sama pak Farel," ucapnya terdengar sinis. Membuat Hanna tak enak hati.
"Iya..maaf, permisi,"
Hanna yang sudah berada di depan pintu segera mengetuknya perlahan, semoga Pak Farel tak marah padanya. Hanna memejamkan matanya, masih kesal dengan apa yang dilakukannya.
"Silahkan masuk," terdengar suara dari balik pintu yang tidak tertutup rapat. Hanna menunduk lalu masuk.
"Silahkan duduk, nona Hanna Rosita,"
"Maaf Pak sebelumnya, saya terlambat," Hanna menunduk, merasa bersalah.
Farel melihat Hanna dengan tajam, membuatnya semakin merasa terhujam dengan pandangan itu. Hanna meremasa kedua tangannya.
"Ini adalah hari pertama kerja kamu,"
"Iya pak maafkan saya," Hanna masih saja merasa bersalah.
"Iya..iya...tolong setelah ini lebih disiplin dan setelah ini pelajari job desk kamu ya," Farel menyerahkan sebuah kertas berjilid dengan sampul warna biru muda.
"Iya pak siap,"
"Oya, tempat kamu ada di sana," Farel menunjuk sebuah kursi kosong yang ada di pojokan.
"Iya pak," Hanna melihat seisi ruangan, dan hanya ada 2 kuris, kursi yang ditempati oleh Farel dan juga kursinya.
Hanya berdua saja? gumam Hanna. tapi pertanyaan itu tak bisa dia ucapkan, yang biasa dia lakukan hanya menurut saja. Hari pertama kerja yang benar-benar membuatnya ingin marah, untung saja Pak Farel tidak marah. Fiuh