
"Eh...di sini?" Rayyan pura-pura kaget saat melihat Hanna yang ada di depannya, senyumnya melebar, seolah sedang menertawakan Hanna. Mata elangnya tidak salah lihat saat memperhatikan isi ruangan tadi. Dan tentunya dari laporan HRD perusahaannya jika ada anak magang baru.
Sial...
Hanna melihat Rayyan dengan tatapan ingin langsung kabur, dia tak ingin berurusan dengan Rayyan. Hanna bersiap pergi.
"Eiiits...mau kemana?" Rayyan memojokkan Hanna yang kini tengah memundurkan langkahnya, tubuhnya sudah berada di dinding mentok nggak bisa kemana-mana lagi, kedua tangan Rayyan membentuk pagar untuk tubuh Hanna, jarak mereka dekat. Jika saja ada yang melihat adegan ini, bisa-bisa akan membuat kehebohan seisi kantor.
"Mau kembali kerja pak" Hanna mencoba tersenyum, mencoba tenang. Dan dia memanggil Rayyan dengan sebutan "pak" karena posisi mereka berada di kantor.
"Kamu...magang di sini karena ingin ketemu aku kan?" Rayyan masih menggoda Hanna dengan senyum nakalnya. Hanna menggeleng. Entah mengapa dia menjadi takut dengan Rayyan, laki-laki tampan yang masih menjadi suaminya itu.
"Sebagai seorang istri, kamu harusnya di rumah saja, masak buat suami kamu" gumam Rayyan pelan di sebelah telinga kiri Hanna, membuat bulu kuduk Hanna merinding. Hanna diam sejenak, ingin rasanya dia mendorong tubuh Rayyan dan kabur secepat kilat.
"Pak...ini kantor, nanti kalau ada yang tahu kan nggak enak" Hanna mencoba mencari celah. Rayyan tak bergeming.
"Bodoh amat, kan kantor aku yang punya, kan kamu istrinya aku" Rayyan tersenyum tengil, membuat Hanna semakin merinding. Bisa-bisanya Rayyan berbuat seperti ini padanya di sini.
"Maunya bapak apa?" Hanna mencoba bernegosiasi.
"Mulai besok kamu jadi asistenku" Rayyan langsung meminta, bukan tawaran yang harus diperdebatkan. Hanna mendesis, jelas itu menyalahi aturan magangnya. Mana bisa dia menjadi asisten Rayyan, sedangkan job desk Hanna adalah mengerjakan administrasi.
"Mana bisa?" Hanna menolak.
"Bisa, kenapa nggak bisa?" Rayyan masih saja tak mau kalah. "Jadi silahkan besok kamu bisa mulai menjadi asistenku"
"Enggak..." Hanna masih menolak.
"Kamu mau nggak dapat nilai dari kampus?" Rayyan mengancam dengan senyum indahnya, semakin kesini dia semakin suka menjahili Hanna. Dan gadis di depannya itu memang sangatlah menarik baginya. Mendengar ancaman konyol itu, Hanna menarik nafas, mencoba menetralkan kekesalannya. Mau pindah kantor pun mustahil.
"Bagaimana?" Rayyan memainkan kedua alisnya naik turun sambil tersenyum jahil. Hanna diam saja sambil menatap Rayyan dengan sangat sebal.
"Aku nggak mau jadi saingannya Kamila" Hanna mendapat alasan bagus, karena selama ini Kamila lah yang menjadi asisten Rayyan sejak lama.
"Kamu nggak tahu jika Kamila sakit?" Rayyan menurunkan kedua tangannya dari tugasnya membuat pagar untuk tubuh Hanna. Hanna menyipitkan mata saat mendengar pernyatan Rayyan tersebut.
"Iya, dia sakit. Kamu nggak percaya?" Rayyan sedikit menundukkan wajahnya untuk bisa berbicara dengan Hanna yang mungil itu.
"Sakit? sakit apa? kapan? di mana sekarang?" Hanna memberondong Rayyan dengan pertanyaan.
"Satu satu lah nanyanya...." Rayyan melihat kekhawatiran di wajah Hanna saat mendengar Kamila sakit. "Kamu sih nggak perhatian sama aku"
"Apa hubungannya?" Hanna sengit.
"Ya iya lah...kalau kamu perhatian sama aku, pasti kamu akan tahu gimana kabar dia kan..." Rayyan mencari alasan kembali, tapi itulah dia, bahagia saat bisa membuat gadis mungil itu bingung. "Jadi sebagai gantinya, kamu jadi asistenku gantiin Kamila, nanti ada yang bantu kamu tenang aja" ujar Rayyan yang kali ini dengan nada serius. Tak perlu ada yang diperdebatkan, karena Hanna lagi-lagi tak ada pilihan.
Hanna menggaruk rambutnya, lalu dia melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, sebentar lagi jam pulang. Kebetulan semua kerjaan dia sudah beres, melihat Rayyan yang mulai beranjak meninggalkannya, Hanna pun ikut melangkah menuju ruangannya.
"Oh ya, bereskan barangmu, kita pergi" Rayyan membalikkan badan dan mengatakan itu pada Hanna. Hanna yang baru saja lega karena Rayyan meninggalkannya, kini dia dibuat pusing kembali. Belum sempat bertanya mau kemana, Hanna sudah tak melihat Rayyan.
Oh God....
"Kamu balik duluan?" tanya Meta yang tepat duduk di sebelahnya. Hanna mengangguk. "Kemana?"
"Ehm....ada urusan" Hanna tak menjawab dengar jujur jika dia akan pergi dengan Rayyan.
"Ok deh, hati-hati say..." untung saja Meta yang biasanya kepo tak banyak bertanya padanya, karena sejak siang tadi dia memang mendapat banyak garapan dari mbak Santi, karyawan yang membimbing mereka.
Hanna memilih menunggu di tempat yang tidak terlihat mencolok, dia duduk di bawah pohon. Rayyan membunyikan klakson, Hanna yang tak jauh dari mobil Rayyan pun mendekat dengan wajah seperti maling ayam yang takut ketangkap. Lalu dia masuk ke dalam mobil Rayyan, Rayyan melirik ke samping, tak ada reaksi. Dengan cekatan Rayyan memasangkan sabuk pengaman Hanna. Hanna menelan ludahnya.
"Kita ke rumah sakit, tapi alangkah baiknya kamu hubungi dulu ayah, bilang saja sama aku" Rayyan mengingatkan, tanpa menunggu perintah dua kali, Hanna mengambil ponsel dan menekan nomor ayahnya mengabarkan jika dia masih ada kerjaan yang harus dilakukan.
"Kenapa nggak nyebut namaku?" Rayyan berbicara tanpa melihat ke arah Hanna sesaat setelah Hanna menelpon Pak Handi.
"Begini saja sudah beres" jawab Hanna tak mau memperpanjang. Mereka sama-sama terdiam setelahnya, Hanna heran kenapa Rayyan masih sempat ke kantor, bukankah jadwal dia sangat padat.
"Kenapa? mau ngomong apa?" bak seorang cenayang, Rayyan seolah tahu pertanyaan yang memenuhi pikiran Hanna.
"Kenapa kamu nggak kerja?" ceplos Hanna, karena dia tahu Rayyan adalah salah satu artis yang super sibuk.
"Loh ini kerja kan?" Rayyan balik bertanya.
"Bukan...maksudku syuting lah apalah..."
Keduanya sudah mulai mencair.
"Iya kan kamu tahu sendiri, Kamila sakit, makanya kerjaan semua begini, aku butuh asisten baru"
"Aku nggak bisa lho, kan aku nggak handal"
"Aku nggak butuh handal, nanti kamu juga terbiasa" Rayyan yakin akan kemampuan Hanna, sementara Hanna sendiri tak yakin pada dirinya.
Yang dipikirkan Hanna sekarang adalah, dia akan sangat sibuk, akan ikut kemanapun Rayyan pergi dan yang paling membuatnya sedih, dia akan jarang ada waktu bersama Bian. Hanna menutup matanya, memijat pelipisnya yang mulai terasa cenut-cenut.
"Kenapa? tenang saja...nanti aku kasih nilai bagus sebagai anak magang" Rayyan terkekeh bahagia, bukan karena hal itu. Akan tetapi dia bahagia bisa bersama Hanna menghabiskan waktu. Hanna melihat Rayyan dengan semakin merasa sebal.
Hanna turun dari mobil, memperhatikan apa yang dilihatnya.
"Di sini?" Hanna memastikan Kamila dirawat di sini. Rayyan yang baru saja keluar dari mobil mendekati Hanna dan mengangguk.
"Iya lah, masa iya Kamila sakit dirawat di bengkel" jawab Rayyan asal, duh laki-laki itu semakin membuat Hanna semakin geram. "Ayo masuk" Rayyan berjalan terlebih dahulu, Hanna mnegekor.
Dan tibalah mereka di sebuah ruangan VVIP bernomor 1, Rayyan mengetuk pintu pelan dan masuk ke dalam ruangan, Hanna mnegikuti saja. Dilihatnya Kamila sedang tergolek lemas di atas ranjang.
"Mil..." gumam Hanna lirih melihat Kamila yang biasanya garang itu pucat. Kamila mencoba tersenyum dengan kedatangan Hanna dan Rayyan.
"Kalian" gumamnya. Hanna memegang tangan Kamila lalu memberikan pelukan pada Kamila yang sudah dia anggap sebagai kakak itu.
"Mil cepat sehat ya..." Hanna menatap Kamila sendu.
Sedangkan Rayyan memilih untuk duduk di sofa yang tak jauh dari ranjang, sementara Kamila dan Hanna sedang berbincang melepas rindu yang sudah agak lama tak bertemu.