
Ada bekas suami istri, namun tidak ada bekas anak. Rayyan adalah darah daging Pak Andre. Benar adanya jika hubungan mereka sejak dulu kurang baik hingga menimbulkan trauma dan rasa sakit di hati Rayyan, hanya saja pertalian darah tetap ada. Dan laki-laki itu juga sudah sangat menyesali apa yang dilakukannya di masa lalu.
"Saya menyesal sudah melakukan itu semua pada keluarga saya di masa lalu, dan saya menuai hasilnya sekarang," terawang Pak Andre dengan raut wajah sedih. "Bertahun-tahun saya berada pada rasa bersalah, hanya bisa melihat Rayyan dari jauh, tapi saya senang melihatnya sukses, saya tidak ingin apapun dari dia, saya hanya ingin dia memaafkan saya," ungkap Pak Andre tempo hari pada Hanna.
Hanna yang merasa senang dengan kemajuan Rayyan pun menyunggingkan senyumnya, Bapak dan anak kini berada dalam satu ruangan yang sama, makan bersama. Dengan adanya kejadian ini Hanna berharap kesehatan Pak Andre semakin membaik, semangat hidupnya semakin meningkat. Dan dia berharap Rayyan pun semakin membuka hatinya.
Selepas makan, Hanna pamit untuk pergi, dan dia berjanji akan menengok kembali Pak Andre esok hari.
"Ayah tidurlah, kita pergi dulu," Hanna menyelimuti laki-laki itu. Pak Andre mengangguk senang. Hanna sudah berjalan mendekati pintu, sedangkan Rayyan masih berjalan di belakang Hanna, Rayyan menoleh ke arah ayahnya yang terbaring lemah itu. Tanpa mengatakan apapun, Rayyan tersenyum kecil nyaris tak kelihatan kepada Pak Andre. Pak Andre yang menyadari hal itu pun menyambutnya dengan gembira, baginya, pintu maaf itu sudah terlihat di wajah putranya.
"Terima kasih nak," gumamnya, namun Rayyan mampu mendengarnya. Rayyan bergegas menyusul Hanna yang sudah keluar ruangan.
Mereka berjalan sejajar menuju lift.
"Bagaimana perasaan kamu,?" tanya Hanna tanpa basa-basi.
"Seperti apa katamu, rindu yang terberat adalah rindu kepada dia yang tak akan pernah kembali,"
Hanna mengangkat jempolnya sambil tersenyum.
"Apa sih yang nggak buat kamu?," imbuh Rayyan. Hanna menghentikan langkahnya dan melihat ke arah Rayyan dengan mata membulat. Rayyan tertawa kecil.
"Jadi kamu melakukannya nggak dari hati?" Hanna cemberut. Rayyan tertawa. Dia senang melihat Hanna sudah mulai kembali ke mode seperti dulu. Jika ditanya tentang alasan mengapa dia bisa melunak dengan ayahnya, sejatinya itu bisa jadi karena Hanna, tetapi dia juga memikirkannya sendiri. Sedikit memberikan ruang benci di hatinya, siapa tahu akan meringankan luka dan traumanya.
Tanpa diduga, ketika mereka keluar dari rumah sakit. Beberapa wartawan sudah nongkrong di dekat mobil Rayyan. Hanna yang merasa panik pun hendak lari, namun dengan cekatan Rayyan memegang pergelangan tangan Hanna, dan bahkan mendekatkan tubuh Hanna ke arah tubuhnya. Hanna melihat Rayyan, matanya meminta agar Rayyan tak melakukan itu. Tapi Rayyan berjalan mantap semakin mendekati wartawan, mau tak mau Hanna pun ikut melangkah.
"Apa benar ayahnya mas Rayyan dirawat di sini,?" sorot kamera, micropon pun sudah memenuhi area depan mereka berdua. Rayyan nampak santai.
"Apakah benar anda sudah bercerai? siapakah mantan anda? apakah benar Talitha? atau ini,?" wartawan yang satunya terus saja nyerocos tanpa beban.
"Terima kasih atas perhatian dari kawan-kawan semua," Rayyan membuka suara. Semua terdiam mendengarkan kalimat Rayyan agar tidak ada satu informasi yang tercecer satupun. "Kita bisa bertemu di lain waktu, nanti kita atur jadwalnya ya...,"
"Mas bisa konfirmasi sedikit saja," pinta wartawan laki-laki.
"Nanti ya mas, pasti kita jelaskan, nanti ya...permisi, soalnya saya mau jalan ini," Rayyan berusaha menyibak kerumunan, namun tangannya masih memegang tubuh Hanna.
"Benar ini pacarnya yang baru,"
Wartawan yang sudah lega dengan jawaban Rayyan yang akan melakukan konfrensi pers pun dengan senang hati memberikan jalan pada mereka. Sebelum mobil berjalan, mereka kembali mengingatkan Rayyan agar segera mengundang mereka.
"Jangan lupa mas..." teriak wartawan.
Rayyan yang berada di balik kemudi pun membuka kaca mobilnya sambil mengangkat jempol tangannya sebagai pertanda dia akan segera melakukannya.
Hanna menghembuskan nafas lega.
"Kenapa? grogi,?" tanya Rayyan sambil tersenyum.
Tak perlu ditanya, tentu saja itulah yang dirasakan oleh Hanna, dia hanya manusia biasa bukan artis yang sudah terbiasa dengan kamera.
"Bagaimana jika berita itu membesar,?"
"Biarin," Rayyan menjawab cuek, Hanna semakin heran. Kenapa manusia di sampingnya itu nampak tidak mempedulikan karirnya sama sekali sekarang?
"Kenapa,?" Hanna heran.
"Kamu tanya kenapa,?" Rayyan. "Ya nggak apa-apa Han, biarin aja, biar kamu makin stress," gelaknya. Hanna kembali melotot ke arah Rayyan.
"Loh iya kan, biar semua tahu kalau kamu milikku, nggak ada yang mendekati kamu," Rayyan beralasan, bibirnya terus saja menyunggingkan senyum.
Hanna diam dengan perasaan sedikit kesal, dia masih berpendirian jika dia tak layak untuk Rayyan.
"Kenapa? nggak apa-apa kan,?"
"Rayyan....kan sudah aku bilang...kita itu...."
"Kita sama," sahut Rayyan cepat. "Tidak ada beda di antara kita," Rayyan menatap Hanna lekat, sejurus kemudian dia kembali berkonsentrasi pada jalan.
Jantung Hanna berdetak lebih cepat, merasakan kalimat Rayyan berhasil memporak-porandakan hatinya. Benarkah hatinya telah goyah? Hanna melihat ke arah kiri, ke arah jalanan. Hatinya tak karuan, dia berusaha menata degup jantungnya agar normal kembali. Dan berharap Rayyan tak mengeluarkan jurus-jurus yang membuat goyah hatinya.
"Apa kamu melihat aku sedang bercanda,?" Rayyan melempar pertanyaan yang membuat Hanna semakin tersudut. Hanna menoleh ke arah Rayyan, Hanna tahu jika Rayyan adalah salah satu aktor terbaik di negeri ini, tentu aktingnya tak perlu diragukan lagi. Hanya saja kenapa dia merasa jika apa yang dilakukan tak mengandung kebohongan sedikitpun?
"Turun yuk," ajak Rayyan, mobil sudah berhenti di suatu tempat. Cafe dengan tema terbuka. Hanna pun mengikuti Rayyan.