
Break syuting dimanfaatkan untuk istirahat tidak hanya para crew, tetapi juga para talent. Hanna makan satu meja dengan Rayyan, banyak mata yang tertuju pada meja mereka. Rayyan nampak sangat santai dengan keadaan itu, bahkan sama sekali tidak menggubris tentang pandangan orang lain terhadapnya. Tetapi tidak buat Hanna, tatapan orang-orang padanya seolah sedang mengulitinya, dia merasa dicibir.
"Makanannya tidak enak?" Rayyan melihat ketidaknyamanan Hanna yang sedari tadi nampak melihat sekelilingnya.
"Bukan" jawab Hanna singkat, tidak mungkin dia mengatakan jika dia merasa tidak nyaman dengan tatapan orang-orang. Karena jika dia mengatakannya, maka dia akan dianggap terlalu PD bisa dekat dengan Rayyan. Toh dia hanya sebagai asisten Rayyan. "Aku ke toilet dulu"
Hanna beranjak dari kursinya menuju toilet, di sana dia berdiam beberapa saat di depan cermin. Membenahi rambutnya yang agak berantakan tertiup angin, dia membuka tas selempangnya dan mencari sebuah sisir serta pengikat rambut. Lalu mengikat rambutnya.
"Eh itu siapa sih yang makan bareng Rayyan?" bisik seorang gadis dengan rambut warna pirang dengan lipstik merah menyala. Hanna melihat gadis itu tadi di lokasi syuting yang sama dengan Rayyan.
"Babunya kali" jawab gadis di sebelahnya. Mereka tidak menyadari jika yang dighibah ada di dekat mereka. Atau mereka memang sengaja mengatakan itu di depan Hanna.
"Iya juga ya...nggak mungkin juga itu gebetannya, nggak kelas say..." gumam si gadis rambut pirang.
"Iya, semenjak desas desus dengan si istri pengusaha itu, Rayyan sama sekali nggak pernah kedenger gandeng cewek"
"Siapa bilang? nggak ingat apa sama si gadis misterius yang kapan hari mereka jalan berdua di mall?"
Sontak Hanna teringat dengan peristiwa saat dia diajak oleh Rayyan ke mall tempo hari. Hanna masih bertahan di depan toilet, dia masih senang mendengarkan bahan ghibah dua gadis itu. Hanna berpura-pura membenahi lipstiknya.
"Oh iya, itu juga nggak jelas sih, dan menurutku nggak cantik"
"Lihat aja, kan aku kali ini dapat scene yang lumayan nih sama Rayyan, kali aja dia ngelirik aku" gadis pirang nampak sangat percaya diri, dia tersenyum bangga sambil memilin rambutnya itu. Dirasa cukup, cukup panas di telinga Hanna. Dia lantas keluar meninggalkan toilet dengan langkah yang berbeda, derap kakinya seolah lebih kuat menjejak lantai. Seperti orang yang sedang memendam amarah.
Hanna sampai di meja di mana Rayyan tak ada di sana, Hanna melihat ke sekelilingnya, dan ternyata Rayyan sedang berbicang dengan seseorang di meja yang tak jauh darinya. Melihat Hanna sudah kembali, Rayyan melambaikan tangan seolah memberi tanda bahwa dia ada di sana. Padahal Rayyan merasa biasa saja.
Rayyan kembali menghampiri Hanna dan mengajak Hanna bergabung di salah satu meja di mana temannya berada di sana.
"Ini Hanna, yang aku ceritain tadi" Rayyan mengembangkan senyumnya. Teman Rayyan itu langsung mengulurkan tangannya pada Hanna, dan Hanna pun menyambutnya.
"Hanna"
"Gerry"
Hanna melempar senyum.
"Oh jadi ini?" tanya Gerry dengan pandangan jahil ke arah Rayyan. Hanna yang tidak tahu percakapan sebelumnya pun menjadi canggung, apa yang sebenarnya mereka bicarakan tadi. Meresa tidak nyambung dengan arah pembicaraan Rayyan dan Gerry, Hanna pun merasa tidak nyaman. Menyadari Hanna dalam situasi tersebut, Rayyan akhirnya pamit undur diri.
"Besok-besok ajaklah keluar" Gerry melambaikan tangan. Rayyan hanya membalasnya dengan senyuman.
***
Rayyan mempersilahkan Hanna untuk menggunakan kamar mandi terlebih dahulu, sementara dirinya sedang menonton acara televisi. Karena sudah larut, Hanna tak berlama-lama di kamar mandi. Dia ingin segera menghamburkan tubuhnya di atas ranjang. Tak ada waktu untuk protes pada Rayyan, bahwa dia ingin di kamar sendiri, bukan kamar yang sama dengan Rayyan.
Hanna menghamburkan tubuhnya di atas ranjang yang empuk dan mewah itu, tak ada lagi perbincangan karena dia merasa benar-benar lelah walau hanya duduk manis seharian menunggi Rayyan yang bekerja. Lalu bagaimana dengan yang dirasakan oleh Rayyan, pasti dia berlipat lebih capek.
Selepas mandi, Rayyan berganti baju, dia akan keluar memenuhi undangan Gerry siang tadi. Melihat Hanna sudah sangat lelap, Rayyan pun mendekat ke arah tempat tidur. Melihat betapa damainya Hanna saat tidur, membuat Rayyan mendekatkan wajahnya ke wajah Hanna. Rayyan tersenyum kecil, lalu menutupi tubuh Hanna dengan selimut. Kemudian perlahan dia melangkah keluar kamar.
Suara dentuman musik seolah menjadi energi baru bagi Rayyan.
"Gila sih kamu bro, asisten sendiri kamu pacarin" Gerry tertawa, di tangannya terdapat gelas dengan berisi minuman. "Kamu serius?" Gerry masih penasaran.
"Kenapa emang?" Rayyan menaikkan kedua alisnya. Dia merasa tak ada yang salah, tak ada yang salah dengan Hanna. Hanna gadis yang unik dan tidak bermasalah baginya.
"Kamu sedang taruhan sama seseorang?" tanya Gerry, pertanyaan itu membuatnya teringat akan sosok Bian. Apakah yang diucapkan oleh Gerry itu benar adanya. Dia seolah penasaran ingin menaklukkan hati Hanna karena merasa kalah saing dengan Bian.
"Apakah aku terlihat seburuk itu?" Rayyan balik bertanya.
"Santai bro..." Gerry kembali menuangkan minuman di gelas Rayyan.
"Aku pulang dulu" Rayyan mendadak tidak mood.
"Ini masih sore bro...hey mau kemana?" Gerry mencoba menghalangi, namun Rayyan ngeloyor pergi. Dalam perjalanan singkat menuju hotel, pikiran Rayyan terusik tentang perkataan Gerry. Apa yang membuat dia tertarik pada Hanna? apakah memang karena Bian?. Rayyan mengusap wajahnya dengan kasar, sesaat mobil yang dia kendarai sudah masuk ke area parkir.
Rayyan turun dan segera menuju kamarnya, hari hampir menjelang subuh. Dia masih melihat Hanna tertidur dengan lelapnya, dengan posisi yang sama. Rayyan menatap beberapa saat Hanna yang sedang tertidur itu, kemudian dia melepas sepatu dan membaringkan tubuhnya di sofa.
Sebenarnya tujuannya kesini mengajak Hanna adalah agar gadis itu tidak lagi dekat dengan Bian, dia ingin Hanna hanya dekat dengannya. Jika ditelaah, dia sudah melakukan banyak hal jahat pada Hanna. Selain melanggar kontrak pernikahan mereka, Rayyan juga ikut campur pada dunia Hanna. Tapi Rayyan tak peduli, di satu sisi dia ingin melindungi gadis itu. Gadis yang dia temukan dengan tidak sengaja itu.
Hanna membuka matanya tepat sebelum alarm di ponselnya berbunyi, Hanna mengucek matanya dan mengecek jam berapa sekarang. Dia meraba ponselnya yang tak jauh darinya, masih jam setengah lima pagi. Hanna melihat beberapa pesan masuk di ponselnya. Dia sama sekali tidak mengecek ponselnya semalaman karena dia benar-benar kelelahan.
Kamu kerja jauh ya? kemarin aku ke rumah kamu. Jaga kesehatan ya sweety....
Hanya pesan seperti itu sudah membuat Hanna merasa sangat bahagia, ini cukup membuat harinya akan menyenangkan. Menjadi sebuah energi yang positif untuknya seharian ini. Hanna segera meletakkan ponselnya dan menuju kamar mandi.
Saat melewati Rayyan yang masih tertidur pulas di sofa, Hanna melihat Rayyan masih berpakaian kemeja. Seingat dia, tadi malam Rayyan tidak memakai baju seperti itu.
Hanna sudah berganti sejak keluar dari kamar mandi, dia menyisir rambutnya dan memoleskan lipstik nude di bibirnya, bersiap untuk kerja pagi ini meskipun mendung menggelayut. Sebuah pesan kembali masuk ke ponselnya. Dia ingat jika dia belum membalas pesan dari Bian.
Hari minggu bersiaplah, akan aku kenalkan ke kedua orang tuaku sebagai pacarku...
Pesan itu membuat Hanna kembali tersenyum. Dan dia masih sangat baik ingatannya, bahwa minggu ini adalah hari ulang tahun Bian.