Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Tak Ada Yang Perlu Disesalkan


Bak kabar artis beken, Panji marah-marah di depan Hanna yang sedang sibuk mengunyah keripik kentang tanpa


merasa berdosa.


"Kamu bener-bener Han" Panji bersungut-sungut, dia benar-benar gemas melihat Hanna. Kabar yang dia dengar dari Kia membuatnya terkejut bukan kepalang, bisa-bisanya dia menyembunyikan ini dari dia, sahabatnya.


"Maaf" ungkap Hanna akhirnya, dia meletakkan bungkus keripik kentangnya ke atas meja. Hanna mendengus.


"Bukan masalah maaf Han" Panji protes, dia menatap Hanna dengan tatapan gemas.


 "Terus kenapa?" Hanna masih saja santai, baginya tak perlu ada hal yang perlu diperdebatkan.


"Kamu nganggap aku apa sih Han?" tanya Panji dengan ekspresi yang sama.


"Sahabat panji superheroku" jawab Hanna enteng. Panji mendengus lagi, lalu dia geleng-geleng kepala.


"Sahabat tapi menyembunyikan semuanya" protesnya lagi.


Hanna melihat Panji dengan mata membulat, bagaimanapun dia harus merahasiakan hal ini, karena sudah perjanjian dengan Rayyan.


"Sudah marahnya?" tanya Hanna dengan santai, tangannya mengambil botol air dan membukanya, meneguk di


depan Panji yang sama sekali tak selera untuk nyemil gegara heran dengan Hanna yang santai itu. "Aku tahu Nji kamu temanku, sahabatku, yang memang selalu ada kalau aku pas kenapa-napa, tapi maaf untuk kali ini, aku tak ingin melibatkan kamu sama sekali, karena keadaan mengharuskan harus begini" Hanna mulai serius berbicara. "Nggak mungkin aku mengatakan ini pada siapapun, termasuk kamu, maaf. Dan kalau sekarang kamu masih marah padaku, itu pilihan kamu" Hanna pasrah.


Panji menghela nafas, memang dia kecewa, tapi tak ada yang bisa dia lakukan.


"Jika kamu kecewa sebagai sahabatku karena aku tidak berbagi cerita ini nggak masalah, hanya saja kedaan


yang membuatku harus seperti ini. Apa kamu keberatan berteman denganku saat ini dengan keadaan ini?" Hanna menatap Panji dengan air muka serius.


Tak ada jawaban dari Panji, "Aku memang nggak punya andil apapun dalam hidup kamu Han, aku minta maaf nggak bisa membantu kamu"


"Kamu sudah cukup banyak membantuku Nji, dan aku nggak mau melibatkan kamu terlalu jauh dalam hal ini" Hanna menatap wajah Panji seraya tersenyum. Bagi Hanna, kehadiran Panji yang selalu menjadi penyelamatnya, terlebih saat berada di kampus sudah lebih dari cukup.


"Lagian aku nggak bisa berbuat banyak padamu Han" Panji memejamkan matanya.


"Kamu sudah berbuat banyak Nji"


"Tapi aku nggak bisa menyelematkan status kamu"


"Maksudmu?" Hanna menyipitkan mata.


"Ehm...maksudku...apa kamu nggak sayang jika sekarang kamu menjadi janda?" Panji bertanya dengan nada hati-hati agar tak menyinggung perasaan Hanna. Hanna nampak tersenyum absurd, jika dikatakan menyesal, memang ada hal yang membuatnya menyesal. Tapi Hanna harus berdamai dengan keadaan, bahkan saat Rayyan berhasil merengkuh mahkotanya pun akan menjadi cerita tersendiri baginya. Hanya saja inilah jalan hidupnya.


"Nggak ada yang perlu aku sesalkan" ucap Hanna mantap, meskipun hatinya terasa ada yang sakit.


Panji mengangguk, dia tahu jika Hanna adalah cewek tangguh seperti yang dia kenal.


"Iya Han, kamu memang Hanna yang aku kenal"


"Kamu nggak malu kan temenan sama janda?" Hanna tersenyum datar. Panji mengangguk.


"Good, kita akan tetap berteman kan?" Hanna bertanya dengan senyum manis ke arah Panji. Panji kembali mengangguk, tak bisa lagi mengungkapkan kalimat. Hanna memang selalu kuat dan tegar di matanya. Hanna adalah cewek yang sama, yang membuatnya hingga kini belum bersedia membuka hati untuk cewek lain.


"Nji..."


"Boleh nanya nggak sih?" Hanna nampak setengah serius.


"Apaan? biasanya kalau nanya ya nanya aja kamu"


"Kita kan sudah berteman lama nih, kamu belum sekalipun ngenalin cewek kamu ke aku" Hanna meringis, mencoba mencairkan suasana agar tidak selalu membahas tentang dirinya. Panji mengibaskan tangannya hampir mengenai rambut Hanna, mimik wajahnya berubah menjadi bersemu merah.


"Harus?" tanya Panji.


"Hu um, biar aku tahu siapa sih cewek yang beruntung ngedapetin superhore seperti Panji" Hanna tertawa kecil. Panji ikut tertawa.


"Kalau sudah tahu mau ngapain?"


"Ya aku bilangin kalau Panji itu baaaaiiikkkk banget, pokoknya dia beruntung banget dapet cowok seperti kamu" Hanna nyerocos.


"Kalau dia kamu bagaimana?" ucap Panji asal, Hanna langsung tertawa renyah.


"Gokil, jangan gila ah" Hanna masih saja tertawa, sedangkan Panji hanya mengulum senyumnya. Suara tawa Hanna berhenti saat mendapat panggilan dari sebuah nomer. Wajah yang dari tadi santai dan ceria kini mendadak serius mendapat panggilan tersebut. Hanna mengangguk dan bilang iya saja di panggilan tersebut.


"Nji, aku harus pergi, ada sesuatu yang harus aku kerjain"


"Aku antar Han" Panji melihat Hanna terburu-buru.


"Terima kasih superheroku, aku berangkat sendiri aja, makasih sudah traktir aku" Hanna melambaikan tangannya dan sedikit berlari kecil keluar dari cafe. Panji mengangkat kedua alisnya melihat Hanna semakin menjauh dan keluar dari cafe.


        Hanna mencari ruang di mana seseorang yang melakukan panggilan tadi memberi tahu keberadaannya. Sebuah rumah sakit elite, iya dia berada di sana. Di salah satu kamar VIP. Hanna melihat sebuah kamar dengan nomor 5 di sana setelah dia naik ke lantai 5. Hanna menatap pintu tersebut, belum masuk ke dalam.


Sesaat sebelum Hanna mengetuk pintu, seorang dokter dan perawat baru saja keluar dari kamar tersebut. Hanna memundurkan langkahnya, membiarkan dokter dan perawat tersebut berjalan. Hanya saja mereka berdua berhenti dan menatap Hanna.


"Apakah anda anak dari Pak Andre?" tanya dokter laki-laki itu. Hanna bingung harus menjawab apa. "Ada yang harus saya bicarakan dengan anda"


"Tapi dok..." Hanna belum sempat menjelaskan.


"Jadi begini, secara kasat mata keadaan Pak Andre memang terlihat baik, hanya saja sakitnya sudah menjalar kemana-mana, jadi yang bisa kami lakukan adalah memberikan semangat, dan kami harap, anda sebagai putrinya harus sering-sering menjenguk dan membuat beliau bahagia"


"Maksud dokter?" Hanna menelan ludahnya, bahkan dia yang baru saja kenal dengan Pak Andre pun merasa sedih mendengar hal ini.


"Iya, Pak Andre sudah berjuang di titik akhir sakitnya"


Perawat yang ada di samping dokter tersebut memberikan sebuah kertas, di mana Hanna dapat melihat sakit yang diderita oleh laki-laki itu. Hanna membacanya dengan seksama, matanya terasa panas. Tak percaya dengan keadaan ini.


"Iya dok, saya akan membuatnya senang" Hanna mengangguk. Dia kemudian mengembalikan secarik kertas dari perawat tersebut. "Terima kasih dokter, suster" ujar Hanna sambil menganggukkan kepalanya.


"Mari kami permisi dulu, jika ada apa-apa silahkan datang ke ruang kami" ujar perawat tersebut.


"Terima kasih" ujar Hanna, lalu dia melihat dokter dan perawat berjalan meninggalkannya.


Hanna kembali menatap sebuah pintu yang ada di depannya, tangannya memegang handle pintu dan membukanya perlahan. Hanna tak ingin membuat Pak Andre kaget dengan kehadirannya, nampak di sebuah ranjang terbaring Pak Andre dengan selang infus di sana. Laki-laki itu terlihat lelah dan memejamkan matanya. Hanna enggan membangunkan Pak Andre yang menurutnya sedang tertidur.


Hanna masih terpaku di depan pintu, hingga akhirnya Pak Andre membuka mata dan melihat Hanna datang.


"Kamu sudah datang" gumamnya pelan, Hanna memegang tali tasnya dan mendekat ke arah Pak Andre, nampak ragu. "Terima kasih sudah datang anakku" gumamnya lagi, memanggil Hanna dengan panggilan itu. Hanna tersenyum kecil sambil mendekat.


Hiks...maafkan author karena baru bisa up, dikarenakan sakit beberapa hari. Semoga kalian masih berkenan membaca, masih menantikan lanjutannya....