Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Belum Usai


Hanna masih sibuk menyetrika dan melayani beberapa pelanggannya yang datang menggunakan jasa laundry nya.


"Terima kasih bu, silakan datang kembali jika anda puas dengan layanan laundry ini," Hanna mengucapkan salam pada Ibu-ibu yang mengambil laundry di tempatnya. Dan dia kembali menyetrika beberapa baju.


"Permisi," sapa seseorang, Hanna yang membelakangi pintu pun spontan menjawab.


"Selamat datang....ap..." belum selesai Hanna mengucapkan salam selamat datang pada pelanggannya, ucapannya terhenti saat melihat seseorang yang dia kenal. Seorang gadis berambut panjang yang cantik, dan Hanna masih sangat ingat siapa dia.


"Silahkan duduk," Hanna mempersilahkan dia duduk di ruang tamu, dan Hanna menghentikan segala aktivitasnya.


Mona duduk dengan menyilangkan kedua kakinya, dia tidak jadi duduk di ruang tamu, dia memilih untuk duduk di kursi yang ada di teras. Mona memperhatikan sekitar rumah Hanna.


"Mau minum apa,?" Hanna hendak masuk mengambilkan minum.


"Oh nggak usah repot-repot," Mona menepiskan tangannya. "Nggak lama kok," imbuhnya. Hanna yang merasa tak enak hati pun meminta izin ke dalam sebentar mengambilkan minuman kaleng dingin dan meletakkannya di meja yang ada di antara mereka berdua.


"Han...,"


"Iya,?" Hanna menatap lawan bicara, tidak ada angin dan tidak ada hujan, tiba-tiba Mona datang ke rumahnya.


"Kamu tahu kalau aku dan Bian punya hubungan istimewa, kita pernah putus nyambung," Mona memulai ceritanya, hingga detik ini Hanna belum tahu arah pembicaraan gadis cantik itu. Kalaupun mau melabraknya, itu rasanya tak mungkin karena pada dasarnya Hanna sudah tak ada hubungan apapun dengan Bian. "Kita balikan lagi sebulan yang lalu, dan kali ini aku nggak mau main-main," imbuhnya sambil melihat Hanna.


"Oh...aku senang mendengarnya," timpal Hanna.


"Tapi...ada masalah yang memberatkan di antara kita,"


Hanna mengernyit.


"Kamu pasti paham yang aku maksud," Mona seolah mengajak berteka-teki.


"Maaf...," Hanna memang tidak mengerti.


Mona tersenyum sinis, "Kamu orang yang tahu tentang kejadian di malam ulang tahun Bian kan,?"


Ingatan Hanna kembali di malam itu, di mana Talitha membongkar semuanya di depan umum. Dan sejak saat itu pula dia sudah tak ada lagi hubungan dengan Bian.


"Dan aku tak peduli dengan apa yang terjadi dengan semua itu, aku masih suka sama dia, hingga kita jadian lagi," Mona melanjutkan ceritanya. Hanna memilih mendengarkan hingga usai. "Tapi yang jadi masalah adalah keluargaku yang meragukan Bian. Kamu pasti tahu dengan kejadian yang sebenarnya antara Bian dan Talitha,"


Hanna menghela nafas, dia sama sekali tak tahu hubungan Talitha dengan Bian. Yang dia tahu adalah hubungan Rayyan dan Talitha, Hanna memegang kepalanya lalu mengernyitkan dahinya kembali.


"Tolong katakan sesuatu tentang kebenaran itu, Talitha dan kamu sekongkol untuk menghancurkan Bian kan,?"


Hanna melihat ke arah Talitha dengan mata membulat, antara terkejut dan heran. Berita darimana pula itu?


"Aku nggak tahu apa masalahmu dengan Bian, tapi tolonglah kenapa kamu tega berbuat seperti itu dengan Bian,?" Mona semakin memojokkan, Hanna menggelengkan kepalanya. Gedek dibuatnya. Tapi dia masih diam saja.


"Tolong katakan pada semua orang, terutama pada keluarga Bian dan keluargaku, bahwa kejadian itu hanya rekayasa kalian. Karena aku tahu siapa dirimu," ungkapnya.


"Maksud kamu,?" akhirnya Hanna mengeluarkan suaranya.


"Aku tahu kamu pernah dibeli oleh salah seorang, apa aku perlu menyebut namanya,?"


"Sebentar...sebentar...maksud kedatangan kamu apa sebenarnya,?" Hanna masih berbicara dengan tenang. Emosi marahnya masih tersimpan rapi.


Tenang Hannn...tenang....


Hanna menenangkan dirinya sendiri.


"Ini mungkin jebakan kamu dari awal, kamu orang suruhan Talitha," tuduhnya tanpa bukti. Mona merasa jika Hanna menjadi penyusup, diam-diam Hanna dikira bekerjasama dengan Talitha untuk menghancurkan Bian.


"Ini ada uang untuk kamu, tapi tolong bekerjasamalah dengan baik, tolong katakan pada keluarga Bian dan keluargaku agar duduk perkaranya terang. Bahwa Bian tidak pernah menghamili Talitha, semua hanya karangan," cerocosnya lagi. Karena memang keluarga Talitha adalah keluarga terpandang, sudah terlanjur berita Bian menghamili wanita lain akan mencoreng nama baik keluarganya. Mau meninggalkan Bian pun sulit karena dia sudah terlanjur mencintai laki-laki itu.


"Hidupmu berat, aku tahu itu, kamu butuh anyak biaya. Selain untuk adikmu yang kuliah di kedokteran itu, kamu juga butuh biaya hidup kan? apalagi ayahmu sudah tiada, lihat keadaan kamu sekarang. Bahkan aku yakin baju untuk wisuda pun kamu belum punya..." Mona tersenyum sinis.


"Mon...," Hanna menahan amarahnya, dia menghela nafas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan. Rasanya dia sudah ingin mencabik-cabik mulut gadis yang ada di depannya itu.


"Mbak....mbak....," ujar seorang Ibu-ibu yang membawa kantong di tangannya, nampak dia akan melaundry baju di tempat Hanna.


"Oh iya bu, sebentar,"


Mona menurunkan kakinya yang dari tadi menyilang, dia mengambil kaca mata hitam dari tas mewahnya dan kembali memakainya. Lalu dia bangkit dan hendak meninggalkan rumah Hanna. Sedangkan amplop coklat dia tinggalkan di meja dekat minuman kaleng yang tak dia sentuh sama sekali. Melihat Mona hendak pergi, Hanna segera mengambil amplop tersebut dan mencegat Mona.


"Kalaupun ada yang benar di ucapan kamu, tanpa kamu suruh pun aku akan membukanya dengan senang hati, hanya saja aku bukan seperti orang yang kamu tuduhkan. Kamu tidak akan pernah bisa membeli harga diri dan nyawa seorang bayi tak bersalah dengan uangmu ini," Hanna menarik pergelangan tangan Mona dengan kasar, lalu meletakkan amplop itu di tangan Mona. "Silahkan kamu selesaikan urusan kamu, semoga Bian bisa jujur dengan kamu," Hanna mengucapkan kalimat terakhirnya, Mona semakin merasa panas dada. Merasa usahanya tak mampu membuat Hanna membantunya. Dia semakin kesal dan keluar dari halaman rumah Hanna.


Hanna mengatur nafasnya, benar-benar dia ingin menjambak Mona dan mengajaknya adu fisik. Ini tidak seperti apa yang dia rasakan saat pertama kali ngobrol dengan Mona. Hah...dia merasa semua orang bertopeng.


Hanna mengusap wajahnya dengan kasar sebelum melayani Ibu-ibu yang tadi, nampaknya dia sedang duduk di sebuah kursi kayu menunggu Hanna menyelesaikan urusannya dengan Mona.


"Maaf ya buk, membuat Ibu menunggu,"


"Ah nggak apa-apa mbak..."


"Apa yang bisa saya bantu bu,?"


"Oh ini, cuci setrika ya mbak...lusa saya ambil. Untuk pewanginya terserah, yang penting wangi," gumamnya sambil tersenyum.


"Oh siap bu, sebentar saya timbang dulu dan buatkan notanya,"


Hanna memberikan nota tersebut pada Ibu tersebut, dan kemudian Ibu tersebut berlalu meninggalkan rumah Hanna.


"Pakeeeet," teriak suara seorang laki-laki pengantar barang. Hanna yang akan kembali menyetrika dibuat kembali menoleh. "Dengan kakak Hanna?"


"Iya," Hanna keluar dari ruangan laundry nya.


"Ada paket untuk kak Hanna, silahkan tanda tangan kak, dan saya ambil fotonya ya..."


Hanna yang masih plonga plongo karena bingung, seingatnya dia tidak membeli barang online.


"Terima kasih kak Hanna..." ujar pengirim paket tersebut, Hanna mengangguk.


"Iya sama-sama mas," Hanna membolak balik sebuah paket yang terbungkus lumayan besar itu. Dan tidak ada nama pengirim di sana.


"Jangan-jangan ada yang mau ngerjain nih," Hanna bergumam, meletakkan paket tersebut di meja teras. Dia masih menatap paket tersebut sambil menerka, jangan-jangan salah kirim. Ah tapi enggak juga, karena itu nama dan alamatnya. Hanna ragu untuk membukanya, tapi dia juga penasaran.


\~\~Aaaaa....terima kasih yang sudah menunggu update_nya. Pengen rasanya up banyaaak\, tapi maaf banget karena keterbatasan waktu author dengan kerjaan. Andai saja bisa sat set wat wet nulis\, banyaaak banget sebenernya yang ada di otak. Hanya saja kudu bagi waktu. ehehhe.....terima kasih sudah setia membaca. Salam dari author...love kalian...\~\~