
Rayyan baru saja selesai meeting dengan para pegawai yang ada di kantornya. Dan masalah baru saja dimulai, benar-benar beberapa perusahaannya akan colaps. Beberapa kali Rayyan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Bagaimana mungkin ini terjadi,?" gumamnya sambil mengetuk meja yang ada di ruangannya. Rayyan mondar-mandir di ruangannya, memikirkan bagaimana kelanjutan para pegawainya di sana.
"Sebaiknya pak Rayyan klarifikasi tentang perasalahan kemarin pak," usul salah satu pegawainya yang masih berada di ruangannya. "Karena menurut saya, ini adalah salah satu dampak dari kasus kemarin," ujarnya menambahkan, butuh keberanian tambahan untuk bisa mengatakan ini di hadapan Rayyan.
"Bagaimana jika rencana pernikahanku aku sampaikan juga,?" Rayyan seperti sedang gambling.
"Maaf pak,"
"Bagaimana,?" Rayyan mencoba menggali jawaban.
"Kalau menurut saya, jangan dulu, menunggu permasalahan ini reda, maaf jika saya lancang, tapi ini menurut pandangan saya pak," ujar laki-laki itu sambil menunduk setelah memberikan pandangannya.
Rayyan berdiri meninggalkan kursinya, kemudian dia berdiri di dekat jendela kaca, melihat mobil lalu lalang dari dalam ruangannya.
Rayyan nampak gusar.
"Ok kamu bisa keluar,"
"Baik pak," jawab pegawai itu lalu keluar ruangan Rayyan.
Rayyan berjalan mendekat ke mejanya, mencari ponsel dan hendak melakukan panggilan kepada Hanna.
***
"Kamu serius mau geser ke cabang perusahaan Han,?" tanya Rara tidak percaya. Hanna mengangguk.
"Tapi kenapa?" Rara menatap Hanna yang sedang duduk di pantry sambil mengaduk kopi, tapi tatapan matanya sedang tidka bergairah. Mumpung pantry lagi sepi, jadi mereka memanfaatkan ruangan ini untuk sekedar bercerita.
"Kamu nggak lagi kabur kan,?" Rara mencoba menebak, pandangannya sedang menyelidiki gerak tubuh Hanna. Sedangkan yang ditanya hanya diam saja.
Hanna memang ingin kabur dari Rayyan, mundur secara perlahan jauh lebih baik menurutnya. Sedari tadi Hanna mendapatkan panggilan dari Rayyan, sengaja dia mengabaikannya. Beberapa kali Rayyan mengirimkan pesan padanya, juga diabaikan olehnya.
"Entahlah Ra...," Hanna menelungkupkan kepalanya.
"Kenapa sih Han, kan beritanya sudah clear kan? Rayyan nggak terlibat, kenapa masih galau,?"
"Bukan itu...bukan, ah...tau ah," Hanna masih menelungkupkan kepalanya di meja. Rara menggelengkan kepalanya melihat Hanna.
"Kamu sudah bicara sama pak Farel,?"
"Tadi sudah nyoba ngomong sih, semoga bisa,"
"Heran deh Han, kenapa sih,?"
Hanna tersenyum miring, masih malas untuk membahasnya.
"Ok, selesaikan dulu deh urusannya, semoga lekas beres yah,"
Hanna bergegas pulang, hatinya terasa senang karena mendapatkan izin dari Pak Rafael dan juga Farel perihal permintaannya pindah ke cabang, di luar kota. Dan mulai besok dia akan bekerja di sana.
Belum juga sampai di parkiran, terdengar suara memanggil namanya. Rasanya Hanna ingin menghindar mendengar suara yang sudah sangat dia kenali itu.
"Haaan, tunggu....," Rayyan terlihat terengah-engah. Hanna menoleh dan tersenyum kikuk.
"Kenapa kamu nggak jawab panggilanku? lagi sibuk? pesanku juga kamu abaikan,?" Rayyan menatap Hanna, tidak lupa senyum manisnya merekah. Please Hanna terasa meleleh melihat wajah itu. Sebenarnya Rayyan terlihat lelah, mungkin saja memikirkan masalah perusahaannya, tapi dia masih saja bisa tersenyum cerah di hadapannya.
"Kita makan yuk," ajak Rayyan, tanpa menunggu komando dia menarik tangan Hanna. Hanna mencoba untuk menolak.
"Itu...aku udah janjian sama Kia, iya mau ketemuan sama Kia,"
"Ya udah sekalian sama Kia,"
Hanna menepuk dahinya, dirasa strateginya salah. Malah Rayyan mau ikut.
"Itu....ehm...,"
"Han....please...aku butuh banget kamu," Rayyan menatap Hanna lekat, matanya yang tajam itu trelihat letih, membuat Hanna luluh juga. Akhirnya Hanna mengangguk pelan.
"Jadi kalau Kia mau ikutan ayo,"
"Enggak...nanti aku hubungi dia deh," ujar Hanna akhirnya, karena memang Kia hanya sebuah alasan untuknya menghindar.
Mungkin ini adalah salah satu kesempatan Hanna untuk berpamitan kepada Rayyan secara baik-baik. Terasa berat, sangat berat. Tapi ini adalah salah satu cara untuk mengembalikan Rayyan ke semula.
Mobil melaju di jalanan yang mulia padat, dipadati oleh pengendara baik mobil maupun motor. Didominasi oleh mereka yang baru saja pulang kerja.
"Kita makan ya," ajak Rayyan. Hanna tersenyum kecil sambil mengangguk. Jika ini adalah terakhir kalinya makan bersama Rayyan, setidaknya dia harus bersikap manis.
Mobil memasuki sebuah parkiran di restoran ternama, Hanna sebenarnya enggan masuk ke dalam, tapi Rayyan memilih restoran ini karena sangat privasi untuk pengunjungnya. Sedangkan hingga detik ini dia belum melakukan klarifikasi perihal kasusnya kemarin.
Hanna dan Rayyan dijamu oleh pelayan dengan sangat baik, dan Rayyan sangat senang bisa bersama Hanna setelah seharian dipusingkan dengan pekerjaan di kantor yang membuat kepalanya ruwet.
"Apa semua baik-baik saja,?" tanya Hanna sembari menunggu makanan yang mereka pesan datang.
"Yah, baik-baik saja," jawab Rayyan, dia pandai menyembunyikan masalahnya kini. Tak salah jika Rayyan adalah satu aktor terbaik di negeri ini.
Hanna tersenyum sekilas, betapa laki-laki yang ada di hadapannya itu nampak tegar. Dia yakin dengan keputusan yang akan diambil, dan Hanna yakin pula jika Rayyan akan baik-baik saja.
"Boleh aku bertanya sesuatu,?" Hanna menatap dengan seksama.
Rayyan mengangguk, tangannya memegang tangan Hanna yang ada di atas meja. Hanna membiarkannya.
"Seberapa besar andil keberadaanku dengan situasi yang sedang kamu alami,?" tanya Hanna serius, Rayyan memejamkan matanya lalu kembali menatap Hanna. Tidak mungkin dia menyampaikan secara gamblang, memang sejak kedekatannya dengan Hanna yang diimbuhi dengan bumbu kurang baik dari para netizen membuat para investor mulai menjauh, dan sejak kasus kemarin juga semakin membuat ruwet keadaan.
Rayyan jengah dengan keputusan yang terlalu mengada-ada itu, ini adalah ranah privasinya, kenapa mesti dikaitkan dengan keadaan perusahaannya.
Rayyan menggeleng, menjawab pertanyaan Hanna.
"Kamu...kenapa kamu tidak menganggap aku,?" Hanna menatap Rayyan kecewa.
"Maksudnya,?"
Keadaan menjadi hening, Hanna protes karena Rayyan selalu menutupi apa yang terjadi. Hanna merasa tak dianggap olehnya, Hanna merasa sulit. Di satu sisi dia merasa Rayyan melakukan ini karena sayang padanya dan tidak mau dia tahu dan kepikiran. Tapi di satu sisi dia merasa tidak dipercaya oleh Rayyan sebagai teman untuk berbagi.
Mereka makan dengan situasi yang kurang menyenangkan.