Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Sama-Sama Sendiri


Hari-hari yang berat bagi Rayyan, hingga seminggu dia benar-benar terpuruk hingga enggan pergi kemana-mana, wajah berantakan dengan suasana hati yang tak karuan. Benar-benar dia tersiksa karena kehilangan Hanna. Dan pada akhirnya dia harus bangkit, tidak hanya untuk dirinya, melainkan untuk banyak orang yang bergantung pada perusahaannya. Tidak ada yang dia salahkan, dia hanya menyalahkan dirinya sendiri.


Rayyan kembali mencoba menata hidupnya, meskipun hatinya rapuh. Baiklah, untuk urusan hati, dia akan menyimpannya sebaik mungkin. Dan Rayyan perlahan memperbaiki kualitas dirinya di bidang bisnis, dia kembali melobi para investor dan meyakinkan jika anggapan buruk tentang kehidupan Rayyan itu salah. Dan benar saja, selama 6 bulan dia benar-benar bangkit dengan pesat. Bangkit di bisnisnya tidak berjalan seirama dengan hatinya, Hanna benar-benar membuat hatinya kocar-kacir. Terkadang dia tak habis pikir, bagaimana Hanna bisa membuat hatinya seperti ini. Mantra apa yang dia gunakan?


***


Dua gelas kopi masih mengepulkan asap itu tengah berdampingan di atas meja. Hanna duduk berseberangan dengan Rayyan. Baru saja Rayyan membawa di kedai kopi yang berada di seberang jalan kantornya. Hari mulai petang saat mereka memutuskan untuk mengobrol di tempat ini.


"Jadi harus mulai dari mana aku bertanya,?" Rayyan menatap Hanna dengan tatapan datar.


"Dan apakah aku punya kewajiban untuk menjawab pertanyaan ini,?" Hanna balik bertanya diiringi dengan tawa kecilnya. Rayyan mencelos mendengar pertanyaan Hanna.


"Kamu salah dan kamu harus menjelaskan,"


"Tak ada yang perlu dijelaskan, karena kita sudah memiliki kehidupan yang berbeda, kamu sudah ada....," Hanna memenggal kalimatnya. "Ada yang punya," akhirnya dia menambahkan.


Rayyan mendongak, menatap Hanna tajam. Lalu senyumnya merekah, berarti apa yang dia lakukan berhasil. Bahwa Hanna telah menganggap Annet adalah kekasihnya, dan mungkin saja sekarang Hanna sedang cemburu padanya.


"Jadi ada yan cemburu padaku di saat dia sudah punya yang lain,?" Rayyan berkata dengan setengah sindiran.


"Apa? apa maksudmu dengan yang lain,?" Hanna bersuara dengan lantang sambil matanya membulat, bukannya marah. Rayyan menutup mulutnya dengan beberapa jarinya dan tertawa kecil, semakin menunjukkan jika Hanna tengah mencemburuinya dan sedang menjelaskan sesuatu.


"Dia maksudku...pak Farel, tidak lain adalah atasanku di kantor, nggak lebih dari itu," Hanna menjelaskan lalu dia menunduk. Setelah sadar dengan apa yang dia lakukan, dia merutuki dirinya, harusnya tidak seperti ini. Ini semakin menunjukkan pada Rayyan jika dia masih sayang dengan Rayyan.


"Terima kasih, terima kasih sudah menunjukkan jika kamu masih sendiri dan kamu masih sayang sama aku," ujar Rayyan dengan tingkat kepercayaan diri tinggi.


Rayyan berhenti "memojokkan" Hanna, tangannya meraih kopi yang sudah agak mereda asapnya, lalu menyesapnya. Salah satu hal yang dia rindukan kini bisa terulang, bisa duduk berdua dengan Hanna.


Hanna mengikuti Rayyan, dia mengambil gelas kopinya dan menyesapnya. Sejenak menghilangkan rasa tegangnya karena berasa sedang ujian.


Hanna meletakkan gelas kopinya kembali.


"Jika tidak ada yang perlu kita bicarakan, sebaiknya aku pulang,"


"Jadi selama ini kamu menghilang karena apa? apa hanya karena kamu lelah,?" Rayyan bertanya, kembali Hanna merasa dicecar pertanyaan ujian yang sulit dia jawab. "Jadi mantra apa yang kamu gunakan untuk menyihirku hingga aku nggak bisa melupakan kamu walau sejenak, ish," Rayyan kembali meraih gelasnya dan meneguknya hingga habis.


"Jadi dia bukan pacar kamu,?" akhirnya Hanna bertanya secara gamblang.


"Kalau iya kenapa,?" Rayyan balik bertanya, sengaja menggoda Hanna.


"Ya nggak apa-apa," jawab Hanna enteng.


"Kejam sekali, setelah aku berjuang menyembuhkan hati yang kocar-kacir ini," Rayyan memegang dadanya dengan wajah yang didramatisir. "Lantas dia ketemu, malah kayak gini, sedih," imbuhnya.


"Lebay,"


Hanna menenangkan hatinya, yang dilihat kini memang Rayyan yang sudah kembali sukses. Lantas apakah dia akan kembali setelah ini? jangan-jangan saat dia kembali pada Rayyan, Rayyan akan kembali menemukan kesulitan lagi.


"Bahkan aku meninggalkan dunia artis, bukan...maksudku bukan karena kamu, tapi aku berfikir, jika ini akan menyulitkan jodohku nantinya, lebih baik aku mundur saja jadi artis," tidak ingin kalimatnya membuat Hanna merasa bersalah, karena dia juga tahu bahwa dari awal Hanna tidak percaya diri bersanding dengannya, padahal dia sama sekali tidak mempermasalahkan itu.


Ucapan Rayyan benar-benar serius, tapi sebentar..jodoh? orang lain? apakah Rayyan memang tidak yakin dengan Hanna? atau Rayyan sudah siap-siap dengan kemungkinan lain.


"Tapi aku masih menunggumu,"


Hanna tersenyum, dia merasa senang dengan apa yang didengarnya. Tapi dia juga ragu dengan keputusan apa yang akan dia ambil.


Dengan gembira Hanna bertemu dengan Nayo di rumah, adiknya sudah menunggu sejak tadi.


"Maaf...si Ratna nggak jadi ikut kesini, Ibunya sakit jadi di balik,"


"Oh," hanya itu yang keluar dari mulutnya. Toh dia juga merasa nggak apa-apa banget kalau teman kakaknya yang katanya ngefans berat padanya nggak jadi kesini.


"Kakak gimana kabarnya,?"


"Yahh seperti yang kamu lihat, kakak sehat, baik, dan...,"


"Semakin kurus, atau sengaja diet,?"


"Ish kamu, tapi makasih kamu sudah pinter menyembunyikan kakak dari Rayyan,"


Nayo tersenyum getir, sejak kepergian kakaknya yang mendadak, beberapa kali Rayyan datang kesini menanyakan perihal keberadaan kakaknya, hanya saja untungnya Rayyan berbesar hati menerima semua penjelasannya.


"Tapi pada akhirnya kakak ketemu dia lagi kan,?"


"Kok kamu tahu,?" Hanna melihat adiknya dengan wajah serius. Yang ditanya tak menjawab.


"Kak, kita hidup hanya punya dua tangan, dan itu hanya tak akan cukup membungkam omongan jelek orang lain tentang kita. Guna tangan kita adalah menutup kedua telinga kita, dan aku rasa itu yang harus kakak lakukan,"


Nayo sedang menganalogikan keadaan, Hanna tersenyum. Dia bangga adiknya sudah semakin dewasa, bahkan dia sudah bisa memberikan nasehat padanya.


"Sudah berulang kali aku mengatakan pada kakak, apapun keputusannya, aku mendukung kakak,"


"Apa tidak akan menjadi masalah lagi jika aku muncul dengan keadaan Rayyan yang kembali sukses ini,?"


"Kak....itu tadi yang aku maksud kan, saatnya kakak menggunakan kedua tangan kakak untuk menutup telinga kakak, kakak nggak minta makan dari mereka, kakak nggak merugikan mereka kan,?" Nayo meyakinkan Hanna.


Hanna terdiam, selama ini dia memang sangat tidak percaya diri berada di samping Rayyan sebagai kekasihnya. Namun kini banyak hal yang sudah dia rasakan, banyak hal yang sudah dia alami. Dia mulai mengerti dengan apa yang dia rasakan, dengan kehidupan yang berwarna ini.