
Kia melemparkan kulit kacang ke arah Hanna yang sebenarnya ada di dekatnya duduk. Panji melihat ke arah Hanna dengan tatapan serius.
"Kamu serius,?" Kia menatap tak percaya saat Hanna memperlihatkan sebuah cincin yang ada di jari manisnya. Sementara Panji diam seribu bahasa.
"Gilak Han, lamaran beneran kamu," Kia menarik jemari Hanna dan melihat cincin itu. "Cantik," pujinya. "Iya nggak Nji,?" Kia menyenggol Panji yang masih diam. "Kamu kenapa sih Nji? diam mulu dari tadi,?" timpal Kia. Hanna melihat ke arah Panji. Dan Panji memang diam saja dari tadi, mereka bertiga berkumpul di rumah Panji untuk sekedar bertemu kangen karena sudah lama tak bertemu. Ini adalah undangan khusus dari Panji, karena beberapa hari ke depan dia akan kerja keluar kota.
"Tapi keren loh Nji, ketrima kerja di perusahaan kece," Hanna menepuk pundak Panji bangga. Panji hanya tersenyum simpul.
"Iya bener," imbuh Kia, tangannya kembali membuka kacang kulit dan memasukkan ke mulutnya, Hanna pun mengikutinya.
"Heh rame bener, lagi ngegosip apaan,?" tanya Mama Panji yang tiba-tiba muncul sambil membawa kudapan yang lain.
"Eh tante...nggak usah dikeluarin semua tan, kan kita jadinya enak," canda Kia, Hanna menepuk pundak Kia.
"Duh ih, sakit," Kia memegang pundaknya dan pura-pura kesakitan.
"Ih jangan dengerin dia tan, maruk," Hanna menimpali. Mama Panji menarik sebuah kursi dan duduk di antara mereka.
"Sudah...sudah, dimakan saja, kok kayak sama siapa aja sih kalian, setelah ini kita makan siang bareng di dalam, sudah tante siapin,"
"Waaah," Kia nampak senang.
"Terima kasih tante," Hanna menangkupkan kedua tangannya dengan senyum mengembang di bibirnya, Panji melihat Hanna dan tersenyum tipis. Masih sama kelakuan Hanna dari dulu hingga sekarang.
"Eh Han, gimana kerjaannya? lancar,?" tanya Mama Panji.
"Alhamdulillah lancar," jawab Hanna senang.
"Tante ikut senang kalau begitu,"
"Tante....doain aku donk...," rengek Kia. "Doain lekas lulus, nggak kelar-kelar ini skripsinya," Kia cemberut.
"Iya, tante doain lekas lulus, semangat ya..."
"Makasih tante....dan minta doa lagi donk tan..."
"Apa itu,?" Mama Panji serius mendengarkan.
"Doain kalau habis lulus biar dilamar artis beken kayak Hanna,"
"Eh...," Mama Panji melihat ke arah Hanna lalu sejurus kemudian melihat ke arah Panji. Mereka saling bertatap,
"Ish..." Hanna menyenggol lengan Kia.
"Iya Han? kamu udah tunangan? wah...nggak kabar-kabar ini, dengan siapa,?" Mama Panji ingin tahu.
"Ih tante ketinggalan info nih," ungkap Kia bersemangat. "Itu tuh tan, Rayyan," Kia menjelaskan.
"Rayyan,?" tanya Mama Panji.
"Iya, Rayyan Sebastian," Kia memperjelas. Terlihat Panji menggaruk dahinya.
"Oh jadi yang sama artis itu,?" tanya Mama Panji. Hanna mengangguk malu-malu.
"Oh...selamat," ucap Mama Panji dengan senyum mengembang namun tertahan.
"Iya tante, makasih,"
"Ya sudah, kalian lanjut lagi ngobrolnya, tante ke dalam dulu ya," pamit Mama Panji, meninggalkan mereka bertiga di sebuah taman yang ada di salah satu sudut halaman Panji.
***
"Nji," panggil Kia sambil melihat ke arah Panji.
"Kenapa Ki,?" sahut Panji dengan suara datarnya.
"Kamu masih suka sama Hanna,?" tanya Kia tiba-tiba. "Sorry kalau aku menyakiti kamu dengan kata-kataku tadi," Kia merasa bersalah karena selalu bersemangat saat bercerita tentang Rayyan dan Hanna. Panji tersenyum tipis.
"Nggak perlu lah minta maaf,"
"Jadi jawabannya apa,?" tanya Kia.
Panji menatap air kolam yang tenang, warna biru yang dipengaruhi oleh lantai keramik itu benar-benar menjadi salah satu tempat ternyaman untuk dipandang Panji daripada melihat tatapan mata Kia, karena jika dia menatap Kia, maka dia akan tahu jika dia berbohong. Panji menggeleng.
"Ah syukurlah..."Kia menepuk lengan Panji lega. Dia tahu Panji suka dengan Hanna sejak dulu, hanya saja Panji tidak pernah mengutarakannya. Hanna pun sama sekali tidak peka dengan keberadaan Panji yang sudah dia anggap sahabat banget itu. "Kamu kerja yang rajin, kamu keren, pasti banyak banget cewek yang naksir sama kamu," Kia menyeringai.
"Begitukah,?" tanya Panji sambil tertawa kecil. Dia sedang menertawakan dirinya sendiri. Sudah berapa kali dia terloncati hatinya. Bian? Rayyan? dan dia masih saja memendam perasaannya pada Hanna. Bukankah ini terasa pengecut.
"Hu um, serius!" Kia mengangkat jarinya membentuk huruf V. Jika dia memang semenarik itu kenapa Hanna sama sekali tak pernah melihatnya? betapa rasanya dia bertubi-tubi cemburu pada Hanna, rasanya dia terluka saat melihat Hanna suka dengan orang lain. Hanya, Panji tetaplah Panji yang merasa sangat bahagia saat melihat Hanna bahagia. Dan itu cukup baginya.
"Eh malah ngelamun," Kia mengibaskan tangannya naik turun di depan wajah Panji.
"Kamu nanti masih bakal tetep kumpul sama kita-kita kan Nji, awas aja kalau pas wisuda nanti kamu nggak datang,"
"Nah kemarin siapa yang nggak datang di acara wisudaku dan Hanna, hayo,?" Panji tergelak.
"Itu kan beda Nji, aku ada acara yang nggak bisa diganggu gugat kemarin, maaf," Kia cemberut.
"hihihi iya...iya, nanti pas wisuda diusahain datang deh,"
"Jangan lupa bawa pacarmu," goda Kia. Panji melengos, pandangannya kembali ke arah air kolam.
"Nji," panggil Kia lagi.
"Hem,?"
"Serius ya...nggak bohong ya....?"
"Apaan,?"
"Ya kamu udah nggak suka lagi sama Hanna,?" Kia masih penasaran.
"Hiiih....," Panji nampak gemas.
"Hoeeeeee," teriak Hanna memanggil mereka, sonta kedua temannya itu melihat ke arahnya. "Seru amat bahasannya, apaan," Hanna nimbrung dan duduk di dekat Panji.
"Kepo," Kia mengibaskan tangannya, Hanna cemberut. "Lagi bahas seragam ke nikahan kamu nanti," ujar Kia sembarangan.
"Elah, bohong banget,"
"Libur-libur gini nggak kencan sama bang Rayyan,?" tanya Kia.
"Ih nggak, dia lagi kerja," Hanna tiba-tiba ingat dia sudah sekitar satu minggu tidak bertemu dengan Rayyan. Ah bodohlah, dia memang lagi sibuk kerja, katanya akan ke luar kota untuk beberapa waktu. "Lagian lagi enak-enak berkumpul bertiga, ngapain bahas Rayyan?" Hanna nampak cuek.
"Iya juga, demi Panji yang mau menempuh hidup baru," Kia menimpali sambil menaik turunkan alisnya.
"Mau nikah emangnya,?" Panji nyengir.
"Kita Aminkan...," Kia menengadahkan kedua tangannya seperti orang yang sedang berdoa.
Itulah mereka bertiga, selalu saja ada bahasan. Meski Kia berbeda jurusan dengan Hanna dan Panji, tetapi mereka benar-benar tak terpisahkan. Mereka saling melempar candaan hingga sore hari menjelang. Dan pada akhirnya mereka harus pulang ke peraduan masing-masing.