
"Terima kasih" hampir jam 1 pagi Hanna baru sampai rumah, Hanna keluar dari mobil Panji.
"Akhirnya ya...setelah sekian lama aku bisa ngantar kamu pulang lagi ke rumah" Panji berdiri di samping pintu di mana Hanna keluar mobilnya. Hanna tersenyum tipis, semenjak ada drama dengan Rayyan, memang Hanna tak pernah lagi mau diantar oleh Panji.
"Iya, terima kasih ya..." Hanna tersenyum kembali. Panji mengangguk.
"Kamu capek, istirahatlah" ucap sahabatnya itu, Hanna kembali mengangguk. "Masuklah"
Hanna melambaikan tangan dan bersiap masuk ke rumah, barang-barangnya yang berada di rumah Rayyan sudah dia antar ke rumah sejak kemarin.
"Han.." Panji kembali menghentikan langkah Hanna.
"Ya?" Hanna menoleh.
"Hati-hatilah dengan Bian" pesan Panji.
Hanna tersenyum tipis, badannya lelah, tapi dia mengangguk mendengar nasehat Panji.
Hanna sudah berada di rumah, dia kini berada di kamarnya, membanting tubuhnya di kasur. Di mana dia akan kembali ke realita yang sebenarnya. Hanna sangat lelah dan akhirnya dia tertidur pulas.
Pagi kembali menyapa, Hanna masih meringkuk di kasurnya, tubuhnya masih merasa lelah. Pak Handi sengaja membiarkan Hanna tidur. Tapi akhirnya Hanna bangun, dia segera menyambar handuk dan keluar kamar untuk segera mandi.
"Ayah kenapa tidak membangunkanku?" tanya Hanna saat melihat ayahnya masih sibuk di dapur.
"Kamu capek, mandilah, setelah ini kita sarapan"
"Nayo kemana?"
Pak Handi melihat Hanna lalu menunjuk kamar Nayo, yang menandakan Nayo masih ada di kamarnya. Hanna bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
***
Rayyan membuka mata perlahan, terlihat samar namun Rayyan bisa membaca jam dinding yang menempel di dinding kamarnya, waktu sudah menunjukkan pukul 11.00, Rayyan kembali memeluk gulingnya. Semalam, setelah dari acara di kampus Hanna, Rayyan tak bergegas pulang, namun dia memilih untuk pergi ke club.
"Hai..." sapa seseorang yang sangat dia kenal. Rayyan melihat ke arah Talitha yang juga berada di club yang sama.
"Hai..." balas Rayyan.
"Sendirian?" tanya Talitha sambil berdiri di dekat toilet.
"Iya" balas Rayyan singkat.
"Apa kabar?"
"Yaaa....beginilah, senang bertemu denganmu, aku ke meja dulu" pamit Talitha, Rayyan mengangguk dan memperhatikan Talitha hingga duduk di sebuah sofa, ada lelaki yang tak asing, Rayyan mencoba mengingat siapa laki-laki itu.
Perut Rayyan berontak, pertanda lapar. Rayyan membuang gulingnya di kasur dan dia bangkit dari ranjangnya. Segera dia membuka pintu kamarnya dan meniti anak tangga menuju dapaur. Rayyan memperhatikan seisi ruangan yang ada di dapur, kosong. Jika biasanya ada Hanna yang tengah sibuk memasak, biasanya makanan sudah siap di meja makan. Kini semua kosong, Rayyan membuka pintu kulkas dan menutupnya kembali.
Rayyan duduk di kursi makan, melihat kembali seisi dapur yang sepi. Rayyan tersenyum kecut, menyadari jika semua telah berubah. Tak ada lagi omelah Hanna, tak ada lagi suara gaduh saat Hanna mencuci piring. Rayyan tersenyum kecil kemudian dia menunduk. Rayyan bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu kamar Hanna. Lalu perlahan dia membuka pintu kamar Hanna, dia melangkah masuk. Bau parfum Hanna masih sedikit tertinggal di sana. Rayyan duduk di atas ranjang Hanna, kamar itu kembali rapi.
Terdengar langkah kaki memasuki rumah, Rayyan menengok ke sumber suara. Terlihat Kamila datang dengan menenteng sebuah paper bag.
"Sarapan dulu" ujar Kamila setelah mendapati Rayyan berada di kamar Hanna. Rayyan seperti terjebak, karena Kamila memergoki dia berada di sana.
"Nggak ada jadwal kan?" Rayyan keluar dari kamar Hanna dan menutup pintu kamar Hanna.
"Nggak ada, hanya saja akan aku mau ke pengacara untuk mengurus surat perceraian kamu dengan Hanna. Sontak, kalimat itu seolah menyengat Rayyan. Dia meneguk ludahnya, terasa ada yang aneh.
"Oh..iya.." jawabnya singkat. Kamila membukakan makanan yang dia bawa dan menatanya di atas piring yang baru saja dia ambil. Dan menyiapkan untuk Rayyan.
"Terima kasih" ujar Rayyan.
"Bahkan aku belum sempat mengucapkan terima kasih padanya" Kamila tersenyum, Rayyan mulai makan. Rayyan sendiri juga belum mengucapkan apapun pada Hanna, dan gadis itu seolah sudah benar-benar lupa padanya, setidaknya itu yang Rayyan rasakan.
"Berapa lama suratnya jadi?"
"Bisa diatur, secepatnya lah" jawab Kamila.
"Ok, urus secepatnya"
"Tanpa Hanna, mungkin karirmu sudah hancur" Kamila kembali menerawang, tepat 6 bulan yang lalu perjanjian itu tercetus, dan akhirnya hari ini usai sudah. "Bukankah kita menghancurkan hidupnya?" Kamila seolah mengakui dosanya, karena status Hanna yang masih gadis itu akan segera menjadi janda di dokumen. Kamila menghela nafas panjang.
Rayyan kembali merasa bersalah dengan gadis lugu itu.
"Nanti aku atur pertemuan dengan dia"
"Serius?" Kamila mengerutkan keningnya.
"Ya...kenapa enggak? nanti lah kalau sudah longgar"
"Ok, aku pergi dulu, urus semua ini"
"Ok, thanks Mil.." Rayyan melihat Kamila meninggalkannya. Rayyan kembali merasakan kesepian, dia harus secepatnya meninggalkan rumah besar ini dan tinggal ke apartemennya saja.
Rayyan ingin pergi ke rumah Hanna, tapi dia juga merasa jaim. Rayyan menyudahi sarapannya dan segera kembali ke kamarnya untuk mandi.