Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Melunakkan Hati Hanna


Perjalanan dari apartemen Rayyan ke rumah Hanna terasa begitu lama bagi Hanna. Dia duduk anteng di samping Rayyan yang tengah mengemudi.


"Kamu sudah makan?" Rayyan menengok ke arah Hanna yang tengah memusatkan pandangannya ke depan. Hanna mengangguk. Tapi Rayyan tetap saja meminggirkan mobilnya. Hanna melihat ke arah samping, di mana yang jualan di sana adalah didominasi abang-abang gerobak. Tanpa bicara, Hanna melihat ke arah Rayyan dengan muka heran. Dia tida yakin jika Rayyan akan makan di tempat seperti ini, secara dia tahu siapa Rayyan.


"Kenapa? nggak ada salahnya kan nemenin aku makan?" Rayyan melongok ke dalam mobil, memberikan isyarat Hanna agar gadis itu turun juga. Dengan sedikit malas, Hanna turun dan mengikuti Rayyan yang sudah duduk di bangku abang-abang gerobak yang menjual nasi goreng.


"Dua bang" ujar Rayyan yang nampak sangat luwes, dia sama sekali tidak canggung dengan apa yang dilakukan.


"Siap bang" jawab abang naasgor yang sepertinya belum menyadari siapa yang membeli itu.


"Aku sudah makan" Hanna protes.


"Tenang saja, makan sekali lagi nggak akan membuat kamu gendut kok" Rayyan menimpali sambil tersenyum. Sudah sangat lama sekali dia tidak makan di tempat seperti ini, mungkin puluhan tahun yang lalu, di mana saat Ibunya masih ada.


"Aku rindu Ibuku, dan kalau aku makan sendirian, rasanya tak akan seperti dulu, jadi aku mengajakmu" ujarnya sambil menggosok kedua tangannya, menghilangkan hawa dingin yang menyeruak.


"Minumnya apa bang?" tanya abang nasgor tanpa menoleh, abang nasgor sibuk dengan racikan menu nasi goreng pesanan Rayyan.


"Air putih saja bang!" teriak Rayyan. "Eh kamu minum apa?" Rayyan sadar bahwa tak hanya dia yang ditawari oleh abang nasgornya.


"Sama" ungkap Hanna mulai tenang dan stabil, amarahnya jauh menurun daripada tadi. Dalam hatinya dia merasa senang saat Rayyan bisa merasa senang bisa noltalgia di sini bersama dia, meskipun bukan dia tokoh utamanya. Dia senang Rayyan begitu menyayangi Ibunya.


"Ini bang" ulur abang nasgor kepada Rayyan.


"Terima kasih bang"


"Wah....baru sadar jika ini adalah artis, boleh minta fotonya mas?" tukang nasgor akhirnya menyadari.


"Iya, nanti ya...aku makan dulu" Rayyan mengangkat piring yang berisi nasi goreng yang masih mengepulkan asap dan aromanya terasa menggoda itu.


"Siap...siap" ujar abang nasgor sambil mengatupkan kedua tangannya. "Silahkan menikmati"


Rayyan mengangguk, memberikan salah satu piring ke Hanna, agar gadis itu juga menikmati nasi goreng.


"Terima kasih" Hanna menerima nasi goreng itu.


"Aku yang terima kasih karena kamu sudah mau menemani aku makan" Rayyan mulai menyuapkan nasi goreng, dan dia mengangguk-angguk seperti para food vlogger. Hanna tersenyum kecil mendnegar ucapan Rayyan, tak menyangka jika hal begini saja membuat laki-laki yang ada di sampingnya senang.


"Bagaimana rasanya menjadi artis besar?" pertanyaan itu muncul begitu saja. Rayyan mengunyah kerupuk yang masih renyah itu.


"Ya....kamu tahu sendiri kan, capek, tapi ya namanya profesi, ada senengnya, ada dukanya, kamu tahu sendiri lah"


"Enggak lah, kan aku bukan artis" Hanna mengelak.


"Kan 6 bulan sama aku, setidaknya melihat"


Hanna mengangkat kedua alisnya, dia kembali menyuap nasi goreng dan menikmatinya. Meskipun sebelum berangkat ke apartemen Rayyan dia sudah makan, tapi ternyata nasi goreng gerobak ini cukup nyaman dan nikmat di lidahnya, sehingga tanpa sadar hampir tandas. Rayyan meletakkan piring nasi goreng yang sudah kosong itu ke atas meja, tangannya berganti mengambil botol air mineral dan membukanya. Lalu dia menyodorkan di depan Hanna, ternyata air itu untuk Hanna. Kemudian dia beralih pada botol satunya dan kembali membukanya, lalu meneguknya.


Hanna juga meletakkan piringnya ke atas meja, piring Hanna tidak sebersih piring Rayyan, lalu Hanna meneguk air minum yang sudah dibantu oleh Rayyan untuk membukanya tersebut.


"Selelah-lelahnya kita, kita harus tampil powerfull, bahagia, dan terlihat baik-baik saja" ungkap Rayyan kembali melanjutkan.


"Aku suka makanan seperti ini" ucap Rayyan tak peduli.


"Kamu bisa kehilangan suaramu"


"Ah...dari aku orok suaraku sudah begini, Ibuku memberiku makan juga seperti ini, nyatanya suarku masih baik-baik saja" Rayyan masih tidak peduli.


Hanna tak marah mendengar sikap Rayyan yang acuh ini, bahkan dia merasa heran dengan kepribadian Rayyan yang ternyata tak bergaya hidup hedon.


"Aku suka sekali masakan Ibuku, dan Ibuku bisanya juga masakan rumahan, so nggak ada masalah bagiku"


"Pasti Ibu kamu seseorang yang sangat baik" Hanna tersenyum, ingatannya kembali pada mendiang Ibunya.


"Ibuku tak hanya baik, tapi juga pejuang yang ulung" Rayyan menerawang. "Andai Ibuku masih ada, tentunya aku akan menjadikannya ratu sekarang" Rayyan tersenyum, namun hambar. Mereka dua insan yang sama-sama kehilangan sosok Ibu.


"Ibu kita akan bahagia di surga" Hanna menimpali, Rayyan menoleh ke arah Hanna. Dia baru sadar jika di dalam keluarga Hanna dia tidak menemukan sosok Ibu.


"Sorry" ucap Rayyan.


"Nggak apa-apa" Hanna tersenyum kecil.


"Mas boleh minta fotonya?" ucap abang nasgor yang sepertinya sudah dari tadi menunggu Rayyan.


"Oh ok"


"Maaf ya mas, saya minta pacarnya yang motoin boleh?" tanya abang nasgor polos. Dia menganggap Hanna adalah kekasih Rayyan. Hanna kembali mengangkat kedua alisnya, sadar jika yang dimintai tolong adalah dirinya. Hanna bergegas bangun dan mengambil alih ponsel abang nasgor.


"Terima kasih ya mbak sudah difotokan...foto ini akan aku pasang di gerobak" ucapnya senang sekali. "Boleh kan mas? sebagai pertanda jika mas Rayyan artis ngetop pernah makan di sini. Rayyan mengangguk sambil tersenyum.


"Terima kasih" ujarnya bahagia. "Ini tadi sepi banget, kali aja setelah ini laris"


"Amiiin" sahut Hanna.


"Amiiin mbak.... sebagai tanda terima kasih, maka nasi goreng malam ini gratis buat mas Rayyan dan pacarnya"


"Oh enggak...nggak mau" Rayyan menyodorkan uang pada abang nasgor, lalu dia pamit pergi. "Kembaliannya buat abang"


Abang nasgor yang masih merasa bahagia terlihat bengong, seolah tidak percaya jika dia baru saja kedatangan pelanggan seorang artis ternama.


Rayyan membukakan pintu untuk Hanna, Hanna kembali ke kursinya, dia memasang sabuk pengamannya. Jam sudah hampir tengah malam. Rayyan kembali mengemudikan mobilnya menuju rumah Hanna.


Mobil berhenti di depan pagar rumah Hanna. Sebelum Rayyan membukakan pintu untuknya, Hanna segera membuka pintu mobilnya sendiri dan turun.


"Terima kasih" Hanna berucap datar dan sambil mengusahakan senyumnya. Di samping dia kecewa karena Rayyan yang belum mau memberikan surat cerai, bahkan tak mau cerai darinya dengan alasan yang sama sekali tak diketahuinya itu, dia juga merasa sangat lelah hari ini.


"Masuklah, dan segeralah tidur" Rayyan melihat Hanna dengan tatapan mata yang hangat, Hanna yang hanya beradu pandang sepersekian detik itu segera membuang pandangannya. Dia tak mau terlarut dengan suasana ini.


"Iya" balas Hanna sembari melangkah masuk ke dalam rumahnya. Rayyan yang sudah memastiakn Hanna masuk ke dalam rumah menghela nafas lega, kemudian dia masuk ke dalam mobilnya dan menuju ke sebuah tempat. Baginya, jam segini masih terlalu sore. Dia sedang ingin menenangkan pikirannya. Club adalah tujuannya setelah mengantar Hanna.