
"Apakah kita tidak bisa membuat kesepakatan?" tanya Rayyan, dia melirik ke arah Kamila yang pagi ini memakai kacamata hitamnya, entahlah...tidak biasanya perempuan itu memakai kacamata hitam sepagi ini. Tidak ada jawaban dari Kamila, hanya helaan nafas agak panjang. Ini adalah kalimat pertama yang meluncur dari bibir Rayyan setelah terdiam sepanjang perjalanan hari ini.
"Aku minta maaf atas kejadian kemarin, tapi bukankah kita bisa membicarakan baik-baik?" tanya Rayyan lagi.
"Buat apa lagi? buat menghancurkan karirmu?" tanya Kamila ketus. Rayyan tersenyum kecut, nampaknya Kamila masih marah padanya.
"Ayolah Mil, kamu nggak tahu bagaimana perasaanku" Rayyan masih kekeh, hanya saja kalimatnya lebih lembut.
"Aku sudah janji, aku nggak akan pernah mengecewakan almarhumah Ibu kamu, ingat itu! bagaimanapun juga aku akan melindungi kamu, dan karir kamu. Sampai sini paham?" Kamila tegas.
Rayyan mengangguk-angguk, ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan masalah ini.
"Ok Mil, aku minta maaf"
"Baik, memang seharusnya itu yang harus kamu lakukan" ujar Kamila merasa menang. Dia memang tidak mau mentolerir apa yang dilakukan Rayyan kali ini. Dia ingin Rayyan benar-benar menjauh dari Talitha, itu saja.
"Aku mau tanya, biasanya kamu pesan makanan enak di mana?" tanya Rayyan dengan pertanyaan yang berbeda, tak lagi membahas masalah yang tadi. Talitha melihat ke arahnya.
"Kenapa?"
"Ya mau pesen Mil"
"Buat?" Kamila menyelidik, dia membuka kacamatanya sedikit, tapi masih menempel di wajahnya.
"Ya elah, kepo"
"Buat siapa? aku harus tahu" Kamila melipat kedua tangannya di dada.
"Hehm....Hanna" ujarnya lirih. Kamila menahan tawa, tubuhnya berguncang. Rayyan jadi melihat Kamila.
"Ada yang aneh?" tanya Rayyan.
"Iya, sejak kapan kamu peduli sama dia?"
"Ya apa salahnya kirim makanan?"
"Kamu memang pantasnya sama dia" celetuk Kamila. Rayyan tertawa terbahak-bahak. Kalimat itu terdengar sangat konyol di telinganya.
"Kamu jangan gila ya Mil" Rayyan mendengus sebal. "Masa iya kamu menjodohkan aku sama dia, perjanjian hanya sebuah kesepakatan, setelah ini end" imbuhnya, dia merasa tidak nyaman dengan ucapan Kamila.
Kamila semakin terbahak-bahak mendengar Rayyan sebal, tapi dia juga heran apa gerangan hal yang sudah dilakukan Hanna tadi malam sampai Rayyan tergugah hatinya untuk mengirim makanan, sebagai tanda perhatian. Setidaknya itu yang dipikirkan Kamila.
Kamila meraih ponselnya dan mengirimkan nomer untuk Rayyan. Sebuah restoran yang biasanya dia memesan makanan.
Tanpa bertanya lebih lanjut, Rayyan memesankan makanan untuk Hanna pagi itu. Tidak ada maksud lain, hanya saja sebagai ucapan terima kasih.
Siangnya Rayyan memastikan dulu bahwa Hanna di rumah, hanya saja menurut satpam rumahnya, Hanna tak ada di rumah. Dia juga tidak bertanya pada Hanna di mana sekarang, tapi mungkin saja Hanna di rumahnya sendiri, Rayyan menebak.
"Entah kenapa, aku menyukai gadis itu" ujar Kamila, membuka kembali percakapan dengan Rayyan. Rayyan menoleh ke arah Kamila. "Dia itu tulus"
"Mil...kamu jangan mengigau, bangun gih, banyak kerjaan. Setelah kerjaan ini beres, aku mau berlibur, beri aku waktu, atau carikan aku waktu kosong, setidaknya 3 hari an lah" pinta Rayyan tanpa menanggapi ucapan Kamila mengenai Hanna.
"Kemana?"
"Luar kota, aku mengistirahatkan jiwa dan ragaku" Rayyan memegang kepalanya.
"Ok, setelah ini aku urus, tapi berjanjilah kamu nggak akan buat ulah" ancam Kamila. Rayyan menghela nafas panjang, lalu menyetujui.
Dalam hatinya, Rayyan masih saja berontak. Kenapa Kamila begitu keras padanya, terlebih urusan percintaan dia dengan Talitha. Ingin berdebat, tapi dia ogah, tidak mau memperpanjang dan memperkeruh suasana.
Rayyan meraih ponsel yang ada di dekatnya, ada banyak pesan yang masuk, hanya saja dia tidak tertarik untuk membuka maupun membalasnya. Bukan itu yang dia tunggu.
"Apakah dia menyukai makanan yang aku kirim?" gumamnya.
Rayyan membuka ponselnya dan mencari nama Hanna di ponselnya, mengetik sesuatu, lalu menghapusnya, diketik lagi dan dihapus lagi. Hingga akhirnya dia tidak jadi mengetik dan mengirim pesan tersebut. Rayyan mengusap wajahnya dengan tangannya, lalu mencoba memejamkan matanya, besok masih ada syuting lagi, dan tubuhnya butuh istirahat.
***
Hanna bergegas menuju kampus, hari ini ada ujian kelasnya Pak Ibra, jangan sampai dia telat. Hanna berlari kecil menuju kelasnya, dengan wajah sumringah dia sampai di depan kelasnya. Sambil melambaikan tangan sama teman sekelasnya, ternyata baru beberapa teman yang datang. Itu artinya dia tidak terlambat datang, dan ujian akan aman. Panji pun belum kelihatan batang hidungnya.
Hanna membuka buka bukunya dan membuka kotak sarapannya, dia tidak sempat sarapan di rumah, Hanya membawa roti yang dia olesi dengan selai.
"Ih sarapan enak nih" sapa seseorang, Hanna lantas menoleh ke arah sumber suara.
"Eh mas Bian..mau? nih masih ada" Hanna mengulurkan kotak makan warna biru muda pada Bian. Bian tersenyum sambil menggeleng.
"Buat kamu saja, aku sudah sarapan di rumah" Bian menolak.
"Oh oke" Hanna kembali meletakkan kotak makannya di antara mereka. "Ada apa mas pagi-pagi sudah di sini? ada perlukah?" tanya Hanna sambil menghabiskan rotinya.
"Enggak....tadi lihat kamu di depan sana jalan kesini, jadi aku ikutin" tangannya menunjuk arah depan kampus di mana kelas Hanna berada.
"Oh..." Hanna kembali pada bukunya, bukunya kali ini lebih menarik dari tatapan mata Bian.
"Sibuk banget sih" ejek Bian sambil melihat ke arah Hanna.
"Eh...enggak...eh iya...ah apasih, belum sempat belajar saja, makanya sok sibuk" Hanna terkekeh. Lalu dia menutup bukunya.
"Nggak apa-apa, lanjutin aja bacanya, aku di sini aja"
"Enggak...kalau ada sesuatu ngomong aja, mumpung belum masuk" Hanna menyeringai, kini dia benar-benar melihat ketampanan Bian. Mata indah itu, dan rambut klimis itu, membuat Hanna menjadi tambah kenyang, mungkin nanti saat ujian pak Ibra, otaknya langsung encer menjawab soal.
"Nanti malam bisa ikut aku nggak?"
"Hah?" Hanna terperanjat, mencoba menguasai dirinya. "Kemana?"
"Ada lah, bentaran aja kok, nggak lama"
"Ehm gimana ya...."
"Bentaran doang Han, please ya...itung-itung bantu aku lah"
"Gimana ya....bentar tapi ya?"
"Iya, bentaran doang"
"Ok deh"
"Aku jemput ke rumah" Bian berbinar.
"Oh nggak usah, kita ketemu di mana gitu, nanti aku kasih tau, aku nggak mau dijemput di rumah"
"Kenapa?" tanya Bian penasaran, tidak biasa dia harus menjemput anak orang di jalan, tidak sopan rasanya.
"Nggak apa-apa, menghindari aja...takut kalau jadi gosip...ehm...gosip tetangga, iya itu" Hanna meringis. Dia sebenarnya sedang mencari alasan, apa nanti jadinya kalau tau dia berada di rumah Rayyan, meskipun Bian tak tahu sekalipun itu rumah Rayyan.
"Oh baik, siap" Bian akhirnya mengalah, lalu dia berpamitan pergi menuju fakultasnya.