Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
New Life


"Hannaaaaaa," teriak Ratna memekakkan telinga.


"Berisiiik sekaliii," Hanna menggeram sambil mencubit kedua pipi Ratna dengan gemas. "Orang di samping juga kenapa mesti teriak,?" Hanna menurunkan tangannya. Ratna tergelak. Mereka sama-sama menunggu taksi online, karena mereka akan pergi nonton.


"Cieee yang mau ketemuan sama doi," canda Ratna. Hanna menatap temannya itu sambil nyengir.


"Ngomongmu seperti biang gosip,"


"Looooh jangan disia-siain noh cowok baik," Ratna sedang memuji orang yang dibahas.


"Huuuusss," Hanna mengibaskan tangannya. Taksi yang mereka pesan sudah tiba, Hanna naik terlebih dahulu kemudian disusul oleh Ratna yang duduk di samping Hanna.


"Sesuai titik lokasi ya kak," ujar sang sopir.


"Iyes pak," jawab Ratna.


Ratna mengeluarkan lipstik dari dalam tasnya, dan tak lengkap jika tak mengeluarkan bedak juga. Dan akhirnya dia touch up make up di dalam mobil.


"Biar kece gitu, kali aja ada cowok tampan," gumamnya setelah selesai mengoleskan lipstik di bibirnya. Hanna menggeleng.


"Jadi ini yang katanya mau nggebet adikku,?" Hanna melirik Ratna. Ratna tertawa.


"Ya kali aja bisa pilih-pilih ye kan...sebelum benar-benar berlabuh dengan pak dokter tampan,"


"Ishhh maunya,"


"Eh Han...serius donk," Ratna memasukkan kembali lipstik dan bedaknya ke dalam tas.


"Apaan,?" Hanna mengerutkan keningnya.


"Itu Pak Farel beneran suka sama kamu loh, bayangin sampai dibela-belain ikut pindah ke cabang kan," sedari tadi ternyata yang dibahaas oleh Ratna adalah Farel. Sebulan yang lalu Farel memang pindah di cabang perusahaan, kebetulan sama dengan Hanna.


"Haaah,"


"Loh serius Han, kalau kamu nggak mau....,"


"Noooh, buat kamu," Hanna memotong kalimat Ratna. Ratna pun kembali tertawa, memang gadis itu benar-benar suka sekali tertawa.


"Ih...tapi Pak Farel nggak suka sama aku,"


Jawaban Ratna membuat Hanna tertawa geli, dasar temannya itu sama sekali nggak punya rasa sakit hati. Karena asyiknya ngobrol, mobil yang mereka tumpangi pun sampai di tempat tujuan. Ratna membayar ongkos dan segera turun.


"Yuk ah keburu main filmnya," Ratna menarik tangan Hanna dan segera masuk ke dalam mall, segera meluncur ke bioskop.


Ratna sedang mengantri untuk membeli tiket, Hanna menunggu tak jauh dari Ratna. Hanna memperhatikan poster film yang menempel, di mana menandakan film-film itu sedang diputar saat ini. Hanna mendekat ke sebuah poster film, Hanna teringat akan Rayyan. Sering sekali wajah tampan Rayyan berada di poster, namun sekarang jarang dia jumpai.


Bagaimana kabar kamu sekarang? bisiknya.


"Yuk, ini tiketnya," Ratna mengibaskan 2 tiket yang ada di tangannya. "Beli popcorn dulu kali ya, biar tambah yahud kita nontonnya,"


Hanna membuntuti Ratna yang kini membeli popcorn. Kemudian mereka masuk ke gedung bioskop.


        Menonton adalah salah stau rutinitas Hanna di saat akhir minggu, dia sering sekali diajak Ratna menonton karena Ratna selalu bilang dia kesepian dan kebetulan hobbynya adalah nonton di bioskop. Daripada melongo di kontrakan, Hanna pun akhirnya ikut Ratna.


"Lapar," Hanna mengelus perutnya.


"Makan lah," Ratna menunjuk food court di lantai atas, mereka naik menggunakan eskalator.


"Heiii," sapa seseorang, Ratna bergegas menoleh ke sumber suara. Hanna yang sedang mencuci tangan belum menyadari jika ada Farel.


"Pak Farel,?" Ratna menunjuk dengan telunjuknya.


"Iya, nggak usah gitu, kaya lihat setan aja," Farel tersenyum. Ratna menurunkan telunjuknya lalu meringis.


"Sendirian,?" tanya Farel. Ratna lantas menunjuk Hanna yang masih berada di kran cuci tangan.


"Oh,"


"Bapak sendirian,?"


"Iya,"


Hanna segera menyusul Ratnya yang sudah mendapatkan tempat duduk, matanya mengerjab saat tahu jika ada Farel di sana.


"Pak Farel," Hanna menyapa.


"Kebetulan sekali," Farel tersenyum.


"Namanya juga jodoh pak," gumam Ratna lirih lalu tersenyum. Hanna yang duduk di samping Ratna mendengar apa yang diucapkan oleh Ratna. Lantas dia menyenggol lengan Ratna. Ratna meringis. Farel yang melihat tingkah Hanna dan Ratna hanya tersenyum kecil.


"Oh ya Pak Farel mau pesan apa? biar saya pesankan sekalian,"


"Kalian apa,?"


"Nih tadi saya sama Hanna sudah pesan ayam geprek sama soda," jawab Ratna.


"Ya udah sama ya,"


"Oh ok pak siap, saya kesana sebentar ya pak," Ratna bergegas memesan makanan. Meninggalkan Hanna dan Farel di sana.


Suasana mendadak kaku, meskipun Hanna sudah mengenal Farel sejak beberapa bulan yang lalu, tapi tetap saja dia merasa segan jika harus berdua begini. Kenapa Ratna seolah mengulur waktu dan tidak bergegas kembali?


Hanna mengetukkan jemarinya di meja, membuang rasa kakunya.


"Tahu gitu barengan sih tadi," Farel membuka percakapan. Hanna menghentikan jemarinya dan melihat ke arah Farel.


"Oh...ehm...," bukan ide bagus buat Hanna jika harus barengan dengan Farel, pasti suasananya akan berbeda.


        Ratna yang memang sengaja mengulur waktu pun akhirnya kembali, gemas rasanya melihat Hanna yang sama sekali tidak berkomunikasi intens dengan Farel saat berduaan. Dia tahu karena dia melihat dari jarak jauh memperhatikan mereka berdua.


Hanna merasa lega karena akhirnya Ratna kembali, dan mereka kembali tertawa dengan candaan yang segar yang dibuat Ratna.


Makanan yang dipesan pun tiba, mereka makan malam sambil sesekali berbicara. Dan kembali ulah Ratna, akhirnya Hanna yang searah dengan Farel pun pulang bareng, sedangkan Ratna yang rumahnya arah berbeda naik ojek online. Hanna yang sudah merasa dijebak pun akhirnya seperti kerbau dicocok hidungnya, tak ada pilihan selain pasrah.