Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
I Say.....


Sambil menunggu Bian yang tak kunjung kembali ke meja, Hanna memainkan ponselnya. Sesaat kemudian pelayan membawa pesanan makanannya.


"Selamat menikmati kak" ucap pelayan perempuan dengan ramah setelah meletakkan semua pesanan Hanna di meja.


"Iya terima kasih" balas Hanna tak kalah ramah. Dia kembali celingukan mencari Bian yang tak segera kembali. Suasana di sekelilingnya sedang ramai. Hanna kembali memperhatikan ponselnya. Hampir setengah jam Hanna menunggu.


"Sorry lama...." Bian mengelus perutnya seolah memberikan kode jika dia sedang bermasalah dengan perutnya.


"Oh, nggak apa-apa mas, ini pesanan sudah komplit. Kirain ketiduran" ujar Hanna disambut tawa Bian.


"Bisa aja, iya nih...nggak bisa diajak kompromi"


"Tapi sekarang sudah baikan kan?" Hanna mengkhawatirkan laki-laki yang ada di depannya itu. Bian mengangguk. Setelah dia menarik kursi dan kembali duduk, dia melihat menu yang tersaji di meja, lalu mengajak Hanna menikmatinya.


       Hanna segera melambaikan tangan kepada teman sekelasnya, Meta. Dia janjian dengan temannya itu setelah berpisah dengan Bian yang harus bimbingan skripsi.


"Kok bisa sih?' tanya Meta yang sudah dikasih tahu oleh Hanna jika dia gagal magang di salah satu perusahaan incarannya. Hanna mendengus sebal dan mengangkat bahunya.


"Makanya aku mau minta bantuan kamu, bisa nggak aku nyempil di sana?" Hanna memohon, karena dia harus segera mendapatkan tempat untuk magang.


"Ehm...bisa sih kaya'nya, coba deh besok kamu ke kantor, nanti aku kasih alamatnya"


"Beneran?" mata Hanna berbinar senang.


"Coba dulu aja ya, semoga masih bisa"


"Ok, terima kasih ya..." Hanna sangat senang.


Bagaimanapun juga dia harus mendapatkan tempat magang seperti teman yang lainnya sebagai salah satu mata kuliah wajibnya. Hanna merasa lega meskipun dia belum resmi mendapatkan tempat magang.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Meta yang kebetulan tadi berada di sekitar sini.


"Eh...itu tadi makan siang sama mas Bian"


"Eh kamu seriusan sama dia?" tanya Meta berbinar. Siapa yang tidak tahu Bian? dia beken di kampus dan banyak dilirik oleh perempuan-perempuan di kampus. Hanna tersipu malu.


"Ih malah ketawa ketiwi begitu, iya nggak? kukira selama ini kamu sama Panji lho.." Meta menambahkan, tidak salah jika banyak yang mengira dia dekat dengan Panji, karena memang dia dekat banget.


"Kelihatannya bagaimana?" Hanna balik melempar pertanyaan.


"Eh malah balik bertanya"


"Entah Met, doain aja yang terbaik" harap Hanna.


"Iya, nanti jangan lupa syukurannya ya" Meta tergelak, Hanna ikut tertawa. Dan akhirnya mereka berpisah, mereka akan kembali bertemu lagi besok.


        Pak Handi tengah sibuk mengepak baju-baju yang telah dia setrika, Hanna membantunya sejak tadi. Membantu menyetrika dan mengepak juga. Dan kini tinggal beberapa pakaian lagi yang belum selesai.


"Itu bawa kesini Han" Pak Handi menunjuk se-pak baju yang sudah berada di kantong kresek merah. Hanna segera melihat benda yang ditunjuk Pak Handi dan segera mengambilnya, lalu menyerahkannya pada Pak Handi.


"Ini yah" Hanna mengangkat dengan agak keberatan. "Mau diambil sekarang?" tanya Hanna.


"Iya, minta diantar"


"Oh, Hanna saja yang antar yah" Hanna menawarkan diri, dia tahu ayahnya sudah sangta lelah, terlihat dari wajahnya yang nampak letih. "Ayah istirahat saja, ayah nampak lelah" Hanna melihat ayahnya agak pucat.


"Ayaaah....ayah istirahat saja" Hanna memaksa, akhirnya Pak Handi menurut, dia mengangguk. "Ayah masuk kamar, tiduran, dan biarkan Hanna yang membereskan semua. Yang ini alamatnya mana?"


"Ada di catatan, kamu lihat ya"


"Ok siap bos" Hanna melingkarkan ibu jari dan jari telunjuknya menjadi seperti angka nol. Setelah melihat Pak Handi masuk ke dalam kamarnya, Hanna merasa lega. Dia melanjutkan pekerjaan yang belum selesai, lalu menumpuknya di lemari yang tersedia sebelum besok diambil oleh pelanggannya. Hanna mengangkat kresek merah dan mengecek alamat pelanggan tersebut. Hanna mengangguk begitu melihat catatan alamat tersebut, tak jauh dari rumahnya. Hanna membawa kresek tersebut untuk diletakkan di motornya.


"Hai...mau kemana?" suara itu mengagetkannya, Hanna sudah berada di atas motor dan bersiap berangkat, dia mengurungkan menstater motornya karena suara sapaan itu. Dilihatnya laki-laki tampan itu sudah berada di depan pagar rumahnya.


"Mas Bian?" Hanna membalas senyum laki-laki itu.


"Iya, kamu sibuk ya? makanya pesan dan telponku gak ada yang direspon" ujarnya. Hanna turun dari motor dan membuka pintu pagar. Hanna memang daritadi tidak mengecek ponselnya. "Kamu mau kemana?" tanya Bian sesaat setelah Hanna membuka pintu pagar.


"Oh ini mau ngantar baju ke pelanggan, mas Bian tunggu dulu gih, aku nggak lama kok" Hanna menyeringai masih memakai helm.


"Boleh ikut?"


"Oh...jangan deh, bentar aja kok...bentar banget, ini deket kok" Hanna menunjuk arah di mana dia akan mengantarkan baju tersebut, belum selesai Hanna bicara. Bian sudah mengambil kresek merah yang ada di atas motornya dan membawanya.


"Yuk" Bian menggandeng tangan Hanna. Hanna yang masih memakai helm segera melepasnya dan meletakkannya di dekat pagar. "Kita jalan aja ya...? kan dekat" ajak Bian.


"Eh nanti mas Bian capek lho" Hanna mencoba mengingatkan.


"No, selama denganmu, aku nggak capek"


Pipi Hanna terasa panas mendengar kalimat itu, mungkin jika terlihat dengan jelas, maka pipinya kini mungkin sudah merona merah.


        Mereka telah sampai di depan rumah bercat putih, Hanna mengetok pintu rumah tersebut. Keluarlah Ibu-ibu setengah baya dari dalam rumah.


"Eh akhirnya diantar juga"


"Maaf ya Bu agak malam" jawab Hanna, Bian mengulurkan kresek merah tersebut sambil mengangguk hormat.


"Terima kasih mas"


"Iya sama-sama" jawab Bian, Hanna pun mengangguk.


"Ya sudah bu, mari"


"Iya mbak"


        Mereka kembali berjalan, suasana jalan depan rumah Hanna tak begitu ramai, karena memang bukan jalan utama. Bian menggandeng tangan Hanna. Sontak terasa ada aliran listrik yang menyengat tubuhnya. Jantung Hanna berdetak lebih kencang, Hanna mengatur nafasnya agar tidak kelihatan gugup.


"Han...aku mau minta jawaban kamu" Bian mengucapkannya sambil berjalan."Memang ini sama sekali nggak romantis, tapi aku ingin tahu jawaban kamu" Hanna menghentikan langkahnya lalu mencoba tersenyum, agak kikuk karena dia menahan rasa tegangnya.


"Harus?" Hanna balik bertanya, sekilas dia melihat ke arah mata Bian, mata laki-laki itu, kemudian dia membuang pandangan karena merasa tak mampu menatap mata itu terlalu lama.


"Bagaimana?" tanya Bian.


Sebelum memberikan jawaban, pikiran Hanna berputar-putar, mengingat tentang status dirinya yang nggak jelas karena ulah Rayyan yang menggantung dirinya. Wajah laki-laki yang menggantung statusnya itu seolah sedang menari-nari di otaknya. Hanna menggeleng agar bayangan Rayyan hilang.


"Han...are you okey?" Bian memastikan.


"Oh...ya...aku nggak apa-apa" Hanna menghela nafas panjang, ini adalah penantiannya. Cintanya sejak dulu, mimpinya sejak dulu, dan kini mimpi itu ada di depan matanya, sangat nyata di depannya.