
"Di sini itu kebanyakan toxic, tapi kamu cuek aja dan semua akan baik-baik saja," Rara membeberkan. "Aku kerja sekitar 2 tahunan, dan aku memilih nggak berteman dekat dengan siapapun dari mereka, sungguh menyebalkan," ungkapnya, Rara memang nampak cuek.
"Lalu bagaimana dengan Pak Farel,?" Hanna penasaran dengan atasannya itu.
Rara bersedekap sambil menerawang, membayangkan bagaimana Pak Farel.
"Pak Farel adalah salah satu idola di kantor ini, pintar, cerdaas, bijaksana, daaaan.....dia masih jomblo, eh tapi kamu kan sudah ada yang punya ya kan..." Rara terkikik. Hanna melihat Rara dengan sambil mengulum senyum. "Banyak yang naksir sama Pak Farel," bisik Rara.
"Pagi-pagi sudah bergosip," sebuah suara membuak Hanna dan Rara menoleh ke sumbernya. Rara menutup mulutnya, Farel baru saja melewati mereka. Hanna melihat jam tangannya, dan sudah jam 8.
"Ok, aku ke ruangan dulu ya...bye." Hanna melambaikan tangannya.
"Ini makanannya gimana,?" Rara menunjuk totebag berisi makanan masih teronggok di mejanya,"
"Nanti saja," Hanna berbisik, Rara hanya bisa memahami dari gerak bibir Hanna. Rara mengangguk sambil mengangkat jempolnya.
Hanna masuk ke dalam ruangan, dilihatnya Farel sedang menyalakan komputernya sambil mencari sesuatu di tumpukan berkasnya. Hanna menarik kursinya dan duduk di sana.
"Nanti ada meeting dengan pak Rafael, jadi tolong disiapkan arsip pegawai ya Han," ujar Farel tanpa beranjak dari kursinya.
"Oh iya pak," Hanna dengan cepat merespon perintah Farel. Hanna menyalakan komputernya dan segera membuka file yang dimaksud. Kemarin Farel sudah memberikannya file untuk dicetak. Sebagai bahan untuk meeting hari ini.
Farel nampak sangat sibuk di mejanya, Hanna telah selesai menyiapkan bahan-bahan untuk meeting. Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang, rasa kantuk mulai menghinggapi netranya. Hanna meregangkan kedua tangannya agar rasa kantuk dan capek pergi.
"Han...maaf, boleh minta tolong,?" sahut Farel dengan masih menatap layar di komputernya.
"Iya pak," jawab Hanna cepat, kebetulan dia sedang rehat.
"Aku barusan nyoba telpon Maman, tapi nggak ada respon," Maman adalah salah satu OB di kantor ini.
"Iya Pak, perlu saya carikan,?" Hanna menawarkan bantuannya.
"Aku butuh kopi, dan ini kerjaanku belum kelar,"
"Baik pak, saya buatkan saja," Hanna segera berlalu tanpa bertanya lagi.
Belum juga Farel berkata-kata, Hanna sudah membuka pintu dan berjalan menuju pantry. Salah satu hal yang membuatnya malas adalah, jam-jam segini ini pantry begitu ramai dengan para pegawai lain yang sedang membuat kopi juga. Jam-jam rawan mengantuk.
Dan saat Hanna tiba, benar saja, banyak pegawai yang sedang minum kopi di sana. Hanna meneguk ludahnya, seolah sedang melihat kawanan musuh di sana.
"Tuh artisnya datang," sahut salah satu suara saat melihat Hanna datang. Seperti seorang tersangka, Hanna merasa aneh. Namun dia mencoba untuk tidak peduli.
Hanna mengambil dua cangkir untuk membuat kopi, satu untuknya dan satu untuk Farel. Hanna mengambil dua sachet kopi dan membukanya, menuangkan di masing-masing cangkir. Masih diiringi dengan desas-desus, tapi Hanna tidak mau mempedulikannya.
"Permisi," Hanna membawa dua buah cangkir tanpa baki, dia berpamitan dengan gerombolan orang yang sedang ngopi di sana, benar-benar Hanna tak mau peduli.
"Dia buat dua? satu buat Pak Farel,?"
"Serakah sekali, setelah katanya pacaran dengan Rayyan, kini mendekati Pak Farel," sahut lainnya.
"Cantik juga enggak,"
Hanna tiba di ruangannya dengan agak kesusahan saat membuka pintu, karena kedua tangannya memegang cangkir. Akhirnya Hanna meletakkan satu cangkir di meja yang ada di dekat pintu dan membawa kopi milik Farel terlebih dahulu.
"Silahkan Pak,"
"Tidak apa-apa pak," Hanna mengangguk lalu kembali keluar untuk mengambil kopinya yang masih dia letakkan di meja luar. Farel mencicipi kopi buatan Hanna, dan kopi ini terlalu manis buatnya.
Hanna masuk ke dalam ruangan dan meletakkan kopinya di meja, merasakan aromanya lalu menyesapnya. Betapa nikmatnya minuman yang ada di hadapannya itu, Hanna adalah salah satu penikmat kopi. Meeting akan dilakukan jam 2 nanti, masih menunggu jam istirahat untuk makan siang. Hanna masih duduk di sana sambil menikmati kopinya.
***
"Kamu yakin,?" tanya Kamila sambil menatap Rayyan, mendengar Rayyan yang hendak melamar Hanna membuatnya bertanya-tanya.
"Kenapa? apa terdengar tidak meyakinkan,?" Rayyan balik bertanya. Kamila tersenyum miring, antara senang tapi juga ragu, apakah benar Rayyan sudah siap menikah?. "Aku sudah memikirkannya matang-matang,"
"Ehem? bagaimana dengan Hanna,?"
"Entah, dia masih memikirkan hal di luar itu," Rayyan menerawang.
"Iya, nampak para penggemarmu lagi santer-santernya menyerang dia, kasihan," Kamila prihatin.
"Aku butuh dukunganmu,"
"Dulu kita berusaha mati-matian menyelamatkan karirmu agar terlihat mulus dan baik-baik saja, hingga memunculkan Hanna di hidupmu, kini kamu malah memilih mundur dan tidak peduli dengan apapun, ck ck.." Kamila berdecak heran. Rayyan hanya menimpali dengan senyum tipis.
"Sudah saatnya aku memilih jalan hidupku, aku lebih tenang seperti ini,"
Kamila menatap Rayyan yang sudah dia anggap sebagai adiknya itu, "Segala keputusan ada di tanganmu, yang penting kamu tidak menyakiti siapapun," pesan Kamila.
Setelah menikah dengan Hanna kelak, Rayyan bercita-cita ingin menjalani karir sebagai entertain secukupnya, tak mau ngoyo seperti dulu, dia akan lebih banyak meluangkan waktu untuk keluarganya. Di tengah latar keluarga orang tuanya yang tidak harmonis membuatnya harus banyak belajar.
"Sungguh, aku masih tidak percaya jika kamu takluk sama Hanna," Kamila tertawa kecil.
"Jangankan kamu, aku sendiri masih tidak percaya," Rayyan menggelengkan kepalanya. "Dia benar-benar mengusik hidupku,"
Kamila tertawa, Rayyan yang dulu ingin menyingkirkan Hanna sesegera mungkin malah dibuat tak bisa berpaling dari Hanna.
Rayyan berada di sebuah toko perhiasan langganannya. Karena merupakan salah satu member VVIP, Rayyan dilayani dengan fasilitas yang berbeda, dia berada di salah satu ruangan VVIP di sana. Sebuah box berisi cincin yang sangat indah di sana, tinggal menentukan mana yang akan dia pilih.
"Silahkan anda pilih," ujar seorang pegawai sambil membuka kotak tersebut.
"Aku nggak bisa memilih mana, karena bagiku semuanya bagus, hanya saja dia adalah seorang yang sederhana, lincah, cuek, mungil, lucu, dan aku suka padanya," Rayyan mendeskripsikan Hanna.
"Baik, saya akan coba membantu cincin mana yang sekiranya cocok untuk karakter ini,"
Rayyan mengangguk, karena dia sadar diri jika dia tidak bisa memilih dengan baik.
"Ini, salah satu cincin dengan tidak banyak ukiran, ada salah satu permata di cincin tersebut, terlihat sangat simple namun tetap cantik,"
Rayyan melihat cincin tersebut dengan seksama, dan dia merassa jika cincin ini akan cocok dengan Hanna.
"Baiklah, aku ambil yang ini," Rayyan memutuskan.
"Baik, apa yang bisa saya bantu lagi untuk anda,"
"Untuk hari ini cukup,"
"Baik, saya akan mengurus pembayaran untuk anda," sahutnya dengan ramah. Rayyan mengangguk, pegawai tersebut keluar. Sementara Rayyan masih duduk di sana sambil menikmati hangatnya teh seraya menunggu pembayaran selesai.