Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
We're Friend


Hanna sudah berada di depan resepsionis rumah sakit di mana tadi dia melihat Talitha dibawa menuju ruang perawatan.


"Kamar VIP nomer 9 mbak" jelas sang petugas.


"Terima kasih" Hanna segera mencari ruang yang dimaksud dengan mengikuti papan petunjuk yang tertera. Hanna menyusuri koridor dan masih mengikuti arah petunjuk. Dan akhirnya dia menemukan tulisan "VIP". Hanna mengurut nomernya, dan tibalah dia di depan pintu dengan tulisan angka 9.


Belum juga Hanna sempat mengetuk, seorang perawat baru saja keluar dari kamar tersebut.


"Maaf sus, apakah pasien bisa dijenguk?"


"Bisa mbak, apakah mbak keluarganya?" tanya perawat itu, mereka berbincang di depan pintu yang sudah tertutup.


"Ehm...saya sahabatnya"


"Oh silahkan mbak, tapi jangan terlalu lama, karena pasien harus banyak istirahat, selain luka karena kecelakaan, pasien juga mengalami luka di rahimnya, bekas keguguran yang belum lama dialami" pesannya. Mendengar jika kandungan Talitha tidak baik-baik saja, hati Hanna tak karuan, apa sebenarnya yang terjadi dengan Talitha.


"Baik sus, terima kasih" balasnya sembari menutupi rasa khawatirnya.


"Mari mbak, permisi" pamitnya, Hanna mengangguk dan menunduk. Hanna membuka pintu perlahan agar tidak membuat Talitha terkejut. Saat Hanna kembali menutup pintu kamar tersebut, Talitha membuka mata dan melihat siapa yang mendekat padanya.


"Hanna...kamu...." gumamnya pelan, kondisinya tidka begitu parah, memang ada perban di bagian dahi karena terbentur. Hanna tak salah lihat, karena yang dilihatnya tadi adalah benar Talitha.


"Apa yang terjadi?" tanya Hanna setelah mendekat, dia iba melihat keadaan Talitha.


"Apakah kamu senang melihatku seperti ini?" tanyanya dengan nada putus asa. Hanna menggeleng dan sama sekali bukan itu maksud kedatangannya. Hanna tahu jika Talitha kini seorang diri, dia merasa bahwa tak ada buruknya kalau dia datang memberikan dukungan. "Pasti semua orang senang dengan keadaanku sekarang" lirihnya.


"Aku sama sekali tidak tahu apa yang sedang terjadi, aku tidak ingin sama sekali ingin tahu jika kamu tidak menginginkannya, yang aku tahu kamu adalah temanku" Hanna menatap Talitha lekat, perempuan yang ada di depan Hanna itu nampak rapuh namun tetap saja kecantikannya masih terlihat. Rambut pirangnya yang tergelung ke belakang masih sama, hanya saja ada perban di dahinya, dan beberapa luka lebam di tubuh perempuan cantik itu. "Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Hanna kembali, Hanna menarik kursi dan duduk di dekat Talitha.


"Apakah aku terlihat baik-baik saja?" Talitha balik bertanya, Hanna tersenyum. Dia menggenggam erat tangan Talitha yang tidak terpasang infus.


"Kamu akan baik-baik saja" hibur Hanna. "Oh ya, kamu belum makan kan? aku suapin ya?" Hanna mengambil piring yang ada di atas meja di dekat ranjang Talitha. Namun perempuan cantik itu menggeleng.


"Biarkan aku mati saja, harusnya tak perlu ada orang yang menolongku" mendengar hal itu, sontak Hanna mengembalikan piring tersebut dan memeluk Talitha yang tengah terbaring. Seberapa berat luka perempuan itu hingga dia terlihat sangat putus asa?.


Setelah Talitha terlihat tenang, Hanna melepaskan pelukannya, air mata sudah membasahi pipi Talitha, dia kembali menatap Talitha, tangannya dengan cekatan mengambil tisu dan mengelap air mata Talitha yang meleleh di kedua pipinya. Talitha semakin terisak, Hanna membiarkannya, agar Talitha setelah ini bisa lega dan lebih tenang.


"Terima kasih kamu sudah  mau kesini" suara Talitha sengau karena menangis. Hanna mengangguk.


"Tidak ada yang bisa aku lakukan kecuali ini"


"Bagaimana dengan Rayyan? apakah dia baik-baik saja? apakah kalian sudah bercerai?" tanya Talitha. Dengan melontarkan pertanyaan ini, Hanna merasa jika keadaan Talitha yang seperti ini ada sangkut pautnya dengan Rayyan.


"Apakah dia tidak tahu jika kamu sedang sakit?"


Talitha menggeleng, dia melengos melihat ke arah jendela kamarnya. Hanna membantu Talitha ke posisi agak duduk, karena dia akan menyuapi Talitha untuk makan. Setelah dirasa Talitha sudah nyaman dengan posisinya, Hanna kembali mengambil makanan yang ada di atas meja dan mulai menyuapi Talitha.


"Aku ingin menjadi kamu" ucap Talitha sambil menunjuk segelas air minum, dengan segera Hanna mengambilkannya.


"Jangan, nanti kamu capek harus kerja keras" balasnya sambil terkekeh, berharap Talitha bisa tersenyum.


"Hidupmu terlihat sangat damai" Talitha tersenyum hambar.


"Hey...kamu akan baik-baik saja setelah ini" hibur Hanna kembali. "Dan kita akan sama-sama hidup damai, bukan begitu?"


       ***


Hari ini adalah hari pertama di mana Hanna akan magang di sebuah perusahaan bernama R-Pro. Hanna tak ingin terlambat dan meninggalkan kesan jelek di mata pengawas anak magang di kantor tersebut, meskipun statusnya sebagai anak magang, dia harus tetap terlihat disiplin. Setelah memastikan ayahnya sudah sarapan dan minum obat, Hanna bergegas berangkat. Motornya melaju menembus jalanan yang mungkin akan segera macet oleh para pengendara yang tumpah ruah akan menuju tempat masing-masing tujuan.


Hanna menarik gas motornya agar laju motornya semakin kencang, karena jarak rumahnya dengan kantor tempat dia magang membutuhkan setidaknya 30 menit waktu normal dengan jalanan yang tidak macet. Hanna tiba di tempat parkir, dan dia bernafas lega karena akhirnya dia tahu bahwa dia tidak terlambat.


Hanna berinisiatif untuk menunggu Meta saja sebelum dia masuk ke dalam kantor tersebut, dia merasa tidak percaya diri. Terlebih dengan pakaian yang harus formal setiap hari. Namanya juga kantor, iya gak sik?


Meta melambaikan tangan pada Hanna, Hanna pun membalasnya.


"Sudah lama? sorry...tadi bokap kesiangan"


"Ah aku juga barusan datang sih, yuk masuk" ajak Hanna.


Karena ini adalah hari pertama mereka magang, maka akan di-breafing terlebih dahulu oleh bagian sumber daya manusia. Agar mereka bisa bekerja sungguh-sungguh layaknya karyawan di perusahaan ini.


Hanna sudah berada di sebuah ruangan yang agak besar dengan meja melingkar dan kursi yang mengitarinya. Ruangan terasa amat sejuk, Hanna merasa sangat nyaman. Total ada sekitar 20 an anak magang dari berbagai kampus, tidak hanya dari tempat kampus Hanna kuliah saja.


"Jadi saya harap kalian bisa mengoptimalkan kemampuan kalian saat magang di sini, timbalah ilmu sebanyak-banyaknya"


"Siap Pak" jawab mereka hampir serentak, Hanna sibuk memperhatikan penjelasan dari mas-mas tampan bagian SDM yang dipanggil Pak itu.


        Hari pertama magang terlalui dengan baik, meskipun belum banyak pekerjaan yang dia lakukan, Hanna mulai banyak belajar dari karyawan yang berada di satu ruangan dengannya.


Ponsel Hanna bergetar, sebuah pesan masuk.


Nanti aku jemput ya...


Membaca pesan tersebut Hanna senyum-senyum sendiri. Tawaran yang menggiurkan, tapi sayang, dia sudah terlanjur bawa motor.


Aku bawa motor, dan aku mau ke suatu tempat. Balas Hanna


Kemana? aku ikut, motor kamu nanti tinggal situ aja, biar aku jemput


Aku mau jenguk temanku ke rumah sakit, sudah janji mau kesana...


Ok, see you sweety...


Hanna menutup ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas jinjingnya, dengan rambut yang digelung ala kadarnya, pakaian formal, sepatu formal warna hitam, Hanna nampak seperti mbak-mbak kantoran yang sesungguhnya. Hanna keluar dari lift dan segera menuju parkiran untuk menunggu Bian menjemputnya.


Karena agak lelah dengan sepatu yang ber-hak, Hanna mencari tempat untuk duduk. Dia melihat sebuah kursi kayu yang ada di bawah pohon tak jauh dari tempatnya memarkir motornya. Hanna celingukan karena Bian belum juga muncul.


"Aku balik dulu ya, selamat menunggu pangeran datang" goda Meta, Hanna melambaikan tangannya pada temannya itu.


Selang 10 menit akhirnya yang ditunggu pun tiba, "Maaf telat, macet" Bian tersenyum manis berharap Hanna tak marah dengan keterlambatannya.


"Nggak apa-apa kok" Hanna tetap ramah, baginya menunggu Bian itu bukan masalah besar. Dasar bucin.


Sesuai dengan apa yang diinginkan Hanna, Bian bersedia mengantar Hanna ke rumah sakit menjenguk temannya tersebut. Bian dengan senang hati membawakan buah tangan yang akan diberikan untuk teman Hanna. Hingga mereka berada di lorong ruang VIP. Hanna dengan perlahan membuka pintu kamar, dilihatnya Talitha sedang tidur memunggungi mereka, sehingga wajahnya tidak terlihat. Bian yang mengekor Hanna ikut masuk dan meletakkan buah tangan yang dibawa tersebut.


Hanna duduk di sofa dan berniat menunggu hingga Talitha bangun, dan Bian pun ikut duduk di sana.