Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Bertandang Ke Mertua


Rayyan segera bangkit dari tikar yang sedari tadi dia gunakan duduk sambil menikmati minumannya, Hanna yang melihat Rayyan bangkit nampak mengikutinya. Dia mengambil lembaran uang di dalam tasnya dan segera membayar kepada penjualnya. Si penjual nampak masih mesam-mesem saat melihat Rayyan, meskipun sampai detik ini Rayyan tak ingin memberikan kesempatan bagi perempuan penjual itu untuk berfoto dengannya.


"Ini uangnya kak, terima kasih ya..." Hanna melemparkan senyumnya.


"Sama-sama kak, lain kali kesini lagi ya kak...ajak majikannya" ujar penjual itu. Hanna mendelik, bagaimana bisa penjual itu menganggapnya sebagai pembantu Rayyan. Rayyan yang tak sengaja mendengar ucapan itu pun tak tahan tertawa. Hanna melihat ke arah Rayyan dengan tatapan kesal, tapi dia akhirnya senang karena bisa melihat Rayyan akhirnya tertawa.


"Serah kamu deh" Hanna segera memakai helmnya karena Rayyan sudah menyalakan mesin motornya.


"Biar aku aja" Hanna meminta agar dia saja yang membawa motornya.


"Ogah" Rayyan menolak, dan segera memberikan isyarat menggunakan tangan agar Hanna segera naik ke atas motor.


Hanna akhirnya menurut, setelah beres memakai pelindung kepalanya, akhirnya dia naik ke atas motor, belum juga Hanna siap, Rayyan sudah menarik gas motor dan melaju. Hanna yang kaget refleks memegang pinggang Rayyan dengan erat. Bau parfum laki-laki yang ada di depannya itu sungguh tercium sangat dekat, dan Hanna menyukai parfum Rayyan. Hanna memejamkan matanya, tidak sadar sedang menikmati parfum itu sembari tangannya masih berpegang erat di pinggang Rayyan.


"Mana arah rumahmu?" Rayyan menoleh ke kiri agar Hanna mendengar kalimatnya. Namun tak ada jawaban.


"Heh...mana arah rumahmu?" Rayyan mengulang pertanyaan yang sama. Hanna masih saja terdiam. "Heh....telingamu apa ketinggalan di rumah?" teriak Rayyan, Hanna tersentak dan segera menyadari jika Rayyan sedang berbicara padanya.


"Kamu ngomong sama aku?" Hanna bertanya tanpa dosa.


"Nggak, noh sama angin...iya lah sama kamu, ckkk, dasar" Rayyan menggelengkan kepalanya.


"Apaan?" tanya Hanna.


"Arah rumahmu mana?"


"Rumahku?" Hanna kembali mengulang, bukan karena dia tak mendengar, ini karena dia merasa aneh saja Rayyan menanyakan rumahnya.


"Kamu budek atau gimana sih? iya rumahmu"


"Emangnya kenapa?" Hanna masih ngotot.


"Bilang gitu aja susah" Rayyan nampak meninggikan nada suaranya. Tak ingin laki-laki di depannya itu marah, Hanna pun menunjuk arah ke rumahnya.


"Ikuti jalan ini, nanti aku tunjukkan gangnya" ujar Hanna akhirnya, kedua tangannya pun turun dari pinggang Rayyan, kini menggantung di udara.


"Kalau kamu nggak mau jatuh ke aspal, pegangan" pinta Rayyan sambil melajukan dengan kencang motornya. Hanna sontak kembali mengeratkan pegangannya pada pinggang Rayyan.


        Tak butuh waktu lama, motor mereka berhenti di sebuah rumah yang terlihat sangat sederhana, Rayyan mematikan mesin motor dan turun. Dia melepas hemlnya, begitu juga Hanna, dia melepas helmnya dan meletakkan di jok motor. Hanna menyisir rambutnya dengan jari tangannya. Hanna melangkah terlebih dahulu, rumah nampak terang karena lampu sudah menyala, senja sudah berganti menjadi malam.


"Ayah...." teriak Hanna. Nampak Pak Handi yang masih mengenakan sarung dan baju koko, nampaknya dia baru saja menyelesaikan ibadahnya.


"Hah? putri ayah datang" Pak Handi nampak sumringah melihat Hanna datang. Hanna langsung memeluk ayahnya dengan riang. "Ayo masuklah" Pak Handi mengajak putrinya masuk. Tepat di depan pintu, nampak sosok tinggi, tampan di sana sambil melihat dua insan yaitu Hanna dan ayahnya berpelukan.


"Oh....kok nggak bilang jika kalian berdua datang, ayo masuklah anak mantu, masuk sini, maaf rumah kami ya beginilah....maaf" Pak Handi mendekat ke arah Rayyan dan mempersilahkan Rayyan duduk di sofa usang.


"Duduklah" Pak Handi menepuk sofa tersebut dan meminta Rayyan duduk.


"Sekalian" ujar Hanna. Nayo melihat ke arah Hanna, sudah lama dia tidak berjumpa dengan kakaknya tersebut. Hanna sontak melihat Nayo dan memeluknya erat.


"Lepasiiiin kak, engap ih" ujar Nayo dengan dingin.


"Iiiihhh...jangan durhaka sama kakak ya..." Hanna pura-pura cemberut, begitulah adiknya, selalu saja bersikap dingin.


"Sama siapa?"


"Hanna mengedikkan dagunya tanpa memberi tahu, tapi Nayo memang manusia cerdas, dia sudah tahu jika Hanna datang bersama dengan "suaminya".


"Buatin ya....teh hangat 2, buat ayah sama Rayyan" Hanna memerintah, Nayo menggelengkan kepala, suah sangat hafal pada sikap kakaknya yang suka mneyuruh-nyuruh, tapi dia juga nggak pernah protes dan selalu menurut dengan Hanna. "Aku mau mandi dulu" Hanna bergegas meninggalkan dapur dan segera ke belakang untuk mandi.


        Pak Handi nampak sangat senang melihat Rayyan datang.


"Ini tadi dari mana? atau memang mau kesini?" Pak Handi membuka percakapan, ini adalah kali pertama dia bertemu dan bisa ngobrol dekat dengan suami Hanna.


"Oh...itu tadi dari cari angin" jawab Rayyan agak kikuk.


"Panggil saja ayah, nggak usah gugup" pinta Pak Handi sambil tertawa kecil. Ingatan Rayyan seolah kembali ke beberapa tahun yang lalu, di mana dia memanggil laki-laki dengan sebutan ayah, setelahnya dia tak mau lagi memanggilnya ayah.


"I...iya...ayah" dan ini adalah panggilan ayah pertamanya sejak beberapa tahun yang lalu, terasa aneh.


"Ayah senang sekali kamu datang ke gubuk Hanna, bagaimana dengan dia? apakah dia merepotkanmu?" Pak Handi menanyakan perihal Hanna, meskipun dia tahu bahwa pernikahan anaknya hanyalah pura-pura belaka, tapi dia menempatkan dirinya sebagai orang tua keduanya. Dia sebenarnya juga yakin jika selama ini Hanna adalah anak yang baik dan tidak akan merepotkan Rayyan.


"Dia mengagumimu sejak lama, bahkan postermu ada di kamarnya, memenuhi dinding kamarnya" mendengar penjelasan singkat tentang Hanna, akhirnya Rayyan tahu jika Hanna adalah salah satu idolanya, Rayyan menahan tawanya. Bagaimana bisa gadis itu nampak acuh padanya saat bertemu dengannya? padahal penjelasan ayah Hanna, Hanna adalah penggemarnya garis keras.


"Oh ya?" nampak Rayyan antusias, dia hanya heran mengapa Hanna bisa menahan tak berteriak saat melihatnya.


"Iya, cobalah lihat ke kamarnya, betapa noraknya dia" Pak Handi terkekeh. Rayyan kembali mengulum senyum.


"Apakah dia tidak pernah memperlihatkannya padamu nak Rayyan?" Pak Handi semakin membuka "aib" Hanna. Hingga akhirnya Hanna keluar dari dapur dan membawa minuman hangat untuk dua laki-laki yang ada di ruang tamu tersebut.


"Ayaaahhh" Hanna berteriak, dia nampaknya sudah mendengar dari dalam percakapan tersebut meskipun sayup-sayup. Pak Handi melihat ke arah Hanna, sementara Rayyan terbahak. Laki-laki itu terlihat bahagia mendengar cerita Pak Handi, cerita tentang kekonyolan hidupnya yang mengidolakan Rayyan Sebastian.


"Ayah...stop" Hanna melempar tubuhnya ke sofa, dia duduk di samping ayahnya. Rayyan baru bisa berhenti tertawa.


"Ah sudahlah, nanti kita lanjutkan ceritanya, mari kita makan dulu" ajak Pak Handi.


"Ayah memangnya masak?" Hanna menaikkan kedua alisnya.


"Masak donk, ada feeling kalau kesayangan ayah mau kesini" Pak Handi berdiri dari sofa dan mengajak keduanya segera masuk ke dalam, di ruang makan. Nayo sudah berada di sana menunggu untuk makan malam.


        Makan malam berlangsung hangat meskipun dengan menu sederhana, nampak Rayyan juga sangat menikmati kebersamaan ini, begitu juga Nayo, meskipun tak ada percakapan intens dengan Rayyan, dia nampak baik-baik saja dengan kakak iparnya itu. Selepas makan, Nayo pamit untuk mengerjakan tugas di kamarnya, sementara Hanna membereskan bekas makan malam mereka semua. Sementara itu Pak Handi dan Rayyan kembali bercakap di teras.


Sesekali terdengar canda tawa, Hanna sibuk dengan piring-piring kotornya sambil sesekali mencuri dengar apa yang sedang mereka bicarakan, tapi tak berhasil dia dengarkan. Setelah membersihkan piring kotor, Hanna tak ingin nimbrung dengan ayahnya, dia memilih ke kamrarnya dan membersihkan kamar dari debu yang menempel meskipun tak banyak, dia juga menatap poster-poster yang ada di kamarnya, tersenyum, dia geli sendiri dengan apa yang dilihatnya. Poster itu kini nyata, meskipun hanya sebentar. Karena setelah ini semua akan kembali normal.