Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Apakah Ini Mimpi?


Masih merasa bahwa semua ini mimpi, berkali-kali Hanna menepuk pipinya dan juga mencubit tangannya sendiri. Terasa sakit, itu artinya dia tidak sedang bermimpi.


"Ini nyata Han...nyata tahu,!" pekik Kia. Wajah Kia sangat sumringah dengan apa yang baru saja terjadi. Rayyan tiba-tiba menghubunginya saat dia akan pergi ke luar kota ke tempat saudaranya. Rayyan benar-benar memohon padanya agar Kia mau untuk masuk ke dalam rencananya.


Iya, sejak Hanna menghilang secara tiba-tiba saat itu, Kia lah salah satu orang yang selalu dicari Rayyan. Dia mencari informasi tentang Hanna. Namun nihil, Kia pun tidak tahu di mana Hanna berada saat itu. Kini keadaan berbeda, Hanna tiba-tiba kembali dengan membawa harapan baik bagi Rayyan. Memang semua serba mendadak.


Rasa cinta di antara keduanya ternyata masih sama, Kia dapat merasakan itu. Dan akhirnya Kia menyanggupi untuk memuluskan rencana Rayyan untuk menggelar pesta pernikahan dengan Hanna.


"Kamu kebangetan banget Kia," Hanna menopang dagunya sambil menatap Kia.


"Kok jadi aku,?" Kia menunjuk dirinya sendiri.


"Iya, kamu bilang mau ke saudara kamu, eh malah ke butik lagi fitting,"


"Ellah Han....demi ayangmu tuh, dan demi kamu, intinya demi kalian," Kia mengulurkan jari tangan kanannya sambil membentuk love.


"Benar-benar dah," Hanna memegang kepalanya.


"Udah deh Han, kamu jangan kabur lagi, pusing banget aku," sahut Kia.


"Kenapa,?"


"Udah....kalau cinta ngapain kabur-kaburan,"


        Suasana malam di tempat ini menyenangkan, sebuah kafe dengan konsep rooftop. Di mana bisa melihat pemandangan di bawah sana yang dipenuhi dengan gemerlap lampu. Nayo dan Rayyan sudah pulang setelah acara fitting tadi, karena Hanna ingin bertemu dengan Kia dan melampiaskan rindu mereka karena lama tak berjumpa.


"Kadang aku iri dengan hidup kamu Han," Kia mengaduk minumannya dengan sedotan. Hanna menatap Kia sambil tersenyum datar.


"Iri? apa yang kamu lihat,?" Hanna ingin memastikan. Karena jelas dari segi kehidupan, Kia memiliki segalanya, Kia kaya, orang tua lengkap, dan menurut Hanna, Kia sempurna.


"Dicintai cowok sampai begini, tapi iriku bukan iri yang jahat ya....sejauh perjalanan hidupmu yang aku tahu, aku merasa sangat senang kamu berada di posisi sekarang, jadi jangan sia-siakan dia yang tulus mencintaimu, bukan lagi karena kontrak pernikahan," Kia berbicara dengan nada serius, Hanna pun mendengarkan dengan khidmat.


"I'm happy for you Han...," Kia tersenyum manis.


"Terima kasih Ki, sudah menjadi tempat curhat dan selalu mendukungku," balas Hanna tak kalah hangat.


"Oh ya, hanya saja Panji nggak bisa datang deh kayaknya, dia lagi di luar negeri. Mendengar nama Panji disebut, Hanna merasa sangat bersalah, karena selama ini dia tidak pernah mengabarkan sahabatnya itu.


"Sayang sekali," Hanna menghela nafas panjang.


"Hubungi dia, dia juga bahagia mendengar kabar ini. Dan satu lagi, dia sudah ada calon," bisik Kia bahagia.


"Oh ya,?" Hanna tak kalah berbinar. Kia mengangguk senang. Mereka berdua senang.


        Berat rasanya bagi Rayyan untuk mengizinkan Hanna kembali ke kota di mana sekarang dia bekerja, hampir semalaman dia memikirkan apakah akan mengizinkan Hanna berangkat atau tidak.


"Biar aku antar saja," putusnya, meskipun dia sedang sibuk mengurus kerjaan dan juga persiapan pernikahan, ini yang harus dia lakukan. Dia merasa takut, takut jika Hanna akan kembali meninggalkan dia.


"Harusnya nggak perlu repot mengantarkan aku," Hanna memasang sabuk pengamannya. "Kan aku kesana untuk mengundurkan diri dan juga mengambil barang," imbuhnya.


"Nggak apa-apa, aku suka melakukannya, dengan senang hati," jawabnya bersamaan dengan mesin mobilnya menyala.


"Nggak apa-apa, nanti kalau diizinkan aku bisa nyari kerja lagi,"


Rayyan hanya tersenyum kecil mendengar jawaban Hanna. Sesungguhnya dia tidak tega melihat Hanna bekerja, apalagi nanti setelah mereka menikah. Rayyan ingin Hanna di rumah saja agar tidak capek, sudah saatnya Hanna bahagia tidak melulu bekerja mencari uang. Tapi kembali lagi, dia akan membiarkan Hanna memilih hal yang disukainya.


Pernikahan akan dihelat beberapa hari mendatang, memang semua serba mendadak seperti apa yang dikatan Rayyan.


        Hanna baru saja mengantarkan surat pengunduran dirinya dan juga berpamitan dengan Farel dan beberapa teman kerjanya yang lain, termasuk Ratna.


"Kamu tega ninggalin aku Han,?" Ratna memasang wajah cemberut.


"Nanti jangan lupa datang ya...undangan terbatas soalnya," ujar Hanna sambil memegang kedua lengan sahabatnya itu. Ratna mengangguk.


"Pasti aku datang, aku seneng banget akhirnya,"


"Ok, nanti aku kenalin ke adikku, oh ya gimana nyokap sudah sehat,?" tanya Hanna teringat akan Ibunya Ratna yang sakit.


"Masih di rumah sakit, tapi sudah membaik kok, doakan lekas pulang,"


"Pasti donk," jawab Hanna mengangkat jempol tangannya.


        Setelah memeluk Ratna, Hanna melambaikan tangan dan hendak keluar dari ruangan Ratna.


"Han...," suara itu memanggilnya.


"Oh iya pak," Hanna menoleh, Farel menungguna di luar pintu ruangan Ratna. Ratna yang sadar diri pun akhirnya menyuruh Hanna segera menemui Farel di luar.


"Selamat atas rencana pernikahan kamu, semoga dilancarkan," ucapnya sambil  mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


"Terima kasih pak, Amin," Hanna menyambut uluran tangan Farel sambil tersenyum, merasa kikuk. "Oh ya, nanti  aku kirim undangannya ya pak," Hanna mengangguk sambil tersenyum kecil.


"Oh...i..iya, jangan lupa kirim ya,"


"Terima kasih atas bimbingan dan bantuan pak Farel selama ini, saya minta maaf jika ada banyak salah dengan bapak," Hanna membungkukkan kepalanya.


"Ah biasa saja, saya yang terima kasih sama kamu, karena kamu sudah bekerja dengan sangat keras,"


        Farel mengantar Hanna hingga depan, di sana sudah ada Rayyan yang menunggu di lobby. Farel menyapa Rayyan dengan berjabat tangan. Rayyan dengan rasa percaya diri tinggi itu merasa menang karena sudah memenangkan hati Hanna. Meskipun dia tahu jika Farel sebenarnya menarih hati pada Hanna.


"Kamu tahu nggak Han kalau dia suka sama kamu,?" tanya Rayyan setelah mereka masuk ke dalam mobil. Mereka hendak mengambil barang Hanna yang berada di kosnya.


"Hum,?" Hanna pura-pura tidak jelas mendengar. Karena sebenarnya dia juga merasa jika Farel suka padanya.


"Tapi bagaimanapun, kiranya Tuhan sudah menetapkan akulah jodohmu, jadi akulah pemenangnya," gumamnya bangga, Hanna pun tersenyum sambil melihat Rayyan yang mengepalkan sebelah tangannya. Senyum menghiasi wajah mereka berdua.


Hanna merasa bahwa ini masih dalam mimpinya, mimpi yang sangat indah. Kalaupun ini benar mimpi, dia tidak ingin terbangun.


Bertemu dengan orang yang awalnya hanya berada dalam layar ponsel saja. Menikah karena tidak sengaja, dan sekarang dia akan benar- benar menikah. Betapa jalan hidup Hanna begitu tidak bisa diduga sebelumnya.