Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Interview Kerja


Hanna sudah bersiap sejak pagi, karena kemarin siang dia mendapatkan email balasan dari salah satu perusahaan yang dilamar beberapa hari yang lalu. Dengan semangat dan penuh harapan Hanna sudah bersiap, dia berdoa agar diterima di perusahaan tersebut. Hari ini jadwal interviewnya.


Sejak pagi adiknya sudah berangkat kuliah. Hanna memoleskan lipstik di bibirnya, memakai baju putih dan memakai blazer warna hitam, serta rok di bawah lutut. Dengan bakat seadanya dalam membuat cepol rambut, Hanna mencepol rambutnya seadanya. Dan sudah terlihat formal. Hanna memindahkan barang-barang yang dibutuhkan ke dalam tas formal ala-ala wanita karir.


"Ponsel...bolpoin, dompet...sudah...ehm...oh bawa ini deh," Hanna mengambil bedak compact yang juga ada cerminnya yang akan berguna melihat wajahnya nanti agar tidak terlihat buruk di depan orang yang menginterviewnya. Selain bedak, Hanna membawa lipstiknya pula.


Hanna bergegas keluar rumah dan menguncinya rapat, sepatu hitam dengan hak sekitar 5 cm meter cukup membuatnya kesulitan berjalan . Karena dia memang tidak terbiasa memakai sepatu tersebut.


Sebuah mobil berhenti di depan pagar rumah Hanna, Hanna sudah snagat hafal mobil itu. Hanna mengeryit, ini bukan taksi online yang dia pesan. Kaca mobil bergerak turun, dan Hanna bisa melihat siapa yang ada di dalam sana.


"Rayyan,?" Hanna menyebut nama itu.


"Naik,"


"Tapi kan...," Hanna hendak menolak, karena dia sudah memesan taksi online.


"Udah, cancel aja," perintah Rayyan. Hanna pun akhirnya menurutinya, karena kebetulan taksi yang dia pesan lama nggak datang-datang tanpa pemberitahuan dari drivernya.


"Masuk," kembali Rayyan memberikan perintah. Hanna membuka pintu mobil dan duduk di sebelah Rayyan.


"Kenapa pagi-pagi sudah kesini? aku mau...,"


"Wawancara kan,?" Rayyan menebak terlebih dahulu.


"Kok tahu,?" Hanna menolah, tangannya membenahi sabuk pengamannya.


"Tahu lah," Rayyan tersenyum. Membuat Hanna semakin penasaran dari mana Rayyan tahu jika hari ini dia akan wawancara kerja. Karena tanpa sepengetahuan Hanna, Rayyan mendapatkan info itu dari Nayo. Di mana Nayo yang melihat Hanna kegirangan mendapatkan panggilan wawancara kerja.


"Pasti Nayo," tebak Hanna, Rayyan diam saja dan menyunggingkan senyum. Mobil pun melaju menuju alamat kantor yang Hanna tuju, bahkan tanpa menyebutkan alamatnya pun Rayyan sudah tahu kemana arahnya. Benar-benar deh persekongkolan antara Rayyan dan adiknya itu.


"Awas aja nanti kalau di rumah," ucap Hanna lirih.


"Kenapa,?" Rayyan melihat ke arah Hanna.


"Oh...enggak," balas Hanna.


"Selesai jam berapa,?"


"Belum tahu,"


"Nanti aku jemput lagi,"


"Nggak kerja? nggak apa-apa nanti aku pulang sendiri saja," secara halus Hanna menolak.


"Nggak, lagi santai saja," Rayyan menjawab dengan santai, kini laki-laki yang ada di sampingnya itu terlihat benar-benar mengurangi kesibukannya.


Rayyan merasa tidak tega sebenernya melihat Hanna bekerja di perusahaan lain, dia sudah menawarkan agar Hanna bekerja di perusahaannya saja. Toh etos kerjanya juga bagus. Tapi Hanna tetap menolak dengan alasan ingin mencari pekerjaan di luar saja.


"Good luck, and see you...," Rayyan melambaikan tangannya dengan senyumnya.


"Oh...Iya, makasih," tangan Hanna refleks membalas lambaian tangan Rayyan. "Iya...ehm aku masuk dulu ya...,"


"Ok..bye...," Rayyan kembali tersenyum. Sebetulnya bukan itu yang ingin dia ucapkan.


Hanna membalikkan badan dan berjalan masuk ke dalam sebuah bangunan bertingkat itu, nampak itu adalah salah satu perusahaan yang lumayan besar.


Hanna melihat bangunan itu sebelum dia masuk, menghela nafas panjang dan menghembuskannya. Banyak harapan yang ada di benaknya.


Hanna masuk ke dalam dan bertemu dengan resepsionis, dia menanyakan ruangan yang akan digunakan untuk wawancara. Dan resepsionis menunjukkannya.


        Hanna berusaha mengontrol rasa gugupnya, ada beberapa kandidat pelamar lain yang juga duduk bersama Hanna. Ada sekitar 8 orang berada di sana.


"Hanna Rosita," panggil seseorang yang meminta Hanna masuk ke dalam sebuah ruangan. Hanna bersiap, dia berjalan masuk ke dalam, hatinya tak karuan.


Dan ada seorang pewawancara, dikiranya ada lebih dari 2 orang ternyata satu orang. Seorang laki-laki muda berada di balik meja itu menatap Hanna dengan ramah.


"Selamat siang pak," sapa Hanna sambil menunduk.


"Siang, silahkan duduk," sahut laki-laki itu sambil mempersilahkan dengan tangannya.


"Terima kasih pak," Hanna duduk di kursi yang berhadapan dengan laki-laki yang dia tebak adalah seorang yang bagian HRD itu.


"Hanna Rosita, fresh graduated," laki-laki itu membaca kertas yang sedang dipegangnya, Hanna melihat ke arah laki-laki yang ada di hadapannya. Terlihat nama dada pekerja itu, Farel. Oh jadi Farel namanya.


"Iya pak," jawab Hanna, kini dia sudah bisa menguasai rassa gugupnya. Karena yang berhadapan dengannya tidaklah tampang yang garang, tidak seperti dugaannya. Hanna terlalu overthinking.


"Jika nanti diterima di perusahaan ini, anda akan menjadi bawahan saya, siap,?" tanya Pak Farel smabil tersenyum,dan senyumnya itu sungguh membuat melting. Baik sekali....manis sekali...begitulah kira-kira yang ada di pikiran Hanna.


Hanya sekitar 20 menit Hanna berada di dalam, dan untuk pengumumannya akan disampaikan kembali melalui email. Hanna berpamitan dengan kandidat lainnya, dia beranjak pulang terlebih dahulu. Hanna mengeluarkan ponselnya dan hendak mengirimkan pesan untuk Rayyan. Tapi urung dilakukan.


Duh Rayyan membuatnya bingung saja, di satu sisi dia tidak mau membuat Rayyan seperti sopirnya yang senantiasa ada, tapi di sisi lain ini permintaan Rayyan.


Hanna keluar dari lift dan segera keluar dari gedung tersebut. Dia memutuskan hendak naik ojek online saja.


"Tiiit...tittt....," terdengar bunyi klakson nyaring tepat saat dia akan menyeberang jalan. Hanna terkesiap, dia melihat mobil itu lagi.


Oh Tuhaaan....apakah dia sengaja nongkrong di sini tadi menungguku,?


Hanna membatin, kenapa Rayyan seperti orang yang nggak ada kerjaaan sih? mobil bergerak ke arahnya. Rayyan membuka pintu mobilnya, Hanna masuk ke dalam.


Rayyan tersenyum melihat Hanna dengan wajah tanpa dosanya, tanpa Hanna ketahui, dia memang menunggu Hanna. Tak peduli terlihat bodoh atau bucin, tapi itu yang dia lakukan, dan dia sama sekali tak keberatan.


Mobil melaju tanpa diketahui mau kemana mobil itu akan menuju. Hanna sudah percaya bahwa Rayyan tak akan berbuat jahat padanya.