Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Yakinkan Hatimu


"Han...kamu tahu kan kalau aku nggak mau main-main,? jadi kita tunangan saja," putusnya.


"Apa tidak terlalu cepat,?"


"Apa bagimu ini terlalu cepat? ehm...maksudku kita pernah menikah dan tinggal bersama, jadi rasanya bukan masalah cepat atau lambat,"


Hanna terdiam sejenak, masih ragu apakah bisa dia bertunangan secepat ini. Dia belum bisa memantapkan dirinya di tengah gosip-gosip panas, rasanya dia belum memiliki akar dan pijakan yang kuat untuk bisa acuh tak acuh dengan situasi ini.


"Apa kamu masih ragu,?" tanya Rayyan pada Hanna yang masih diam menimbang. Hanna mengangguk kecil.


"Baik, aku nggak akan memaksa kamu memberikan jawaban sekarang, yang pasti aku akan tetap seperti ini, Hanna...Hanna Rosita," ungkapnya lalu menyunggingkan senyumnya.


"Semoga kamu nggak lelah menunggu,"


Menikah adalah bukan hal yang gampang, karena banyak hal yang mesti dipikirkan. Terlebih dua kepribadian yang berbeda, dan juga statusnya dengan Rayyan yang berbeda pula. Perlu banyak adaptasi.


"Sudah malam, aku pulang dulu," Rayyan memegang kedua bahu Hanna dan menatapnya sayang. Hanna mengangguk kecil sembari tersenyum.


"Hati-hati di jalan,"


"Siap," Rayyan mengacak rambut Hanna, dan Hanna tidak keberatan.


        ***


Rayyan tak lantas pulang ke rumah, sejak sore tadi dia sudah mendapatkan undangan pesta dari Gerry, dan untuk kali ini jelas dia tak akan membawa serta Hanna seperti kemarin. Karena pestanya di sebuah klub malam. Sebenarnya Rayyan enggan, hanya saja dia menghargai Gerry.


"Woi brooo sini...sini,!" Gerry berteriak sambil melambaikan tangannya meskipun tak akan terdengar oleh Rayyan yang sedang celingukan mencarinya, suara Gerry kalah kuat dengan suara dentuman musik yang bingar itu. Beberapa minuman keras ada di mejanya, ditemani beberapa cewek seksi.


Rayyan mendekat ke meja Gerry, sudah ada beberapa temannya juga di sana.


"Geser sana," perintah Gerry pada salah seorang cewek seksi yang bergelayut manja di lengannya. Gerry memberikan tempat untuk Rayyan di sampingnya.


"Minum," Gerry menyodorkan gelas yang sudah berisi minuman kepada Rayyan. Rayyan menolak dengan gelengan kepala.


"Iiisssh dia sudah berubah coy," teriak Gerry sambil tersenyum mengejek pada Rayyan, dan teman-teman laki-laki yang lain ikut tertawa. "Apakah ini ara-gara cewek itu bro,?" Gerry meneguk minumannya lagi. "Ayolah...,"


"Aku baru saja makan malam dan aku harus nyetir, aku nggak mau kecelakaan di jalan,"


"Hah...alasan macam apa itu, ayolah nikmatilah...aku yang traktir, kamu bisa memilih wanita manapun untuk teman tidur malam ini kalau takut pulang karena mabuk," Gerry kembali tertawa.


"Iya bro," sahut seorang temannya lagi.


Rayyan kesini bukan untuk minum, dia menghargai Gerry yang hari ini ulang tahun.


"Selamat ulang tahun," Rayyan memainkan ponselnya.


"Hiyaaah....cuma gini doang,?" Gerry mengangkat kedua bahunya, tangannya menyalakan korek dan menyulut ujung rokok yang sudah ada di mulutnya itu.


"Iya, semenjak mempublikasi hubungannya dengan cewek itu, dia jadi alim," imbuh temannya yang disambut dengan gelak tawa lainnya. Beberapa cewek seksi yang ada di sana pun ikut tertawa.


"Jika keberadaanku di sini hanya jadi bahan lelucon, lebih baik aku pergi," Rayyan memutuskan, hendak bangkit. Tapi buru-buru Gerry menarik lengan Rayyan dan mengembalikannya duduk ke tempat semula.


"Jangan ngambek lah bro...ok...aku hargai apapun yang kamu lakukan, tapi tetaplah di sini, bukankah kita tetap teman,?" Gerry akhirnya menyerah. Rayyan pun melunakkan hatinya.


Sejak peristiwa mabuk dan menodai Hanna saat itu, sejak saat itu pula dia tidak pernah menyentuh minuman keras, dan tidak pernah mabuk. Ada rasa marah pada dirinya yang hingga kini tidak bisa dia maafkan. Itulah salah satu alasan kuat dia ingin segera menikahi Hanna. Tanpa Hanna sadari inilah bentuk tanggung jawab yang akan dia tunjukkan untuk Hanna.


"Bro...jujur ya...siapapun cewekmu, aku sih setuju aja, tapi kenapa yang kali ini..."


"Jangan marah lah, aku kan cuma mengutarakan pendapat,"


"Sejak kapan aku pernah mengatur hidupmu? pilihanmu,?" Rayyan sama sekali tidak suka dengan bahasan ini, ini adalah urusan pribadinya.


"Karena sejak ada dia, kamu berubah," protes Gerry, sahabat Rayyan.


Memang, dia sangat berubah, tak lagi party-party lagi, hidupnya terlalu bucin dan kembali ke jalan yang lurus semenjak ada Hanna. Dan tanpa Rayyan sadari ini terjadi begitu saja, tanpa Hanna meminta.


Rayyan menggaruk rambutnya, dan melihat jam tangannya, sudah hampir jam 2 dinihari.


"Banyak cewek yang mengantri," Gerry masih berusaha.


"Nggak ada pembicaraan lain,?" Rayyan bangkit dari sofa dan menepuk pundak Gerry, "Selamat ulang tahun, semoga kamu waras," gumamnya lalu berlalu.


"Yah...nggak asyik sekarang dia," gerutu temannya.


"Iya, gara-gara gadis kampung itu,"


Rayyan keluar dari klub malam dan bergegas pulang ke rumahnya dengan perasaan tenang, karena ternyata dia mampu tetap berada di jalur yang menurutnya benar. Dia sama sekali tak ingin lagi pesta-pesta hura-hura seperti dulu.


        ***


Tidak ingin kembali kesiangan, Hanna benar-benar bangun pagi. Dia sudah menghangatkan makanan semalam dan membawanya sebagai bekal, jika ada yang berkenan makan dia akan senang, namun jika tidak. Dia akan memakannya.


Hanna menyapa security yang berjaga di depan, tak lupa dia memberikan makanan yang dia, dan dia senang makanan itu diterima dengan baik.


"Terima kasih mbak," ujarnya, Hanna berlalu dan masuk ke dalam menuju ruangnnya.


"Han..." sapa Rara.


"Eh mbak Rara...,"


"Jangan panggil mbak, sepertinya kita tak jauh berbeda umurnya, panggil saja Rara. Eh bawa apa tuh,?" Rara melihat Hanna membawa totebag yang penuh dengan box makanan.


"Rara mau,?" Hanna mengangkat totebagnya.


Rara terlihat mengelus perutnya,"Aku belum sarapan,"


"Nah kebetulan, nih kalau mau," Hanna mulai membuka totebag. Menyadari jika mereka berada di tempat yang kurang pas, maka Rara mengajak Hanna menuju mejanya. Dan Hanna mulai membuka satu persatu kotak makanan yang dibawa.


"Wow...banyak banget,"


"Tapi maaf, ini makanan semalam yang aku angetin," Hanna mengungkapkan apa adanya.


"Nggak masalah, aku mau kok," seru Rara sambil bertepuk tangan ria. Hanna senang karena mendapatkan teman baru di tempat baru, dan nampaknya Rara bukanlah tipe manusia julid seperti yang lainnya.


"Kamu kalau denger suara yang tidak menyenangkan abaikan saja Han," gumam Rara sambil mencomot steak daging yang terasa sangat enak itu. Hanna yang semula mau ke ruangannya pun ikut duduk di salah satu kursi. Hanna mengangguk.


Sebenarnya Hanna ingin bertanya perihal gosip apakah yang sudah beredar tentang dia sebagai pegawai baru, hanya saja Hanna mengurungkan. Belum siap mental seutuhnya.


"Dan aku terkesima kamu ternyata pacarnya Rayyan, bolehkah aku minta tanda tangan,?" bisik Rara sambil tersenyum lucu.


Nah kan, bahkan Rara pun tahu.


"Bayar berapa,?" Hanna menimpali. Rara tertawa kecil lalu melanjutkan sarapannya. Rara yang suka sendirian pun merasa senang mendapatkan teman seperti Hanna.