Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Mendadak Asisten


"Mila...ya ampun aku kangen banget sama kamu Mil, lekas sehat ya Mil..." Hanna menatap Kamila lekat, perempuan tangguh itu terlihat tergolek lemas di atas ranjang dengan selang infus dan juga oksigen. Kamila yang senang dengan kedatangan Hanna pun menyambutnya dengan senyuman dan anggukan.


Rayyan pun tak menjelaskan sakit apa yang diderita oleh Kamila, tubuhnya yang selalu prima itu kini tak nampak lagi. Hanna merasa iba melihatnya, hanya doa yang bisa dia panjatkan buat Kamila yang sudah dia anggap kakak dan sahabat itu.


"Bagaimana kabar kami Han?" Kamila masih menanyakan tentang kabar Hanna dengan keadaannya yang lemas itu.


"Baik Mil...baik" Hanna berdiri di samping ranjang Kamila. "Untuk sementara, tolong bantu handle pekerjaan Rayyan ya..." Kamila meminta. Tentu saja permintaan ini sama sekali tak akan ditolak oleh Hanna, Rayyan yang mendengar permintaan Kamila pun tersenyum.


"Udah aku bilang Mil" Rayyan menyahut, mendengar ceplosan Rayyan, Kamila tersenyum.


"Mila pasti lekas sehat" ujar Hanna.


"Iya...Amin..."


        Hanna dan Rayyan telah keluar dari kamar Kamila, mereka berdua berjalan dari kamar Kamila menuju lift menuju lantai bawah. Hanna masuk terlebih dahulu ke dalam lift, dan kemudian Rayyan menyusul, tak ada seorangpun di dalam lift kecuali mereka berdua.


Hanna terdiam sambil memencet tombol lift tersebut, Rayyan menyedekapkan tangannya di dada sambil melihat Hanna. Khawatir sesuatu akan terjadi, Hanna meletakkan tas selempangnya di dada.


"Kamu pikir aku mau memperkosa kamu?" Rayyan tersenyum mengejek. Hanna mengerjabkan matanya beberapa kali, terlalu berlebihan juga apa yang dia lakukan. "Kamu sudah tahu kan jika Mila sakit beneran, dan dia pun ingin kamu yang menggantikan dia" Rayyan mendengus. Hanna diam saja, merasa tidak perlu lagi ada yang diperdebatkan.


Pintu lift terbuka, mereka bergegas menuju parkir mobil dan meninggalkan rumah sakit. Hanna tak bisa menjenguk Talitha hari ini karena dia sedang bersama Rayyan. Hari pun sudah malam.


"Kamu mau makan dulu?" tanya Rayyan. Hanna menggeleng.


"Langsung ke kantor saja" jawab Hanna, mendengar jawaban yang nggak masuk akal itu Rayyan lantas menoleh ke arah Hanna dan membetulkan sabuk pengaman Hanna.


"Ngapain?" tangan Rayyan dengan cekatan telah selesai memasangkan sabuk pengaman. Tangannya kembali memegang kemudi.


"Ambil motor" jawab Hanna enteng. Rayyan menengok ke arah Hanna dan mendekatkan wajahnya, bahkan Hanna bisa mendengar deru nafas Rayyan, dan tentunya bau parfum khas Rayyan.


"Perasaan motormu dari kemarin berada di sana kamu nggak masalah kan?"


Hanna menatap Rayyan, darimana Rayyan tahu jika kemarin dia meninggalkan motornya di kantor.


"Kamu heran? nggak usah heran, kan itu kantorku, jadi aku tahu banyak hal" Rayyan kembali menatap ke depan, dia mulai menyalakan mesin mobilnya untuk bergegas keluar dari area rumah sakit. Tanpa persetujuan Hanna, dia akan mengantar Hanna untuk pulang.


"Besok bersiaplah, karena aku akan keluar kota selama tiga hari" ungkap Rayyan, dia akan ada syuting selama tiga hari di sebuah pulau.


"Maksudnya?" Hanna menengok ke arah Rayyan, dia berdoa dia tidak diajak ke luar kota. Bagaimana dengan ayahnya? bagaimana dengan Bian?. Hanna komat-kamit dalam hati.


"Ya elah...masih nanya, kan mulai besok kamu kerja sama aku, jadi kamu ikut kerja aku kemanapun aku pergi, paham?" Rayyan menegaskan kata paham sambil melihat ke arah Hanna.


"Tapi...."


"Stttttt" Rayyan tak ingin didebat.


"Ayah lagi sakit, mana mungkin aku meninggalkan ayahku?" Hanna mencoba mendebat.


"Aku sudah ke rumah, lihat ayah, bawa dokter khusus untuk ayah, bawa segalanya apa yang diperlukan ayah, dan ayah baik-baik saja" sahut Rayyan enteng.


"Kapan?" Hanna terperangah, bahkan seharian ini ayah tak mengabarinya, pesan dan telp dari Hanna pun terabaikan begitu saja.


"Tadi lah"


"Idih...." Rayyan tersenyum kecil. Sejak pagi dia sudah merencanakan menjenguk Pak Handi dan juga membawa dokter pribadinya kesana, dan dia senang saat Pak Handi dalam keadaan sehat.


Hanna menelan ludahnya, sebegitukah yang dilakukan Rayyan pada ayahnya? Hanna tak berkata apapun hingga mereka tiba di depan rumah Hanna.


"Salam buat ayah, maaf aku nggak menemuinya malam ini" Rayyan membuka pintu mobil untuk Hanna, setelah Hanna keluar, dia kembali menutupnya.


"Aku nggak suka kamu melakukan begitu banyak kebaikan untuk keluargaku" ungkap Hanna.


"Tenanglah, aku tidak mencatatnya sebagai budi" jawab Rayyan enteng. "Masuklah, sudah malam, besok aku jemput pagi, urusan kantor sudah dihandle sama Santi, dia sudah tahu urusanmu" imbuh Rayyan. Hanna yang akan segera masuk ke dalam rumah sengaja menghentikan langkahnya guna mendengarkan Rayyan.


"Terima kasih" ucap Hanna akhirnya, Rayyan mengangguk kecil lalu melihat Hanna masuk ke dalam rumah, dan dia kembali masuk ke dalam mobil dan berlalu.


        Hanna melepas semua seragam dan segera mandi dengan air hangat untuk melepas penatnya setelah seharian beraktivitas. Hanna mengeringkan rambutnya yang habis keramas dengan handuk warna birunya, kemudian dia duduk di kursi makan. Meneguk segelas teh hangat yang menghangatkan kerongkongannya. Rumah nampak sepi, Pak Handi mungkin sudah tidur, sedangkan Nayo sedang berada di rumah temannya untuk menginap.


Hanna masih ragu, apakah dia akan ikut dengan Rayyan atau tidak keluar kota. Hanna yang kini sudah berpindah ke kamarnya itu menatap langit-langit kamarnya, dia sama sekali tidak bersiap packing baju. Terbiasa hidup layaknya kalangan biasa, namun kini hidup harus berurusan dengan artis idolanya membuatnya terasa sulit.


"Mengapa aku membencinya?" gumamnya pelan. Hanna tidak bisa menafsirkan apa yang sebenarnya terjadi padanya, apakah dia memang membencinya? atau memang hanya menjaga jarak pada Rayyan? dia takut terluka pada Rayyan.


Hanna merebahkan dirinya di ranjang, dan akhirnya tertidur karena tubuhnya memang kelelahan.


        Alarm yang terpasang otomatis di ponselnya berbunyi nyaring, Hanna yang masih dikuasai kantuk pun meraba-raba benda tersebut dengan asal di area sekitarnya dia tidur. Dan akhirnya dia menemukan benda tersebut di dekat bantalnya. Hanna melihat ke arah ponselnya, dan ini sudah pagi. Kumandang Adzan subuh pun mulai terdengar. Hanna mematikan bunyi alarm dan segera membuka pintu kamarnya.


Pak Handi nampak sudah melakukan aktivitas seperti biasanya, sudah bersiap untuk melakukan kewajibannya, dia duduk di kursi kayu kesayangannya sambil memakai sarung dan peci, menunggu adzan selesai berkumandang. Hanna lega melihat ayahnya kembali bugar seperti sedia kala.


        Tak dinyana, bahkan matahari belum muncul, terdengar suara ketokan pintu di depan. Hanna mengira adiknya yang pulang pagi segera ke depan dan menghentikan aktivitas memasaknya.


"Kamu?" Hanna kaget melihat Rayyan sudah bersiap di depan pintu rumahnya.


"Hah? kamu masih belum siap?" Rayyan menggeleng lalu berdecak.


"Siapa Han?" tanya Pak Handi dari dalam rumah.


"Mau ngapain?" Hanna masih bertanya pada Rayyan.


Rayyan menarik tangan Hanna dan mengajaknya masuk ke dalam, "Mandi dan kita berangkat, buruan"


Karena tak mendapatkan jawaban dari Hanna, akhirnya Pak Handi memeriksa sendiri keluar dan mendapati Rayyan dan Hanna di ruang tamu.


"Oh anak mantu sudah datang, oh...bahkan ayah lupa bilang bahwa hari ini kamu akan menemani Rayyan kerja, mandilah Han jangan lama-lama" ujar Pak Handi. Hanna masih menengok ke belakang, masih ogah.


"Mandilaah" ujar Pak Handi, akhirnya Hanna nurut. Rayyan tertawa kecil, begitu juga Pak Handi. Lalu mereka berbincang-bincang sambil menunggu Hanna mempersiapkan diri.


Hanna sudah berganti baju, karena nampaknya Rayyan pun buru-buru, Hanna keluar kamarnya sambil belum membawa apa-apa.


"Berapa hari?" tanya Hanna sambil melongokkan kepalanya ke ruang tamu. Pak Handi dan Rayyan sontak melihat ke arah Hanna.


"Nggak usah bawa baju, lama nge-packnnya" Rayyan melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 5 pagi, sementara dia harus mengejar jam terbang pesawatnya.


"Ayo cepat Han" Pak Handi ikut memburunya, Hanna pun akhirnya pasrah, dia hanya membawa tas selempangnya. Pak Handi yang berbahagia pun melambaikan tangan kepada Rayyan dan Hanna yang sudah berada di mobil tersebut, seolah sedang melepaskan kedua insan itu pergi berbulan madu.