
"Ayah tak perlu khawatir, aku baik-baik saja" Hanna menegaskan.
"Ini semua kesalahan ayah, tak seharusnya kamu seperti ini, ayah rindu kebersamaan kita bertiga"
"Sebentar lagi kita akan bersama lagi kan yah? semua akan kembali seperti semula"
"Harusnya ayah tidak...." Pak Handi tidak melanjutkan kalimatnya.
"Ayah....janganlah ayah begitu, anggap saja Hanna sedang bekerja, dan kali ini gajinya besar, lihat aku sehat-sehat yah, dan aku bahagia" Hanna melebarkan senyumnya. Pak Handi menatap Hanna dengan senyum, dia bangga memiliki Hanna yang selalu ceria.
Pak Handi melanjutkan sarapannya, begitu juga Hanna. Lauk pauk yang di bawa Hanna kali ini tepat, karena kebetulan dia belum memasak.
"Habis ini aku bantu ayah menyelesaikan pekerjaan ayah ya....ayah bisa sedikit santai" pinta Hanna.
"Nggak usah, kamu bersih-bersih rumah saja, ayah tidak mahir merapikan rumah, dan kamarmu itu ayah belum sempat membersihkannya, nggak sempat" pinta Pak Handi. Sarapan mereka sudah selesai, Hanna mengangguk setelah selesai meneguk air segelas. Hanna merapikan piring yang ada di atas meja dan membawanya ke cucian piring, dengan sigap Hanna mencucinya, sekalian membersihkan area dapur.
Setelah beberapa waktu, Hanna masuk ke dalam kamarnya, kamar sempit yang penuh kenangan itu.
"Sebentar lagi kita akan bersama lagi" ujarnya pada kamarnya, seolah bisa mendengar suaranya. Hanna memperhatikan seisi ruangan kamarnya, masih banyak poseter tertempel di dinding kamarnya. Hanna berdiri di depan sebuah poster Rayyan. Wajah dalam poster itu nampak tersenyum.
"Hah kalau di poster kamu nampak sempurna..." gumam Hanna sambil menatap wajah itu. "Nggak tahunya banyak sekali luka" Hanna mendengus, membiarkan nafasnya berhembus panjang. Hanna memegang poster tersebut, lalu beralih ke sudut lain. Hanna membuka jendela kamarnya, membiarkan udara menembus kamarnya. Sekarang tak lagi pengap, Hanna langsung membereskan kamarnya yang terasa agak pengap dan berdebu. Mengganti sepreinya dan lain sebagainya. Setelah kamarnya usai, dia berganti membersihkan kamar adiknya, tak terlalu banyak tenaga yang dia butuhkan, hanya menggantai seprei dan sarung bantal, karena adiknya termasuk manusia yang rajin berbenah ruangan, terlebih kamarnya. Meskipun kamarnya mungil, tapi terlihat sangat rapi. Hanna tersenyum, bangga dengan kedisiplinan adiknya tersebut. Hanna menatap foto yang ada di atas meja belajar adiknya tersebut.
Hanna beralih ke ruang tamu, menyapunya dan mengepelnya, dengan apa yang dilakukan ini, dia meyakini jika ayahnya terlalu sibuk dengan pekerjaan ayahnya, begitu juga Nayo, dia sibuk dengan kuliahnya, hingga pekerjaan rumah pun terabaikan sementara. Sedangkan ayahnya harus menghandle laundry.
Hanna berhenti sejenak, melihat ayahnya sudah sibuk menyetrika baju para pelanggan, bisa jadi baju-baju itu akan diambil hari ini juga, bisa jadi sejam atau dua jam lagi. Sungguh Hanna tak tega melihat ayahnya begitu keras dalam bekerja.
"Ayah...istirahatlah...." pinta Hanna. "Biar aku yang selesaikan"
Pak Handi menoleh ke arah Hanna, bibirnya mengulas senyum, ini adalah pekerjaan sehari-harinya.
"Sudahlah...kamu saja yang istirahat, ayah sudah biasa, justru kalau ayah tidak ngapa-ngapain, ayah akan lelah dan badan capek-capek, ini tinggal sedikit lagi kok, bentar lagi selesai"
Hanna melihat ayahnya dengan iba.
"Tak perlu merisaukan ayah, sudah kamu capek, istirahatlah...nanti kita beli makanan di luar saja, ok?" tawar Pak Handi.
"Iya yah, ayah pengen apa? nanti biar Hanna pesen, atau Hanna yang keluar beli"
"Terserah kamulah"
"Siap yah" Hanna mengangkat jempol tangan kanannya, Hanna melirik jam, jam makan siang masih agak nanti, jadi dia akan mandi dulu saja sebelum membeli makanan. Dia berharap adiknya lekas pulang, karena dia merindukan Nayo.
Pak Handi telah selesai dengan pekerjaannya, dia segera mandi dan bersiap istirahat sejenak. Sementara Hanna bersiap untuk membeli makanan di luar.
"Ayah...aku pergi dulu ya...." teriak Hanna sembari mengetuk pintu kamar ayahnya, tidak menunggu lama pintu tersebut terbuka, nampak Pak Handi berhadapan dengan Hanna.
"Mau pulang?" tanya Pak Handi sambil memperhatikan Hanna.
"Beli makan yah..." Hanna tertawa, ayahnya lupa.
"Oh...kirain...panas-panas begini, nggak pesan online saja?"
"Sekalian nyari angin yah"
"Oh baik...hati-hati ya...."
Hanna baru saja menggunakan helmnya dan bersiap keluar rumah, udara siang ini cukup terik. Karena sudah kepalang mau beli makanan di luar, akhirnya Hanna nekat.
Hanna menarik motornya dan menaikinya, bersiap menyalakan mesinnya.
"Permisi" ujar suara dari luar pagar.
"Ya" Hanna mendongak melihat arah sumber suara, terlihat seorang kurir pengantar makanan.
"Dengan kak Hanna?" tanya seorang kurir tersebut. Hanna turun dari motornya dan menghampiri kurir tersebut, memandanginya dengan heran. Karena memang dia belum memesan apapun, kenapa kurirnya sudah datang ke rumah.
"Iya..." jawab Hanna tepat berada di hadapan kurir tersebut.
"Ini ada kiriman makanan, silahkan tanda tangan terima kak" ujar kurir tersebut, Hanna masih bingung. Beberapa saat dia masih bengong.
"Dari siapa?" tanya Hanna.
"Oh ini dari siapa ya tadi...?" kurir tersebut mencoba mengingat. "Oh ini ada namanya kak" kurir tersebut melihat ke arah kertas yang tertempel di rantang makanan tersebut.
Di sana tertulis "RS" Hanna mencoba mencerna inisial nama tersebut.
"Silahkan kan di tanda tangani, karena ini saya mau mengantar paket makanan yang lain" ujar kurir tersebut saat melihat Hanna bengong.
"Oh iya" Hanna menandatangani kertas tersebut. "Terima kasih ya..."
"Sama-sama kak" jawab kurir tersebut sebelum berlalu.
Hanna masih memakai helm dan memegang rantang makanan tadi.
"Dari siapa sih?" Hanna masih bergumam.
"Loh katanya mau keluar?" Pak Handi keluar dari dalam rumah, melihat Hanna bengong dengan rantang nasinya. "Loh...kok sudah dapat makanan?" Pak Handi ikut heran.
Hanna menyerahkan rantang tersebut pada pak Handi, lalu dia melepas helmnya di jok motornya. Pak Handi menerima rantang tersebut, melihat sebuah kartu yang tergantung di salah satu sisi pegangan rantang.
"Hey Terima Kasih" begitu tulisan yang ada di kertas tersebut.
"Siapa RS?" Pak Handi mengerutkan keningnya.
Hanna terdiam sejenak, otaknya kini sudah bekerja dengan baik. "Rayyan" jawab Hanna sekenanya.
"Oh" pak Handi mengangguk. "Ada acara apa?" tanyanya lagi. Hanna mengangkat bahunya. "Kok ini ucapan terima kasih?"
"Iya, dia memang suka begitu, makanya Hanna selalu kenyang, yuk ah mari kita makan siang" ajak Hanna.
"Nggak nunggu adikmu?" tanya Pak Handi.
"Iya boleh" jawab Hanna sambil mengekor masuk ke dalam rumah, tangannya mencari sebuah benda yang dia simpan di dalam tasnya, sebuah ponsel.
Dilihatnya layar ponsel, tak ada pesan ataupun panggilan dari Rayyan. Apakah benar jika makanan itu dari Rayyan, atau dia yang terlalu percaya diri. Hanna kembali mengembalikan ponselnya ke dalam tasnya.
Sebenarnya dia ingin menghubungi dan menanyakannya, tapi urung. Pasti Rayyan sedang sibuk, dan lagian tidak ada yang spesial dari makanan ini bagi Rayyan.
Hanna mendekat ke arah rantang sebelum menatanya ke piring, ucapan terima kasih itu nampak tertulis dengan tulus. Mungkin saja mewakili ungkapan hati Rayyan, meskipun tulisan itu berbentuk ketikan.