Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Menepis Perasaan


"Apaaaa?" Kia ternganga saat mendengar semua cerita Hanna dari A sampai ke Z tentang dirinya dan rayyan. "Gilak sih Han kamu, bisa-bisanya mendem cerita begini sekian lama" Kia bersungut-sungut setelah  mendengar cerita Hanna. Hanna sedang butuh teman, setidaknya mendengarkan dia bercerita tentang keadaan dirinya. Hanna yang baru sampai rumah tadi malam itu sudah ingin meluapkan perasaannya.


"Sssstttttt" Hanna menempelkan telunjuknya di bibirnya, agar Kia tak berbicara keras. Kantin kampus sedang ramai oleh para mahasiswa yang sedang kelaparan. Hanna sendiri mengambil libur magang hari ini dengan alasan sakit setelah pulang dari kerjaannya bersama Rayyan.


"Dih pantesan aja kamu sama Rayyan B aja waktu ketemu, ternyata" Kia geleng-geleng kepala. Teringat bagaimana dulu Hanna begitu tergila-gila dengan sosok Rayyan Sebastian, dan pada saat acara dies natalies kemarin, Hanna seolah tak ingin sama sekali membahas laki-laki itu, bahkan terkesna acuh.


"Udah kubilang, pelankan suaramu" Hanna bersungut. Kia menutup mulutnya lalu mengangguk. Dia terlalu bersemangat saat mendengar cerita Hanna.


"Ok, rahasia aman. Eh tapi sumpah deh Han, kamu gilak banget" Kia mengaduk es teh di gelas kaca, lalu meneguknya setelah sekian menit dia termangu dan bengong saat mendengar semua cerita Hanna. Dia tidak menyangka Hanna memiliki cerita yang sama persis seperti di sinetron atau novel. "Bisa gitu ya" Kia masih terheran-heran.


Hanna menelungkupkan wajahnya di meja, tangannya memainkan tetesan air yang ada di gelas karena es tehnya.


"Terus sekarang apa rencanamu?" Kia penasaran, dia menyedot es tehnya yang tinggal seuprit itu sambil menatap Hanna yang masih menelungkupkan kepala di meja.


"Entah" jawab Hanna, dia pun bingung.


"Bian tahu nggak?"


Hanna melihat Kia dengan tatapan sebal.


"Ok, jelas dia nggak tahu ya...ok ok..." Kia menjawab pertanyaannya sendiri.


"Tapi gimana sih rasanya tinggal serumah, ya layaknya suami istri dengan seorang artis? dan itu idola kamu gitu lho Han...pasti menyenangkan" Kia sumringah sambil membayangkan jika itu adalah dirinya.


"Hah...kamu ini" Hanna kembali duduk tegak, es tehnya masih utuh, lalu tangannya memegang sendok dan kembali mengaduknya.


"Han...aku nggak bisa komentar apa-apa, semoga kamu bisa menemukan jalan terbaik. Tapi aku janji jika kamu butuh teman curhat aku siap" Kia mengangguk. "Aku juga bingung sih jika di posisi kamu" Kia memijit kepalanya. Ikut merasakan gimana ruwetnya Hanna.


"Trims" jawab Hanna.


"Bahas Bian aja sih Han daripada kamu bingung" Kia nyengir. "Oh ya, minggu besok dia ulang tahun kan? udah menyiapkan kado belum?" Kia mengingatkan. Hanna menepuk dahinya, bahkan dia belum mempersiapkan apapun untuk Bian. Meskipun Bian sudah memintanya tak menyiapkan apapun, tapi Hanna tak enak jika dia tak memberikan kado pada Bian, kekasihnya itu.


"Temenin" Hanna menarik pergelangan tangan Kia, mereka meninggalkan kantin kampus menuju parkiran mahasiswa.


"Eh...eh" Kia pun menurut dan ikut berjalan cepat membuntuti Hanna yang sudah berada di depan agak jauh darinya.


"Enaknya kasih kado apaan ya?" tanya Hanna smabil sedikit mengeraskan suaranya.


"Tahu ah, kan pacarmu, aku nggak ada ide, maklum aku jomblo" Kia nyengir sambil memakai helmnya. Hanna menghela nafas panjang. Bukan itu yang ingin dia dengar, setidaknya ada ide yang dicetuskan Kia yang bisa dia pertimbangkan.


Mereka memulai perjalanan mengitari jalan sekitar kampus, Hanna yang menyetir motor pun sambil memikirkan apa yang akan diberikan untuk Bian. Setelah sekian lama muter-muter menghabiskan bensin, akhirnya Hanna memutuskan untuk masuk ke sebuah toko tas. Hanna memilihkan sesuatu untuk Bian di sana.


        ***


"Kamu yakin?" Rayyan mengangkat kedua alisnya, lalu memandang laki-laki yang ada di depannya itu.


"Yakin lah bos" jawabnya. "Dia baru saja keluar rumah sakit, dan menurut sumber yang akurat, dia nggak terima dengan apa yang dilakukan oleh laki-laki itu" jawabnya mantap tanpa ragu sedikitpun.


Rayyan nampak tertegun sejenak. "Ok, ini bayaran kamu, jika suatu saat nanti aku membutuhkanmu, kamu harus siap" Rayyan menyerahkan amplop coklat pada laki-laki itu. Nampak laki-laki itu sumringah dan mengambil amplop berisi uang itu.


"Siap bos, terima kasih" ujarnya kemudian dia meninggalkan Rayyan yang berada di ruangan.


Banyak karyawan yang merasa heran dengan keberadaan Rayyan di R_Pro, tidak biasanya laki-laki itu rajin berada di sana. Rayyan memang sedang mengurangi jadwalnya, di satu sisi karena Kamila sedang sakit, dan di sisi lain dia tidak mau menganggu Hanna dengan mengajaknya terus bekerja. Karena Rayyan tahu jika Hanna pun fokus untuk menyelesaikan kuliahnya.


"Selamat siang pak" seru seorang perempuan berkaca mata yang tak lain adalah Santi, salah satu yang menghandle anak magang.


"Iya San" jawab Rayyan.


"Apakah salah satu anak magang ada yang bermasalah?" Rayyan memancing.


"Ehm...tidak ada pak, hanya saja ada yang tidak masuk hari ini setelah beberapa hari menemani bapak kerja" jawab Santi, tangannya membawa map berwarna merah berisi tentang data anak magang.


"Baik pak" Santi menuruti dengan meletakkan map tersebut di meja Rayyan. "Ada lagi pak?" tanya Santi.


"Nggak ada, terima kasih"


        Rayyan membuka map merah yang diminta dari Santi, di mana data-data anak magang ada di sana, dan satu tujuan, dia hanya butuh data dari Hanna. Lalu Rayyan tersenyum setelah membaca data milik Hanna. Melihat foto Hanna di sana membuatnya tertawa sendiri.


Bagaimana kabar Hanna? apakah dia baik-baik saja hari ini? setelah menyelesaikan syutingnya kemarin. Dan selama itu pula dia tak bertegur sapa dengan Hanna. Hanna hanya menemaninya syuting, memberikan apa yang dibutuhkan, tapi setelahnya Hanna seperti makhluk asing baginya. Mereka sama sekali tak bertegur sapa. Rayyan yang merasa bersalah pun seolah kehilangan ide, dia mendadak gila karena Hanna.


Rayyan meraih ponselnya di atas meja, melihat layar ponsel yang dia khususkan hanya untuk privasinya, ada beberapa pesan masuk. Hanya saja yang ditunggu tak ada. Rayyan menampakkan raut wajah kecewa.


Segera saja Rayyan meninggalkan ruangannya dan keluar dari sana.


        Hanna yang berhasil sejenak melupakan peristiwa di pulau itu nampak menyunggingkan senyumnya saat membungkus kado untuk Bian. Dia sudah berencana untuk berdandan secantik mungkin untuk acara esok hari, dia tak mau mengecewakan Bian dan juga kedua orang tua Bian.


Namun gejolak hatinya kembali muncul, bagaimana jika Bian tahu bahwa dia sudah menikah? dan nantinya Bian tahu jika dia janda. Hanna meletakkan kado yang sudah terbungkus rapi itu di atas meja, memandangnya lekat. Bayangan Rayyan kembali menari di pikirannya.


"Kenapa jadi begini?" Hanna nampak sendu sambil bergumam. Malam merambat pelan, suara alunan musik terdengar mengalun dari ponselnya, untuk sekedar meredakan rasa gundah di hatinya.


Denting yang berbunyi dari dinding kamarku


Sedarkan diriku dari lamunan panjang


Tak terasa malam kini semakin larut


Ku masih terjaga


Sayang kau dimana aku ingin bersama


Aku butuh semua untuk tepiskan rindu


Mungkinkah kau disana merasa yang sama


Seperti dinginku di malam ini


Rintik gerimis mengundang kekasih di malam ini


Kita menari dalam rindu yang indah


Sepi ku rasa hatiku saat ini oh sayangku


Jika kau disini aku tenang


Sayang kau dimana aku ingin bersama


Aku butuh semua untuk tepiskan rindu


Mungkinkah kau disana merasa yang sama


Seperti dinginku di malam ini


Rintik gerimis mengundang kekasih di malam ini


Kita menari dalam rindu yang indah


Sepi ku rasa hatiku saat ini oh sayangku


Jika kau disini aku tenang


(Denting - Melly Goeslaw)