
"Selamaaat pagi" teriak Meta pada Hanna, Hanna yang sudah duduk di kursinya sedang menghadap komputer untuk mengerjakan sesuatu. Sedangkan Meta baru saja sampai di kantor. "Aku nggak terlambat kan?" Meta kembali berteriak, dia menyeret kursi dan duduk di dekat Hanna yang masih sibuk. "Sibuk amat sih non"
"Iya" jawab Hanna singkat. Kepalanya terasa sedikit pusing, masalah tadi malam cukup membuatnya harus memikirkan semalaman, ditambah terkena hujan tadi malam.
"Kamu sakit Han?" Meta memperhatikan temannya itu. Hanna menggeleng. Dia tidak berani mendongak karena matanya bengkak. "Han...kamu habis nangis?" Meta mengintrogasi. Kembali lagi Hanna menggeleng.
"Mata kamu nggak bisa bohong Han..."
Hanna mendongak, meninggalkan pandangannya pada layar komputer dan melihat ke arah Meta, bibirnya menyunggingkan senyum absurd pada Meta.
"Tuh kan....apa aku bilang, kamu habis nangis kan? ini pasti semalaman nangisnya" Meta benar menebak. Hampir semalaman dia menangis, merasa kecewa.
"Aku baik-baik saja Met, tenang"
Meta menggigit bibirnya, berita yang dia dengar semalam mungkin penyebab Hanna menangis. "Han...I'm sad to hear that"
Hanna kembali menatap Meta, nampaknya temannya itu sudah mendengar beritanya. Semalam dia mengecek di grup kampus pun sudah mulai merebak, bahwa Bian laki-laki tampan idola kampus telah rusak reputasinya di saat ulang tahunnya.
"Thanks, tapi aku baik-baik saja kok" Hanna kembali tersenyum, seolah mengatakan bahwa itu sudah berlalu.
Meta terlihat mengasihani temannya itu, dia juga tidak menyangka jika Bian seperti itu. Tak hanya Meta, bahkan para kaum hawa yang mengidolakan Bian pun akan merasakan hal yang sama.
Hanna menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya, kembali matanya menatap layar komputer dan kembali mengerjakan pekerjaannya yang kemarin sempat dia tinggalkan.
"Permisi, dengan mbak Hanna" ujar seorang OB pada Hanna. Meta dan Hanna mendongak bersamaan.
"Iya" jawab Hanna meninggalkan pandangannya pada komputer dan melihat OB seorang laki-laki, di tangan OB tersebut terdapat bungkusan dalam kresek bening.
"Ini ada titipan buat Mbak Hanna"
Bungkusan itu masih menggantung di tangan OB, Hanna belum menerimanya.
"Dari siapa ya?" tanya Hanna.
"Maaf Mbak, saya hanya menyampaikan saja, itu tadi dari pak satpam di depan"
"Oh, iya...terima kasih ya..." Hanna meraih bungkusan tersebut, sebenarnya agak ragu menerimanya karena dari pengirim yang tidak jelas.
"Iya mbak, sama-sama. Permisi"
OB tersebut berlalu meninggalkan ruangan, Meta yang kepo segera meminta Hanna membukanya.
"Buka Han, dari siapa tuh? apa permintaan maaf dari Bian?"
Hanna berfikir sejenak, apa jangan-jangan yang dikatakan oleh Meta benar adanya. Hanna meletakkan bungkusan tersebut di atas meja kerjanya dan membuka kresek bening tersebut, nampak sebuah kotak makan berwarna biru muda dan lengkap dengan tumbler berisi air. Serta ada secari kertas.
"Nah tuh ada catatannya, buka" Meta nampak berbinar, seperti dia yang sedang mendapat kiriman tersebut. "Sweet banget pagi-pagi dapat beginian" gumam Meta.
Hanna mengambil perlahan selembar kertas tersebut dan membaca tulisannya, tulisan tangan yang sama sekali tak dia kenali dari siapa.
Selamat pagi, selamat sarapan, karena kalau hanya dengan harapan kamu nggak akan kenyang. Semangat...!
Begitulah isi tulisan tersebut. Tidak ada nama pengirimnya.
Hanna kembali menutup kertas tersebut dan mengeluarkan kotak makan dari kresek bening itu.
"Cieeee....sweet banget sih Han, mau donk digituin" Meta nampak bertepuk tangan dengan girang. "Buka Han, menunya apa, kayaknya enak tuh" Meta memang sangat kepo.
Hanna membuka perlahan kotak makan tersebut, dan terpampanglah bubur ayam dengan aroma yang menggoda selera. Ditambah lagi Hanna memang belum sempat sarapan pagi ini, selepas memasak, dia langsung berangkat ke kantor, dia tak ingin terlambat. Bubur ayam dengan topping lengkap, serta kerupuk yang renyah itu ada di hadapannya.
"Kamu mau?" Hanna menawarkan, Meta menggeleng.
Hanna kembali menutup kotak makannya.
"Loh kok ditutup lagi?"
"Nggak jelas siapa pengirimnya" ungkap Hanna.
"Iya juga sih, tapi kayaknya bukan Bian sih Han, kamu punya penggemar rahasia ya?"
Hanna terdiam sesaat, dia meyakini jika yang mengirimkan makanan itu adalah Rayyan. Apakah Hanna terlalu percaya diri?
Sementara Hanna menyingkirkan sarapan tersebut dan kembali berkutat pada layar komputer. Meta pun kembali duduk di kursinya, bersiap mengerjakan tugas kantornya.
Terdengar bunyi nyaring dari nada ponsel Hanna.
"Han...bunyi tuh" Meta mengedikkan dagunya. Hanna membuka tasnya dan mengambil ponselnya. Tertera nama Rayyan di sana.
"Halo" Hanna menyapa.
Jangan lupa sarapan, buruan keburu dingin
Hanna melihat ke arah sarapan yang dia anggurin di pojok mejanya, kini dia bisa menyimpulkan jika yang mengirim sarapan tersebut adalah Rayyan.
Panggilan pun berakhir. Hanna kembali meletakkan ponselnya ke dalam tas.
"Idih...bengong lagi" Meta melihat ke arah Hanna. "Siapa?"
"Enggak..." Hanna ngeles. Hanna mengambil kotak makannya dan membukanya, perlahan dia menyuapkan sarapan tersebut. Dan rasanya memang enak.
Sementara di tempat yang berbeda, nampak Rayyan sedang mendapat kiriman video Hanna sedang sarapan. Seseorang mengawasi Hanna dari ruang CCTV, dia sengaja meminta bantuan pada salah satu karyawannya.
Rayyan nampak lega Hanna sudah mau sarapan, tadi pagi dia dibuat khawatir karena nampak Hanna tidak baik-baik saja. Bahkan matanya nampak bengkak, dan semua info tersebut dia dapatkan dari mata-mata yang ada di kantor.
Rayyan sedang berada di ruang meeting bersama dengan tim dari sebuah produk yang akan dia iklankan.
"Jadi selama menjadi brand ambassador produk ini, tidak boleh ada pernikahan"
"Berapa lama?" tanya Rayyan.
"1 Tahun" jelas seorang perempuan dengan kacamata tebal itu, dia berada di seberang meja depan Rayyan. Rayyan nampak tenang.
"Jika melanggar?"
"Apakah kamu akan segera menikah?" tanya perempuan itu sambil tersenyum.
"Bisa jadi" jawab Rayyan enteng.
"Maka nanti akan ada konsekuensi yang harus dibayar" jelasnya lagi.
Rayyan terdiam, karena memang pernikahannya dengan Hanna tidak ada yang mengetahui. Hanya orang-orang tertentu saja.
"Ok" Rayyan menyanggupi.
Hari sudah siang saat dia menyelesaikan meeting, Rayyan berada di mobilnya, dia melihat jam tangan yang ada di pergelangan tangan kirinya. Rayyan bergegas menyalakan mobil dan melaju meninggalkan area parkir. Tangannya meraih ponsel yang dia letakkan di bangku samping kemudi.
"Ayo makan siang bersama" ujarnya pada lawan bicara. "Aku segera kesana, tunggu".
Mengurangi pekerjaannya ada hikmahnya juga, dia bisa menyenangkan dirinya sendiri dengan melakukan hal-hal yang jarang dia lakukan. Setidaknya dia bisa memberikan perhatian pada orang lain.
Rayyan melajukan mobilnya menuju kantor, sambil memikirkan di mana kira-kira dia bisa makan siang hari ini.