
Karena ada kepentingan yang harus diurus, Panji meminta izin untuk pulang terlebih dahulu. Hanna mengiyakan dan kini dia masih duduk di kursi kantin, baginya telat pulang sesekali tak masalah. Dia ingin mengenang keberadaannya di sini yang tinggal menghitung hari.
"Jadi benarkah gosipnya itu,?" suara gadis yang terdengar sangat jelas di belakangnya.
"Iya, Omku kan wartawan, menurut kabar yang dia terima, mereka menikah diam-diam untuk kepentingan masing-masing," gumam salah satu suara lagi. "Masa kamu nggak tahu sih Mon,?" tanyanya lagi dengan gadis yang dipanggil Mon itu.
"Ngapain dibahas? yang penting Bian kan sudah kembali ke pelukanku," jawabnya santai. Mendengar nama Bian, membuat Hanna semakin mempertajam pendengarannya, dia menyibakkan rambut yang menutupi telinganya. Dia masih memunggungi para gadis yang ada di belakangnya itu.
Sebentar...sebentar...Bian? Mon? Monakah?
Hanna semakin khusyu mendengarkan.
"Jadi kata omku itu, si Rayyan sengaja menikah sama Hanna karena terjebak situasi sulit sama mantan pacarnya yang masih punya suami. Dan Hanna pun yang memang sedang kesulitan keuangan memanfaatkan situasi itu, demi cuan gaes," ucap gadis pertama tadi. Hanna masih mendengarkan dengan seksama meskipun tangannya mulai mengepal dengan apa yang sedang dibahas para gadis itu.
"Jadi dia jual diri apa bagaimana?," tanya gadis kedua, dan itu bukan Mona.
"Bisa jadi, soalnya dia memang gadis biasa saja, dan kelihatan nggak ada duit sih," cuit gadis pertama.
"Aku ke toilet dulu," Mona pamit pada kedua temannya, melewati Hanna, sadar jika Mona berjalan di dekat kursinya, Hanna menyandarkan kepalanya di meja dekat bekas piring makannya agar Mona tak mengetahuinya.
"Dan kamu tahu nggak? itu si mantannya Rayyan, Talitha...si model bekel mantan istrinya Brian...,"
"Yang dihamilin sama Bian?," sahut gadis satunya.
"Nggak salah,"
"Kenapa Mona masih mau sih sama Bian, udah tahu Bian seperti itu,?"
"Bucin,"
Hanna semakin muak dibuatnya, bisa-bisanya mereka bersahabat tetapi bergunjing di belakang Mona. Hanna menggelengkan kepalanya. Rasanya suasanya semakin panas, Hanna hendak meninggalkan tempat itu dan melupakan semuanya.
"Eh tapi beneran nggak sih kalau Hanna dekat beneran sama Rayyan,?"
"Hiiihs...mimpi kali si Hanna dekat sama Rayyan...emang siapa Hanna? gadis laundry yang kenal Rayyan hanya kebetulan, kebetulan dikontrak nikah sama dia. Ya kali mungkin cuma dipakai saja sama Rayyan," selorohnya lalu mereka berdua tertawa.
Mona terlihat kembali dari toilet, Hanna kembali menyungkurkan kepalanya. Dan perkataan demi perkataan dari para gadis yang ada di depannya benar-benar membuatnya tersulut emosi, tapi dia harus menahannya.
"Dasar jaman sekarang, demi uang mau melakukan apa saja," tutupnya.
Hanna bergegas meninggalkan kantin, harinya terasa marah, hanya saja dia membiarkan dan berdamai dengan hal tersebut. Baginya itu sudah masa lalu, toh dia tidak merugikan siapa-siapa. Sekarang dia dan Rayyan sudah hidup masing-masing.
Hanna sedang menyetrika baju pelanggan agar besok siap diambil, akhir-akhir ini Hanna harus bekerja ekstra keras agar bisa mempersiapkan acara wisudanya. Hanna menyeka keringatnya. Pandangannya melihat jam dinding yang sudah menunjukkan waktu hampir tengah malam.
Dengan kerja keras yang semakin meningkat itu, Hanna lupa belum mempersiapkan kebaya untuk acara wisuda nantinya.
Hanna mengepack baju para pelanggan, dan berniat istirahat setelah ini. Hanna masuk ke dalam kamar, mencari kain yang dia simpan sejak beberapa bulan lalu. Kain bahan kebaya yang belum sempat dia jahitkan kepada penjahit. Tanpa sengaja sebuah kertas jatuh ke lantai, Hanna berjongkok dan memungutkan. Sebuah lembar akta cerai.
Hanna terduduk di tepi ranjang, kertas itu masih di tangannya. Tidaklah salah apa yang dikatakan oleh para gadis di kantin tadi, bahwa apa yang dilakukan memang untuk uang. Tak salah jika mereka menilai Hanna hina.
***
"Aku turut berbela sungkawa atas kepergian Pak Andre, maaf baru sempat datang menemuimu," Kamila duduk di sofa warna abu-abu. Rayyan duduk tak jauh dari Kamila.
"Nggak masalah Mil, yang penting kamu sehat. Terima kasih sudah datang,"
"Bagaimana asisten baru kamu? aman kan.?" tanya Kamila, dia mengkhawatirkan Rayyan yang tidak terbiasa dengan orang baru. Kenyataannya asisten Rayyan bukanlah orang yang benar-benar baru, karena Kamila sudah mengajak asisten baru Rayyan sebagai salah satu dari tim sebelumnya.
"Aman," jawab Rayyan tak mempermasalahkan.
"Oh ya...akhir-akhir ini beritamu sungguh tak positif..." Kamila menggantung kalimatnya. "Dan aku juga baru tahu jika ayah Hanna meninggal, sampaikan salamku untuknya, bahkan aku tak sempat menyapanya,"
Rayyan tersenyum kecil, sudah berapa hari dia tak menumuinya. Mungkin sudah lebih dari 2 bulan. Bagaimana kabar Hanna?
"Bahkan aku nggak tahu sama sekali kamu pindah dari apartemen," Rayyan memilih kembali ke rumah biasa, rumah yang dia beli sebulan yang lalu. Sebuah rumah dengan konsep minimalis yang banyak didominasi pencahayaan alami itu.
"Biar suasananya baru," jawab Rayyan klise. Sebenarnya dia ingin membuang segala kenangan yang pernah ada.
"Kenapa,? apa ada hal yang ingin kamu ceritakan,?" Kamila sudah lama tak mendengar curhatan Rayyan. Rayyan menoleh ke arah Kamila, lalu dia kembali tersenyum.
"Apa aku salah jika jatuh cinta pada seorang yang katanya biasa,?"
"Maksudmu,?" Kamila membulatkan matanya. "Sebentar...," Kamila mengangkat tangannya. "Kamu suka sama Hanna,?" Kamila menebak, Rayyan memejamkan matanya sambil bersedekap.
"Oh...," Kamila tertawa, "Oh...hahaha....kan...apa aku bilang, dia unik dan ternyata,"
"Kamu jangan meledekku Mil,"
"Oh tidak-tidak..."buru-buru Kamila menggeleng, tidak mau Rayyan salah sangka padanya. "Ehem," Kamila berdehem sebelum kembali memulai pembicaraannya.
"Jadi tidak salah kan kalian bertemu saat itu,?" ingatan Kamila kembali ke masa di mana dia mendapatkan gadis asing yang harus menikah dengan Rayyan secara paksa itu.
"Tapi kenapa dia menolakku,?" Rayyan nampak berputus asa, mengasihani dirinya sendiri. "Kurang apa aku Mil,?" kembali dia menertawakan dirinya sendiri. Tak ada yang kurang dari Rayyan. Tampan, kaya, beken, keren, semuanya dari Rayyan sangat diidolakan banyak gadis. Rayyan tersenyum miring.
"Berapa kali kamu ditolak,?" Kamila ingin tahu. Namun Rayyan tak menjawab, Kamila menepuk dahinya. Itu artinya lebih dari sekali. Ini adalah keadaan yang sangat langka. Dimana Hanna berani menolak Rayyan mentah-mentah dengan alasan Hanna sebagai orang biasa.
"Pernahkah kamu mencoba mendekati Hanna dari hati,?" tanya Kamila dengan nada serius. Mendengar pertanyaan yang juga bak petuah itu, Rayyan menatap serius Kamila.
"Iya...ajaklah dia jalan santai, jangan tergesa-gesa atau memaksa dia menerimaku, lakukan sebaik mungkin apa yang bisa kamu lakukan, tunjukkan tak ada jurang pemisah antara kalian, aku percaya lambat laun akan ada pintu yang terbuka," Kamila merasa yakin.
"Hah...itulah kenapa aku merindukan saat-saat bersama asisten sekaligus managerku tercinta," Rayyan mengembangkan senyumnya seraya merentangkan kedua tangannya.
"Ish....," Kamila mengibaskan tangannya. "Kamu sudah memporak-porandakan karirmu, kau sadar itu.?" tanya Kamila serius. Rayyan mengangguk.
"Bukan...bahkan bumi ini berputar kan, kadang siang kadang malam, kadang panas kadang hujan. Begitulah hidup manusia, kita nggak pernah tahu apa yang terjadi. Jadi kamu jangan ikut-ikutan para wartawan yang mengatakan hidup dan karirku hancur gegera banyak kasus," Rayyan menjawab dengan santai.
Kamila tersenyum, merasa senang dengan banyak perubahan yang dialami oleh Rayyan. Dia nampak lebih dewasa dalam menyikapi sesuatu.