
"Kita putus" ucap Talitha kemudian, bibirnya bergetar, dia sudah bisa menguasai air matanya, hanya sendu yang terlihat di kedua matanya. Kedua mata indah itu menatap Rayyan, Rayyan yang mendengar ucapan Talitha barusan mendadak tidak percaya. Dia menyalahkan indra pendengarannya, pasti salah menangkap apa yang terdengar.
"Apa? katakan jika aku salah dengar" lirih Rayyan, dia masih terlihat baik-baik saja, kedua tangannya memegang kedua bahu Talitha sambil menatap lekat mata Talitha yang sembab. Namun perempuan itu menggeleng, memaastikan jika apa yang ditangkap oleh indra pendengaran Rayyan tidaklah salah.
"Iya, kita putus" Talitha kembali menegaskan. Rayyan perlahan melepaskan kedua tangannya yang memegang bahu Talitha, dia berjongkok, kedua lututnya menopang tubuh Rayyan di lantai. Rasanya begitu lunglai, dia menjadi makhluk yang tidak berdaya hanya dengan mendengar kata putus dari Talitha.
"Aku hamil, dan aku mau kita putus" ungkapnya.
Tenggorokan Rayyan terasa tercekat, air matanya seolah tertahan di pelupuk matanya, tak ada kalimat yang meluncur dari bibirnya, terasa kelu.
"Kita putus" kalimat itu kembali terucap sebelum Talitha pergi meninggalkan Rayyan.
Hatinya hancur lebur, cincin yang dia persiapkan tak menemukan tuannya. Harapan untuk mempersunting Talitha lenyap sudah.
Malam itu, selepas dari makan malam, Rayyan bergegas mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, dia menuju bar untuk membuang penatnya. Kepalanya terasa ingin meledak saja. Rayyan duduk di kursinya, beberapa perempuan datang untuk menemaninya minum, tapi dia menolak semua, dia ingin sendiri. Gelasnya sudah kosong beberapa kali. Rayyan masih mengisinya dan kembali menenggaknya.
Rayyan sibuk dengan pikirannya, tidak menyangka jika hubungannya dengan Talitha putus begitu saja, lebur sudah harapannya bersanding dengan perempuan yang dia cintai, hilang sudah mimpinya. Bagaimana bisa perempuan itu memutuskannya. Rayyan mengusap wajahnya sembarangan, rambutnya sudah tak serapi tadi, bahkan wajahnya nampak sangat kecewa. Dia benar-benar ingin marah.
Hingga akhirnya dia menyadari dia tak boleh mabuk berat agar bisa pulang dengan selamat, dengan agak sempoyongan tetapi masih sadar, Rayyan keluar dari tempat tersebut dan pulang.
Sesampainya di rumah, dia masih sadar, hanya saja kepalanya semakin terasa berat. Dia melihat sosok perempuan di rumahnya, masih terlihat bahwa itu adalah Hanna. Dia ingin marah pada perempuan itu, mengapa ada dia di rumahnya. Dia merasa sangat muak. Apalagi perempuan itu menatapnya seolah ingin tahu apa yang sedang terjadi.
Rayyan diam saja tanpa mengeluarkan kata dari bibirnya, dia segera berlalu menuju tangga menuju kamarnya. Hanya saja badannya terasa berat, kepalanya juga terasa sangat pusing. Hingga pandangannya terasa kabur dan lunglai.
***
Hanna tergopoh sambil membantu Rayyan berbaring di ranjangnya, bau minuman keras menusuk hidungnya, hingga Hanna sesekali mengibaskan tangannya berharap bau minuman tersebut hilang. Rayyan terlihat sangat kacau, jauh dari rapi, bersih, apalagi wangi. Saat membaringkan Rayyan di ranjangnya, sebuah kotak kecil keluar dari saku Rayyan tanpa disengaja. Awalnya Hanna hanya melihatnya saja, akan tetapi dia takut kotak tersebut rusak, maka dia akhirnya mengambilnya dan meletakkan di nakas samping ranjang Rayyan.
Rayyan sudah tak ingat apapun, dia nampaknya sedang tertidur sangat pulas. Hanna bergegas turun dari kamar Rayyan. Tidak biasanya laki-laki itu mabuk.
Hanna tengah sibuk di dapur memasak untuk sarapan, dia membuat bubur ayam untuk sarapan dan juga teh hangat. Dia khusus menyiapkan untuk Rayyan. Hampir satu jam dia menunggu di dapur, tapi laki-laki itu tak juga turun dari kamarnya, Hanna melihat ke arah tangga. Tidak ada tanda-tanda kedatangan laki-laki itu, apakah dia masih tidur?
Hanna membuka pintu kamar Rayyan, dilihatnya Rayyan masih terlelap di ranjangnya dengan masih pakaian semalam. Hanya saja posisinya sudah berubah. Hanna mendekat dan meletakkan sarapan tersebut di atas meja samping ranjang Rayyan, kali aja laki-laki itu akan bangun dan kelaparan. Maka akan mudah menikmati sarapannya, tak harus turun ke bawah. Hanna baru saja akan beranjak pergi, Rayyan menarik tangan Hanna. Hanna terkejut, jantungnya berdegup. Hanna membelakangi Rayyan.
"Kamu kenapa mutusin aku? kamu hamil dengan siapa?" ucap Rayyan dengan suara lirih nan serak. Hanna masih belum menoleh ke arah Rayyan. Mungkin saja Rayyan sedang mengigau.
"Kenapa kamu putusin aku?" ucap Rayyan berteriak, tangannya semakin keras mencengkeram tangan Hanna. Hanna memejamkan mata menahan rasa sakit tangannya, dan juga merasa takut dengan keadaan Rayyan. Apakah dia masih mabuk? begitu pikir Hanna.
Hanna memberanikan diri menatap Rayyan, dan laki-laki itu masih setengah membuka matanya. Hanna menahan nafas, dan mengibaskan tangan yang satunya di depan wajah Rayyan.
"Hah? ngapain kamu di sini?" ucap Rayyan sesaat setelah matanya terbuka sempurna, dia terkejut melihat Hanna yang ada di depannya.
"Itu sarapan" ceplos Hanna tanpa basa-basi, tangannya menunjuk ke arah meja, di mana semangkok bubur ayam dan teh hangat berada di sana. Rayyan melihat ke arah yang sama, lalu kembali menatap Hanna. Dia mengubah posisi badannya, kini dia duduk di atas ranjang, dia menggelengkan kepalanya, sudah tidak seberat tadi malam. Dia berharap tak ada pewarta yang melihatnya semalam.
"Ok terima kasih" ucapnya lirih. Hanna mengangguk dan tanpa menunggu diusir, dia keluar kamar Rayyan. Rayyan segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, bau minuman keras masih melekat di badannya.
Kejadian semalam masih terasa sakit, hingga dia belum mendapat kejelasan yang pasti dari Talitha, mengapa harus memutuskan hubungan ini. Apakah Talitha hamil dengan Brian atau ada cerita yang lain. Rayyan mengusap rambutnya dengan handuk kering, badannya terassa segar seusai mandi. Perutnya terasa lapar, dan akhirnya dia mengambil mangkok berisi bubur, dan menikmatinya.
Baru kali ini dia merasa hancur lebur, patah hatinya sangat menyakitkan. Di saat dia akan selesai kontrak pernikahannya, Talitha malah meninggalkannya.
Hanna yang masih sibuk di dapur merasa ada yang aneh dengan Rayyan, kenapa dengannya? apakah Rayyan memang putus dengan Talitha?. Apa?
Hanna menepuk dahinya, mengapa dia jadi kepo dengan urusan Rayyan.
"Ah sudahlah, urusan dia, bukan urusanku"
Hanna bersiap untuk membersihkan rumah, dia menuju ke atas untuk mengambil beberapa sampah di sana. Tibalah Hanna di depan kamar Rayyan, laki-laki itu sama sekali tak keluar dari kamarnya. Hanna menemukan sebuah kotak perhiasan di dalam tempat sampah yang dia ambil. Hanna mengambil kotak tersebut dengan penasaran, dan begitu dia melihat isinya, cincin berlian indah itu di sana.
"Apa tidak salah dia membuangnya" gumam Hanna.