Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Aku akan tetap menjadi temanmu


Talitha masih anteng dengan posisi tidur miringnya. Terdengar bunyi getar ponsel, Hanna mengecek ponsel yang ada di dalam tasnya, namun ponselnya tak ada pesan maupun panggilan.


"Aku angkat telpon dulu ya Han" Bian pamit keluar ruangan dengan suara berbisik, takut membangunkan teman Hanna yang tengah tidur. Hanna mengangguk.


Mendengar suara pintu yang tertutup, Talitha mengerjabkan matanya lalu mengubah posisinya menjadi terlentang dan mengecek apakah ada orang di ruangannya. Hanna nampak tengah  duduk di sofa kamar tersebut.


"Hanna..." ujarnya pelan sembari menyipitkan matanya.


"Eh maaf, apa aku membangunkanmu?" tanya Hanna, dia bangkit dari sofa dan mendekati Talitha. Talitha menggeleng pelan. Dia senang akhirnya Hanna datang.


"Kamu bukan siapa-siapa aku, tapi kamu seolah selalu ada buat aku"


"Hei kata siapa aku bukan siapa-siapa kamu, kita teman kan?" Hanna tersenyum ke arah Talitha, lalu Talitha ikut tersenyum, wajah pucatnya pun sedikit tersamarkan. "Kamu sudah makan?"


Talitha mengangguk.


"Oh ya, ini aku bawain buah, mau?" Hanna memang berbaik hati, dan apa yang dilakukannya itu tulus. Dia juga heran mengapa dia bisa begitu dengan Talitha, seorang perempuan yang dari entah berantah, yang hanya kenal lewat Rayyan, tapi dia merasa iba dengan perempuan itu.


"Nanti. Kamu sama siapa?" tanya Talitha.


"Oh...aku sama teman, dia lagi ada telpon, di luar, takutnya ngebangunin kamu"


"Oh..."


"Aku nggak punya siapa-siapa sekarang, semua menjauh, semua pergi" Talitha menerawang sedih, teringat Brian yang pada akhirnya bucin padanya pun kini pergi. Hanya menyisakan harta gono gini padanya, dia tak peduli lagi pada Talitha. Rayyan...laki-laki yang dia tinggalkan karena ego dan kesalahan semalam itu pun harus dia ikhlaskan selamanya.


Hanna menggenggam tangan Talitha erat, "Kapanpun, kalau kamu ingin bercerita, ceritalah, carilah aku" ungkap Hanna.


"Tahu nggak aku sudah kehilangan janinku" Talitha memulai cerita pahit yang dia pendam, yang membuat dadanya sesak. Hanna mengangguk, dia tahu dari perawat, kini Talitha mulai membuka diri, dia siap mendengarkan.


"Aku kehilangan dia karena aku sengaja"


Hanna mencoba menutupi keterjutannya dengan menghela nafas panjang, Talitha tega membunuh calon bayi yang tidak berdosa itu.


"Dan aku menyesal telah menuruti keinginan bejat laki-laki yang telah menyuruhnya"


Hanna menangkupkan tangan kirinya ke tangan Talitha, kini dia menangkupkan kedua tangannya di tangan Talitha, guna menenangkan perempuan tersebut.


"Aku menghancurkan diriku"


"Its ok, Talitha...aku di sini" Hanna memeluk Talitha yang mulai berderai air mata.


"Aku mengenalnya di kelab malam, ya hanya sekedar iseng membuang kepenatan yang sedang aku rasakan. Kamu tahu kan bahwa hubunganku dengan Rayyan nampak sangat sulit, aku frustasi dan memutuskan untuk sekedar mencari hiburan" Talitha menghentikan ceritanya sejenak, dia menatap Hanna. "Aku mengenal cowok yang masih muda, asyik diajak ngobrol, dan apa salahnya aku bermain sebentar, tapi begini akhirnya..." Talitha tersenyum hambar, menyesali perbuatannya.


"Entah, dia memintaku menggugurkan janinku dan kita tak perlu bertemu selamanya"


Kalimat demi kalimat yang meluncur seakan membuat Hanna sesak nafas, betapa rumitnya hidup Talitha. Roda tak selamanya ada di atas. Jika Talitha dulu dengan mudah mendapatkan kemewahan, kini nampak sulit dan rumit.


"Ini salahku" gumamnya.


"Kamu akan baik-baik saja, ada aku di sini" Hanna mencoba menghibur betapa terlukanya Talitha, terlepas bagaimana gaya hidup perempuan itu, tapi dia merasa iba dengan keadaan Talitha kini.


        Hanna celingukan melihat ke arah pintu, mencari Bian yang tak kunjung kembali ke kamar, sementara jam besuk sudah habis.


"Aku pergi dulu ya...kamu istirahat, jangan banyak fikiran"


"Terima kasih Han..."


"Iya" Hanna mengangguk, dia bersiap untuk pergi.


        Hanna keluar kamar perawatan Talitha, dan dia terkejut saat Bian baru akan masuk kamar. Mereka berpapasan di depan pintu.


"Loh sudah mau pulang?" tanya Bian dengan sangat tenang.


"Iya, jam besuk sudah habis, lagian ini sudah hampir maghrib, aku harus pulang, nanti ayah khawatir kalau aku nggak segera pulang. Atau mas Bian mau aku kenalin temanku?" Hanna menunjuk ke arah pintu.


"Oh...enggak..,katanya sudah habis jam besuknya, lain waktu" ujar Bian sambil tersenyum. Hanna mengangguk.


***


"Ini mas, sesuai permintaan Mas Rayyan" seorang laki-laki dengan memakai kacamata hitam tersebut menyerahkan beberapa cetak foto pada Rayyan. Rayyan meneliti satu per satu, di mana dia mendapatkan Hanna tengah berduaan dengan Bian di depan tempat parkir R-Pro. Rayyan akhirnya mengambil inisiatif untuk membuntuti Hanna dengan cara menyewa orang.


"Dan dari info yang aku dapat, dia sering ke kelab XX mas" imbuh laki-laki itu.


"Ok, lanjutkan hingga kontrak kita usai" Rayyan memberikan perintah.


"Siap mas"


        Rayyan kembali melihat foto-foto tersebut, di mana raut wajah Hanna nampak sangat bahagia bersama Bian. Gadis itu telah memporak-porandakan hatinya.


"Hiiiishh" Rayyan kesal dengan dirinya sendiri, mengapa dia begitu memikirkan Hanna hingga seperti ini? bukankah awalnya hanya main-main? hanya sekedar iseng?. Rayyan membanting foto tersebut ke atas meja yang ada di dekatnya, lalu dia membanting tubuhnya ke atas sofa.


"Bian...Bian....apa yang menarik dari kamu?" Rayyan mengerutkan dahinya. Bahkan dia yang sudah menjadi idola Hanna yang mendarah daging pun tak mampu meluluhkan hati Hanna. Rayyan memegang keningnya dengan tangan kirinya, matanya menerawang ke luar jendela apartemen.


        Rayyan bergegas mengambil kunci mobil dan segera meluncur ke tempat di mana dia dan teman-temannya sudah janjian akan bertemu.