Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Malam Terakhir


Rayyan menarik Hanna dan memaksanya duduk di sofa, tepat di sampingnya. Hanna memainka kartu panitia yang terkalung di lehernya.


"Aku takut aja di sini sendirian" gumam Rayyan. Tentu bagi Hanna, alasan itu sama sekali tak masuk akal. Bagaimana bisa Rayyan merasa horor di tempat yang terang benderang ini. Hanna melirik ke kanan dan ke kiri tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


"Kenapa? kamu nggak percaya?" Rayyan melihat Hanna. Hanna menggeleng, tangannya melepaskan kartu yang dia mainkan sejak tadi. Hanna melihat ke pergelangan tangannya, di mana jam menunjukkan pukul 7 malam sebentar lagi. Itu artinya, Rayyan akan segera naik ke panggung dan acara akan segera dimulai.


"Kenapa? kamu mengusirku?" Rayyan kembali melihat ke arah Hanna.


"Kenapa kamu menyebalkan sekali?" gumam Hanna.


"Apa? aku menyebalkan? hei...kamu salah satu panitia kan? sukses tidaknya acara ini salah satunya tergantung padamu, jadi kamu harus nuruti aku" Rayyan tersenyum penuh kemenangan.


Hanna melipat kedua tangannya, "Kamu jangan mengancam ya..." Hanna santai, dia tahu memang begitulah Rayyan.


"Makanya"


Tak berapa lama, Kamila masuk ke dalam ruangan.


"Eh...pasutri" Kamila tertawa. Hanna mendelik, sementara Rayyan tertawa kecil.


"Iya, kamu ganggu aja sih Mil, kita kan lagi bermesraan" goda Rayyan. Hanna sontak berdiri, dia mendekat ke arah Kamila.


"Sudah saatnya naik panggung" Kamila mengingatkan. Rayyan berdiri dan berjalan ke arah Hanna dan Kamila, dia menatap Hanna sambil tersenyum, lalu keluar. Hanna mengekor di belakang, memastikan Rayyan naik panggung dan acara lancar.


Daan...teriakan para mahasiswa yang menyaksikan kehadiran Rayyan pun sangat gempita sekali, mereka histeris meneriakkan nama Rayyan berulang-ulang. Acara dibuka dengan sebuah lagu milik Rayyan, semua begitu terhipnotis dengan penampilan Rayyan.


Hanna duduk di samping panggung, dia dapat melihat penampilan Rayyan dengan sangat jelas. Tak dapat dipungkiri, suara Rayyan memang kece badai, tak salah dia mengidolakan Rayyan. Penampilannya benar-benar memukai, dia benar-benar stuning menguasai panggung.


Hanna ikut mengangguk-angguk mengikuti alunan lagu yang mengiringi, tanpa disadari bibirnya ikut bersenandung mengikuti Rayyan yang sedang bernyanyi. Tanpa sengaja Rayyan beradu pandang dengan Hanna, Hanna menatap Rayyan.


"Inilah malam perpisahan kita" Hanna berbicara dalam hati, dalam hati dia sangat senang bisa mengenal Rayyan, bisa menjadi bagian hidup Rayyan meskipun hanya sebagai "babu". Hanna tersenyum lalu mengalihkan pandangannya ke penonton yang begitu antusias dengan penampilan Rayyan.


Setelah satu lagu selesai, Rayyan dipersilahkan duduk oleh MC. Dan sebelum duduk, Rayyan melambaikan tangan dan menyapa para penggemarnya yang begitu luar biasa malam ini.


"Terima kasih wahai sang super star" puji sang MC. Hanna duduk tenang, sementara Kia yang baru saja sampai duduk di samping Hanna.


"Duh...aku ketinggalan" gerutunya.


"Dari mana?" tanya Hanna dengan sedikit berteriak.


"Nyari Mas Bian"


"Oh.." Hanna tak bertanya lebih lanjut. Mendengar nama Bian disebut, Hanna tersenyum kecil. Mulai besok, dia akan menjadi manusia bebas, dan kapanpun dia bisa dekat dengan Bian, kembali melanjutkan cintanya.


"Ih malah senyum-senyum sendiri" senggol Kia.


"Oh ya...karir ok, semua sudah didapat, satu yang belum" ucap sang MC.


"Apa itu?" tanya Rayyan dengan sumringah, dia memang sangat berbeda, saat di layar dan kehidupan aslinya.


"Jodoh...." seru sang MC, disambut teriakan penonton yang didominasi diteriakan oleh kaum hawa itu. "Iya kan....kalian menunggu berita ini?"


"Tapi mereka mungkin berharapnya kamu jomblo" imbuh sang MC, disambut dengan tepuk tangan meriah.


Rayyan tertawa terbahak-bahak.


"Kalau boleh tahu, gimana sih kriteria cewek idaman kamu? boleh lah kita tahu...." sang MC seperti pemandu acara gosip.


"Harus disebutin ya?" Rayyan masih terlihat sumringah.


"Iya donk, kita eksklusif di sini" balas sang MC dengan suara mantap, lelaki itu pandai memandu acara ini, Hanna dan Kia nampak puas dengan kinerja MC tersebut meskipun belum skala televisi.


"Hehm...yang pasti cewek ya..." timpal Rayyan sambil tertawa. "Jika dulu aku memuja dia harus cantik paripurna, tapi kini aku sadar bahwa tak ada yang sempurna di dunia ini, aku suka cewek yang jutek, perhatian, lucu, out of the box" jawab Rayyan dengan mimik serius, tatapan matanya kembali melihat ke arah Hanna.


Deeeg.....


Saat menyadari Rayyan sedang menatapnya, Hanna terpaku. Ada rasa ge er, tapi dia kembali menggelengkan kepalanya. Bahwa Rayyan hanya tak sengaja melihat dia, itu yang dia tanamkan di benaknya. Sudah ini adalah malam terakhir, setelah ini dia tak akan lagi bertemu dengan Rayyan. Dia hanya akan melihat Rayyan dari layar kaca.


Tak terasa, 2 jam pun berlalu. Acara ditutup dengan lagu, Rayyan kembali menyenandungkan suara merdunya. Lagu mellow membuat Hanna terhanyut, tak terasa dia merasa masuk ke dalam lagu yang menceritakan tentang perpisahan itu.


Tepuk tangan bergemuruh kembali terdengar, pertanda acara telah usai. Rayyan melambaikan tangan dan mengucapkan terima kasih pada para penggemarnya. Hanna bertepuk tangan dan dia merasa terharu, akhirnya acara ini usai dengan lancar dan sukses. Hanna berpelukan dengan Kia. Mereka sangat bahagia.


Hanna berjalan ke belakang panggung, Bian menarik tangan Hanna dan mengajaknya menjauh dari keramaian.


"Hanna mau kemana?" tanya Panji yang tiba-tiba berada di balik panggung.


"Bentar ya, aku pinjem bentar" ujar Bian. Panji mengangguk, dia berencana mengantar Hanna pulang, karena malam sudah larut.


Setelah mereka berada di tempat yang agak jauh dari hingar bingar. Bian menarik tangan Hanna dan menatapnya lekat.


"Han...makasih banyak ya...acaranya sukses"


"Iya sama-sama mas" Hanna menarik tangannya, dia merasa tidak enak.


"Han..."


"Iya" balas Hanna.


"Aku suka sama kamu" ucap Bian tanpa basa basi. Hanna menatap mata Bian lekat, apakah secepat ini? belum juga malam ini berakhir. Hanna masih terdiam.


Sementara Rayyan yang baru saja keluar dari toilet menghentikan langkahnya saat melihat dua insan itu berada di jalan yang dekat dengan toilet. Rayyan menunggu hingga dua insan itu menghilang. Rayyan tahu siapa gadis itu, perawakan kecil mungil dan rambut pendeknya.


Rayyan masih berdiri di sana sambil masih mendengarkan, tak ada maksud menguping. Hanya saja dia tidak sengaja dan tak enak hati jika harus lewat.


"****...ngapain sih mengutarakan perasaan di tempat macam begini?" gerutunya, dia mendenguskan nafasnya dengan sebal.


"Beri aku waktu" jawab Hanna kemudian.


Rayyan tersenyum kecut, lalu menggelengkan kepalanya. Beberapa menit kemudian tidak lagi terdengar suara, mungkin mereka sudah pergi. Rayyan keluar dari toilet dan menuju mobil.


Sementara Hanna malam ini akan pulang ke rumah ayahnya, dan dia bersedia jika Panji mengantarnya pulang.